Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS DISTRIBUSI PENDAPATAN KARYAWAN PTPN DI SUMATERA UTARA


ANALISIS DISTRIBUSI PENDAPATAN KARYAWAN PTPN
DI SUMATERA UTARA

Alda Kartika1, Murni Daulay2,
Jhon Tafbu Ritonga3, Wahyu Ario Pratomo4

Abstract : Plantation is one of the most important sub sectors in Indonesia economy, it gives much contribution such as national income and employment opportunity to GDP. The PTPN has done many efforts to increase its production, as iy was mention in its Tri Darma Perkebunan, PTPNs are a source of employment opportunity, a source of foreign exchange, and a source of environment and nature. PTPN is expected to increase its product and able to abolish poverty and to improve the income distribution. The purpose of this study are to measure and anlyse disparity income of the PTPN II, PTPN III, and PTPN IV employee’s income by using Lorentz Curve, Gini Ratio and description data from each PTPN, which taken from primary and secondary sources. The result showed that PTPN IV has higher production of palm oil, productivity level in producing palm oil (person/acre), labor force productivity level in producing palm oil (kg/person/acre) and fiscal contribution, than PTPN II and PTPN III. Meanwhile PTPN III has more efficient use of land facing labor force (person/acre), acre per person ratio (acre/person) and financial performance, than PTPN II and PTPN IV. Gini Ratio 60 employee of each PTPN showed a moderate inequality distribution, which are 0,382 in PTPN II, 0,391 in PTPN III and 0,362 in PTPN IV. From Kendall Test show that education background and employee’s rank of each PTPN have strong correlation and significant with income. Meanwhile age, years of working, working spouse do not have strong correlation but significant with income. Gini Ratio from each PTPN showed a low inequality distribution, which are a,127 in PTPN II, 0,124 in PTPN III and 0,133 in PTPN IV. In order to Gini Ratio from all population of PTPN showed a low inequality distribution is 0,089. Lorentz Curve quadratic formula showed 40% lower income population (IA) had better income than World Bank’s criteria which based on 40% of lower income people received more than 17% of Indonesia’s GNP in 2004. It’s mean that the all of PTPN haven’t relative poverty in North Sumatera.

Keywords :Tri Darma Perkebunan, Lorentz Curve, Gini Ratio, Income Distribution


PENDAHULUAN

Dalam perekonomian Indonesia, sub sektor perkebunan merupakan salah satu sub sektor yang berperan penting dalam perekonomian nasional melalui kontribusi dalam pendapatan nasional, penyediaan lapangan kerja, penerimaan ekspor, dan penerimaan pajak.
Sub sektor perkebunan telah lama menjadi kegiatan ekonomi yang penting, baik dalam pengertian subsisten maupun dalam pengertian komersial. Pembangunan sub sektor perkebunan sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, keberhasilannya sangat ditentukan oleh peran sub sektor lainnya yang erat kaitannya dengan sub sektor perkebunan.
Karena itu usaha peningkatan produksi perkebunan diarahkan agar benar-benar dapat berfungsi sebagaimana yang telah diarahkan di dalam Tri Darma Perkebunan, yaitu antara lain penciptaan lapangan kerja, peningkatan devisa untuk negara serta pemeliharaan kelestarian alam dan lingkungan.
Peranan sub sektor perkebunan berdasarkan PDB erat kaitannya dengan perkembangan produksi komoditas perkebunan, terutama yang berasal dari lima komoditas utama perkebunan yaitu teh, kopi, kakao, karet dan kelapa sawit terutama yang dihasilkan oleh PTPN Perkebunan di Propinsi Sumatera Utara. Selama periode tahun 2003-2004, data dari Dinas Perkebunan menunjukkan bahwa produksi untuk kelima komoditas utama PTPN Perkebunan di atas tumbuh sekitar 0,09 % per tahun dengan total produksi 5.276.519 ton. Produksi kelima komoditas perkebunan tersebut berasal dari PTPN II, PTPN III dan PTPN IV.
BUMN tersebut menggunakan lahan pertanian yang lebih kurang 420.712 hektar serta menyerap tenaga kerja lebih kurang 105.756 orang. Daya tampung tiga PTPN sebanyak 105.756 orang tenaga kerja tersebut dalam kegiatan ekonomi formal dan moderen merupakan jumlah yang cukup besar.
Opini yang berkembang dimasyarakat bahwa pola hidup eksklusif yang diterapkan kalangan perkebunan tersebut telah menimbulkan kesenjangan yang sangat tajam baik dikalangan staf dengan buruh perkebunan maupun antara masyarakat perkebunan itu sendiri dengan masyarakat yang hidup disekitar perkebunan. Opini tersebut telah membentuk suatu keyakinan di masyarakat bahwa kesenjangan tersebut berimplikasi kepada ketimpangan pendapatan yang tinggi antara staf dengan buruh perkebunan.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka untuk menepis opini yang berkembang dimasyarakat, PTPN Perkebunan untuk memenuhi kewajibannya kepada karyawan menerapkan sistem pengupahan berdasarkan golongan dan konsekuensi sistem pengupahan tersebut menyebabkan terjadinya variasi pendapatan karyawan yang berbeda-beda.

PERUMUSAN MASALAH
• Apakah ada perbedaan distribusi pendapatan karyawan PTPN II, PTPN III dan PTPN IV di Sumatera Utara.
• Apakah golongan, lama kerja, pendidikan, umur dan suami/isteri karyawan bekerja mempengaruhi pendapatan karyawan PTPN.

HIPOTESA PENELITIAN
• Ada perbedaan distribusi pendapatan distribusi pendapatan karyawan PTPN II, PTPN III dan PTPN IV di Sumatera Utara.
• Golongan, lama kerja, pendidikan, umur dan suami/isteri karyawan bekerja mempengaruhi pendapatan karyawan PTPN di Sumatera Utara.

PENELITIAN TERDAHULU
Ramirez, at.al. (1998) mengatakan bahwa, distribusi pendapatan dalam masyarakat dan tingkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan terhadap pertumbuhan ekonomi. Tingkat investasi yang tinggi dengan distribusi pendapatan yang baik dan merata membuka kemungkinan bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Zhang Yaoqi (2000) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mempengaruhi perubahan struktur ekonomi , perubahan permintaan dan penawaran terhadap produk pertanian, preferensi manusia dan distribusi pendapatan masyarakat. Reformasi agraria (tanah untuk pertanian) mempunyai dampak positif terhadap perkembangan masyarakat dan kesamaan distribusi pendapatan.
Sharma (2004) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada hubungan yang dekat antara pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Studi tersebut berpendapat bahwa pertumbuhan sektor pertanian adalah lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan dan memperbaiki ketidakmerataan distribusi pendapatan. Hasil studi berpendapat bahwa kenaikan dalam ketidaksamaan distribusi pendapatan menunjukkan peningkatan kemiskinan. Kenaikan dalam output pertanian akan memperbaiki standar hidup, distribusi pendapatan dan mengurangi kemiskinan. Studi tersebut menunjukkan bahwa distribusi pendapatan yang rendah menunjang peningkatan kemiskinan dan ketidaksamaan pendapatan.
Penelitian Ahlburg (1995) yang dilakukan di Fiji untuk menghitung koefisien Gini dengan menggunakan data HIES menunjukkan bahwa ketidaksamaan pendapatan di Fiji meningkat dari 4% pada tahun 1977 menjadi 6% pada tahun 1990-1991 (koefisien Gini 0,42 tahun 1977 menjadi 0,46 tahun 1990-1991).
Penelitian yang dilakukan oleh Akita dan Armida (2001), menunjukkan ketidaksamaan pendapatan regional di Indonesia selama kurun waktu tahun 1993 sampai dengan tahun 1998 dengan menggunakan Indeks Theil yang didasarkan kepada tingkat GDP dan data populasi. Secara keseluruhan ketidaksamaan pendapatan regional meningkat secara signifikan selama kurun waktu lima tahun tersebut (dari 0,262 menjadi 0,287) pada saat Indonesi telah mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan lebih dari 7 %.
Dari hasil penelitian Damazlichy (2000) yang di lakukan di Southest Missouri Amerika Serikat menunjukkan adanya ketidaksamaan pendapatan dimana koefisien Gini tahun 1989 adalah 0,4815 dan tahun 1990 adalah 0,4809. Studi tersebut mengatakan bahwa ketidaksamaan pendapatan yang terjadi dipengaruhi oleh skala ekonomi dan aglomerasi ekonomi. Selanjutnya dikatakan bahwa sektor manufaktur yang besar memberikan upah karyawan yang relatif lebih tinggi sehingga mempunyai kontribusi yang positif untuk mengurangi ketidaksamaan pendapatan, sementara sektor pertanian memberikan kontribusi ketidaksamaan pendapatan yang besar dalam wilayah pertanian yang besar.
Rosa, at. al. (2000) mengatakan bahwa sektor pertanian memberikan proporsi yang besar terhadap PDB. Sektor agribisnis dengan skala yang besar mempunyai integrasi kepada perkembangan ekonomi dan distribusi pendapatan. Selanjutnya Stermoyena (2000) mengatakan bahwa perbaikan produktivitas sektor agribisnis yang dilakukan secara simultan dengan perbaikan sektor pertanian akan menghasilkan surplus dari sektor tersebut.
Delgado dan Siamwalla (1997) mengatakan bahwa pentingnya diversifikasi pertanian karena akan diperoleh manfaat dimana pendapatan petani lebih stabil dan meningkat, prospek dalam jangka panjang untuk pertumbuhan pendapatan dan sistem pertanian berkelanjutan, sehingga dengan demikian diversifikasi pertanian meningkatkan tambahan pendapatan dan dapat dipertimbangkan sebagai tujuan obyektif dari kebijakan ekonomi.

WILAYAH PENELITIAN
Obyek penelitian ini adalah PT Perkebunan Nusantara II (Persero), PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara IV (Persero).

RUANG LINGKUP PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian adalah distribusi pendapatan karyawan PTPN di Sumatera Utara dengan menganalisis besarnya pendapatan karyawan, distribusi pendapatan karyawan dan sampai sejauh mana terjadi ketimpangan pendapatan karyawan dalam masing-masing PTPN dan antar PTPN di Sumatera Utara selama tahun 2004.

SUMBER DATA
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer melalui metode wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner. Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah responden yang menjadi sampel di masing-masing PTPN dilakukan dengan cara Proporsional Stratified Random Sampling, dimana populasi PTPN di Sumatera Utara sebanyak 3 PTPN digunakan seluruhnya sebagai sampel dan setiap PTPN diambil sebanyak 60 sampel sebagai responden.
Sementara data sekunder yang digunakan adalah data pendapatan karyawan pada tahun 2004 yang dihimpun dari sumber-sumber yang relevan dengan obyek penelitian yang diperoleh dari PTPN II, PTPN III dan PTPN IV, Kantor Badan Pusat Statistik, Internet serta beberapa literatur dan bacaan seperti majalah-majalah ilmiah serta beberapa karya tulis ilmiah (studi kepustakaan) yang terkait dengan permasalahan.

METODE ANALISIS
Analisis data primer digunakan metode Bivariate Correlations Analysis, dimana data nominal dan ordinal dilakukan dengan uji Kendall dan Spearman Correlation (Non Parametric), sementara data numeric dengan Uji Pearson. Analisis data dilakukan dengan bantuan program Statistical Package for Social Science (SPSS).

MODEL ANALISIS DATA
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
• Kurva Lorenz
Kurva Lorenz adalah kurva yang memperlihatkan hubungan kuantitatif antara persentase penerimaan pendapatan dan persentase total pendapatan yang benar-benar diperoleh.
• Koefisien Gini
G = 1 – (Pi – Pi-1) (Yi + Yi-1)
Nilai indeks Gini berkisar antara 0 sampai dengan 1. Jika nilai indeks Gini sama dengan nol, berarti distribusi pendapatan mempunyai kemerataan mutlak, sedangkan bila nilai indeks Gini mempunyai nilai satu, berarti distribusi pendapatan mempunyai ketimpangan mutlak (sangat timpang).

HASIL PENELITIAN
• PTPN III mempunyai tingkat efisiensi penggunaan lahan terhadap tenaga kerja (orang/ha), rasio hektar per orang (ha/orang) dan kinerja finansial lebih baik dibandingkan PTPN II dan PTPN IV.
• PTPN IV mempunyai tingkat produksi kelapa sawit (ton), tingkat produktivitas produksi kelapa sawit (ton/ha), tingkat produktivitas tenaga kerja per hektar untuk menghasilkan produksi kelapa sawit (kg/orang/ha) dan kontribusi fiskal lebih baik dibandingkan PTPN II dan PTPN III.
• Uji Kendall untuk 60 orang sampel karyawan di masing-masing PTPN diketahui bahwa :
• Golongan dan tingkat pendidikan karyawan di masing-masing PTPN berhubungan sangat nyata dengan pendapatan dan mempunyai hubungan korelasi yang kuat.
• Lama kerja, umur dan suami/isteri karyawan bekerja berhubungan sangat nyata, dan korelasinya dengan pendapatan tidak begitu kuat.
• Gini Ratio untuk 60 orang karyawan sebagai sampel di masing-masing PTPN menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan sedang yaitu 0,382 di PTPN II, 0,391 di PTPN III dan 0,362 di PTPN IV.
• Gini Ratio untuk populasi karyawan di masing-masing PTPN menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan rendah yaitu 0,127 di PTPN II, 0,124 di PTPN III dan 0,133 di PTPN IV.
• Gini Ratio untuk semua populasi karyawan seluruh PTPN menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan yang rendah yaitu 0,089.
• Dengan pendekatan lain ditemukan, bahwa pendapatan dari 40% populasi karyawan berpendapatan rendah di golongan IA berdasarkan fungsi persamaan kuadratik yang dihasilkan dari Kurva Lorenz masih lebih tinggi dari kriteria Bank Dunia dengan tolok ukur 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati 17% GNP Indonesia tahun 2004.

KESIMPULAN
1. Berdasarkan kontribusinya pada pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Utara dan banyaknya tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sub sektor perkebunan terutama BUMN Perkebunan di Sumatera Utara seperti PTPN II, PTPN III dan PTPN maka BUMN tersebut mempunyai peranan yang strategis untuk jangka panjang guna mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara.
2. Dari studi komparatif menunjukkan bahwa PTPN II, PTPN III dan PTPN IV membudidayakan 6 jenis tanaman yaitu kelapa sawit, karet, coklat, teh, tebu dan tembakau, dimana 80 % dari luas lahan keseluruhan merupakan tanaman kelapa sawit dengan tingkat produktivitas produksi yang tinggi
3. Tenaga kerja di ketiga PTPN terdiri dari Karyawan Pimpinan (Staf) dan Karyawan Pelaksana yang berdasarkan skala golongan gaji dibagi menjadi 16 ruang dari golongan IA sampai dengan IVD, dimana 97,60% merupakan Karyawan Pelaksana dan hanya 2,40% Karyawan Pimpinan dengan jumlah pendapatan secara keseluruhan sebesar Rp 2,04 trilyun.
4. Dari hasil analisis data primer diketahui bahwa Gini Ratio masing-masing PTPN dari 60 orang karyawan sebagai sampel menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan sedang. Uji Kendall menunjukkan bahwa golongan karyawan dan tingkat pendidikan karyawan di masing-masing PTPN berhubungan sangat nyata dengan pendapatan dan mempunyai hubungan korelasi yang kuat. Sementara lama kerja karyawan, umur karyawan dan suami/isteri karyawan bekerja berhubungan sangat nyata, namun korelasinya dengan pendapatan tidak begitu kuat.
5. Dari hasil analisis data sekunder diketahui bahwa Gini Ratio masing-masing PTPN dan Gini Ratio seluruh PTPN di Sumatera Utara menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan rendah.
6. Hasil yang diperoleh berdasarkan fungsi persamaan kuadratik Gini Ratio dari Kurva Lorenz menunjukkan bahwa pendapatan karyawan di masing-masing PTPN maupun seluruh PTPN masih lebih tinggi dari kriteria Bank Dunia dengan tolok ukur 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati 17% GNP Indonesia tahun 2004.

SARAN
1. Agar Pemerintah sebaiknya meninjau kembali isi Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan daerah, agar pajak-pajak yang potensial yang dipungut oleh Pemerintah Pusat dapat dikembalikan lagi ke Daerah.
2. Agar Pemerintah Pusat dapat lebih memperhatikan keuangan Daerah dengan memasukkan sub sektor perkebunan sebagai sumber Pendapatan Asli daerah sehingga Propinsi Sumatera Utara mendapatkan bagi hasil dari sub sektor perkebunan yang sama besarnya dengan penerimaan dari sumber daya alam sub sektor kehutanan, pertambangan umum dan perikanan yaitu 20% ke pusat dan 80% ke Daerah.
3. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji kembali mengenai distribusi pendapatan pekerja dalam cakupan lebih luas dengan membandingkannya kepada distribusi pendapatan pekerja di perusahaan perkebunan swasta dan perkebunan rakyat.

DAFTAR PUSTAKA
Ahlberg, D., Income Distribution and Poverty in Fiji, ES HDP, Suva, Mimeo, 1995.
Akita, T dan Hermawan, Agus, The Source of Industrial Growth in Indonesia 1985-1995 : An Input-Output Analysis, Asean Economic Bulletin, 17 (3), 2000, pp. 270-284.
Damazlichy, Bruce, Income Inequality in Rural Southest Missouri, Southest Missouri University, Cape Girardeau, 2000.
Delgado, Christopher L., dan Amar Siamwalla, Rural Economy and Farm Income Diversification in Developing Countries, International Food Policy Research Institute, Washington DC, 1997.
Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara, Laporan Tahunan Dinas Perkebunan Medan : Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara, 2004.
Rosa Peter, Weejaye Jayatilah dan Kodithuwakhu, The Potensial Supply of University Educated Agribusiness Entrepreneurs: A Sri Lanka Perspektive, Department of Management and Organization University of Shirley Scotland, 2000.
Sharma, K.L., Growth Inequality and Poverty in Fiji Islands : Institutional Constraints and Issues, Senior Lecturer in Economics The University of South Facipic Suva, Fiji, July 2004.
Stermoyena L., The Socials Consequences of Structural Adjusment Reforms in Tanzania, Graduate School of International Political Economy University of Tsukaba, Ibariken, The Tanzania Journal, 1 (1) 4-18: 2000.
World Bank, Indonesia : Dimension of Growth, Washington DC, 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar