Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI MARGARIN PROVINSI SUMATERA UTARA


ANALISIS DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI
PRODUKSI INDUSTRI MARGARIN
PROVINSI SUMATERA UTARA

Sya’ad Afifuddin

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik industri Margarin di Sumatera Utara dan menganalisis determinan yang mempengaruhi produksi Industri Margarin di Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode ordinary least square (OLS) yaitu dengan Regresi berganda, tingkat signifikansi yang digunakan untuk uji statistik bagi hipotesis ditetapkan sebesar 5 %, sehingga α = 0,05, menggunakan perangkat lunak komputer SPSS versi 12. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan kurun waktu tahun 1985-2003. Hasil penelitian, gambaran profil/karakteristik Industri Margarin di Propinsi Sumatera Utara ada sebanyak 3 industri dengan kapasitas terpasang 8.440.ton/tahun. Dari sisi lain ditemukan bahwa : Bahan baku, Investasi, Kapasitas produksi dan Teknologi berpengaruh signifikan Terhadap Produksi Industri Margarin.

Kata kunci : produksi margarin, bahan baku, kapasitas produksi, investasi, teknologi


PENDAHULUAN
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) berasal dari hutan tropika Afrika Barat. Tanaman Kelapa Sawit merupakan salah satu sumber minyak nabati, telah menjadi komoditas pertanian utama dan unggulan di Indonesia, baik sebagai sumber pendapatan bagi petani, sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, maupun sebagai pemicu dan pemacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir (produk turunan) berbasis minyak kelapa sawit (CPO) di Indonesia (Julius : 2006, Sinar : 2006, Afifuddin : 2002, Akbar : 2006).
Produk turunan CPO saat ini masih didominasi industri produk pangan jadi. Melalui berbagai proses, seperti fraksinasi, rafinasi, hidrogenasi, deodorasi, interesterifikasi, dan pemurnian, CPO dapat diolah menjadi minyak goreng, margarin, Cocoa butter substitute (CBS), Es krim, dan lain - lain. CPO juga bisa menghasilkan produk unggulan eksport dengan nilai tambah yang lebih tinggi seperti industri Oleochemicals, CPO lebih lanjut dapat diolah menjadi produk farmasi, kosmetika, plastik, minyak pelumas, dan sumber energi alternatif untuk bahan bakar diesel.
Diversifikasi produk hilir minyak sawit dan minyak inti sawit dapat dikelompokkan menjadi produk pangan sejumlah 90% dan produk-produk non pangan sejumlah 10% berupa produk-produk sabun dan oleokimia. Penggunaan terbesar minyak sawit adalah untuk minyak goreng yaitu sekitar 71% sedangkan bila digabung dengan margarin/shortening menjadi sekitar 75%. Sisanya (sekitar 25%) dugunakan dalam bentuk sabun, oleo kimia dan bentuk-bentuk lainnya.

Tabel 1. Pangsa Konsumsi Minyak Sawit di Indonesia
Tahun Pangsa Bentuk Konsumsi (%)
Minyak Goreng Margarin/ Shortening Sabun Oleokimia Lain-lain
1991 72,5 4,3 6,5 16,0 0,7
1992 71,0 3,5 5,4 13,7 6,4
1993 72,2 4,0 5,8 15,5 2,5
1994 70,5 3,8 5,3 16,5 3,9
1995 70,2 3,6 5,0 16,6 4,6
1996 70,0 3,5 4,7 16,6 5,2
Rata-rata 70,9 3,8 5,4 15,8 4,1
Sumber : Saragih,1998
Kecenderungan yang ada memperlihatkan adanya kenaikan share/pangsa industri oleokimia. Berbagai produk oleokimia (Gambar 1) banyak diperlukan oleh berbagai industri; khususnya industri pangan, farmasi, personal care dan toiletry (Tabel 2).

















Sumber: Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS, 2001-2005)

Dengan demikian terlihat bahwa pengembangan industri hilir; dengan program strategis diversifikasi produk akan terlihat memperbesar peluang pemanfaatan, mengkreasikan permintaan dan memper kuat posisi industri sawit secara keseluru han.
Pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) tersebar dibeberapa Kabupaten yaitu ; Kabupaten Langkat, Labuhan Batu, Deli Serdang, Asahan, dan Madina. Disamping Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Propinsi Sumatera Utara, masih terdapat beberapa perusahaan yang mengelola industri hilir mengolah minyak CPO menjadi minyak goreng, sabun, mentega dan oleochemical (Pempropsu,2002).
Dari data dan laporan yang diperoleh bahwa produksi PKS berupa CPO dan Inti Sawit sebagian besar diolah ke pabrik industri Hilir Group Perusahaan Perkebunan yang berada di pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Industri Hilir CPO di Pulau Jawa berada di Surabaya (Best Group), Semarang dan Jakarta (Astra Group), Industri Hilir CPO di Pulau Sumatera berada di Lampung, Palembang, Pekanbaru dan Medan/Belawan (Sinar Mas Group, Asam Jawa Group, Salim Group dan RGM/Raja Garuda Mas).

Tabel 2. Berbagai Aplikasi Oleokimia pada Industri Kimia

Jenis Oleokimia Aplikasi pada Industri Kimia
Asam lemak
Dan turunannya
Plastic; metal soaps, washing and cleaning agents, soaps; cosmetics; alkyd resins; dyestaffs; textile; leather and paper industries; rubbers; lubricants.
Metil ester asam lemak Cosmetics; washing and cleaning agents
Gliserol dan turunannya
Cosmetics; toothpastes; pharmaceuticals; foodstuffs; lacquers; plastics; synthetic resins; tobacco; explosives; cellulose processing
Fatty alcohols
Dan turunannya Washing and cleaning agents; cosmetics; textile, leather and paper industries; mineral oil additives
Fatty amines dan
Turunannya Fabric conditioners; mining; road making; biocides; textile and fiber industries; mineral oil additives
Drying oils lacquers; dyestuffs; varnishes; linoleum.
Lemak dan turunannya Soaps
Sumber : Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS, 2001-2005)

Salah satu persyaratan minimal untuk membangun 1 (satu) unit Industri Hilir CPO yang menghasilkan barang jadi (minyak goreng/makan, mentega/margarin dan produk turunan lainnya) apabila telah ada/tersedia kebun kelapa kelapa sawit yang sudah menghasilkan TBS/berproduksi secara optimal seluas 150.000-200.000 Ha. (http://www.kalteng.go.id/INDO/ Kab_kota. htm)
Potensi produksi kelapa sawit Indonesia hingga kini belum digarap maksimal karena kurangnya SDM yang terampil dan profesional. "Akibatnya kendati areal perkebunan komoditas itu dalam lima tahun tergolong pesat, Indonesia masih kalah dari Malaysia," (http://www. petrokimia-gresik.com)

Tabel 3. Perkembangan Produk Turunan CPO di Sumatera Utara
Tahun 2002-2003
Tahun Produk Turunan (Ton)
Minyak Goreng Sabun Margarin
2002 1.042.304 218.883.80 31.269.12
2003 1.074.424 230.806.40 33.307.14
Sumber : BPS-Sumatera Utara 2002-2004

Tabel 3 menunjukkan bahwa perkembangan produk turunan CPO di Sumatera Utara tahun 2002-2003 pada dasarnya menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Hal ini dapat dilihat dengan tingkat pertumbuhan minyak goreng sebesar 3,08% per tahun, sabun 5,45% per tahun dan margarin 6,52% per tahun.

Tabel 4. Produsen Industri Margarin Indonesia
No Provinsi Perusahaan
Industri Margarin
( PIM ) Kapasitas
Produksi
(ton/thn)
( K P )
1 DKI Jakarta 6 230.700
2 Jawa Barat 3 31.700
3 Jawa Timur 3 85.500
4 Jawa Tengah 1 900
5 Sumatera Utara 3 8.440
6 Sumatera Barat 1 660
Total 17 357.900
Sumber : PT CIC, 2004 disesuaikan

Dari tabel 4 menunjukan bahwa terdapat 17 industri margarin Indonesia dengan total kapasitas produksi 357.900 ton pertahun. Industri margarin tersebar pada 6 provinsi yakni, DKI Jakarta 6 perusahaan industri margarin (PIM) dengan kapasitas produksi (KP) sebesar 230.700 ton pertahun. Jawa Barat 3 PIM dengan 31.700 KP. Jawa Timur 3 PIM dengan KP sebesar 85.500 ton pertahun. Jawa Tengah 1 PIM dengan KP sebesar 900 ton pertahun. Sumatera Utara memiliki 3 PIM dengan KP sebesar 8.440 ton pertahun. Sedangkan Sumatera Barat memiliki 1 PIM dengan KP 660 ton pertahun.
Perumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah karakteristik Industri Margarin di Propinsi Sumatera Utara? Apakah jumlah bahan baku, investasi, kapasitas produksi dan teknologi berpengaruh terhadap produksi Margarin ? Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana karakteristik Industri Margarin di Propinsi Sumatera Utara dan untuk meng etahui pengaruh jumlah bahan baku, investasi, kapasitas produksi dan teknologi terhadap produksi Industri Margarin di Propinsi Sumatera Utara.

METODE
Objek penelitian adalah industri margarin di Provinsi Sumatera Utara. Data sekunder meliputi kurun waktu 1985-2003 yang digunakan dalam analisis, diperoleh dari kantor BPS, Deperindag Sumatera Utara dan Instansi lainnya yang terkait. Metode analisis untuk menganalisa profil/karakteristik Industri margarin dianalisa secara deskriptif. Analisis determinan produksi margarin, mengguna kan regresi berganda, dengan model sebagai berikut :

Model Produksi Industri Margarin.
= f(X1, X2, X3, X4) …... (1)
Persamaan 1 ditranfer menjadi bentuk linier dalam log:
= 0+X11+X22+X33+X44 x4 + μ ...............(2)
Model Persamaan yang di bentuk ditransformasi kedalam bentuk Ln, sehingga bentuk persamaan tersebut menjadi :
Ln Y= Ln o +1Ln X1+2Ln X2 +3Ln X3
+ X44 x4 + μ .......................................(3)
Di mana :
Y = Produksi Industri Margarin (Ton/tahun)
o = Intercept
1-4 = Koefisien Regresi
μ = Error term
X1 = Bahan Baku CPO (Ton/tahun)
X2 = Investasi (Rp/tahun)
X3 = Kapasitas Produksi (Ton/tahun)
X4 = trend waktu proxi kepada Teknologi

Definisi Operasional.
- Produksi Industri Margarin: jumlah produksi margarin sumut (ton)
- Bahan Baku : bahan baku berupa CPO dalam rangka menghasilkan produk margarin (Ton)
- Investasi: dana yang dikeluarkan untuk membiayai operasional usaha untuk kelangsungan hidup usaha, melalui kemampuannya dalam mendatangkan keuntungan. (Rp/Tahun)
- Kapasitas produksi : kemampuan suatu pabrik/industri dalam rangka menghasil kan output dengan menggunakan mesin (Ton/Tahun)
- Teknologi: penggunaan yang efisien dari ilmu (sains), ketrampilan, pengalaman, seni dan bahan dalam rangka menghasilkan komoditi. (Trend Waktu disesuaikan dengan Tahun).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Produksi Margarin

Tabel 5. Estimasi Produksi Margarin
Variabel Model Sig (p)
Koefisien Regresi t –hitung
Konstanta -5,25 -5,5 0,000
Bahan Baku 0,26 2,5** 0,026
Investasi 0,34 7,5** 0,000

Kapasitas Produksi 0,29 2,8** 0,014
Teknologi 0,18 3,3** 0,005
t –tabel 1,76
F-tabel 2,96
R2 0,99
F-hitung 1493,1
D/W 2,1
** =signifikan pengujian α = 5% (1,76)

Berdasarkan Tabel 5 diperoleh hasil uji statistik secara serentak dengan hasil sebagai berikut :

Uji Statistik Secara Partial

a. Bahan Baku
Variabel Bahan Baku memberi kan pengaruh yang signifikan pada pengujian α =5% terhadap Produksi Margarin, di mana nilai t-stat lebih besar dari t-tab (t-stat > t-tab); 2,5> 1,76. Koefisien regresi 0,26 artinya secara statistik setiap peningkatan pemakaian bahan baku 1% akan meningkatkan Produksi Margarin 0,26 %.

b. Investasi
Variabel Investasi berpengaruh signifikan pada pengujian α =5% terhadap produksi Margarin, di mana nilai t-stat lebih besar dari t-tab (t-stat > t-tab); 7,5 > 1,76. Koefisien regresi 0,34 berarti secara statistik setiap peningkat an investasi 1% akan meningkatkan Produksi Margarin 0,34%.

c. Kapasitas Produksi
Variabel kapasitas produksi memberikan pengaruh yang signifikan pada pengujian α =5% terhadap Produksi Margarin, di mana nilai t-stat lebih besar dari t-tab (t-stat > t-tab); 2,8 > 1,76. Koefisien regresi 0,29 pada variabel kapasitas produksi artinya, secara statistik setiap peningkatan kapasitas produksi sebesar 1% akan meningkatkan Produksi Industri Margarin sebesar 0,29%. Hal ini dapat terjadi karena jika kapasitas mesin industri terpasang memiliki kemampuan dengan kapasitas tinggi dapat beroperasi dengan waktu kerja yang tinggi dan produksi yang tinggi (besar).

d. Teknologi
Variabel teknologi memberikan pengaruh yang signifikan pada pengujian α =5% terhadap Produksi Margarin, di mana nilai t-stat lebih besar dari t-tab (t-stat > t-tab); 1,79 > 1,76, artinya secara statistik keberadaan faktor teknologi berpengaruh secara signifikan terhadap Produksi Margarin.

Uji secara Serentak
Berdasarkan Nilai F-tab dan F-hit diperoleh F-hit>F-tab; 1493,1 > 2,71, artinya secara serentak variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap Produksi Margarin. Secara serentak variabel bebas meliputi; (1).Bahan Baku, (2).Investasi, (3). Kapasitas Produksi dan (4). Teknologi, dapat menjelaskan variasi perubahan yang terjadi pada variabel produksi Margarin sebesar 99,%, hal ini ditunjukkan oleh nilai R-Square sebesar 0,99.

KESIMPULAN
1. Industri Margarin di Propinsi Sumatera utara ada sebanyak 3 industri dengan kapasitas terpasang 8.440.ton/tahun.
2. Variabel jumlah bahan baku, investasi, kapasitas produksi dan teknologi berpengaruh signifikan terhadap tingkat produksi Industri Margarin.

SARAN
1. Pemerintah harus efektif dalam mengambil kebijakan dalam menjamin ketersediaan CPO baik jangka pendek maupun jangka panjang untuk keperluan industri margarin dalam negeri untuk menghindari gejolak harga dan ketersediaan pasokan margarin dan senantiasa menjaga keefisiensian kapasitas produksi industri yang telah dibangun oleh investor dari dalam maupun luar negeri.
2. Dalam jangka panjang instrumen kebijakan pemerintah hendaknya berorientasi ekspor produk turunan CPO (margarin) dalam meningkatkan perolehan devisa negara melalui ekspor margarin dan Pemerintah hendaknya memberikan perhatian penuh dalam mengatur sistem tata niaga industri ini. Produsen Industri margarin hendaknya menjaga mutu agar mempunyai daya saing yang tinggi di pasar domestik dan di pasar internasional dalam rangka meningkatkan keunggulan komparatif (Comparative Advantage ).















































DAFTAR PUSTAKA


Afifuddin S, et. al, 1994, An Econometric Analysis of the Indonesian Palm Oil Industry, The International Journal of Oil Palm Reseach and Developmant, ELAEIS, Volume 6 No. 1 June Malaysia.

Afifuddin S, (2002), Pengaruh Faktor Permintaan Dalam Negeri dan Luar Negeri Minyak Kelapa Sawit Terhadap Luas Lahan Kelapa Sawit Di Sumatera Utara, Disertasi, Pasca Sarjana Universitas, Airlangga, Surabaya.

Ginting Julius E. 2006, Pengaruh Industri Produk Turunan CPO terhadap Pengembangan Wilayah di Sumatera Utara, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Siregar M Akbar, et. al, 2006, Permintaan CPO Indonesia oleh Jerman dan Belanda, Jurnal Mepa Ekonomi, Magister Ilmu Ekonomi. Sekolah Pasca Sarjana,USU, Medan, Vol I, No 3 September.

Kesuma Sinar Indra, (2006), Pengaruh Pasar CPO Terhadap Pengembangan Wilayah Di Sumatera Utara, Sekolah Pasca Sarjana, USU, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar