Tampilkan postingan dengan label Sya’ad Afifuddin2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sya’ad Afifuddin2. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS KAUSALITAS ANTARA PENERIMAAN DAN PENGELUARAN PEMERINTAH DI INDONESIA


ANALISIS KAUSALITAS ANTARA PENERIMAAN DAN
PENGELUARAN PEMERINTAH DI INDONESIA

Ripka SeriIdahnaita Ginting1, Sya’ad Afifuddin2,
Jhon Tafbu Ritonga3, Rujiman4

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kausalitas antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pemerintah. Untuk tujuan analisis tersebut digunakan metode kausalitas Granger untuk meneliti pola atau arah hubungan kausalitas antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah di Indonesia tahun 1970-2004. Selain itu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pemerintah, dalam analisis empiris digunakan regresi Ordinary Least Squares. Hasil uji akar-akar unit memperlihatkan bahwa data penerimaan dan pengeluaran pemerintah stasioner pada derajat pertama (first difference). Uji kointegrasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan jangka panjang antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Hasil uji kausalitas Granger menyatakan bahwa terjadi kausalitas satu arah dari pengeluaran pemerintah terhadap penerimaan pemerintah (peningkatan pengeluaran pemerintah mendorong meningkatnya penerimaan pemerintah). Selain itu penelitian ini menemukan bahwa pengeluaran rutin, pengeluaran pembangunan, utang luar negeri berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pemerintah sedangkan utang dalam negeri berpengaruh negatif dan signifikan terhdap penerimaan pemerintah.

Kata kunci : Pengeluaran Pemerintah, Penerimaan Pemerintah, Utang Dalam Negeri, Utang Luar Negeri, Pengeluaran Rutin, Pengeluaran Pembangunan.



PENDAHULUAN

Penelitian terhadap pola atau arah hubungan kausalitas antara tingkat penerimaan dan pengeluaran pemerintah mendapatkan perhatian yang besar pada dekade sekarang ini. Pemahaman terhadap hubungan kausalitas tersebut, selain dapat mengidentifikasi hubungan antar variabel juga dapat memberikan sumbangan untuk memahami dengan lebih baik terhadap konsekuensi adanya defisit yang besar dan implikasi kebijakan yang diambil terhadap hubungan tersebut.
Menurut DeLoughy (1999), penerimaan dan pengeluaran pemerintah dapat saling mempengaruhi dengan cara sebagai berikut: pertama, perubahan penerimaan pemerintah menyebabkan perubahan pengeluaran pemerintah. Kedua, perubahan pengeluaran pemerintah menyebabkan perubahan penerimaan pemerintah. Ketiga, perubahan penerimaan dan pengeluaran pemerintah dapat saling mempengaruhi melalui pengaruh timbal balik (feed back).
Secara umum, pajak mempunyai peran utama sebagai salah satu penerimaan pemerintah. Fungsi pajak untuk membiayai pengeluaran pemerintah dinamakan fungsi budgeter atau fungsi fiskal. Selain itu, pemungutan pajak juga dapat digunakan untuk fungsi mengatur. Fungsi ini menjelaskan bahwa pemerintah dapat menggunakan instrumen pajak sebagai alat untuk mengatur terutama pada bidang sosial dan ekonomi. Penerimaan perpajakan sebagai salah satu komponen penerimaan pemerintah dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perkembangan ekonomi makro dan faktor internal seperti kebijakan di bidang perpajakan.
Bagi negara sedang berkembang, campur tangan pemerintah relatif besar maka peranan pemerintah dalam perekonomian juga relatif besar. Pengeluaran pemerintah selain dapat menciptakan berbagai prasarana yang dibutuhkan dalam proses pembangunan juga merupakan salah satu komponen dari permintaan aggregat yang kenaikannya akan mendorong Produk domestik Bruto (PDB) sepanjang perekonomian belum mencapai tingkat kesempatan kerja penuh.
Sejak awal orde baru pemerintah telah melakukan tahapan pembangunan dengan ditopang oleh pinjaman luar negeri yang berbentuk bantuan program, meskipun pada masa itu penerimaan pemerintah mengalami peningkatan yang disebabkan oleh meningkatnya hasil minyak (oil boom) dari sektor migas. Namun sejak berakhirnya boom minyak, anggaran pemerintah dalam APBN mengalami defisit akibat berkurangnya sumber pendapatan. Pinjaman luar negeri di samping sebagai pelengkap dana dalam negeri untuk menunjang peningkatan laju pembangunan, juga diperlukan untuk menambah penyediaan devisa guna membiayai impor yang berkaitan dengan program dan proyek-Krisis yang terjadi di Indonesia tahun 1997 menyebabkan keadaan perekonomian semakin terpuruk, dimana nilai rupiah yang semakin merosot dan mengakibatkan harga-harga di dalam negeri menjadi tidak stabil, terhambatnya kegiatan produksi, ekspor, investasi dan jumlah pengangguran meningkat. Selain itu di sektor perbankan juga mengalami kredit macet karena kurangnya pengawasan terhadap kinerja dan kesehatan perbankan.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah menerbitkan obligasi yang bertujuan untuk merekapitalisasi beberapa bank sebagai bagian dari restrukturisasi perbankan. Obligasi yang diterbitkan pemerintah dengan tingkat suku bunga dan waktu jatuh tempo tertentu akan mempengaruhi jumlah utang dalam negeri pemerintah. Tingginya tingkat suku bunga pinjaman dalam negeri dalam bentuk obligasi akan berpengaruh terhadap anggaran pemerintah dimana kenaikan suku bunga akan menyebabkan penerimaan pemerintah berkurang karena bertambahnya pengeluaran pemerintah untuk membayar bunga dan cicilan utang.
Identifikasi hubungan kausalitas antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah memberikan wawasan tentang bagaimana berbagai kebijakan yang berbeda dapat membantu dalam mengontrol pertumbuhan anggaran pemerintah. Jika kausalitas berasal dari tingkat penerimaan pemerintah, maka pengenaan pajak untuk mengurangi tingkat defisit akan menyebabkan pengeluaran pemerintah yang cenderung meningkat. Sebaliknya jika kausalitas berasal dari tingkat pengeluaran pemerintah menuju tingkat penerimaan maka membatasi pengeluaran pemerintah akan membatasi defisit anggaran pemerintah.

PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pola atau arah hubungan kausalitas antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah di Indonesia.
2. Apakah terdapat hubungan jangka panjang antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah di Indonesia.
3. Bagaimana pengaruh pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan terhadap penerimaan pemerintah.
4. Bagaimana pengaruh utang luar negeri dan utang dalam negeri terhadap penerimaan pemerintah.

TUJUAN PENELITIAN
1. Menganalisis pola atau arah hubungan kausalitas antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah di Indonesia
2. Menganalisis hubungan jangka panjang antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah
3. Menganalisis bagaimana pengaruh pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan terhadap penerimaan pemerintah
4. Menganalisis bagaimana pengaruh utang luar negeri dan utang dalam negeri terhadap penerimaan pemerintah

MANFAAT PENELITIAN
1. Memberikan masukan yang berguna untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan di Indonesia dalam merumuskan kebijakan-kebijakan untuk mengendalikan anggaran pemerintah
2. Sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berminat meneliti mengenai kebijakan fiskal (penerimaan dan pengeluaran pemerintah)
3. Menambah wawasan ilmu pengetahuan di bidang ekonomi khususnya tentang kebijakan fiskal.

PENELITIAN SEBELUMNYA
Hondroyiannis dan Papapetrou (1999), penelitiannya menemukan kausalitas satu arah dari pengeluaran terhadap penerimaan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan pada tingkat yang tinggi di Yunani selama perpanjangan periode waktu, utamanya pada anggaran pengeluaran dan tidak pada dinamika dari penerimaan pemerintah.
Tingginya tingkat penggunaan kebijakan fiskal yang ekspansioner untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi dan berbagai peristiwa politik adalah faktor-faktor khusus yang menandai tumbuhnya sektor publik di Yunani.
Mithani dan Khoon (1999), Penelitiannya menemukan kausalitas satu arah dari pengeluaran terhadap penerimaan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa sektor publik di Malaysia lebih dipengaruhi oleh anggaran pengeluaran pemerintah. Hal ini disebabkan berbagai faktor di antaranya tingkat bunga yang relatif rendah, meningkatnya pendapatan sektor pemerintahan dan swasta sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan ekonomi terdahulu, akses terhadap kredit yang lebih luas, dan kebijakan fiskal yang ekspansioner.
Devarajan, et.al. (1996), meneliti tentang komposisi pengeluaran publik dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan menggunakan metode Ordinary Least Squares diperoleh kesimpulan bahwa di 43 negara berkembang selama 20 tahun (1970-1990) menunjukkan peningkatan pengeluaran rutin berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sebaliknya pengeluaran pembangunan menunjukkan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Makhlani (2006), penelitiannya menemukan kausalitas timbal balik pada lag 1. Pinjaman luar negeri)mendorong pertumbuhan ekonomi, sebaliknya pertumbuhan ekonomi mendorong PLN. Dalam periode ini, pemerintah menderegulasi investasi swasta asing dan swasta dalam negeri dan mengizinkan sektor swasta melakukan investasi di bidang infrastruktur seperti tenaga listrik, telekomunikasi, pelabuhan dan jalan.
Santoso, (2004) meneliti tentang manajemen utang luar negeri dan dalam negeri pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa biaya pinjaman luar negeri lebih kecil dibandingkan biaya pinjaman dalam negeri. Namun, pinjaman luar negeri menimbulkan biaya oportunitas yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Hal ini disebabkan adanya biaya kondisional (conditionalities) yang ditimbulkan oleh pinjaman luar negeri. Biaya kondisional ini menyebabkan biaya oportunitas yang lebih besar dibanding dengan pinjaman dalam negeri. Salah satu bentuk biaya kondisional yang harus ditanggung oleh Indonesia karena menerima pinjaman dari IMF adalah butir-butir kesepakatan yang dituangkan dalam (LoI) Letter of Intent.

KEBIJAKAN FISKAL PEMERINTAH
Tindakan pemerintah untuk memperbesar atau memperkecil jumlah pungutan pajak dan memperbesar atau memperkecil pengeluaran pemerintah. Instrumen yang penting dalam mempengaruhi kebijakan fiskal adalah pajak dan pengeluaran pemerintah (Reksoprayitno, 1985).

KOMPONEN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
1. Penerimaan Pemerintah
Dalam menerapkan kebijakan anggaran baik anggaran defisit maupun anggaran surplus, tidak terlepas dari peran pajak sebagai sumber pendapatan utama. Dalam penerapan anggaran surplus, pemerintah dapat meningkatkan pajak khususnya pajak penghasilan atau pajak tidak dinaikkan tetapi pengeluaran pemerintah dikurangi. Begitu juga dalam penerapan anggaran defisit, pemerintah dapat menurunkan tingkat pajak sehingga konsumsi masyarakat dapat meningkat dan gairah usaha juga meningkat.
Dalam struktur pendapatan negara, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) didominasi oleh penerimaan dari sumber daya alam migas. Perkembangan dan kontribusi PNBP terhadap pendapatan negara dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak mentah di pasar internasional dan perubahan nilai tukar (kurs) yang keduanya sangat rentan terhadap perubahan kondisi berbagai faktor eksternal.

2. Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran rutin digunakan untuk pemeliharaan dan penyelenggaraan pemerintah yang meliputi belanja pegawai, belanja barang, pembayaran bunga utang, subsidi, dan pengeluaran rutin lainnya. Selain itu, pengeluaran pembangunan digunakan untuk membiayai pembangunan di bidang ekonomi, sosial, dan umum baik pembangunan secara fisik maupun non fisik.

PENERIMAAN PEMERINTAH : PRINSIP-PRINSIP PERPAJAKAN
1. Insidens Pajak Anggaran Berimbang (Balanced-Budget Incidence).
Pengaruh distributif suatu pajak terhadap pengeluaran pemerintah yang dibiayai dari penerimaan-penerimaan pajak dalam jumlah yang sama.
2. Insidens Pajak Diferensial (Differential Incidence). Menganalisis berbagai alternatif pembiayaan dengan menggunakan pajak terhadap suatu program pemerintah.
3. Insidens Pajak Absolut (Absolute Incidence). Analisis ini melihat pengaruh suatu jenis pajak (misalnya pajak pendapatan) terhadap distribusi pendapatan masyarakat tanpa melihat efek distributif efek distributif dari suatu program pemerintah (pengeluaran pemerintah) atau jenis-jenis pajak lainnya.

TEORI PENGELUARAN PEMERINTAH
1. Pengeluaran Pemerintah Versi Keynes
Penurunan dalam pengeluaran pemerintah dan peningkatan dalam pajak dari aliran sirkulasi pendapatan nasional akan mengurangi permintaan agregat dan melalui proses pengganda (multiplier) akan memberikan penurunan tekanan inflasi ketika perekonomian mengalami peningkatan kegiatan yang berlebihan (over-heating). Peningkatan dalam pengeluaran pemerintah dan penurunan dalam pajak, maka suatu suntikan (injection) ke dalam aliran sirkulasi pendapatan nasional akan menaikkan permintaan aggregat dan melalui efek pengganda menciptakan tambahan lapangan pekerjaan (Kamaluddin, 1999).
2. Pembangunan dan Perkembangan Pengeluaran Pemerintah
Rostow, Musgrave menghubungkan perkembang-an pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap pembangunan ekonomi yang terdiri dari :
Tahap awal : perkembangan ekonomi, persentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar sebab pemerintah harus menyediakan prasarana seperti misalnya pendidikan, kesehatan, prasarana transportasi dan sebagainya. Tahap menegah : Investasi pemerintah tetap diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat tinggal landas. Pemerintah harus menyediakan barang dan jasa publik dalam jumlah yang lebih banyak dan kualitas yang lebih baik. Tahap lanjut Pembangunan ekonomi dan aktivitas pemerintah beralih dari penyediaan prasarana ke pengeluaran-pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti program kesejahteraan hari tua dan
tahap menengah dan tahap lanjut.
3. Hukum Wagner
Wagner menyatakan dalam suatu perkonomian apabila pendapatan perkapita meningkat, secara relatif pengeluaran pemerintah pun akan meningkat. Terutama disebabkan karena pemerintah harus mengatur hubungan yang timbul dalam masyarakat, hukum, pendidikan, rekreasi, kebudayaan dan sebagainya (Mangkoesoebroto,2001).

Tabel 1. Hasil Uji Kointegrasi
1st difference
Variabel ADF Critical Value
DResidkoint -11.79766 -3.661661

4. Teori Peacock dan Wiseman
Adanya perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat.

HIPOTESIS
1. Terdapat hubungan kausalitas dua arah (feedback) antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah di Indonesia
2. Terdapat hubungan keseimbangan jangka panjang antara penerimaan dan Pengeluaran pemerintah di Indonesia
3. Pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pemerintah
4. Utang luar negeri dan utang dalam negeri berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pemerintah.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan data runtun waktu (time series) selama 35 tahun yakni dalam kurun waktu 1970-2004. Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari International Financial Statistics dan Bank Indonesia. Adapun data yang digunakan terdiri dari penerimaan dalam negeri, pengeluaran rutin, pengeluaran pembangunan, utang dalam negeri dan utang luar negeri.
Untuk menganalisis bagaimana arah kausalitas antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah di Indonesia, digunakan uji kausalitas Granger untuk melihat apakah terjadi hubungan timbal balik, satu arah, atau tidak terjadi kausalitas. Selain itu untuk mengetahui apakah kedua variabel mempunyai hubungan keseimbangan jangka panjang, maka digunakan uji kointegrasi dengan metode Engle Granger (EG). yang melihat residual dari hasil regresi apakah stasioner atau tidak stasioner.
Selanjutnya, untuk menganalisis pengaruh pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan serta utang luar negeri dan utang dalam negeri terhadap penerimaan pemerintah digunakan metode Ordinary Least Square. Interpretasi dari persamaan regresi secara implisit bergantung pada asumsi bahwa variabel independent dan
unsur gangguan yang berhubungan dengan observasi dalam persamaan regresi tidak saling berkorelasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa dengan membandingkan nilai statistik ADF terhadap nilai kritis ADF, maka residual persamaan kointegrasi adalah stasioner pada tingkat I(1) yang berarti bahwa terdapat hubungan jangka panjang antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah di Indonesia. Hal Hal ini dilihat dari nilai ADFstat (11,79) > ADFtab (3,66).









Tabel 2. Hasil Uji Kausalitas Granger

Pairwise Granger Causality Tests
Date: 03/11/06 Time: 14:27
Sample: 1970 2004
Lags: 1
Null Hypothesis: Obs F-Stat Probability
DYT does not Granger Cause DGT 33 2.76261 0.10691
DGT does not Granger Cause DYT 5.24905 0.02916











Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah memiliki hubungan searah dengan penerimaan pemerintah, yang dapat dilihat dari nilai Fstat (5,24905) lebih besar dari Ftabel (4,17) dan nilai probabilitas (0.02916) signifikan pada  = 5 %.
Tingginya penerimaan pemerintah tidak menyebabkan meningkatnya pengeluaran pemerintah namun sebaliknya meningkatnya pengeluaran pemerintah mendorong meningkatnya penerimaan pemerintah. Peningkatan pengeluaran pemerintah memiliki efek yang cukup besar dalam upaya menstimulus perekonomian melalui efek multiplier (pengganda) misalnya investasi pemerintah dalam alokasi barang-barang, sarana dan prasarana publik di masing-masing sektor. Meningkatnya pengeluaran pemerintah di masing sektor, selain akan menyebabkan adanya penyerapan lapangan kerja dan menambah pendapatan masyarakat juga akan mendorong meningkatnya penerimaan pemerintah.

Tabel 3. Hasil Uji Kausalitas Granger

REV = -4607,5 + 0,67PR + 2,38PPg – 5,71HDN + 0,10 HLN
t stat (5,6) (10,5) (-7,13) (3,3)
R2 = 0,9933
DW = 1,8614
F- stat = 1118,2

Bila dianalisis secara simultan variabel independen, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel penerimaan pemerintah pada signifikan α = 1 %. Hal ini dapat dilihat dari nilai Fstat (1118,2) lebih besar dari Ftabel (4,02). Secara parsial menunjukkan bahwa variabel pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan, utang dalam negeri dan utang luar negeri memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan pemerintah.
Variabel pengeluaran rutin (PR) signifikan pada α = 1 %, dimana Tstat (5,63) > Ttab (2,46) dan memberikan pengaruh positif sebesar 0,6688 terhadap penerimaan pemerintah. Tingginya pengeluaran ini disebabkan oleh alokasi belanja pegawai yang merupakan bagian terbesar dalam pengeluaran rutin. Pembayaran untuk gaji pegawai cenderung meningkat jika jumlah pegawai negeri semakin meningkat. Dari adanya pengeluaran rutin, pemerintah dapat memperoleh penerimaan penerimaan pajak yang diperoleh dari pajak penghasilan (PPh) yang akan mendorong meningkatnya penerimaan pemerintah.
Untuk variabel pengeluaran pembangunan (PPg) signifikan pada α = 1 %, dimana Tstat (10,49) > Ttab (2,46) dan memberikan pengaruh positif sebesar 2,3768 terhadap penerimaan pemerintah. Meningkatnya pengeluaran pembangunan di masing-masing sektor mampu menciptakan bertambahnya kesempatan kerja dan menambah pendapatan masyarakat. Selain itu dapat mendatangkan penerimaan pajak yang diperoleh pemerintah melalui pembangunan sarana dan prasarana publik.
Utang dalam negeri (HDN) signifikan pada α = 1 %, dimana Tstat (-7,13) > Ttab (2,46) dan memberikan pengaruh negatif sebesar 5,7053 terhadap penerimaan pemerintah. Obligasi yang diterbitkan pemerintah dengan tingkat suku bunga dan waktu jatuh tempo tertentu akan mempengaruhi jumlah utang dalam negeri pemerintah. Tingginya tingkat suku bunga obligasi akan berpengaruh terhadap anggaran pemerintah. Kenaikan suku bunga akan menyebabkan penerimaan pemerintah berkurang karena bertambahnya pengeluaran pemerintah untuk membayar bunga dan cicilan utang dalam negeri.
Variabel utang luar negeri (HLN) signifikan pada α = 1 %, dimana Tstat (3,27) > Ttab (2,46) dan memberikan pengaruh positif sebesar 0,1016 terhadap penerimaan pemerintah. Peranan pinjaman luar negeri di samping sebagai pelengkap dana dalam negeri untuk menunjang peningkatan laju pembangunan, juga diperlukan untuk menambah penyediaan devisa guna membiayai impor yang berkaitan dengan program dan proyek-proyek pembangunan.
Dengan meningkatnya proyek pembangunan di masing-masing sektor mampu menciptakan bertambahnya kesempatan kerja dan akan menambah pendapatan masyarakat. Hal ini memberikan dampak terhadap permintaan (demand) masyarakat dan pada akhirnya meningkatkan kegiatan ekonomi lainnya. Pemanfaatan pinjaman luar negeri, juga dapat mendatangkan penerimaan finansial yang secara langsung ataupun tidak langsung.
Penerimaan secara langsung dapat berupa penerimaan pajak yang diperoleh pemerintah melalui pembangunan sarana dan prasarana publik. Selain itu penerimaan tidak langsung melalui penerimaan devisa dari sektor industri yang menghasilkan ekspor yang didukung oleh sarana yang dibangun dengan biaya dari pinjaman luar negeri.

KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil uji Kausalitas Granger menunjukkan terjadi kausalitas satu arah antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah selama kurun waktu 1970-2004. Pola atau arah hubungan kausalitas adalah dari pengeluaran pemerintah ke penerimaan pemerintah. Tingginya penerimaan pemerintah tidak menyebabkan meningkatnya pengeluaran pemerintah, namun sebaliknya meningkatnya pengeluaran pemerintah mendorong meningkatnya penerimaan pemerintah (higher government expenditure leads to higher government revenue).
2. Uji kointegrasi menunjukkan terdapat hubungan jangka panjang antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah, yang memberi arti bahwa dalam jangka panjang variasi perubahan pengeluaran pemerintah akan menciptakan variasi perubahan pada penerimaan pemerintah.
3. Hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel independen secara keseluruhan maupun secara parsial, berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pemerintah. pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan berpengaruh positif terhadap penerimaan pemerintah.
4. Utang luar negeri berpengaruh positif terhadap penerimaan pemerintah, sedangkan utang dalam negeri berpengaruh negatif terhadap penerimaan pemerintah.

SARAN
1. Memperbesar pengeluaran pembangunan dengan tepat sasaran untuk mendorong meningkatnya penerimaan pemerintah. Misalnya dengan meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana publik baik secara fisik maupun non fisik.
2. Pemerintah harus disiplin mengalokasikan serta menginvestasikan pengeluaran rutin secara efisien dan efektif. Selain itu diperlukan pengendalian dan pengawasan untuk menghindari adanya kelebihan (excess) pengeluaran pemerintah agar tidak menimbulkan efek inflatoir.
3. Penggunaan utang luar negeri harus tepat sasaran untuk membiayai pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendorong meningkatnya penerimaan pemerintah.
4. Pemerintah harus bersikap hati-hati dalam menerbitkan surat utang (obligasi) agar tidak menimbulkan beban bagi anggaran pemerintah dalam pembayaran bunga dan cicilan utang dalam negeri.


DAFTAR PUSTAKA

AbuAl-Foul, B. and Baghestani, H. 2004. The Causal Relation Between Government Revenue and Spending. Evidence From Egypt and Jordan, Journal of Economics and Finance. United Arab Emirates : American University.

Cheng, B.S. 1999. Causality Between Taxes and Expenditures : Evidence From Latin American Countries, Journal of Economics and Finance. LA : Southern University Baton Rouge.

DeLoughy, S.T. 1999. The Causal Relationship Between Tax Revenues and Expenditures : The Case of Connecticut, The Journal of Bussiness and Economic Studies. Western Connecticut : State University.

Devarajan, S. Swaroop, V. Zou, Heng-fu (1996). The Composition of Public Expenditure and Economic Growth, Journal of Monetary Economics. Washington : Policy Research Department.

Djamin, Z. 1993. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia.

-----------. 1993. Pembangunan Ekonomi Indonesia Sejak Repelita I. Jakarta: Universitas Indonesia.

Djunasien dan Hidayat. 1989. Ekonomi Indonesia : Masalah dan Prospek 1989/1990. Jakarta : Universitas Indonesia.

Departemen Keuangan. 2003. Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara ---------------------------. 2004. Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara
Dumairy. 1997. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Gujarati, D.N. 2003. Basic Econometrics 4th ed. New York: McGraw-Hill.

Hondroyiannis, G. and Papapetrou, E. 1999. An Examination of The Causal Relationship Between Government Spending and Revenue: A Cointegration Analysis, Public Choice (1986-1998). Netherlands: Kluwer Academic Publishers.

Kamaluddin, R. 1999. Pengantar Ekonomi Pembangunan. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Makhlani. 2006. Pola Pembangunan Ekonomi Dengan Pinjaman Luar Negeri, Jurnal Keuangan dan Moneter. Indonesia : Departemen Keuangan Indonesia.
Mangkoesoebroto, G. 1994. Kebijakan Ekonomi Publik Di Indonesia, Substansi Dan Urgensi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

------------------------- . 2001. Ekonomi Publik. Yogyakarta : BPFE UGM.

Manurung, R.B. 2004. Defisit Kembar (Twin Deficits) di Indonesia : Analisis Kointegrasi, Tesis, Sekolah Pascasarjana USU, Medan. (tidak dipublikasikan).

Mithani, DM. and Khoon, G.S.1999. Causality Between Government Expenditure and Revenue in Malaysia, A seasonal Cointegration Test, ASEAN Economic Buletin. Malaysia : Northern University of Malaysia.

Reksoprayitno, S. 1985. Ekonomi Makro: Pengantar Analisa Pendapatan Nasional. Yoyakarta : Liberty.

Santoso, B. 2004. Studi Manajemen Utang Luar Negeri dan Dalam Negeri Pemerintah, Laporan Akhir. Indonesia : Departemen Keuangan Republik Indonesia.

Sihombing, P. 2003. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengeluaran Pemerintah Indonesia Dengan Pendekatan Error Correction Model, Tesis, Sekolah Pascasarjana USU, Medan. (tidak dipublikasikan).

Silalahi, P. R. 1999. Pajak : Jenis dan Perannya, Jurnal Pasar Modal Indonesia. Jakarta : Mitracon Info.

Seftarita, C. 2005. Analisis Pengaruh Kebijkan Fiskal dan Kebijakan Moneter Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, Tesis, Sekolah Pascasarjana USU, Medan. (tidak dipublikasikan).

ANALISIS PRODUKSI, PENDAPATAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN DI KABUPATEN LABUHAN BATU


ANALISIS PRODUKSI, PENDAPATAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN
DI KABUPATEN LABUHAN BATU

Asni1, Sya’ad Afifuddin2,
H.B. Tarmizi3, Wahyu Ario Pratomo4

Abstrak : Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan, tenaga kerja dan modal terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat, menganalisis pengaruh jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat serta menganalisis pengaruh faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Studi ini menggunakan data cross section dari 150 responden, yaitu 50 orang petani padi sawah, 50 orang petani kelapa sawit dan 50 orang petani yang mengalihfungsikan lahan padi sawah menjadi kelapa sawit. Analisis data dilakukan menggunakan metode Ordinary Least Square. Hasil studi yang signifikan mempengaruhi produksi padi sawah adalah luas lahan dan modal, sedangkan faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi produksi kelapa sawit adalah luas lahan, tenaga kerja dan modal. Faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi pendapatan petani adalah produksi dan harga jual (untuk petani padi sawah), serta harga jual dan modal (untuk petani kelapa sawit). Faktor-faktor yang signifikan mempengaruh alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat pendidikan, pendapatan petani dan kesempatan menabung. Ada kecenderungan bahwa lahan padi sawah yang lebih beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit adalah lahan sawah bukan irigasi teknis. Berdasarkan analisa usahatani, efisiensi usahatani kelapa sawit rakyat lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani padi sawah (B/C ratio padi sawah = 1,41 dan B/C ratio kelapa sawit = 2,54).

Kata kunci : Produksi padi sawah, kelapa sawit, pendapatan petani dan lahan.


PENDAHULUAN

Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting peranannya di dalam perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas dari peranan sketor pertanian di dalam menampung penduduk serta memberikan kesempatan kerja kepada penduduk, menciptakan pendapatan nasional dan menyumbangkan pada keseluruhan produk. Berbagai data menunjukkan bahwa di beberapa negara yang sedang berkembang lebih 75% dari penduduknya berada di sektor pertanian dan lebih 50% dari pendapatan nasionalnya dihasilkan dari sektor pertanian serta hampir seluruh ekspornya merupakan bahan pertanian. (Todaro, 2000).
Pembangunan dan modernisasi pertanian di negara-negara yang sedang berkembang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi, peningktaan pendapatan petani dan menyediakan pasar bagi produksi sektor industri, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan ekspor dan menciptakan tabungan bagi pembangunan.
Pembangunan pertanian dan pedesaan sesungguhnya mengandung berbagai dilema. Di satu pihak produksi dan produktivitas pertanian mesti ditingkatkan. Peningkatan produksi dan produktivitas ini merupakan keharusan karena merupakan landasan dan prasyarat bagi proses industrialisasi. Seandainya tingkat pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi itu dapat dicapai, perubahan struktur produksi yang menurunkan tingkat produktivitas relatif itupun tidak akan bisa dihindari kecuali jika struktur kesempatan kerja juga dapat diubah mengikuti perubahan struktur produksi tersebut. Sementara itu, peingkatan produktivitas mau tidak may mesti dilakukan dengan mempergunakan jenis teknologi yang lebih efisien, baik teknologi biologis, teknologi mekanis maupun teknologi sosial. Akan tetapi teknologi ini tentu mengakibatkan penghematan tenaga kerja di sektor yang bersangkutan.
Dalam usaha pertanian, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh resiko. Anjangnya waktu yang dibutuhkan tidak sama tergantung pada jenis komoditas yang diusahakan. Tidak hanya waktu, kecukupan faktor produksi pun turut sebagai penentu pencapaian produksi. Dari segi waktu, usaha perkebunan membutuhkan periode yang lebih panjang dibandingkan dengan tanaman pangan dan sebagian tanaman hortikultura. Masing-masing jenis tanaman juga mempunyai periodisasi yang berbeda satu sama lain.
Proses produksi baru bisa berjalan bila persyaratan yang dibutuhkan dapat dipenuhi, persyaratan ini lebih dikenal dengan faktor produksi. Faktor produksi terdiri dari empat komponen, yaitu tanah, modal, tenaga kerja, dan skill atau manajemen. (Daniel, 2002)
Masing-masing faktor mempunyai fungsi yang berbeda dan saling terkait satu sama lainnya. Kalau salah satu faktor tidak tersedia, maka proses produksi tidak akan berjalan, terutama tiga faktor tersebut diatas. Faktor-faktor produksi tersebut merupakan sesuatu yang mutlak harus tersedia yang akan lebih sempurna kalau syarat kecukupan pun dapat dipenuhi. Faktor produksi modal sebagian dialokasikan untuk menyediakan input produksi fisik, yaitu bibit, pupuk dan pestisida. Input produksi tersebut merupakan salah satu unsur penentu kegiatan produksi, karena tanaman membutuhkannya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Kegiatan produksi merupakan kegiatan dalam lingkup yang agak sempit dan karenanya membahas aspek mikro. Dalam mempelajari aspek ini, peranan hubungan input produksi dan output (hasil atau produksi) mendapatkan perhatian utama. Peranan input bukan saja dapat dilihat dari segi macamnya atau tersedianya dalam waktu yang tepat, tetapi juga dapat ditinjau dari segi efisiensi penggunaannya. Karena faktor-faktor inilah yang maka terjadi senjang produktivitas (yield gap) antara produktivitas yang seharusnya dan produktivitas yang dihasilkan oleh petani. Dalam banyak kenyataan, sepanjang produktivitas ini terjadi karena adanya faktor yang sulit untuk diatasi manusia (petani) seperti adanya teknologi yang tidak dapat dipindahkan dan adanya perbedaan lingkungan, misalnya iklim. Karena kedua faktor ini sangat sulit diatasi oleh petani, maka perbedaan hasil yang disebabkan oleh kedua faktor ini menyebabkan senjang produktivitas dari hasil eksperimen dan dari potensial suatu usaha tani. (Soekartawi, 1993)
Kabupaten Labuhan Batu dengan ibukota Rantauprapat merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara yang berada pada kawasan pantai Timur Sumatera Utara, terletak pada koordinat 1o26’ – 2o11’ Lintang Utara dan 91o01’ - 95o53’ Bujur Timur. Luas wilayahnya adalah 922.318 Ha (9.223,18 Km2) atau 12,87% dari luar wilayah Propinsi Sumatera Utara dan merupakan kabupaten nomor 2 terluas setelah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kabupaten Labuhan Batu mempunyai kedudukan yang cukup strategis, yaitu berada pada jalur lintas trans Sumatera Timur tepatnya pada persimpangan menuju Sumatera Barat dan Riau yang menghubungkan pusat-pusat perkembangan wilayah di Sumatera dan Jawa serta mempunyai akses yang memadai ke luar negeri karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka.
Luas persawahan di Kabupaten Labuhan Batu cenderung mengalami penurunan setiap tahun. Luas persawahan pada tahun 1997 adalah 83.310 Ha menjadi 78.732 Ha pada tahun 2003 dengan rata-rata penurunan luas lahan 1,83 persen per tahun. Penurunan luas lahan juga menyebabkan terjadinya penurunan produksi padi sawah, yaitu dari 368.467 ton pada tahun 1997 menjadi 313.285 ton pada tahun 2003 dengan rata-rata penurunan produksi padi sawah 2,37 persen per tahun.(BPS Labuhan Batu, 2003)

Tabel 1. Perkembangan Luas Lahan Dan Produksi Padi Sawah Dan Kelapa Sawit Rakyat Di Kabupaten Labuhan Batu, 1997 – 2003

Tahun Padi Sawah Kelapa Sawit Rakyat
Luas Lahan (Ha) % Pertum uhan Produksi (ton) % Pertum uhan Luas Lahan (Ha) % Petum uhan Produksi % Pertum buhan
1997 83.31 - 368.467 - 64.758 - 615.955 -
1998 78.99 -5,31 342.352 -7,09 65.060 0,47 641.955 4,22
1999 88.53 12,23 387.024 13,05 65.410 0,54 662.256 3,16
2000 80.18 -9,43 348.926 -9,84 78.931 20,67 755.389 14,06
2001 77.03 -3,93 325.392 -6,74 79.031 0,13 962.416 27,41
2002 67.13 -12,85 306.188 -5,90 79.508 0,60 1.067.139 10,88
2003 72.73 8,34 313.285 2,32 82.879 4,24 1.089.355 2,08
Rata-Rata -1,83 -2,37 4,44 10,30
Sumber : BPS Kabupaten Labuhan Batu, 2003

Gambar 1. Grafik Produksi Padi Sawah dan Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Labuhan Batu, 1997 – 2003

Sedangkan luas lahan kelapa sawit mengalami peningkatan setiap tahun, yaitu 64.758 Ha pada tahun 1997 menjadi 82.879 Ha pada tahun 2003 dengan rata-rata peningkatan luas lahan 4,44 persen per tahun. Jumlah produksi pada tahun 1997 sebanyak 615.955 ton meningkat menjadi 1.089.355 ton pada tahun 2003 dengan rata-rata peningkatan produksi 10,30 persen per tahun. Peningkatan luas lahan dan produksi perkebunan kelapa sawit rakyat terus juga akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. (BPS Labuhan Batu, 2003)
Komoditas kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu merupakan komoditas andalan yang memberikan pendapatan masyarakat yang lebih baik dan terjamin dibandingkan dengan komoditas pertanian lain seperti karet, kopi dan juga tanaman padi. Oleh karena itu, setiap tahun terjadi alih fungsi lahan pertanian tersebut menjadi kelapa sawit, khususnya di kalangan petani. Selain alih fungsi lahan, juga terjadi peralihan sistem pertanian dari tradisionil menjadi pertanian semi intensif. Perlaihan sistem usahatani tersebut menyebabkan penggunakan modal dalam sistem pertanian semakin intensif, karena dalam perkebunan kelapa sawit, aktivitas kegiatan lebih tinggi dibandingkan dengan padi sawah.
Pendapatan petani dipengaruhi oleh produksi usahatani, dalam hal ini padi dan kelapa sawit rakyat. Selain dipengaruhi oleh jumlah produksi, pendapatan petani juga dipengaruhi oleh harga jual produksi tersebut, juga dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja yang digunakan dan modal yang dialokasikan petani dalam usahatani tersebut. Keinginan petani untuk meningkatkan pendapatan serta menjamin rutinitas pendapatan setiap bulan, menyebabkan sebagian petani mengalihfungsikan lahan padi sawah menjadi kelapa sawit.
Menurut Hadi (2004), kini ancaman penurunan produksi padi di Indonesia semakin serius karena petani mulai meninggalkan tanaman kebutuhan pokok itu. Mereka beralih ke tanaman perkebunan, kelapa, dan kelapa sawit. Keinginan petani mengkonversi lahannya dari sawah menjadi lahan perkebunan, khususnya kelapa sawit, sulit dibendung, karena lebih menjanjikan pendapatan yang lebih tinggi.

PERUMUSAN MASALAH

1. Apakah luas lahan, tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu
2. Apakah jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu
3. Apakah faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan berpengaruh secara signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.

TUJUAN STUDI

1. Menganalisis pengaruh luas lahan, tenaga kerja dan modal terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu
2. Menganalisis pengaruh jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.
3. Menganalisis pengaruh faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.

HIPOTESIS

1. Luas lahan, tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.
2. Jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.
3. Faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan berpengaruh secara signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas, sebagai bentuk aljabar fungsi produksi yang akan diduga. Secara matematis, model fungsi produksi Cobb-Douglas dapat ditulis sebagai berikut : (Gujarati, 2003)

Y = 0x11 x 22 .... xnnv

atau dalam bentuk linear logaritma dapat ditulis :

log Y = log 0 + 1 logx1 + 2log x2 + ... + nlogn + v

Y = output (produksi) yang dihasilkan
X1...Xn = input produksi yang digunakan
0 = konstanta atau intersept
1.....n = koefisien regresi dari masing-masing faktor produksi
V =disturbance term

Luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha, dan skala usaha ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu usaha pertanian. Seringkali dijumpai makin luas lahan yang dipakai sebagai usaha pertanian akan semakin tidak efisienlah lahan tersebut. Sebaliknya pada luasan lahan yang sempit, upaya pengusahaan terhadap penggunaan faktor produksi semakin baik, penggunaan tenaga kerja tercukupi dan tersedianya modal juga tidak terlalu besar, sehingga usaha pertanian seperti ini sering lebih efisien. Meskipun demikian, luasan yang terlalu kecil cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien pula. (Soekartawi, 1993)
Topografi lahan menggambarkan penggunaan lahan pertanian yang didasarkan pada tinggi tempat. Untuk tanah-tanah di Indonesia, pembagian lahan menurut tinggi tempat (topografi) sering dikategorikan sebagai lahan dataran partai, dataran rendah dan dataran tinggi. Pembagian klasifikasi menurut topografi ini juga menggambarkan macam usaha pertanian yang diusahakan oleh penduduk bertempat tinggal di lokasi itu. (Soekartawi, 1993)
Kesuburan lahan pertanian juga menentukan produktivitas tanaman. Lahan yang subur akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi daripada lahan yang tingkat kesuburannya rendah. Kesuburan lahan pertanian biasanya berkaitan dengan struktur dan tekstur tanah, struktur dan tekstur tanah ini pada akhirnya juga menentukan macam tanah. Mislanya tanah liat, grumosol, alluvial dan sebagainya.

MODEL ANALISIS

Faktor produksi terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu luas lahan, tenaga kerja dan modal. Faktor yang mempengaruhi pendapatan petani diasumsikan terdiri dari 4 (empat) faktor, yaitu jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal. Hubungan faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan diasumsikan dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas.
Fungsi produksi cobb-Douglas pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Y = 0 x11 x22 x33 u

Melalui transfer logaritmik persamaan tersebut diubah menjadi bentuk linear dengan menggunakan model persamaan Ordinary Least Square (OLS) sebagai berikut :

In Y1 = In 0+1 In x11+2 In x12+3 In x13 + u1
Dimana :
Y1 = total produksi padi sawah (ton)
X11 = luas lahan (Ha)
X12 = tenaga kerja (HKP)
X13 = modal (Rp.)
1 - 3 = koefisien regresi
U1 = variabel gangguan (error term)

Model persamaan Ordinary Least Square (OLS) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi sawah adalah sebagai berikut :
In Y2= In 0+1 Inx21+2 Inx22+3 Inx23+4 Inx24+u2

Dimana :

Y2 = total pendapatan padi sawah (Rp.)
X21 = jumlah produksi (ton)
X22 = harga jual (Rp./kg)
X23 = jumlah tenaga kerja (HKP)
X24 = Modal (Rp.)
1-4 = koefisien regresi
U2 = variabel gangguan (error term)

Model persamaan Ordinary Least Square (OLS) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit rakyat adalah sebagai berikut :

In Y3 = In 0+ 1 In x31+2 In x32+3 In x33 + u3

Dimana :
Y3 = total produksi kelapa sawit (Rp.)
X31 = luas lahan (Ha)
X32 = tenaga kerja (HKP)
X33 = modal (Rp.)
1-3 = koefisien regresi
U3 = variabel gangguan (error term)

Selanjutnya model persamaan Ordinary Least Square (OLS) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani kelapa sawit adalah sebagai berikut :

InY4 = In0+1 Inx41+2 Inx42+3 Inx43+4 Inx44+u3

Dimana :
Y4 = total pendapatan kelapa sawit (Rp.)
X41 = jumlah produksi (ton)
X42 = harga jual (Rp./kg)
X43 = jumlah tenaga kerja (HKP)
X44 = modal (Rp.)
1-4 = koefisien regresi
U4 = variabel gangguan (error term)

VARIABEL PENELITIAN

1. Produksi
Sebagai variabel terikat (dependent variabel) dalam hal ini adalah total produksi pertanian (Y), yaitu produksi padi sawah (Y1) dan produksi kelapa sawit (Y3), sedangkan variabel bebas (independent variabel adalah luas lahan (X1), tenaga kerja (X2), dan modal (X3).
2. Pendapatan
Sebagai variabel terikat (dependent variabel) adalah total pendapatan petani (Y), yaitu pendapatan petani padi sawah (Y2) dan pendapatan petani kelapa sawit (Y4), sedangkan variabel bebas (independent variabel) adalah jumlah produksi (X1), harga jual (X2), tenaga kerja (X3), dan modal (X4).
3. Alih fungsi lahan
Sebagai variabel terikat (dependent variabel, Y) dalam hal ini adalah total luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit (Y5), sedangkan variabel bebas (independent variabel, X) adalah pendidikan petani (X1), minat petani (X2), pendapatan petani per bulan (X3), kemampuan menabung (X4), kesesuaian lahan (X5) dan ketersediaan air (X6).

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH

1. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Padi Sawah

Untuk pengujian hipotesa yang dirumuskan dalam penelitian ini, maka dilakukan estimasi dengan model Ordinary Least Square (OLS) untuk data cross-section dari 50 petani responden dengan menggunakan Program Eviews 4.1. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Hasil Estimasi OLS Produksi Padi Sawah

LY1 = -6,62 + 0,437LX11 + 0,008LX12 + 0,535 LX13
t-stat (2,72) (0,158) (3,31)
R2 = 0,9464 F-stat = 289,236

Koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,9464 berarti bahwa variabel luas lahan, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 94,64%. Sedangkan sisanya sebesar 5,36%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.


2. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Padi Sawah

Pendapatan merupakan penerimaan yang diperoleh petani padi sawah setelah dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produksi padi sawah. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut

Tabel 3. Hasil Estimasi OLS Pendapatan Petani Padi Sawah

LY2 = -23,079+ 4,12LX21+4,513 LX22+0,018LX23+0,289 LX24
t-stat (2,034) (4,465) (0,283) (1,644)
R2 = 0,9577 F-stat = 278,079

Koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,9577 berarti bahwa variabel jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi pendapatan petani padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 95,77%. Sedangkan sisanya sebesar 4,23%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari F-statistik, yaitu sebesar 278,079 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-tabel (db = 4 : 45) = 3,77), berarti bahwa bersama-sama (serentak) jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal akan mempengaruhi variasi dari pendapatan petani padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI KELAPA SAWIT

1. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kelapa Sawit

Analisis regresi terhadap model estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data cross-section dari 50 petani responden. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Hasil Estimasi OLS Produksi Kelapa Sawit Rakyat

LY3 = -8,646 + 0,137LX31 + 0,436LX32 + 0,662 LX33
t-stat (3,160) (3,484) (7,31)
R2 = 0,9864 F-stat = 1188,91

Berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9864 berarti variabel luas lahan, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 98,64%. Sedangkan sisanya sebesar 1,36%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik yaitu sebesar 1188,91 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-tabel (db = 3 : 46) = 4,24); berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) luas lahan, tenaga kerja dan modal akan mempengaruhi variasi dari produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.

2. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Kelapa Sawit

Pendapatan merupakan penerimaan yang diperoleh petani dari hasil produksi perkebunan kelapa sawit rakyat yang diusahakannya dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produksi. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Tabel 5. Hasil Estimasi Ols Pendapatan Petani Kelapa Sawit

LY4 = -3,899+ 0,221LX41+0,721 LX42+0,072LX43+0,940 LX44
t-stat (1,509) (2,339) (0,504) (6,475)
R2 = 0,9878 F-stat = 994,003

Nilai koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,9878 berarti bahwa variabel jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi pendapatan petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 98,78%. Sedangkan sisanya sebesar 1,22%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 994,003 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-tabel (db = 4 : 45) = 3,77), berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal akan mempengaruhi variasi dari pendapatan petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu.

3. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Padi Sawah Menjadi Perkebunan Kelapa Sawit

Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan padi sawah menjadi perkebunan produksi kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Hasil Estimasi PLS Alih Fungsi Lahan Padi Sawah

LY5=-6,694+0,689LX51+0,467LX52+0,567LX53+0,675LX54+0,261X55-0,121X56
t-stat (4,725) (1,452) (6,821) (2,143) (1,319) (-1,128)
R2 = 0,8293 F-stat = 40,673

Berdasarkan nilai koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,8293 berarti bahwa pendidikan, minat, pendapatan petani, kemampuan menabung, kesesuaian lahan dan ketersediaan air mampu menjelaskan variasi luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 82,93%. Sedangkan sisanya sebesar 17,07%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 40,673 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-statistik > F-tabel (db = 5:44) = 3,46), berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) pendidikan petani, minat, pendapatan, kemampuan menabung, kesesuaian lahan dan ketersediaan air akan mempengaruhi variasi dari luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Dengan demikian, faktor sosial (yaitu pendidikan dan minat), faktor ekonomi (yaitu pendapatan dan kemampuan menabung), dan faktor fisik lahan (yaitu kesesuaian lahan dan ketersediaan air) berpengaruh secara signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit. Secara parsial faktor yang berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit adalah faktor sosial dan faktor ekonomi.
Berdasarkan analisis diketahui bahwa variabel ketersediaan air (X56) menunjukkan nilai yang negatif, hal ini berarti bahwa lahan-lahan padi sawah yang lebih banyak beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu adalah lahan-lahan non irigasi teknis. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan petani, maka luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit juga semakin meningkat, demikian juga dengan pendapatan dan kesempatan menabung. Pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan petani dapat lebih menerima suatu inovasi atau teknologi budidaya baru dalam usahataninya, termasuk alih fungsi lahan ke komoditi yang lebih bernilai ekonomis. Dalam hal ini, komoditi kelapa sawit mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dari padi sawah, yang dapat dilihat dari analisis usahatani, dimana nilai B/C perkebunan kelapa sawit lebih tinggi dari padi sawah.
Komditas kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu merupakan komoditas andalan yang memberikan pendapatan masyarakat yang lebih baik dan terjamin dibandingkan dengan komoditas pertanian lain seperti tanaman padi. Nilai ekonomi kelapa sawit yang lebih tinggi meningkatkan minat petani untuk mengusahakan kelapa sawit, dibandingkan dengan padi sawah. Berdasarkan analisis usahatani, dapat diketahui opportunity cost dari alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit. Biaya (cost) yang dikeluarkan petani padi sawah setiap tahun adalah Rp. 3.447.330,- per Ha dengan pendapatan Rp. 1.387.577,- per Ha/tahun. Biaya (cost) yang dikeluarkan petani kelapa sawit setiap tahun adalah Rp. 3.999.528,86,- per Ha dengan pendapatan Rp. 5.735.202,47,- per Ha/tahun. Dengan demikian selisih biaya (cost) antara usahatani kelapa sawit dan padi sawah per Ha adalah Rp. 552.198,86,- dan selisih pendapatan sebesar Rp. 4.347.625,47,-. Artinya dengan penambahan biaya sebesar Rp. 552.198,86,- dari usahatani padi sawah, petani akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp. 4.347.625,47 dari usahatani kelapa sawit. Dengan demikian, opportunity cost alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit sebesar Rp. 4.347.62,47,- (313,325).
Alih fungsi lahan padi sawah akan berdampak terhadap berbagai aspek, khususnya ketersediaan beras atau pangan secara nasional. Apabila alih fungsi lahan pertanian tidak terkendali, sangat mungkin mengakibatkan Indonesia tertimpa kelaparan. Oleh karena itu, penyelamatan sawah irigasi teknis subur yang pembangunannya menelan investasi sangat besar perlu dilakukan dengan serius, komprehensif dan terencana oleh semua pihak.
Sehubungan dengan hal tersebut, agar Peraturan Daerah No. 39 Tahun 1988 tentang Pemanfaatan dan Pengaturan Lahan Sawah Dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Labuhan Batu dapat diterapkan dengan efektif, Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu hendaknya memperbaiki dan memperluas pelayanan jaringan irigasi, sehingga sawah-sawah yang kurang mendapat air dapat memperoleh air dengan teratur.

KESIMPULAN

1. Luas lahan, tenaga kerja dan modal secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, variabel luas lahan dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi sawah, dimana yang paling besar pengaruhnya adalah modal.
2. Pendapatan petani padi sawah nyata dipengaruhi oleh variabel jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal secara bersama. Secara parsial, pendapatan petani padi sawah dipengaruhi oleh jumlah produksi dan harga jual.
3. Luas lahan, tenaga kerja dan modal secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, semua variabel berpengaruh secara signifikan terhadap produksi kelapa sawit, dimana yang paling besar pengaruhnya adalah modal.
4. Jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga krja dan modal secara bersama-sama berpengaruh terhadap pendapatan petani kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, harga jual dan modal berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani kelapa sawit, dan yang paling besar pengaruhnya adalah modal.
5. Faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan berpengaruh terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, faktor yang mempengaruhi luas lahan yang beralih fungsi adalah faktor pendidikan, pendapatan petani dan kesempatan menabung. Ada kecenderungan bahwa lahan padi sawah yang lebih banyak beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit adalah lahan sawah bukan irigasi teknis.
6. Berdasarkan analisa usahatani, nilai B/C ratio usahatani padi sawah adalah 1,41 dan B/C ratio usahatani kelapa sawit adalah 2,54. Hal ini berarti bahwa efisiensi usahatani kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani padi sawah.

SARAN

1. Produktivitas padi sawah di wilayah Kabupaten Labuhan Batu masih lebih rendah dari produksi Sumatera Utara, oleh karena itu dalam usaha meningkatkan produksi dan pendapatan petani padi sawah, dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan input produksi dan modal.
2. Dalam usahatani kelapa sawit rakyat, terlihat bahwa faktor modal lebih tinggi pengaruhnya dalam meningkatkan produksi maupun pendapatan petani kelapa sawit, oleh karena itu dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan tersebut, dapat diupayakan dengan penyediaan modal usaha bagi petani.
3. Sehubungan dengan masalah alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit yang semakin meningkat, kepada Pemda Kabupaten Labuhan Batu diharapkan untuk dapat memperluas pelayanan jaringan irigasi teknis, sehingga kebutuhan air untuk lahan sawah dapat terpenuhi. Hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa sebagian lahan yang beralih fungsi adalah lahan-lahan sawah non irigasi.
4. Kepada petani kelapa sawit yang masih memiliki lahan padi sawah diharapkan untuk tidak mengalihfungsikan lahan padi sawah tersebut menjadi kelapa sawit, tetapi dengan lebih mengintensifkan pengolahan usahataninya baik dari penggunaan input produksi maupun dengan meningkatkan intensitas pertanaman padi sawah.
5. Kepada petani kelapa sawit disarankan untuk melakukan perawatan tanaman kelapa sawit dengan intensif sehingga dapat menghasilkan produksi maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
BPS, 1988, Produktivitas Padi Sawah, dalam angka BPS Cabang Labuhan Batu.
Daniel, Moehar. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : Bumi Aksara.
Gujarati, Damodar, 2003. Ekonometrika Dasar. Erlangga, Jakarta.
Hadi, Nasrul, 2004. Mengganti Padi Dengan Kelapa Sawit. Jambi : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Soekartawi. 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Jakarta : Rajawali.
___________, 1994. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, Cetakan Pertama.
Todaro, Micahel P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh. Jakarta : Erlangga.
Asni, 2005. Analisis Produksi, Pendapatan dan Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Labuhan Batu, Program Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara Medan, tidak dipublikasikan.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL SEPATU DAN KONVEKSI DI KOTA MEDAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI
INDUSTRI KECIL SEPATU DAN KONVEKSI
DI KOTA MEDAN

Sri Pratiwi1, Sya’ad Afifuddin2,
Jhon Tafbu Ritonga3, Rujiman4

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan dengan menggunakan metode OLS. Hasil analisis menunjukkan bahwa industri kecil di Kota Medan baik untuk industri kecil sepatu maupun industri kecil konveksi memiliki peranan yang relatif besar dalam mendorong pembangunan ekonomi di Kota Medan yakni dalam hal penciptaan lapangan kerja dan berkontribusi dalam pembentukan PDRB Kota Medan. Perkembangan industri kecil konveksi masih lebih baik dibandingkan dengan perkembangan industri kecil sepatu. Berdasarkan laju pertumbuhan rata-rata per tahun baik untuk perkembangan industri kecil sepatu dan konveksi maupun laju pertumbuhan rata-rata per tahun untuk kemampuan menyerap tenaga kerja di Kota Medan. Hasil studi menunjukkan bahwa modal usaha, tenaga kerja dan jam bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Sedangkan pengalaman berusaha berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Faktor modal usaha sangat dominan mempengaruhi peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Dari sisi lain untuk modal usaha dan pengalaman berusaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan produksi industri kecil konveksi. Sedangkan tenaga kerja dan jam kerja berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi. Sisa hasil produksi tahun sebelumnya berpengaruh negatif dan signifikan terhadap hasil produksi industri kecil konveksi.

Kata kunci : Industri kecil, produksi, tenaga kerja.



LATAR BELAKANG

Tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata baik material dan spiritual sebagai wujud pelaksanaan demokrasi ekonomi yang dilandasi jiwa semangat kebersamaan dan kekeluargaan, dimana koperasi dan usaha kecil dikembangkan sebagai gerakan ekonomi rakyat yang sehat, kuat, tangguh dan mandiri sehingga dapat berperan sebagai soko guru perekonomian nasional. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi harus diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengatasi ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, tentunya pemerintah perlu mempersiapkan secara khusus kondisi perekonomian domestik yang lebih tangguh dan berdaya saing tinggi guna menghadapi era liberalisasi perdagangan. Perhatian secara khusus ini perlu diberikan kepada struktur industri dalam negeri, hal ini dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara komposisi industri besar, menengah, dan kecil.
Berkaitan dengan hal tersebut, sektor industri sebagai salah satu sektor yang potensial harus mampu menjadi motor penggerak pembangunan. Identifikasi terhadap usaha-usaha kecil sebagai salah satu sasaran kebijakan pembangunan termasuk gejala baru di era reformasi ini. Hal ini terkait dengan kenyataan di Indonesia bahwa industri-industri besar yang padat modal terbukti telah gagal memberikan sumbangannya sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi.
Ketika disadari bahwa industri dengan teknologi berskala besar tidak lagi sesuai untuk diterapkan, maka belakangan ini pemerintah mulai beralih pada sektor industri kecil dan menengah yang nyata-nyata mampu bertahan walaupun diterpa badai krisis moneter. Melihat ketangguhan dan kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja maka industri kecil memiliki peranan yang sangat penting dalam mempercepat proses pemerataan sebagai bagian dari trilogi pembangunan baik dalam arti pendapatan maupun dalam arti kesempatan berusaha.
Pentingnya peranan industri kecil di dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia berkaitan dengan kondisi Indonesia yang memiliki jumlah tenaga kerja berpendidikan rendah, sumber daya yang melimpah, modal yang terbatas dan distribusi pendapatan yang tidak merata, sehingga sangat erat hubungannya dengan sifat-sifat dasar industri kecil. Pertama, industri kecil sangat lokal labor intensive, dalam arti sangat banyak memakai tenaga kerja orang-orang setempat dengan tingkat pendidikan yang rendah. Kedua, industri kecil sangat intensive dalam pemakaian sumber-sumber alam lokal. Ketiga, industri kecil lebih banyak di pedesaan. Keempat, pada umumnya kegiatan industri kecil sangat erat hubungannya dengan pertanian. Kelima, kebanyakan industri kecil membuat barang-barang konsumsi dan industri untuk kebutuhan pasar lokal dengan harga yang murah sehingga bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Tumbuhnya perhatian beberapa kalangan seperti akademis, pemerintah dan swasta terhadap pengembangan industri kecil dan menengah dapat dikemukakan beberapa alasan dalam mengkritisi fenomena ini seperti pertama, pertimbangan etika normatif sebagai bangsa yang selama ini telah memberikan peluang bagi usaha berskala besar untuk tumbuh dan berperan, sebaliknya kurang memperhatikan usaha berskala kecil dan menengah. Perhatian ini berarti manifestasi kepedulian kepada yang kecil dan menengah yang secara meyakinkan telah terbukti menyumbang pertumbuhan ekonomi (GBHN, 1993). Kedua, seperti ramalan futurolog John Naisbitt dalam “Global Paradox” yang mengatakan bahwa masa depan dunia akan didominasi oleh usaha kecil dan menengah (Naisbitt, 1993). Ketiga, alasan pragmatis pemerintah karena kenyataan terdapat kecenderungan berbagai negara untuk memfokuskan perhatian pada pembinaan usaha berskala kecil dan menengah (Tjakrawardaya, 1994). Keempat, alasan ketidakpuasan pada industri besar yang ternyata tidak menghasilkan kemandirian, meskipun telah didukung dengan berbagai macam proteksi.
Untuk itu industri kecil perlu dibina dan dikembangkan dengan baik sehingga dapat memperbesar sumbangannya bagi perekonomian nasional pada umumnya dan memberikan sumbangan bagi daerah dimana industri kecil itu tumbuh dan berkembang. Di samping peranannya yang besar dalam menyerap tenaga kerja, industri kecil juga berperan dalam meningkatkan penghasilan masyarakat dan meningkatkan ekspor. Oleh sebab itu dibutuhkan komitmen yang lebih besar dari pemerintah terhadap upaya peningkatan industri kecil dan menengah dalam perekonomian nasional melalui pembinaan yang mencakup permodalan seperti kredit untuk usaha kecil dan menengah, bantuan teknologi dan informasi, pengembangan sumber daya manusia dan pemasarannya.
Setelah memahami peranan dan strategisnya pengembangan industri kecil, maka disadari bahwa para pengusaha kecil akan menghadapi kesulitan dalam mewujudkannya tanpa dukungan dan bantuan dari pihak–pihak yang terkait. Bagaimanapun mereka menghadapi keterbatasan-keterbatasan yang kadang-kadang tidak dapat mereka pecahkan sendiri. Ketiadaan akan dukungan yang cukup dan wajar terhadap industri kecil oleh pemerintah merupakan kendala bagi perkembangan industri kecil. Salah satu yang merupakan kendala yang sering dijumpai adalah masalah keterbatasan permodalan. Dengan terbatasnya modal dan minimnya pengetahuan para pengusaha kecil terhadap pemasaran produknya akan menghambat produktivitas dari faktor-faktor produksi industri kecil. Di samping permodalan, kendala lain berkaitan dengan akses pasar dan juga tempat berusaha (lokasi), akses terhadap teknologi, peningkatan sumber daya manusia, dan pengambilan kebijaksanaan oleh pemerintah (Tanjung, 1994). Perlu dipahami bahwa tujuan akhir dari usaha ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat kalangan bawah yang kurang beruntung pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
Sebagaimana diketahui bahwa industri kecil yang ada di Kota Medan pada umumnya masih merupakan kerajinan rumah tangga yang dikelola oleh para pengrajin secara tradisional dengan keterampilan yang diperoleh secara turun temurun dan masih menggunakan teknologi tradisional, sehingga mutu produk yang dihasilkan relatif rendah dan desain produk terkesan monoton. Hal inilah yang menyebabkan daya saing produk yang dihasilkan relatif rendah sehingga para pengrajin atau pengusaha kecil kurang termotivasi untuk mengembangkan usahannya dan pada akhirnya industri kecil yang dilakukannya tetap sebagai usaha sampingan keluarga.
Kota Medan yang memiliki potensi sumber daya yang potensil untuk dikembangkan belum mampu sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan industri kecil. Untuk itu Pemerintah Kota Medan sudah saatnya memberikan kesempatan yang lebih besar kepada industri kecil-industri kecil untuk berperan dalam perekonomian. Terbukanya keran untuk berusaha ini sekaligus juga dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran yang dari tahun ke tahun selalu bertambah jumlahnya seiring dengan bertambahnya jumlah angktan kerja. Melihat potensi dan kenyataan yang ada ini, maka penulis tertarik untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi industri kecil khususnya sepatu dan konveksi di Kota Medan dan besarnya faktor-faktor tersebut mempengaruhi peningkatan produksi industri kecil sepatu dan konveksi tersebut.

PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha terhadap peningkatan produksi industri kecil sepatu di Kota Medan.
2. Bagaimana pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha serta hasil produksi tahun sebelumnya terhadap peningkatan produksi industri kecil konveksi di Kota Medan.

TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk menganalisis pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha terhadap peningkatan produksi industri kecil sepatu di Kota Medan.
2. Untuk menganalisis pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha serta hasil produksi tahun sebelumnya terhadap peningkatan produksi industri kecil konveksi di Kota Medan.

MANFAAT PENELITIAN
1. Sebagai bahan kajian untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah khususnya Pemerintah Kota Medan dalam pengembangan industri kecil seperti sepatu dan konveksi sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk pengembangan industri kecil dalam menghadapi era persaingan bebas.
2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam perencanaan pembangunan dan pengambilan kebijakan di dalam meningkatkan peranan industri kecil khususnya sepatu dan konveksi bagi pembangunan ekonomi.
3. Sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berminat untuk meneliti kesiapan industri kecil dalam era globalisasi dan peranannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dengan ruang lingkup yang lebih luas.

RUANG LINGKUP PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan ekonometrika yakni metode Ordinary Least Square (OLS).

JENIS DAN SUMBER DATA
Penelitian ini menggunakan data primer dengan metode wawancara langsung kepada para pengusaha industri kecil sepatu dan konveksi yang ada di Kota Medan dengan menggunakan kuisoner. Jumlah responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 51 responden untuk kedua objek penelitian yakni sepatu dan konveksi.

METODE PENARIKAN SAMPEL
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode simple random sampling (sampel random sederhana) dari populasi yang tersedia. Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Medan, hampir di semua kecamatan di Kota Medan terdapat industri Kecil baik industri Kecil sepatu maupun konveksi. Pada tahun 2004, jumlah industri Kecil sepatu di Kota Medan sebanyak 414 unit dan 494 unit industri Kecil konveksi yang tersebar di Kota Medan (Deperindag, 2005). Kemudian dilihat dari karakteristik responden menunjukkan bahwa populasi dari industri Kecil tersebut pada umumnya bersifat homogen (pendapatan, tingkat pendidikan, pengalaman, dan jam kerja). Maka untuk besarnya sampel penelitian yang diambil pada masing-masing industri Kecil sepatu dan konveksi adalah 10 persen dari populasi yang ada. Dengan demikian jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 51 responden untuk masing-masing industri Kecil sepatu dan konveksi.

MODEL ANALISIS
Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan dilakukan analisis dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Sebagai variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah produksi industri kecil sepatu dan konveksi (Y) dan sebagai variabel bebasnya (independent variable) adalah modal (MD), jumlah tenaga kerja (TK), jam kerja (JK), dan pengalaman berusaha (PL).
Salah satu pendekatan untuk melakukan analisis fungsi produksi adalah melakukan estimasi langsung untuk mendapatkan parameter dari fungsi produksi. Dimana fungsi produksi menggambarkan hubungan antara input dan output dan bentuk fungsi produksi yang umum digunakan adalah fungsi Cobb Douglas, yaitu :
Q = A K  L 

Dimana :
Q adalah output
K adalah kapital
L adalah tenaga kerja
Fungsi produksi di atas dapat diestimasi dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Dengan demikian fungsi produksi tersebut adalah :
Y1 = f ( MD, TK, JK, PL )
Y2 = f ( MD, TK, JK, PL, LY2(t-1) )
Dengan memodifikasi model produksi di atas, dengan menambah variabel jam bekerja (JK) dan pengalaman berusaha (PL), maka model produksi yang baru sebagai fungsi produksi untuk industri kecil sepatu setelah dilakukan modifikasi dengan first difference logaritma adalah :
DLY1 = 0+1DLMD+2DLTK+3DLJK+ 4 DLPL+ 
Dan model persamaan untuk industri kecil konveksi di Kota Medan setelah dilakukan modifikasi dengan first difference logaritma adalah :
DLY2 = 0+1DLMD+2DLTK+3DLJK+4 DLPL+5DLY2(-1)+
dimana :
Y1 = Produksi sepatu yang dihasilkan (unit)
Y2 = Produksi konveksi yang dihasilkan (unit)
MD = Modal (rupiah)
TK = Jumlah tenaga kerja (orang)
JK = Jam kerja (jam)
PL = Pengalaman berusaha (tahun)
Y2(t-1) = Produksi konveksi yang dihasilkan tahun sebelumnya (unit)
 = Variabel gangguan (error term)
1 - 4 = Koefisien regresi untuk industri kecil sepatu
1 - 5 = Koefisien regresi untuk industri kecil konveksi

Pengujian statistik dilakukan melalui uji statistik, yaitu uji-t (T-test) dan uji-F (F-test) dan hasil estimasi dari nilai parameter yang digunakan dalam model tersebut diharapkan bertanda positif (+) dan signifikan untuk semua nilai parameter. Uji-t dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik regresi secara parsial dan Uji-F adalah untuk mengetahui signifikansi statistik secara simultan.

UJI PENYIMPANGAN ASUMSI KLASIK
Ada beberapa permasalahan yang akan terjadi dalam model regresi linier dimana secara statistik permasalahan tersebut dapat mengganggu model yang telah ditentukan, bahkan dapat menyesatkan kesimpulan yang diambil dari persamaan yang terbentuk. Untuk itu perlu melakukan uji penyimpangan asumsi klasik (Sri Pratiwi ; 2006)

DEFINISI OPERASIONAL DAN BATASAN VARIABEL
1. Total output (Y) adalah banyaknya produksi yang dihasilkan oleh masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
2. Tenaga kerja (TK) adalah jumlah tenaga kerja yang bekerja pada masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
3. Modal (MD) adalah besarnya modal yang dikeluarkan untuk proses produksi di masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
4. Jam kerja (JK) adalah lamanya waktu bekerja selama satu hari untuk masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
5. Pengalaman berusaha (PL) adalah lamanya waktu yang telah digunakan untuk mengelola usahanya hingga sekarang untuk industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.

METODE ANALISIS
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Hal ini dikarenakan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari faktor-faktor produksi tersebut (modal usaha, tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha) terhadap peningkatan produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan. Pengolahan data digunakan Program Eviews versi 4.1.

ANALISIS DAN HASIL ESTIMASI UNTUK INDUSTRI KECIL SEPATU.

Pertumbuhan industri yang relatif cepat telah mendorong perkembangan aktivitas perdagangan, baik perdagangan dalam negeri maupun luar negeri untuk dapat menghasilkan barang-barang yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk itu, sektor industri sebagai sektor produksi yang memadukan unsur ekonomi dan unsur teknologi mempunyai peran yang strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama dalam peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan ekspor sebagai salah satu sumber penting bagi surplus neraca perdagangan dan jasa.
Di Kota Medan, industri kecil sangat diharapkan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses pembangunan ekonomi di Kota Medan, terutama untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja yang tidak terampil dan berpendidikan rendah. Selain itu, industri kecil diharapkan berperan penting dalam menghasilkan barang-barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan terutama bagi golongan masyarakat menengah ke bawah.
Berkaitan dengan hal di atas, maka industri kecil sepatu sebagai salah satu bagian dari industri kecil yang memiliki peranan strategis dalam proses pembangunan ekonomi di Kota Medan, perlu dilakukan upaya pengembangan agar industri kecil sepatu menjadi industri yang mampu mendukung dan bersinergis dengan industri besar di Kota Medan. Namun demikian, ketersediaan faktor-faktor produksi merupakan syarat mutlak bagi keberlangsungan industri kecil sepatu di Kota Medan.
TABEL 1. PERKEMBANGAN INDUSTRI KECIL SEPATU DI KOTA MEDAN
Tahun Jumlah Industri Kecil
Sepatu (unit) Jumlah Tenaga Kerja
Terserap (orang)
2000 375 514
2001 381 546
2002 390 597
2003 392 610
2004 414 705
Sumber : Deperindag Kota Medan, 2005
Berdasarkan Tabel 1, selama kurun waktu 5 tahun (2000 – 2004), perkembangan industri kecil sepatu memperlihatkan perkembangan yang relatif kecil. Begitupun kemampuan industri kecil sepatu ini dalam menyerap tenaga kerja di Kota Medan juga menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan. Pada tahun 2000, jumlah industri kecil sepatu di Kota Medan sebanyak 375 unit dan meningkat menjadi 414 unit pada tahun 2004 atau mengalami peningkatan sebanyak 39 unit. Dengan demikian, laju pertumbuhan industri kecil sepatu di Kota Medan selama periode tersebut sebesar 2,07 persen per tahunnya.
Sementara itu, kemampuan menyerap tenaga kerja untuk industri kecil sepatu di Kota Medan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan perkembangan industri kecil sepatu itu sendiri. Pada tahun 2000, jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri kecil sepatu di Kota Medan sebanyak 514 orang dan meningkat menjadi 705 pada tahun 2004 atau meningkat sebanyak 191 orang selama kurun waktu 5 tahun. Dengan demikian selama kurun waktu tersebut, laju pertumbuhan industri kecil sepatu dalam menyerap tenaga kerja per tahunnya sebesar 6,86 persen.
Namun demikian, laju pertumbuhan tenaga kerja yang terserap tersebut masih lebih besar bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan industri kecil sepatu tersebut yang hanya tumbuh sebesar 2,07 persen per tahun. Berdasarkan analisis dan data yang ada, tentunya dapat dilihat bahwa perkembangan industri kecil sepatu di Kota Medan masih masih belum menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan industri kecil sepatu itu sendiri yang hanya tumbuh sebesar 10,40 persen selama tahun 2000 – 2004. Disamping itu, dari kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja di Kota Medan selama kurun waktu yang sama hanya mampu tumbuh sebesar 37,16 persen.
Berikut ini hasil estimasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi industri kecil sepatu seperti yang pada Tabel 2 di bawah ini.
TABEL 2. HASIL ESTIMASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL
SEPATU DI KOTA MEDAN
Dependent Variable : DLY

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.017557 0.140433 -0.125021 0.9011
DLMD 0.869739 0.142045 6.122990 0.0000 ***
DLTK 0.305398 0.170268 1.793625 0.0889 *
DLJK 0.838177 0.376190 2.228069 0.0258 **
DLPL 0.091522 0.083997 1.089597 0.2817
R-squared 0.700142 F-stat 11.25639
D-W stat 2.872083 Prob(F-stat) 0.000002

Berdasarkan Tabel 2, diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,7001 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi produksi industri kecil sepatu di Kota Medan sebesar 70,01 persen.
Apabila dianalisis secara simultan (serentak) dari masing-masing variabel bebasnya, maka pengaruhnya terhadap produksi industri kecil sepatu memberikan pengaruh yang cukup signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari nilai F-statistik (11,256) yang lebih besar dari F-tabel (3,785) pada level 1 persen {F statistik > F tabel} dengan nilai probabilitasnya sebesar 0,000002.
Selanjutnya, berdasarkan hasil estimasi di atas, koefisien regresi dari modal usaha bertanda positif sebesar 0,8697 dengan nilai t statistik sebesar 6,123. Hal ini dapat menjelaskan bahwa modal para pengusaha industri kecil sepatu berkontribusi positif dan signifikan pengaruhnya secara statistik sebesar 0,8697 terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan dengan tingkat kepercayaan 99 persen. Hasil empiris ini sejalan dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara modal dan produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Dari temuan empiris ini semakin menguatkan hasil studi yang dilakukan Simanjuntak (1998) dan Sari (2002) dimana peranan modal usaha sangat mempengaruhi tingkat produksi industri kecil di Kota Medan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan modal usaha masih selalu menjadi hambatan bagi para pengusaha industri kecil di Kota Medan. Industri kecil di Kota Medan pada umumnya masih menghadapi dua masalah dalam aspek finansial, yakni mobilisasi modal awal untuk akses ke modal kerja dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan demi pertumbuhan output jangka panjang. Walaupun pada umumnya modal awal bersumber dari tabungan sendiri atau sumber-sumber informal, namun sumber-sumber permodalan ini sering tidak cukup untuk kegiatan produksi dan investasi (perluasan kapasitas produksi atau menggantikan mesin-mesin tua).
Sementara itu, mengharapkan sisa kebutuhan finansial sepenuhnya yang dibiayai dari perbankan jauh dari realistis. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika saat ini walaupun begitu banyak skim-skim kredit dari perbankan dan bantuan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sumber-sumber pendanaan dari sektor informal masih tetap dominan dalam pembiayaan kegiatan industri kecil. Hal ini disebabkan oleh sejumlah alasan, diantaranya adalah persyaratan kredit yang terlalu berat, urusan administrasi terlalu panjang, dan kurangnya informasi mengenai skim-skim perkreditan yang ada serta prosedur pengajuannya.
Berdasarkan hasil temuan ini tentunya dapat dijadikan bahan acuan atau referensi bagi para pengambil keputusan di jajaran pemerintah Kota Medan, untuk memprioritaskan pemberian bantuan modal usaha dengan mempermudah akses permodalan kepada pengusaha industri kecil, sehingga mampu bersaing dan mampu memberikan peranan yang cukup besar dalam mendukung perekonomian Kota Medan, baik di dalam penyerapan tenaga kerja maupun kontribusinya dalam pembentukan PDRB Kota Medan.
Untuk tenaga kerja menunjukkan kontribusi yang positif signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan dengan nilai koefisien regresi yang relatif keci sebesar 0,3054 pada tingkat kepercayaan 90 persen. Nilai koefisien regresi ini mengartikan bahwa setiap terjadi penambahan tenaga kerja pada industri kecil sepatu, ceteris paribus, akan memberi dampak pada terjadinya peningkatan produksi industri kecil sepatu di Kota Medan. Hasil empiris ini telah sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara tenaga kerja dan produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Terkait dengan hasil empiris di atas, dimana rendahnya kontribusi tenaga kerja terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan disebabkan oleh masih rendahnya tingkat kualitas (kemampuan) dan pendidikan tenaga kerja pada industri kecil sepatu tersebut yang rata-rata berpendidikan tamat SLTP, sehingga berdampak pada tingkat produktivitas tenaga kerja yang relatif masih kecil. Disamping itu rendahnya nilai koefisien regresi tersebut disebabkan juga oleh tenaga kerja yang bekerja pada industri kecil tersebut pada umumnya berasal dari anggota keluarganya sendiri, sehingga pertambahan tenaga kerja bukan berarti akan mendorong peningkatan hasil produksi industri kecil tersebut tetapi sebaliknya dapat menghambat atau mengurangi kemampuan produksi pada industri kecil tersebut. Untuk itu, masalah peningkatan ketrampilan dan kualitas tenaga kerja pada industri kecil harus tetap menjadi perhatian dan fokus para pengambil kebijakan di jajaran pemerintah Kota Medan.
Sedangkan untuk lamanya bekerja atau jam kerja memberi kontribusi positif sebesar 0,8382 dan secara statistik signifikan pengaruhnya pada tingkat kepercayaan 95 persen terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan selama penelitian dilakukan. Hasil temuan ini mengindikasikan apabila jam kerja meningkat, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan. Hasil studi ini semakin mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara jam kerja dan hasil produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Lamanya jam bekerja tersebut ternyata memiliki nilai koefisien regresi yang relatif besar sehingga dengan semakin banyaknya jam bekerja bagi para pekerja akan mampu meningkatkan hasil produksi dan hal ini tentunya sesuai dengan harapan dimana semakin lama jam bekerja bagi para pekerja akan meningkatkan hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan selama kurun waktu penelitian. Namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan para pengusaha untuk menyediakan dana untuk proses produksi dan kesinambungan berusaha. Karena pada umumnya, Hasil dari wawancara dengan para pengusaha industri kecil tersebut menemukan bahwa masalah keterbatasan dana menjadi persoalan yang sangat pelik dan sulitnya mencari solusi untuk mengatasi persoalan dana tersebut.
Untuk variabel pengalaman berusaha menunjukkan kontribusi yang positif sebesar 0,0915 tetapi tidak signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan ketika penelitian dilakukan dengan tingkat kepercayaan 90 persen. Hal ini mengandung arti jika lamanya pengalaman berusaha bagi para pengusaha industri kecil sepatu bertambah, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada semakin meningkatnya hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan dan hasil ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara pengalaman berusaha dan produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Dari hasil estimasi tersebut terlihat masih relatif kecilnya nilai koefisien regresi dari pengalaman berusaha yang mengindikasikan bahwa pengalaman berusaha atau lamanya berusaha tidak menjamin dapat meningkatkan hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan. Hal ini terlihat dari nilai 0,0915 dan tidak signifikannya pengaruhnya terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu secara statistik selama kurun waktu penelitian. Temuan ini membuktikan bahwa faktor modal usaha masih sangat dominan dalam menentukan keberhasilan industri kecil khususnya industri kecil sepatu di Kota Medan dalam upaya meningkatkan hasil produksinya.
UJI PENYIMPANGAN ASUMSI KLASIK
1. Multicollinearity
Untuk mendeteksi ada tidaknya multicollinearity dalam model estimasi di atas, harus dilakukan pendeteksian dengan melihat nilai R2 yang dihasilkan dari estimasi model tersebut. Angka R2 yang tinggi disertai koefisien regresi yang sebagian besar tidak signifikan biasanya menandakan terdapatnya multicollineary. Berikut ini hasil uji multicollinearity seperti pada Tabel 3.

TABEL 3. HASIL ESTIMASI UJI MULTICOLLINEARITY

Variabel Nilai R2
DLMD = f {DLTK, DLJK, DLPL} 0,1462
DLTK = f {DLMD, DLJK, DLPL} 0,1197
DLJK = f {DLMD, DLTK, DLPL} 0,1134
DLPL = f {DLMD, DLTK, DLJK} 0,0625
Sumber : Data diolah (Lampiran 5 s/d 8)
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai R2 {DLY C DLMD DLTK DLJK DLPL} = 0,7001 lebih besar dari nilai R2 dalam regresi parsial {DLMD = f (DLTK, DLJK, DLPL) = 0,1462, DLTK = f (DLMD, DLJK, DLPL) = 0,1197, DLJK = f (DLMD, DLTK, DLPL) = 0,1134 dan DLPL = f (DLMD, DLTK, DLJK) = 0,0625}. Berdasarkan ketentuan rule of thumb dari metode ini dapat disimpulkan bahwa dalam model tersebut tidak ditemukan adanya multicollinearity.

2. Uji Linieritas (Ramsey Reset Test)

Uji ini merupakan uji yang sangat populer, yang dikembangkan oleh Ramsey tahun 1969. Uji ini dilakukan berkaitan dengan masalah spesifikasi kesalahan yakni apakah spesifikasi model yang kita gunakan sudah benar atau tidak, sehingga melalui uji linearitas ini dapat diketahui bentuk model empiris (berbentuk linier, kuadrat, atau kubik) dan menguji variabel yang relevan untuk dimasukkan dalam model empiris. Berikut ini dapat dilihat hasil estimasi dari uji Ramsey test seperti pada Tabel 4.

TABEL 4. HASIL ESTIMASI UJI RAMSEY TEST

Ramsey RESET Test :
F-statistic 0.345095 Probability 0.559906
Log likelihood ratio 0.390623 Probability 0.531972

Berdasarkan hasil estimasi di atas, diperoleh nilai F-hitung (statistik) sebesar 0,345, yang berarti nilai F-hitung lebih kecil dibandingkan dengan nilai F-tabel sebesar 3,785 {F hitung (0,345) < F tabel (3,785)} pada level signifikan 1 persen. Dengan demikian, uji Ramsey ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (Ho) yang menyatakan spesifikasi model yang digunakan dalam bentuk linier adalah benar tidak dapat ditolak. Ini membuktikan bahwa model spesifikasi yang benar dalam model regresi tersebut dalam bentuk linier yakni DLY = f {DLMD, DLTK, DLJK, DLPL}.


3. Uji Normalitas (Jarque-Bera Test)

Uji ini dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya faktor gangguan yang dapat diketahui melalui uji JB test. Uji ini menggunakan hasil estimasi residual dan Chi-square probability distribution. Berikut ini hasil estimasi yang dilakukan dengan uji JB test seperti yang terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Hasil Estimasi JB Test

Berdasarkan hasil estimasi uji JB test di atas, diperoleh besarnya nilai Jarque-Bera normality test sebesar 0,536 dan bila dibandingkan dengan nilai 2 tabel = 11,070 pada level signifikan 5 persen, maka dapat disimpulkan bahwa nilai JB test lebih kecil dari nilai 2 tabel {JB test hitung (0,536) < 2 tabel (11,070)}, ini berarti model empiris yang digunakan dalam model tersebut mempunyai residual atau faktor pengganggu yang berdistribusi normal.

ANALISIS DAN HASIL ESTIMASI UNTUK INDUSTRI KECIL KONVEKSI.
Dalam pembangunan ekonomi, salah satu pelaku ekonomi yang layak mendapat perhatian dari para pengambil kebijakan adalah pengusaha kecil, menengah, dan koperasi. Hal ini disebabkan usaha kecil, menengah, dan koperasi (UKMK) merupakan sektor usaha yang memiliki jumlah terbesar dengan daya serap angkatan kerja yang signifikan. Disamping itu, realitas masyarakat menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan yang cukup besar masih terjadi antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, menengah, dan koperasi (PKMK). Karenanya, uapaya pengembangan UKMK secara langsung merupakan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat banyak sekaligus mempersempit kesenjangan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan Tabel 5 perkembangan industri kecil konveksi di Kota Medan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, begitupun dalam hal penyerapan jumlah tenaga kerja yang terserap. Pada tahun 2000, jumlah industri kecil konveksi di Kota Medan sebanyak 314 unit dengan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 3.137 orang dan meningkat menjadi 494 unit pada tahun 2004 dengan jumlah tenaga kerja yang mampu diserap sebanyak 5.671 orang. Sehingga selama periode 2000 – 2004, perkembangan industri kecil konveksi di Kota Medan meningkat sebanyak 166 unit selama kurun waktu 5 tahun atau mengalami laju pertumbuhan rata-rata per tahunnya sebesar 12,15 persen.
TABEL 5. PERKEMBANGAN INDUSTRI KECIL KONVEKSI DI KOTA MEDAN
Tahun Jumlah Industri Kecil
Konveksi (unit) Jumlah Tenaga Kerja
yang Terserap (orang)
2000 314 3.137
2001 342 3.517
2002 364 3.787
2003 446 5.185
2004 494 5.671
Sumber : Deperindag Kota Medan, 2005

Sementara itu, kemampuan industri kecil konveksi di Kota Medan dalam menyerap tenaga kerja menunjukkan peningkatan yang lebih besar dibandingkan dengan perkembangan industri kecil konveksi itu sendiri selama kurun waktu yang sama. Untuk tahun 2004, jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 5.671 orang atau meningkat sebanyak 2.534 orang dari tahun 2000 yang mampu menyerap 3.137 orang tenaga kerja. Sehingga selama periode 2000 – 2004, industri kecil konveksi di Kota Medan memperlihatkan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 16,88 persen per tahun dalam menyerap tenaga kerja. Dengan demikian, laju pertumbuhan rata-rata per tahun untuk menyerap tenaga kerja masih lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun untuk perkembangan industri kecil konveksi itu sendiri.
Namun demikian, perkembangan industri kecil konveksi di Kota Medan masih mengalami fluktuasi. Hal ini dikarenakan banyaknya hambatan dan kendala yang dihadapi para pengusaha industri kecil konveksi, yang antara lain masih sulitnya mendapatkan modal untuk mengembangkan usahanya dan sulitnya mencari tenaga kerja yang memiliki ketrampilan yang memadai. Untuk itu, melalui penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil konveksi di Kota Medan, yakni modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, pengalaman berusaha, dan jumlah produksi tahun sebelumnya berpengaruh terhadap perkembangan produksi industri kecil konveksi dengan menggunakan data primer yang langsung mewancarai para pengusaha industri kecil konveksi tersebut. Berikut ini hasil estimasi yang dihasilkan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6.


TABEL 6. HASIL ESTIMASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL KONVEKSI DI KOTA MEDAN
Dependent Variable : DLY

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.013378 0.045003 -0.297263 0.7677
DLMD 0.166211 0.067272 2.470723 0.0175 **
DLTK 0.019752 0.080501 0.245365 0.8073
DLJK 0.028158 0.148289 0.189888 0.8503
DLPL 0.271926 0.104667 2.598010 0.0128 **
DLY(-1) -0.462567 0.120123 -3.850796 0.0004 ***
R-squared 0.852668 F-stat 4.685292
D-W stat 2.292769 Prob(F-stat) 0.001675

Berdasarkan Tabel 6, diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,8527 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi produksi industri kecil konveksi di Kota Medan sebesar 85,27 persen.
Apabila dianalisis secara simultan (serentak) dari masing-masing variabel bebasnya, maka pengaruhnya terhadap produksi industri kecil konveksi memberikan pengaruh yang cukup signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari nilai F-statistik (4,685) yang lebih besar dari F-tabel (3,803) pada level 1 persen {F statistik > F tabel} dengan nilai probabilitasnya sebesar 0,001675.
Kemudian, dari hasil estimasi di atas, menunjukkan bahwa modal memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,1662 dengan nilai t statistik sebesar 2,471. Nilai koefisien regresi yang positif dan nilai t statistik dapat menjelaskan bahwa modal memberikan kontribusi positif dan signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan sebesar 0,1662 dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan demikian dapat diartikan setiap terjadi peningkatan modal usaha industri kecil konveksi, ceteris paribus, maka akan memberikan dampak pada meningkatnya hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Hasil empiris ini sejalan dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara modal usaha dengan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Dari temuan empiris ini semakin menguatkan hasil studi yang dilakukan Simanjuntak (1998) dan Sari (2002) dimana peranan modal usaha bagi pengusaha industri kecil sangat mempengaruhi hasil produksi industri kecil di Kota Medan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan modal usaha masih selalu menjadi hambatan bagi para pengusaha industri kecil di Kota Medan dan hasil empiris ini semakin menguatkan hasil temuan penelitian sebelumnya pada industri kecil sepatu. Dengan demikian, Industri kecil di Kota Medan pada umumnya masih menghadapi persoalan finansial yang mengakibatkan perkembangan industri kecil di Kota Medan sangat lamban.
Untuk itu, temuan ini menjadi bahan masukan bagi para pengambil keputusan di jajaran pemerintah Kota Medan, untuk membuka akses yang lebih besar lagi kepada pengusaha industri kecil untuk memperoleh bantuan modal usaha, sehingga di masa mendatang industri kecil di Kota Medan benar-benar memberikan kontribusi yang nyata dalam mendukung pembangunan Kota Medan dan memiliki peranan yang strategis dalam penyerapan tenaga kerja maupun kontribusinya dalam pembentukan PDRB Kota Medan.
Untuk tenaga kerja mempunyai kontribusi yang positif tetapi tidak signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan sebesar 0,0197 pada tingkat kepercayaan 90 persen. Kecilnya nilai koefisien regresi ini dapat menjelaskan bahwa setiap terjadi peningkatan tenaga kerja pada industri kecil konveksi, ceteris paribus, akan berdampak pada terjadinya peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Namun hasil empiris ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara tenaga kerja dan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Melihat kecilnya hasil koefisien regresi ini tentunya sangat berkaitan dengan kualitas dan ketrampilan yang dimiliki tenaga kerja pada industri kecil tersebut. Hal ini dimungkinkan, karena tenaga kerja yang bekerja pada industri kecil konveksi, pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang relatif masih rendah dengan tingkat rata-rata tamatan SLTA dan pada umumnya tenaga kerja yang bekerja pada industri kecil konveksi tersebut berasal dari anggota keluarganya sendiri, sehingga pertambahan tenaga kerja bukan berarti akan mendorong peningkatan hasil produksi industri kecil tersebut tetapi sebaliknya dapat menghambat atau mengurangi kemampuan produksi pada industri kecil tersebut karena telah terjadi pengangguran terselubung (disguised unemployment). Untuk itu, masalah peningkatan ketrampilan dan kualitas tenaga kerja pada industri kecil harus tetap menjadi perhatian dan fokus para pengambil kebijakan di jajaran pemerintah Kota Medan untuk memberikan pelatihan kepada para pengusaha kecil atau membuka akses informasi kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dalam rangka pengembangan industri kecil.
Untuk variabel lamanya bekerja atau jam kerja ternyata mempunyai kontribusi yang positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,0282 tetapi secara statistik pengaruhnya tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 90 persen terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Hal ini memberi arti apabila jam kerja para pekerja meningkat, ceteris paribus, akan memberi dampak pada peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Hasil studi ini menguatkan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara jam kerja dengan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Terkait dengan lamanya bekerja para pekerja di industri kecil konveksi tidak terlepas dari banyaknya order atau kontrak yang diperoleh oleh pengusaha industri kecil tersebut. Hal ini dikarenakan pada umumnya kelemahan para pengusaha kecil ini terhambat pada keterbatasan modal yang dimilikinya, sehingga dengan keterbatasan modal tersebut berdampak pada lamanya jam bekerja (rata-rata 6 - 7 jam per hari) bagi para pekerja di industri kecil konveksi tersebut.
Untuk variabel pengalaman berusaha pada industri kecil konveksi memberikan kontribusi yang positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,2719 dan berpengaruh signifikan secara statistik terhadap produksi industri kecil konveksi di Kota Medan pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil empiris ini mengandung arti lamanya pengalaman berusaha bagi para pengusaha industri kecil konveksi, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada semakin meningkatnya hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Temuan ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara pengalaman berusaha dengan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Hasil empiris ini membuktikan bahwa pengalaman berusaha bagi para pengusaha kecil sangat mempengaruhi keberhasilan untuk meningkatkan hasil produksi industri kecil khususnya industri kecil konveksi di Kota Medan selama penelitian dilakukan. Keberhasilan ini tentunya terkait dengan kejelian para pengusaha kecil dalam mencari order dan keterbatasan modal yang dimilikinya. Perjalanan waktu tersebut tentunya membuat para pengusaha dapat menyakinkan para pemasok bahan baku untuk melakukan kerjasama, misalnya dalam bentuk kontingensi antara para pemilik bahan baku dan para pengusaha (hasil interview).
Sedangkan untuk hasil produksi tahun sebelumnya memberikan kontribusi yang negatif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,4626 dan secara statistik berpengaruh signifikan pada tingkat kepercayaan 99 persen terhadap hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Temuan ini memberi arti apabila hasil produksi tahun sebelumnya meningkat, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada penurunan hasil produksi industri kecil konveksi tahun berjalan di Kota Medan. Hasil studi ini tidak mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara hasil produksi industri kecil tahun sebelumnya dengan hasil produksi industri kecil konveksi tahun berjalan, ceteris paribus.
Hasil temuan ini tentunya sangat beralasan apabila hasil produksi tahun sebelumnya (stok produksi) masih ada atau belum laku terjual, maka para pengusaha akan melakukan pengurangan produksi untuk menghindari tertanamnya modal usaha. Disamping itu, dengan masih adanya hasil produksi tahun sebelumnya, tentunya telah tertahan modal usaha dan dampaknya semakin kecil kemampuan para pengusaha kecil untuk melakukan kegiatan produksi pada tahun berjalan. Oleh karena itu, pada umumnya para pengusaha kecil telah mengantisipasi hal ini dengan melakukan order terlebih dahulu sebelum melakukan proses produksi.
Dengan keterbatasan modal dan sulitnya akses mendapatkan modal usaha maka kecenderungannya para pengusaha kecil tersebut hanya bergantung pada orderan atau pesanan dari para pemilik modal atau pemilik bahan baku. Sehingga para pengusaha kecil tersebut hanya melakukan proses produksi tergantung dengan ada tidaknya order yang diberikan para pemilik modal untuk berproduksi dan pada akhirnya para pengusaha kecil tersebut hanya mendapatkan penghasilan berupa bagi hasil atau dengan pola kontingensi.

KESIMPULAN
1. Bahwa modal usaha, tenaga kerja dan jam bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Sedangkan pengalaman berusaha berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Faktor modal usaha sangat dominan mempengaruhi peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu.
2. Bahwa modal usaha dan pengalaman berusaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi. Sedangkan tenaga kerja dan jam kerja berpengaruh positif tetapi pengaruhnya tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi. Sisa hasil produksi tahun sebelumnya berpengaruh negatif dan signifikan terhadap hasil produksi industri kecil konveksi.

SARAN
1. Untuk mendukung pengembangan industri kecil maka pemerintah harus berupaya untuk memperhatikan dan fokus dalam membina dan mengembangkan industri kecil sehingga peranan industri kecil kedepan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi melalu penciptaan lapangan kerja.
2. Untuk mendorong peningkatan industri kecil sudah seharusnya pemerintah mencarikan solusi dari permasalahan industri kecil yang selalu dihadapi yakni masalah modal usaha dengan membuka akses untuk mendapatkan modal usaha guna pengembangan industri kecil.
3. Bagi para peneliti yang berminat untuk mengkaji elastisitas kesempatan kerja maka sebaiknya mempertimbangkan unsur kebijakan pemerintah yang terkait dengan peraturan ketenagakerjaan dan undang-undang berinvestasi sehingga dapat mendukung hasil penelitian yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik (BPS). 1996. Potensi Industri Besar dan Sedang di Indonesia. Jakarta : BPS.

----------, 2003. Medan Dalam Angka. Medan : BPS.

Insukindro. 1993. Ekonomi Uang dan Bank : Teori dan Pengalaman di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.

Insukindro. 1993. Ekonomi Uang dan Bank : Teori dan Pengalaman di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.

Insukindro, et. al. 2000. Dasar-Dasar Ekonometrika. Kerjasama Bank Indonesia dengan Program Studi MEP UGM. Yogyakarta.

Pratiwi Sri, 2006, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Industri Kecil Sepatu Dan Konveksi. Medan

Pulungan, Syahrial A. 2003. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Industri Kecil Dalam Rangka Pengembangan Ekonomi Kerakyatan di Kota Medan. Tesis Tidak Dipublikasikan Medan : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota Pascasarjana USU.
Samosir, Arpudin. 2001. Analisis Faktor-Faktor Pengembangan Industri Kecil di Kota Medan : Studi Kasus di Kecamatan Medan Denai. Tesis Tidak Dipublikasikan. Medan : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota Pascasarjana USU.

Simanjuntak, Jainar. 1998. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Industri Kecil di Kota Medan. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Medan : Ekonomi Pembangunan USU.

Tanjung, Irzan. 1994. Perkreditan dan Pengembangan Usaha Kecil, Profil Usaha Kecil dan Kelayakan Kredit Perbankan di Indonesia. Jakarta : Lembaga Manajemen FE UI.