Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS PRODUKSI, PENDAPATAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN DI KABUPATEN LABUHAN BATU


ANALISIS PRODUKSI, PENDAPATAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN
DI KABUPATEN LABUHAN BATU

Asni1, Sya’ad Afifuddin2,
H.B. Tarmizi3, Wahyu Ario Pratomo4

Abstrak : Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan, tenaga kerja dan modal terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat, menganalisis pengaruh jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat serta menganalisis pengaruh faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Studi ini menggunakan data cross section dari 150 responden, yaitu 50 orang petani padi sawah, 50 orang petani kelapa sawit dan 50 orang petani yang mengalihfungsikan lahan padi sawah menjadi kelapa sawit. Analisis data dilakukan menggunakan metode Ordinary Least Square. Hasil studi yang signifikan mempengaruhi produksi padi sawah adalah luas lahan dan modal, sedangkan faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi produksi kelapa sawit adalah luas lahan, tenaga kerja dan modal. Faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi pendapatan petani adalah produksi dan harga jual (untuk petani padi sawah), serta harga jual dan modal (untuk petani kelapa sawit). Faktor-faktor yang signifikan mempengaruh alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat pendidikan, pendapatan petani dan kesempatan menabung. Ada kecenderungan bahwa lahan padi sawah yang lebih beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit adalah lahan sawah bukan irigasi teknis. Berdasarkan analisa usahatani, efisiensi usahatani kelapa sawit rakyat lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani padi sawah (B/C ratio padi sawah = 1,41 dan B/C ratio kelapa sawit = 2,54).

Kata kunci : Produksi padi sawah, kelapa sawit, pendapatan petani dan lahan.


PENDAHULUAN

Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting peranannya di dalam perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas dari peranan sketor pertanian di dalam menampung penduduk serta memberikan kesempatan kerja kepada penduduk, menciptakan pendapatan nasional dan menyumbangkan pada keseluruhan produk. Berbagai data menunjukkan bahwa di beberapa negara yang sedang berkembang lebih 75% dari penduduknya berada di sektor pertanian dan lebih 50% dari pendapatan nasionalnya dihasilkan dari sektor pertanian serta hampir seluruh ekspornya merupakan bahan pertanian. (Todaro, 2000).
Pembangunan dan modernisasi pertanian di negara-negara yang sedang berkembang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi, peningktaan pendapatan petani dan menyediakan pasar bagi produksi sektor industri, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan ekspor dan menciptakan tabungan bagi pembangunan.
Pembangunan pertanian dan pedesaan sesungguhnya mengandung berbagai dilema. Di satu pihak produksi dan produktivitas pertanian mesti ditingkatkan. Peningkatan produksi dan produktivitas ini merupakan keharusan karena merupakan landasan dan prasyarat bagi proses industrialisasi. Seandainya tingkat pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi itu dapat dicapai, perubahan struktur produksi yang menurunkan tingkat produktivitas relatif itupun tidak akan bisa dihindari kecuali jika struktur kesempatan kerja juga dapat diubah mengikuti perubahan struktur produksi tersebut. Sementara itu, peingkatan produktivitas mau tidak may mesti dilakukan dengan mempergunakan jenis teknologi yang lebih efisien, baik teknologi biologis, teknologi mekanis maupun teknologi sosial. Akan tetapi teknologi ini tentu mengakibatkan penghematan tenaga kerja di sektor yang bersangkutan.
Dalam usaha pertanian, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh resiko. Anjangnya waktu yang dibutuhkan tidak sama tergantung pada jenis komoditas yang diusahakan. Tidak hanya waktu, kecukupan faktor produksi pun turut sebagai penentu pencapaian produksi. Dari segi waktu, usaha perkebunan membutuhkan periode yang lebih panjang dibandingkan dengan tanaman pangan dan sebagian tanaman hortikultura. Masing-masing jenis tanaman juga mempunyai periodisasi yang berbeda satu sama lain.
Proses produksi baru bisa berjalan bila persyaratan yang dibutuhkan dapat dipenuhi, persyaratan ini lebih dikenal dengan faktor produksi. Faktor produksi terdiri dari empat komponen, yaitu tanah, modal, tenaga kerja, dan skill atau manajemen. (Daniel, 2002)
Masing-masing faktor mempunyai fungsi yang berbeda dan saling terkait satu sama lainnya. Kalau salah satu faktor tidak tersedia, maka proses produksi tidak akan berjalan, terutama tiga faktor tersebut diatas. Faktor-faktor produksi tersebut merupakan sesuatu yang mutlak harus tersedia yang akan lebih sempurna kalau syarat kecukupan pun dapat dipenuhi. Faktor produksi modal sebagian dialokasikan untuk menyediakan input produksi fisik, yaitu bibit, pupuk dan pestisida. Input produksi tersebut merupakan salah satu unsur penentu kegiatan produksi, karena tanaman membutuhkannya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Kegiatan produksi merupakan kegiatan dalam lingkup yang agak sempit dan karenanya membahas aspek mikro. Dalam mempelajari aspek ini, peranan hubungan input produksi dan output (hasil atau produksi) mendapatkan perhatian utama. Peranan input bukan saja dapat dilihat dari segi macamnya atau tersedianya dalam waktu yang tepat, tetapi juga dapat ditinjau dari segi efisiensi penggunaannya. Karena faktor-faktor inilah yang maka terjadi senjang produktivitas (yield gap) antara produktivitas yang seharusnya dan produktivitas yang dihasilkan oleh petani. Dalam banyak kenyataan, sepanjang produktivitas ini terjadi karena adanya faktor yang sulit untuk diatasi manusia (petani) seperti adanya teknologi yang tidak dapat dipindahkan dan adanya perbedaan lingkungan, misalnya iklim. Karena kedua faktor ini sangat sulit diatasi oleh petani, maka perbedaan hasil yang disebabkan oleh kedua faktor ini menyebabkan senjang produktivitas dari hasil eksperimen dan dari potensial suatu usaha tani. (Soekartawi, 1993)
Kabupaten Labuhan Batu dengan ibukota Rantauprapat merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara yang berada pada kawasan pantai Timur Sumatera Utara, terletak pada koordinat 1o26’ – 2o11’ Lintang Utara dan 91o01’ - 95o53’ Bujur Timur. Luas wilayahnya adalah 922.318 Ha (9.223,18 Km2) atau 12,87% dari luar wilayah Propinsi Sumatera Utara dan merupakan kabupaten nomor 2 terluas setelah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kabupaten Labuhan Batu mempunyai kedudukan yang cukup strategis, yaitu berada pada jalur lintas trans Sumatera Timur tepatnya pada persimpangan menuju Sumatera Barat dan Riau yang menghubungkan pusat-pusat perkembangan wilayah di Sumatera dan Jawa serta mempunyai akses yang memadai ke luar negeri karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka.
Luas persawahan di Kabupaten Labuhan Batu cenderung mengalami penurunan setiap tahun. Luas persawahan pada tahun 1997 adalah 83.310 Ha menjadi 78.732 Ha pada tahun 2003 dengan rata-rata penurunan luas lahan 1,83 persen per tahun. Penurunan luas lahan juga menyebabkan terjadinya penurunan produksi padi sawah, yaitu dari 368.467 ton pada tahun 1997 menjadi 313.285 ton pada tahun 2003 dengan rata-rata penurunan produksi padi sawah 2,37 persen per tahun.(BPS Labuhan Batu, 2003)

Tabel 1. Perkembangan Luas Lahan Dan Produksi Padi Sawah Dan Kelapa Sawit Rakyat Di Kabupaten Labuhan Batu, 1997 – 2003

Tahun Padi Sawah Kelapa Sawit Rakyat
Luas Lahan (Ha) % Pertum uhan Produksi (ton) % Pertum uhan Luas Lahan (Ha) % Petum uhan Produksi % Pertum buhan
1997 83.31 - 368.467 - 64.758 - 615.955 -
1998 78.99 -5,31 342.352 -7,09 65.060 0,47 641.955 4,22
1999 88.53 12,23 387.024 13,05 65.410 0,54 662.256 3,16
2000 80.18 -9,43 348.926 -9,84 78.931 20,67 755.389 14,06
2001 77.03 -3,93 325.392 -6,74 79.031 0,13 962.416 27,41
2002 67.13 -12,85 306.188 -5,90 79.508 0,60 1.067.139 10,88
2003 72.73 8,34 313.285 2,32 82.879 4,24 1.089.355 2,08
Rata-Rata -1,83 -2,37 4,44 10,30
Sumber : BPS Kabupaten Labuhan Batu, 2003

Gambar 1. Grafik Produksi Padi Sawah dan Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Labuhan Batu, 1997 – 2003

Sedangkan luas lahan kelapa sawit mengalami peningkatan setiap tahun, yaitu 64.758 Ha pada tahun 1997 menjadi 82.879 Ha pada tahun 2003 dengan rata-rata peningkatan luas lahan 4,44 persen per tahun. Jumlah produksi pada tahun 1997 sebanyak 615.955 ton meningkat menjadi 1.089.355 ton pada tahun 2003 dengan rata-rata peningkatan produksi 10,30 persen per tahun. Peningkatan luas lahan dan produksi perkebunan kelapa sawit rakyat terus juga akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. (BPS Labuhan Batu, 2003)
Komoditas kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu merupakan komoditas andalan yang memberikan pendapatan masyarakat yang lebih baik dan terjamin dibandingkan dengan komoditas pertanian lain seperti karet, kopi dan juga tanaman padi. Oleh karena itu, setiap tahun terjadi alih fungsi lahan pertanian tersebut menjadi kelapa sawit, khususnya di kalangan petani. Selain alih fungsi lahan, juga terjadi peralihan sistem pertanian dari tradisionil menjadi pertanian semi intensif. Perlaihan sistem usahatani tersebut menyebabkan penggunakan modal dalam sistem pertanian semakin intensif, karena dalam perkebunan kelapa sawit, aktivitas kegiatan lebih tinggi dibandingkan dengan padi sawah.
Pendapatan petani dipengaruhi oleh produksi usahatani, dalam hal ini padi dan kelapa sawit rakyat. Selain dipengaruhi oleh jumlah produksi, pendapatan petani juga dipengaruhi oleh harga jual produksi tersebut, juga dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja yang digunakan dan modal yang dialokasikan petani dalam usahatani tersebut. Keinginan petani untuk meningkatkan pendapatan serta menjamin rutinitas pendapatan setiap bulan, menyebabkan sebagian petani mengalihfungsikan lahan padi sawah menjadi kelapa sawit.
Menurut Hadi (2004), kini ancaman penurunan produksi padi di Indonesia semakin serius karena petani mulai meninggalkan tanaman kebutuhan pokok itu. Mereka beralih ke tanaman perkebunan, kelapa, dan kelapa sawit. Keinginan petani mengkonversi lahannya dari sawah menjadi lahan perkebunan, khususnya kelapa sawit, sulit dibendung, karena lebih menjanjikan pendapatan yang lebih tinggi.

PERUMUSAN MASALAH

1. Apakah luas lahan, tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu
2. Apakah jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu
3. Apakah faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan berpengaruh secara signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.

TUJUAN STUDI

1. Menganalisis pengaruh luas lahan, tenaga kerja dan modal terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu
2. Menganalisis pengaruh jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.
3. Menganalisis pengaruh faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.

HIPOTESIS

1. Luas lahan, tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.
2. Jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani padi sawah dan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.
3. Faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan berpengaruh secara signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model fungsi produksi Cobb-Douglas, sebagai bentuk aljabar fungsi produksi yang akan diduga. Secara matematis, model fungsi produksi Cobb-Douglas dapat ditulis sebagai berikut : (Gujarati, 2003)

Y = 0x11 x 22 .... xnnv

atau dalam bentuk linear logaritma dapat ditulis :

log Y = log 0 + 1 logx1 + 2log x2 + ... + nlogn + v

Y = output (produksi) yang dihasilkan
X1...Xn = input produksi yang digunakan
0 = konstanta atau intersept
1.....n = koefisien regresi dari masing-masing faktor produksi
V =disturbance term

Luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha, dan skala usaha ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu usaha pertanian. Seringkali dijumpai makin luas lahan yang dipakai sebagai usaha pertanian akan semakin tidak efisienlah lahan tersebut. Sebaliknya pada luasan lahan yang sempit, upaya pengusahaan terhadap penggunaan faktor produksi semakin baik, penggunaan tenaga kerja tercukupi dan tersedianya modal juga tidak terlalu besar, sehingga usaha pertanian seperti ini sering lebih efisien. Meskipun demikian, luasan yang terlalu kecil cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien pula. (Soekartawi, 1993)
Topografi lahan menggambarkan penggunaan lahan pertanian yang didasarkan pada tinggi tempat. Untuk tanah-tanah di Indonesia, pembagian lahan menurut tinggi tempat (topografi) sering dikategorikan sebagai lahan dataran partai, dataran rendah dan dataran tinggi. Pembagian klasifikasi menurut topografi ini juga menggambarkan macam usaha pertanian yang diusahakan oleh penduduk bertempat tinggal di lokasi itu. (Soekartawi, 1993)
Kesuburan lahan pertanian juga menentukan produktivitas tanaman. Lahan yang subur akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi daripada lahan yang tingkat kesuburannya rendah. Kesuburan lahan pertanian biasanya berkaitan dengan struktur dan tekstur tanah, struktur dan tekstur tanah ini pada akhirnya juga menentukan macam tanah. Mislanya tanah liat, grumosol, alluvial dan sebagainya.

MODEL ANALISIS

Faktor produksi terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu luas lahan, tenaga kerja dan modal. Faktor yang mempengaruhi pendapatan petani diasumsikan terdiri dari 4 (empat) faktor, yaitu jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal. Hubungan faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan diasumsikan dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas.
Fungsi produksi cobb-Douglas pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Y = 0 x11 x22 x33 u

Melalui transfer logaritmik persamaan tersebut diubah menjadi bentuk linear dengan menggunakan model persamaan Ordinary Least Square (OLS) sebagai berikut :

In Y1 = In 0+1 In x11+2 In x12+3 In x13 + u1
Dimana :
Y1 = total produksi padi sawah (ton)
X11 = luas lahan (Ha)
X12 = tenaga kerja (HKP)
X13 = modal (Rp.)
1 - 3 = koefisien regresi
U1 = variabel gangguan (error term)

Model persamaan Ordinary Least Square (OLS) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi sawah adalah sebagai berikut :
In Y2= In 0+1 Inx21+2 Inx22+3 Inx23+4 Inx24+u2

Dimana :

Y2 = total pendapatan padi sawah (Rp.)
X21 = jumlah produksi (ton)
X22 = harga jual (Rp./kg)
X23 = jumlah tenaga kerja (HKP)
X24 = Modal (Rp.)
1-4 = koefisien regresi
U2 = variabel gangguan (error term)

Model persamaan Ordinary Least Square (OLS) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit rakyat adalah sebagai berikut :

In Y3 = In 0+ 1 In x31+2 In x32+3 In x33 + u3

Dimana :
Y3 = total produksi kelapa sawit (Rp.)
X31 = luas lahan (Ha)
X32 = tenaga kerja (HKP)
X33 = modal (Rp.)
1-3 = koefisien regresi
U3 = variabel gangguan (error term)

Selanjutnya model persamaan Ordinary Least Square (OLS) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani kelapa sawit adalah sebagai berikut :

InY4 = In0+1 Inx41+2 Inx42+3 Inx43+4 Inx44+u3

Dimana :
Y4 = total pendapatan kelapa sawit (Rp.)
X41 = jumlah produksi (ton)
X42 = harga jual (Rp./kg)
X43 = jumlah tenaga kerja (HKP)
X44 = modal (Rp.)
1-4 = koefisien regresi
U4 = variabel gangguan (error term)

VARIABEL PENELITIAN

1. Produksi
Sebagai variabel terikat (dependent variabel) dalam hal ini adalah total produksi pertanian (Y), yaitu produksi padi sawah (Y1) dan produksi kelapa sawit (Y3), sedangkan variabel bebas (independent variabel adalah luas lahan (X1), tenaga kerja (X2), dan modal (X3).
2. Pendapatan
Sebagai variabel terikat (dependent variabel) adalah total pendapatan petani (Y), yaitu pendapatan petani padi sawah (Y2) dan pendapatan petani kelapa sawit (Y4), sedangkan variabel bebas (independent variabel) adalah jumlah produksi (X1), harga jual (X2), tenaga kerja (X3), dan modal (X4).
3. Alih fungsi lahan
Sebagai variabel terikat (dependent variabel, Y) dalam hal ini adalah total luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit (Y5), sedangkan variabel bebas (independent variabel, X) adalah pendidikan petani (X1), minat petani (X2), pendapatan petani per bulan (X3), kemampuan menabung (X4), kesesuaian lahan (X5) dan ketersediaan air (X6).

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH

1. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Padi Sawah

Untuk pengujian hipotesa yang dirumuskan dalam penelitian ini, maka dilakukan estimasi dengan model Ordinary Least Square (OLS) untuk data cross-section dari 50 petani responden dengan menggunakan Program Eviews 4.1. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Hasil Estimasi OLS Produksi Padi Sawah

LY1 = -6,62 + 0,437LX11 + 0,008LX12 + 0,535 LX13
t-stat (2,72) (0,158) (3,31)
R2 = 0,9464 F-stat = 289,236

Koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,9464 berarti bahwa variabel luas lahan, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 94,64%. Sedangkan sisanya sebesar 5,36%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.


2. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Padi Sawah

Pendapatan merupakan penerimaan yang diperoleh petani padi sawah setelah dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produksi padi sawah. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut

Tabel 3. Hasil Estimasi OLS Pendapatan Petani Padi Sawah

LY2 = -23,079+ 4,12LX21+4,513 LX22+0,018LX23+0,289 LX24
t-stat (2,034) (4,465) (0,283) (1,644)
R2 = 0,9577 F-stat = 278,079

Koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,9577 berarti bahwa variabel jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi pendapatan petani padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 95,77%. Sedangkan sisanya sebesar 4,23%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari F-statistik, yaitu sebesar 278,079 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-tabel (db = 4 : 45) = 3,77), berarti bahwa bersama-sama (serentak) jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal akan mempengaruhi variasi dari pendapatan petani padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI KELAPA SAWIT

1. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kelapa Sawit

Analisis regresi terhadap model estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data cross-section dari 50 petani responden. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Hasil Estimasi OLS Produksi Kelapa Sawit Rakyat

LY3 = -8,646 + 0,137LX31 + 0,436LX32 + 0,662 LX33
t-stat (3,160) (3,484) (7,31)
R2 = 0,9864 F-stat = 1188,91

Berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9864 berarti variabel luas lahan, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 98,64%. Sedangkan sisanya sebesar 1,36%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik yaitu sebesar 1188,91 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-tabel (db = 3 : 46) = 4,24); berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) luas lahan, tenaga kerja dan modal akan mempengaruhi variasi dari produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu.

2. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Kelapa Sawit

Pendapatan merupakan penerimaan yang diperoleh petani dari hasil produksi perkebunan kelapa sawit rakyat yang diusahakannya dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produksi. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Tabel 5. Hasil Estimasi Ols Pendapatan Petani Kelapa Sawit

LY4 = -3,899+ 0,221LX41+0,721 LX42+0,072LX43+0,940 LX44
t-stat (1,509) (2,339) (0,504) (6,475)
R2 = 0,9878 F-stat = 994,003

Nilai koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,9878 berarti bahwa variabel jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal mampu menjelaskan variasi pendapatan petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 98,78%. Sedangkan sisanya sebesar 1,22%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 994,003 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-tabel (db = 4 : 45) = 3,77), berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) jumlah produksi, harga jual, tenaga kerja dan modal akan mempengaruhi variasi dari pendapatan petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu.

3. Analisis Estimasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Padi Sawah Menjadi Perkebunan Kelapa Sawit

Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan padi sawah menjadi perkebunan produksi kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu adalah sebagai berikut :

Tabel 6. Hasil Estimasi PLS Alih Fungsi Lahan Padi Sawah

LY5=-6,694+0,689LX51+0,467LX52+0,567LX53+0,675LX54+0,261X55-0,121X56
t-stat (4,725) (1,452) (6,821) (2,143) (1,319) (-1,128)
R2 = 0,8293 F-stat = 40,673

Berdasarkan nilai koefisien determinasi (adjusted R2) sebesar 0,8293 berarti bahwa pendidikan, minat, pendapatan petani, kemampuan menabung, kesesuaian lahan dan ketersediaan air mampu menjelaskan variasi luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 82,93%. Sedangkan sisanya sebesar 17,07%, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 40,673 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-statistik > F-tabel (db = 5:44) = 3,46), berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) pendidikan petani, minat, pendapatan, kemampuan menabung, kesesuaian lahan dan ketersediaan air akan mempengaruhi variasi dari luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Dengan demikian, faktor sosial (yaitu pendidikan dan minat), faktor ekonomi (yaitu pendapatan dan kemampuan menabung), dan faktor fisik lahan (yaitu kesesuaian lahan dan ketersediaan air) berpengaruh secara signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit. Secara parsial faktor yang berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit adalah faktor sosial dan faktor ekonomi.
Berdasarkan analisis diketahui bahwa variabel ketersediaan air (X56) menunjukkan nilai yang negatif, hal ini berarti bahwa lahan-lahan padi sawah yang lebih banyak beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu adalah lahan-lahan non irigasi teknis. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan petani, maka luas lahan padi sawah yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit juga semakin meningkat, demikian juga dengan pendapatan dan kesempatan menabung. Pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan petani dapat lebih menerima suatu inovasi atau teknologi budidaya baru dalam usahataninya, termasuk alih fungsi lahan ke komoditi yang lebih bernilai ekonomis. Dalam hal ini, komoditi kelapa sawit mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dari padi sawah, yang dapat dilihat dari analisis usahatani, dimana nilai B/C perkebunan kelapa sawit lebih tinggi dari padi sawah.
Komditas kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu merupakan komoditas andalan yang memberikan pendapatan masyarakat yang lebih baik dan terjamin dibandingkan dengan komoditas pertanian lain seperti tanaman padi. Nilai ekonomi kelapa sawit yang lebih tinggi meningkatkan minat petani untuk mengusahakan kelapa sawit, dibandingkan dengan padi sawah. Berdasarkan analisis usahatani, dapat diketahui opportunity cost dari alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit. Biaya (cost) yang dikeluarkan petani padi sawah setiap tahun adalah Rp. 3.447.330,- per Ha dengan pendapatan Rp. 1.387.577,- per Ha/tahun. Biaya (cost) yang dikeluarkan petani kelapa sawit setiap tahun adalah Rp. 3.999.528,86,- per Ha dengan pendapatan Rp. 5.735.202,47,- per Ha/tahun. Dengan demikian selisih biaya (cost) antara usahatani kelapa sawit dan padi sawah per Ha adalah Rp. 552.198,86,- dan selisih pendapatan sebesar Rp. 4.347.625,47,-. Artinya dengan penambahan biaya sebesar Rp. 552.198,86,- dari usahatani padi sawah, petani akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp. 4.347.625,47 dari usahatani kelapa sawit. Dengan demikian, opportunity cost alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit sebesar Rp. 4.347.62,47,- (313,325).
Alih fungsi lahan padi sawah akan berdampak terhadap berbagai aspek, khususnya ketersediaan beras atau pangan secara nasional. Apabila alih fungsi lahan pertanian tidak terkendali, sangat mungkin mengakibatkan Indonesia tertimpa kelaparan. Oleh karena itu, penyelamatan sawah irigasi teknis subur yang pembangunannya menelan investasi sangat besar perlu dilakukan dengan serius, komprehensif dan terencana oleh semua pihak.
Sehubungan dengan hal tersebut, agar Peraturan Daerah No. 39 Tahun 1988 tentang Pemanfaatan dan Pengaturan Lahan Sawah Dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Labuhan Batu dapat diterapkan dengan efektif, Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu hendaknya memperbaiki dan memperluas pelayanan jaringan irigasi, sehingga sawah-sawah yang kurang mendapat air dapat memperoleh air dengan teratur.

KESIMPULAN

1. Luas lahan, tenaga kerja dan modal secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi padi sawah di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, variabel luas lahan dan modal berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi sawah, dimana yang paling besar pengaruhnya adalah modal.
2. Pendapatan petani padi sawah nyata dipengaruhi oleh variabel jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga kerja dan modal secara bersama. Secara parsial, pendapatan petani padi sawah dipengaruhi oleh jumlah produksi dan harga jual.
3. Luas lahan, tenaga kerja dan modal secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, semua variabel berpengaruh secara signifikan terhadap produksi kelapa sawit, dimana yang paling besar pengaruhnya adalah modal.
4. Jumlah produksi, harga jual, jumlah tenaga krja dan modal secara bersama-sama berpengaruh terhadap pendapatan petani kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, harga jual dan modal berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani kelapa sawit, dan yang paling besar pengaruhnya adalah modal.
5. Faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor fisik lahan berpengaruh terhadap alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit rakyat di Kabupaten Labuhan Batu. Secara parsial, faktor yang mempengaruhi luas lahan yang beralih fungsi adalah faktor pendidikan, pendapatan petani dan kesempatan menabung. Ada kecenderungan bahwa lahan padi sawah yang lebih banyak beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit adalah lahan sawah bukan irigasi teknis.
6. Berdasarkan analisa usahatani, nilai B/C ratio usahatani padi sawah adalah 1,41 dan B/C ratio usahatani kelapa sawit adalah 2,54. Hal ini berarti bahwa efisiensi usahatani kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani padi sawah.

SARAN

1. Produktivitas padi sawah di wilayah Kabupaten Labuhan Batu masih lebih rendah dari produksi Sumatera Utara, oleh karena itu dalam usaha meningkatkan produksi dan pendapatan petani padi sawah, dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan input produksi dan modal.
2. Dalam usahatani kelapa sawit rakyat, terlihat bahwa faktor modal lebih tinggi pengaruhnya dalam meningkatkan produksi maupun pendapatan petani kelapa sawit, oleh karena itu dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan tersebut, dapat diupayakan dengan penyediaan modal usaha bagi petani.
3. Sehubungan dengan masalah alih fungsi lahan padi sawah menjadi kelapa sawit yang semakin meningkat, kepada Pemda Kabupaten Labuhan Batu diharapkan untuk dapat memperluas pelayanan jaringan irigasi teknis, sehingga kebutuhan air untuk lahan sawah dapat terpenuhi. Hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa sebagian lahan yang beralih fungsi adalah lahan-lahan sawah non irigasi.
4. Kepada petani kelapa sawit yang masih memiliki lahan padi sawah diharapkan untuk tidak mengalihfungsikan lahan padi sawah tersebut menjadi kelapa sawit, tetapi dengan lebih mengintensifkan pengolahan usahataninya baik dari penggunaan input produksi maupun dengan meningkatkan intensitas pertanaman padi sawah.
5. Kepada petani kelapa sawit disarankan untuk melakukan perawatan tanaman kelapa sawit dengan intensif sehingga dapat menghasilkan produksi maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
BPS, 1988, Produktivitas Padi Sawah, dalam angka BPS Cabang Labuhan Batu.
Daniel, Moehar. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : Bumi Aksara.
Gujarati, Damodar, 2003. Ekonometrika Dasar. Erlangga, Jakarta.
Hadi, Nasrul, 2004. Mengganti Padi Dengan Kelapa Sawit. Jambi : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Soekartawi. 1993. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian, Teori dan Aplikasi. Edisi Revisi. Jakarta : Rajawali.
___________, 1994. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, Cetakan Pertama.
Todaro, Micahel P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh. Jakarta : Erlangga.
Asni, 2005. Analisis Produksi, Pendapatan dan Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Labuhan Batu, Program Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara Medan, tidak dipublikasikan.

1 komentar:

  1. FBS Indonesia – FBS ASIAN adalah salah satu Group Broker Forex Trading FBS Markets Inc
    yang ada di ASIA dimana kami adalah online support partner fbs perwakilan yang sah dipercayakan oleh perusahaan FBS untuk melayani semua klien fbs
    di asia serta fbs yang ada di indonesia.
    -----------------
    Kelebihan Broker Forex FBS
    1. FBS MEMBERIKAN BONUS DEPOSIT HINGGA 100% SETIAP DEPOSIT ANDA
    2. FBS MEMBERIKAN BONUS 5 USD HADIAH PEMBUKAAN AKUN
    3. SPREAD FBS 0 UNTUK AKUN ZERO SPREAD
    4. GARANSI KEHILANGAN DANA DEPOSIT HINGGA 100%
    5. DEPOSIT DAN PENARIKAN DANA MELALUI BANK LOKAL Indonesia dan banyak lagi yang lainya
    Buka akun anda di fbsasian.com.
    -----------------
    Jika membutuhkan bantuan hubungi kami melalui :
    Tlp : 085364558922
    BBM : fbs2009

    BalasHapus