Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI TABUNGAN DI INDONESIA


ANALISIS DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI TABUNGAN
DI INDONESIA

Ahmad Hidayah Dalimunthe, Murni Daulay,
Irsyad Lubis, Iskandar Syarif

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis determinan yang mempengaruhi tabungan di Indonesia selama kurun waktu 1985-2004. Adapun variabel bebas dari penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi (GDP), suku bunga (R), pendapatan perkapita (Ypc) dan pengeluran pemerintah (G), sementara itu varibel terikatnya yaitu tingkat tabungan nasional (SAV). Metode yang digunakan dalam melakukan estimasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tabungan di Indonesia tersebut adalah metode Ordinary Least Square (OLS) dengan menggunakan alat analisis untuk membantu mengolah data adalah dengan program eviews versi 4.1. Berdasarkan hasil estimasi menunjukan bahwa; variabel suku bunga (R) mempunyai pengaruh yang positif terhadap total tabungan dengan koefisien sebesar 1410,37 ceteris paribus,. namun secara statistik pengaruh variabel R ini tidak signifikan. Variabel pertumbuhan ekonomi (GDP) berpengaruh positif dan signifikan pada alpha 1%, dengan koefisien sebesar 0,342 ceteris paribus. Variabel pengeluaran pemerintah (G) memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan pada alpha 1%, dengan nilai koefisien regresi sebesar –0,676 ceteris paribus. Variabel pendapatan perkapita (Ypc) berpengaruh positif dengan nilai koefisien sebesar 0,0014 ceteris paribus, namun secara statistik nilai ini tidak signifikan.

Kata kunci : tabungan nasional dan pertumbuhan ekonomi.


PENDAHULUAN

Tantangan mendasar yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan adalah pemenuhan kebutuhan investasi yang makin meningkat baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka menengah. Untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar rata-rata 6,2 persen pertahun seperti target pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan M. Yusuf Kalla (SBY-JK) diperlukan dana investasi yang tidak sedikit.
Pembiayaan bagi rencana investasi tersebut diupayakan dari berbagai sumber, baik sumber dalam negeri maupun sumber luar negeri. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya khusus untuk meningkatkan peran tabungan domestik (Gross Domestic Saving), baik yang berasal dari tabungan pemerintah maupun tabungan masyarakat.
Indonesia setelah pemerintahan Orde Baru lebih memfokuskan diri pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, atau dengan kata lain proses pembangunan ekonomi yang bertumpu pada orientasi pertumbuhan (Growth oriented), mengakibatkan pemerintah sangat banyak membutuhkan investasi-investasi guna mencapai target pertumbuhan yang telah dibuat. Oleh karena itu diperlukan akumulasi tabungan domestik yang cukup besar agar dapat memenuhi aliran investasi yang ada dalam mencapai target pertumbuhan.
Pada awal pemerintahan Orde Baru, pendapatan perkapita masyarakat Indonesia hanya mencapai US$ 90 dan lebih kurang 30 tahun kemudian, tepatnya tahun 1992, pendapatan perkapita Indonesia telah mencapai angka US$ 715 dan pada tahun 1997 (sebelum krisis ekonomi melanda perekonomian Indonesia) justru pendapatan perkapita telah mencapai angka US$ 1.040 World Bank (Berbagai tahun), namun tahun 1998 pendapatan perkapita mengalami penurunan kembali menjadi US$ 463, hal ini disebabkan akibat krisis ekonomi yang sangat parah yang melanda perekomian Indonesia, akan tetapi seiring dengan mulai membaiknya pertumbuhan ekonomi pasca krisis, maka pendapatan perkapita rakyat Indonesia kembali mulai meningkat, pada tahun 2004 pendapatan perkapita Indonesia US$ 1.140.
Naiknya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia justru makin meningkatkan tabungan serta konsumsi masyarakat di dalam negeri. Jika dilihat pada tabel 1.1 berikut ini, maka pendapatan nasional pada tahun 1998 , menurun drastis dari Rp. 370.020 milyar pada tahun 1997 menjadi Rp. 327.731 milyar pada tahun 1998, sedangkan tingkat konsumsi juga turun dari Rp 308.816 milyar pada tahun 1997 menjadi Rp 286.850 milyar pada tahun 1998, dan tabungan juga turun dari Rp 61.204 milyar menjadi Rp 40.881 pada periode yang sama. Namun akibat kebijakan uang ketat sebagai kebijakan mometer yang diterapkan oleh pemerintah saat itu dan setelah krisis, mulai dari tahun 2000 hingga tahun 2004 perekonomian Indonesia mulai membaik dengan pertumbuhan rata-rata 4,22%. Pada periode yang sama pendapatan nasional juga kembali mulai meningkat rata-rata menjadi Rp 1.349.658 milyar, tingkat konsumsi Rp 1.055.260 milyar sedangkan tingkat tabungan juga meningkat menjadi Rp 294.398 milyar.
Dalam teori pertumbuhan, bahwa modal (capital) seperti mesin, gedung, pabrik, infrastruktur fisik dan material disebut sebagai salah satu faktor produksi atau sumber pertumbuhan ekonomi yang cukup penting keberadaannya. Artinya untuk membeli atau membuat kapital diperlukan investasi sehingga input yang telah ada dapat berproses secara berkesinambungan dan pada akhirnya akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan pula (Sustainable Economic Growth). Keadaan ini dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Tingkat Tabungan,Konsumsi Masyarakat dan Pendapatan Nasional Indonesia
(atas dasar harga konstan 1983, 1993 dan 2000 dalam milyaran Rp.)
TAHUN Y C S
1985 70.135 57.032 13.103
1986 71.002 58.879 12.123
1987 73.971 61.342 12.629
1988 85.147 64.143 21.004
1989 90.326 67.441 22.885
1990 96.634 73.370 23.264
1991 103.545 78.843 24.702
1992 109.980 82.260 27.720
1993 279.563 222.715 56.848
1994 300.837 232.480 68.357
1995 324.580 252.551 72.029
1996 358.151 288.679 69.472
1997 370.020 308.816 61.204
1998 327.731 286.850 40.881
1999 332.322 299.084 33.238
2000 364.856 310.752 54.104
2001 1.277.341 984.382 292.959
2002 1.316.776 1.031.083 285.693
2003 1.353.473 1.077.997 275.476
2004 1.451.041 1.127.577 323.464
Sumber: Laporan tahunan Bank Indonesia 1984/1985 - 2004

Kebanyakan negara-negara sedang berkembang (NSB) selalu mengalami pertumbuhan ekonomi yang rendah, bahkan cenderung mengalami stagnasi karena kinerja kegiatan investasi yang diakibatkan oleh terbatasnya dana yang berasal dari dalam negeri guna membiayai investasi .
Kondisi yang dialami oleh NSB ini menunjukkan adanya gap/kesenjangan antara tingkat tabungan dengan investasi (Saving – Investment Gap) yang mengakibatkan negara-negara ini sangat tergantung dengan arus modal dari luar negeri seperti yang diuraikan oleh Tambunan (2001) dan cukup banyak NSB yang terjerumus dalam skema jebakan utang luar negeri yang sangat berat seperti Indonesia, Brazil, Argentina dan lain-lain. Dalam perekonomian Indonesia ada kecenderungan bahwa peningkatan dalam pendapatan nasional dapat meningkatkan tabungan domestik, sedangkan tingkat pajak akan menurunkan Disposible Income masyarakat namun meningkatkan penerimaan pemerintah. Realokasi pengeluaran pemerintah yang efesien pada akhirnya akan meningkatkan investasi swasta dan pada gilirannya akan meningkatkan tabungan masyarakat kembali. Salah satu tujuan dari kebijakan dereguasi perbankan 1988 tetang reformasi di bidang perbankan adalah guna menutupi kesenjangan antara tabungan dan investasi (Saving – Investment Gap) yaitu berupa kesenjangan pembiayaan pembangunan melalui mobilisasi dana masyarakat dengan cara melepaskan pagu tingkat bunga. Untuk melihat kondisi Saving Invesment Gap Indonesia, dapat dilihat dari tabel 1.2 berikut ini :

Tabel 2. Kesenjangan Antara Tabungan dengan
Laju Investasi di Indonesia
(atas dasar harga berlaku dalam triliun rupiah)

Tahun Pemerintah Swasta Total
S I (S-I) S I (S-I) S I (S-I)
1989 5,7 9,5 -3,8 37,7 36,2 -1,5 43,4 45,7 -2,3
1990 9,9 7,2 2,7 42,6 51,2 -8,6 52,5 58,4 -5,9
1991 12,3 13,6 -1,3 42,7 50,0 -7,3 55,0 63,6 -8,6
1992 15,0 15,9 -0,9 49,5 54,9 -5,4 64,5 70,8 -6,3
1993 20,7 17,8 2,9 61,2 68,9 -7,7 81,9 86,7 -4,8
1994 27,1 18,3 8,8 70,4 85,9 -5,5 97,5 104,2 -6,7
1995 27,7 15,5 12,2 86,2 113,7 -27,5 113,9 129,2 -15,3
1996 31,0 17,9 13,1 108,3 139,7 -31,4 139,3 157,6 -18,3
1997 48,0 22,6 25,4 116,0 156,7 -40,7 164,0 179,3 15,3
1998 48,0 49,8 -1,8 236,4 143,2 43,1 284,4 243,0 41,3
1999 62,9 74,2 -11,3 222,8 166,1 56,7 285,7 240,3 45,4
2000 36,1 64,4 -28,3 342,5 249,5 93,0 378,6 313,9 64,7
2001 31,1 71,6 -40,5 363,6 252,3 111,3 394,7 323,9 70,8
2002 48,7 72,2 -23,6 378,2 281,8 96,5 426,9 354,0 72,9
2003 76,4 111,5 -35,1 379,3 274,7 104,5 455,7 386,2 69,5
2004 92,9 119,2 -26,3 416,3 364,2 52,0 509,2 483,4 25,7
Sumber : Laporan tahunan Bank Indonesia 1989/1990-2004

Menurut Prasetiantiono (1995), reformasi perbankan yang paling berpengaruh setelah Pakto (Paket Oktober) digulirkan selama 4 tahun (1988 – 1992) sudah melahirkan 104 bank baru dan lebih kurang 8400 BPR (Bank Perkreditan Rakyat), ternyata dapat menciptakan sejumlah lapangan kerja untuk aneka disiplin ilmu. Jika sektor informal dapat menjadi katup bagi angkatan kerja yang berpendidikan relatif minim, maka sektor perbankan menjadi salah satu katup yang cukup penting dan menyerap tenaga kerja berpendidikan. Sedangkan salah satu tujuan dari deregulasi perbankan 1983 adalah memberi kebebasan perbankan menetapkan tingkat bunga menyebabkan tingkat bunga deposito dan tingkat tabungan cenderung tinggi dan menyebabkan pelaku ekonomi akan mempertimbangkan penempatan portfolionya pada komponen-komponen tabungan dan deposito, yang pada akhirnya akan menyebabkan peningkatan pada tabungan masyarakat. Kebebasan yang menentukan sendiri keseimbangan tingkat bunganya masing-masing selain akan mendorong efesiensi mikro dan makro ekonomi disektor perbankan, yang juga berdampak positif bagi masyarakat. Setelah plafon suku bunga dilepas maka tingkat bunga riil ini menjadi positif, yang berarti akan mendorong masyarakat untuk menyimpan uangnya disektor perbankan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis berminat untuk mengkaji lebih jauh bagaimana hubungan dan pengaruh beberapa faktor ekonomi, seperti; Pertumbuhan ekonomi, Pengeluaran pemerintah, Suku bunga dan Pendapatan perkapita terhadap tabungan dalam negeri di Indonesia.

MODEL ANALISIS
Model estimasi dalam penelitian ini dibangun dari model ekonomi makro, yaitu pendapatan nasional pada perekonomian tertutup yang terlihat pada persamaan berikut ini :

Y - C (Y - T) - G = I (i)
S = I (i)
Dimana pada sisi kiri dari persamaan ini menunjukkan bahwa tabungan nasional bergantung pada pendapatan Y dan variable kebijakan fiskal; G dan T. untuk nilai tetap Y,G, dan T, tabungan nasional S juga tetap. Untuk sisi kanan persamaan menunjukan bahwa investasi bergantung pada tingkat bunga. Terlihat bahwa pada posisi keseimbangan, tabungan sama dengan investasi (S=I), keduanya dipengaruhi oleh tingkat bunga.
Berdasarkan pada persamaan diatas, terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan adalah ; Pendapatan (Y), Pengeluaran Pemerintah (G), Suku bunga (SB) dan Pendapatan perkapita (Ypc) Atau dapat ditulis:

SAV = f ( Y, G, R, Ypc)

Dari persamaan ini diturunkan Model estimasi, sebagai berikut :

SAV = a + b R + c GDP + d G + e Ypc + μ

Dimana :

SAV = Total tabungan dalam negeri (swasta dan pemerintah)
R = Suku bunga
GDP = Pertumbuhan ekonomi diproxy berdasarkan GDP harga konstan
G = Pengeluaran pemerintah
Ypc = Pendapatan per Kapita
a = Konstanta
b-e = Koefisien regresi
μ = Kesalahan pengganggu

METODE ANALISIS
Untuk menguji hipotesis di atas digunakan alat analisis regresi linier yang diestimasi dengan metode OLS (Ordinary least square). Model ini mempunyai sifat-sifat yang dapat diunggulkan yaitu secara teknis sangat akurat, mudah dalam menginterpretasikan perhitungannya serta sebagai alat estimasi linear dan unbiased terbaik Gujarati,(2003), untuk mengolah data digunakan program Eviews 4.1

HASIL ESTIMASI
Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,9934 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi pertumbuhan tabungan nasional sebesar 99,34 % selama kurun waktu yang diteliti, sedangkan sisanya 0.66 % dipengaruhi oleh faktor lain () yang tidak termasuk dalam model tersebut.
Sementara itu, bila dilakukan analisis secara lebih mendalam dengan melihat variabel bebasnya secara bersamaan, maka pengaruh variabel bebas tersebut terhadap total tabungan nasional memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99 %. Hal ini bisa dilihat dari nilai F statistik yang signifikan pada level 1 persen.
Tabel 3. Hasil Estimasi
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -21254.76 18361.71 -1.157559 0.2651
R 1410.371 971.7601 1.451357 0.1673
GDP 0.342208 0.036843 9.288248 0.0000
G -0.676230 0.159491 -4.239936 0.0007
YPC 0.001374 0.006489 0.211682 0.8352
R-squared 0.994844 F-statistic 723.5696
Adjusted R-squared 0.993469 Prob(F-statistic) 0.000000
Durbin-Watson stat 1.859707
Berdasarkan hasil estimasi diatas diperlihatkan bahwa variabel tingkat bunga mempunyai pengaruh yang positif terhadap total tabungan dengan koefisien sebesar 1410,37. Artinya jika tingkat bunga meningkat sebesar 10%, ceteris paribus, maka akan meningkatkan total tabungan sebesar Rp. 141,037 Triliyun. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara tingkat bunga dan total tabungan nasional, ceteris paribus. Namun secara statistik pengaruh variabel tingkat bunga ini tidak signifikan terlihat dari nilai t statistik yang tidak signifikan pada pada alpha 1-10%. Dengan kata lain kenaikan tingkat bunga tidak mempengaruhi masyarakat dalam meningkatkan tabungannya. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat inflasi di Indonesia sehingga tingkat bunga riil relatif rendah. Selama periode penelitian tingkat inflasi di Indonesia selalu berada diatas dua digit.
Untuk koefisien regresi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,342 memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap total tabungan nasional kurun waktu yang diteliti dengan tingkat kepercayaan 99 %. Ini memberikan arti bahwa jika pertumbuhan ekonomi meningkat sebesar 10 %, ceteris paribus, maka akan meningkatkan total tabungan nasional sebesar Rp. 3,422 Triliun. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara pertumbuhan ekonomi dan total tabungan nasional, ceteris paribus.
Variabel pengeluaran pemerintah memiliki tanda koefisien regresi yang negatif dan signifikan sebesar –0,676 pada tingkat kepercayaan 99 %. Ini mengandung arti apabila pengeluaran pemerintah meningkat sebesar 10 %, maka akan berdampak mengurangi total tabungan nasional sebesar Rp 6,762 triliun. Hal ini menunjukan bahwa Realokasi pengeluaran pemerintah yang belum efesien selama periode penelitian, hal ini mungkin disebabkan oleh sebagian besar pengeluaran pemerintah tersebut lebih besar dialokasikan untuk pengeluran konsumtif (anggaran rutin) dan membayar hutang luar negeri ketimbang pengeluran produktif (anggaran pembangunan) sehingga pada akhirnya tidak meningkatkan investasi swasta dan pada gilirannya tidak akan meningkatkan tabungan masyarakat.
Variabel pendapatan perkapita berpengaruh positif dengan nilai koefisien sebesar 0,0014. Artinya jika pendapatan perkapita meningkat sebesar 10% maka akan meningkatkan total tabungan nasional sebesar Rp. 0,014 Triliun (14 miliar rupiah). Hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara pertumbuhan ekonomi dan total tabungan nasional, ceteris paribus. Namun secara statistik nilai koefisien ini tidak signifikan dilihat dari tidak signifikannya nilai t statistik pada alpha 1%-10%. Hal ini dapat dimaklumi karena di Indonesia selalu terjadi kesenjangan pendapatan, maka peningkatan pendapatan perkapita bukan berarti meningkatnya pendapatan masyarakat secara umum tetapi hanya peningkatan pendapatan segelintir orang sehingga tidak banyak mempengaruhi tingkat tabungan nasional di Indonesia.

UJI PENYIMPANGAN ASUMSI KLASIK
a. Uji Multikolinieritas
Hasil estimasi diatas telah dilakukan uji asumsi klasik diantaranya uji multikolinieritas. Hasil uji diagnosis yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.
Berdasarkan uji multikolinieritas diketahui bahwa nilai R2 = 0,994 (lampiran 2) masih lebih besar dari semua nilai R2 regresi parsial antar masing-masing variabel bebas seperti pada lampiran 3. Dengan demikian persamaan yang dibentuk tidak ada masalah multikolinieritas.
Tabel 4. Hasil Estimasi Uji Multikolinieritas
SAV 0.994844

0.994844
R 0.461806
GDP 0.986283
G 0.974114
YPC 0.974114

b. Uji Korelasi serial (Autokorelasi)
Untuk mendiagnosis ada tidaknya Korelasi serial (Autokorelasi), dapat dilakukan uji Langrange Multiplier (LM Test). Uji ini lebih baik dibandingkan dengan Durbin Watson test karena lebih mudah diinterpetasikan dan dapat diterapkan dalam regresi yang menggunakan variabel lagged sekalipun. Berikut ini hasil estimasi dari LM Test seperti yang ditampilkan pada tabel berikut :
Tabel 5. Hasil Estimasi Uji LM Test
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 3.028580 Probability 0.103734
Obs*R-squared 3.557055 Probability 0.059293

Berdasarkan hasil LM Test diatas menunjukan bahwa besarnya nilai 2 hitung (Obs*R-squared) = 3,5570 lebih kecil dari pada 2 tabel = 8,2604 pada level signifikan 5%. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) menyatakan bahwa tidak ada autokorelasi diterima. Artinya dalam model yang diestimasi tersebut tidak mengandung korelasi parsial (autokorelasi) antar faktor pengganggu (error term).

c. Uji Linieritas (Ramsey Reset Test)
uji ini dilakukan berkaitan dengan masalah spesifikasi kesalahan yakni apakah spesifikasi model yang kita gunakan sudah benar atau tidak, sehingga melalui uji linieritas ini dapat diketahui bentuk model empiris ( berbentuk linier, kuadrat atau kubik) dan menguji variabel yang relevan untuk dimasukan dalam model empiris. Berikut ini dapat dilihat hasil estimasi Remsey test seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 6. Hasil Estimasi Uji Linieritas
Ramsey RESET Test:

F-statistic 8.065784 Probability 0.005276
Log likelihood ratio 16.13746 Probability 0.000313

Berdasarkan hasil estimasi Remsey test diatas, maka diperoleh besarnya nilai F hitung (statistik) sebesar 8,06, lebih kecil dibandingkan dengan F-tabel yaitu sebesar 8,10 pada level signifikan 1%. Dengan demikian melalui Remsey Test ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (H0) yang menyatakan bahwa spesifikasi model yang digunakan dalam bentuk first difference (logliner) adalah benar tidak dapat ditolak.

KESIMPULAN
1. Secara bersama-sama keempat variabel independen yaitu pertumbuhan ekonomoi (GDP), tingkat suku bunga (R), pengeluaran pemerintah (G) dan pendapatan perkapita (Ypc) sangat mempengaruhi tingkat tabungan di Indonesia hal ini ditunjukkan oleh nilai Adjusted R square yang cukup tinggi yaitu 99,34
2. Variabel tingkat bunga (R) berpengaruh positif tetapi tidak siginifikan. Dengan kata lain kenaikan tingkat bunga tidak mempengaruhi masyarakat dalam meningkatkan tabungannya. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat inflasi di Indonesia sehingga tingkat bunga riil relatif rendah. Selama periode penelitian tingkat inflasi di Indonesia selalu berada diatas dua digit.
3. Variabel pertumbuhan ekonomi (GDP) berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien regresi 0,342 ceteris paribus. Artinya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang meningkatkan pendapatan nasional juga akan meningkatkan tabungan nasional di Indonesia.
4. Yang menarik adalah variabel pengeluaran pemerintah yang seharusnya positif tetapi hasil regresi menunjukkan bahwa variabel ini berpengaruh negatif dan signifikan dengan koefisien regresi sebesar – 0,676 ceteris paribus. Hal ini menunjukkan bahwa realokasi pengeluaran pemerintah yang belum efesien selama periode penelitian, hal ini disebabkan oleh sebagian besar pengeluaran pemerintah tersebut lebih besar dialokasikan untuk pengeluran konsumtif (anggaran rutin) dan membayar hutang luar negeri ketimbang pengeluran produktif (anggaran pembangunan) sehingga pada akhirnya tidak meningkatkan investasi swasta dan pada gilirannya tidak akan meningkatkan tabungan masyarakat.
5. Variabel pendapatan perkapita berpengaruh positif dengan koefisien regresi 0,0014 ceteris paribus. Artinya peningkatan pendapatan perkapita tidak mempengaruhi tingkat tabungan nasional di Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi karena di Indonesia selalu terjadi kesenjangan pendapatan, maka peningkatan pendapatan perkapita bukan berarti meningkatnya pendapatan masyarakat secara umum tetapi hanya peningkatan pendapatan segelintir orang sehingga tidak banyak mempengaruhi tingkat tabungan nasional di Indonesia. Artinya walaupun pertumbuhan GDP besar setiap tahunnya, tapi pendapatan perkapita di Indonesia masih sangat kecil.

SARAN-SARAN
1. Suku bunga tinggi (kebijakan uang ketat) yang selama ini di buat pemerintah, sebaiknya dikaji ulang, sebab dari hasil penelitian memang berpengaruh positif terhadap tabungan tetapi secara statistik tidak signifikan. Di khawatirkan jika kebijakan suku bunga tinggi ini terus dipertahankan justru akan mengganggu bekerjanya sektor rill. Hal ini terbukti kondisi keadaan saat sekarang ini, walupun kebijakan uang ketat telah berhasil memperbaiki indikator-indikator ekonomi makro seperti inflasi yang rendah, nilai tukar yang cukup stabil, IHSG meningkat akan tetapi di sisi lain hal ini tidak memperbaiki kinerja ekonomi mikro (sektor rill) dan industri perbankanpun kurang bergairah hal ini dapat di lihat dari masih rendahnya angka LDR yang sampai tahun 2003 hanya 543,34% padahal idealnya angka LDR tersebut berada pada sekitar angka 80% - 90%, sehingga baru bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang akan meyerap tenaga kerja baru.
2. Dari saran No. 1 diatas penulis juga menyarankan bahwa kita sebaiknya jangan lagi terlalu cepat menyimpulkan bahwa meningkatnya kemakmuran suatu bangsa diukur dari indikator-indikator Makro saja seperti pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan perkapita dan peningkatan pengeluaran pemerintah, sebab dari hasil regrassi yang penulis lakukan indikator-indikator makro diatas tidak banyak pengaruhnya terhadap pertumbuhan tabungan di Indonesia seperti pendapatan perkapita misalnya walaupun meningkat setiap tahunnya tetapi pengaruhnya tidak signifikan terhadap tabungan. Demikian juga pertumbuhan ekonomi walupun berpengaruh positif dan signifiakan akan tetapi koefisien regressinya kecil yaitu sebesar 34,22%, sementara itu pengeluaran pemerintah justru berpengaruh negatif dan signifikan dan yang terpenting saat ini adalah bagaimana pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung penyaluran tabungan tersebut kesektor-sektor produktif, seperti mempermudah persyaratan untuk memperoleh kredit, memangkas persyaratan, pemberian izin usaha yang tidak terlalu rumit, memperbaiki kinerja aparat pemerintahan yang selama ini menimbulkan hight cost ekonomi dan lain-lain. Sehingga dengan ini diharapkan penyaluran kredit dan kesempatan untuk mengembangkan usaha serta membuka usaha baru akan meningkat, sehingga Idle Money yang ada disektor perbankan tersebut dapat lebih produktif.

DAFTAR PUSTAKA

Ali. M, (2003), Restrukturisasi Perbankan & Dunia Usaha, PT. Elek Media Komputindo, Jakarta.
------------------ (2004), Asset Liability Management (Menyiasati Risiko Pasar dan Risiko Operasional Dalam Perbankan), PT. Elek Media Komputindo, Jakarta.
Alan M. Taylor, (1997), Saving, Investment, and Internasional Capital Mobility in the Twentieth Century, Northwestern University, Hoover Institution, and NBER.
Allen S. Donald an Ndikumana Leonce, (1998), Financial Intermediation and Economic Growth in Southern Africa, Working Paper 1998-2004, Federal Reserve Bank Of St.Louis.
Barro Robet J, (1987), Macroeconomics, New York John Wiley & Sons.
Boediono, (1999), Teori Pertumbuhan Ekonomi, Yogyakarta : BPFE , Universitas Gajah Mada.
Gujarati Damodar N, ( 2003), Basic Econometrics, 4th edition, New York McGraw-hill Campanies, Inc.
Insukindro, Akhmad Makhfatih dan Maryatno, (2000), Dasar-dasar Ekonometrika: Pelatihan Ekonometrika dasar Untuk Pegawai Bank Indonesia . Yogyakarta : Program Studi MEP dan Msi, Universitas Gajah Mada.
Mangkoesoebroto, Guritno, (1994), Ekonomi Publik . Yogyakarta ; BPFE Universitas Gajah Mada.
Mankiw, N, Gregory, (2003), Teori Makro Ekonomi, Jakarta ; Erlangga.
Mikesell, P.R. dan M. Obstffeld, (1973), Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan, Penerjemah Karyaman Muchtar , Jakarta ; Erlangga.
Nopirin, (1992) , Ekonomi Moneter. Yogyakarta ; BPFE Universitas Gajah Mada.
Samuelson, Paul A. D, Nordhaus, William, (1997), Makro Ekonomi , Jakarta. Erlangga.
Suryana, (2000), Ekonomi Pembangunan Problematika dan Pendekatan , Jakarta . Salemba Empat .
Tambunan, Tulus (2001), Transformasi Ekonomi di Indonesia; Teori dan Penemuan Empiris, Edisi Pertama. Jakarta ; Salemba Empat.
Tullio Jappelli and Marco Pagano, (1998), The Determinants of Saving: Lessons from Italy.
Prasetiantino, A. Tony, (1995), Agenda Ekonomi Indonesia , Edisi pertama. Jakarta . Gramedia.

1 komentar:

  1. Terimakasih sudah membantu.
    Jangan lupa mampir ke blog saya ya? :D

    BalasHapus