Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI DI NEGARA-NEGARA ASEAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERTUMBUHAN EKONOMI DI NEGARA-NEGARA ASEAN

Oleh

Oktozuhri1, Murni Daulay2,
Iskandar Syarief3, Rujiman4

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN selama kurun waktu 1970 – 2003. Adapun negara-negara ASEAN yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah negara-negara pendiri ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand (ASEAN 5). Metode yang digunakan dalam melakukan estimasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN tersebut adalah dengan metode Ordinary Least Square (OLS) dengan mengggunakan alat analisis untuk membantu mengolah data adalah dengan program Eviews versi 4,1. Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah, investasi asing langsung yang masuk, dan perkembangan ekspor di negara-negara ASEAN memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand pada tingkat kepercayaan yang berbeda-beda. Sedangkan untuk angkatan kerja di Philipina dan Singapura berpengaruh positif, tetapi hanya di Philipina yang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonominya. Sementara untuk angkatan kerja di Indonesia, Malaysia, dan Thailand memberikan pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara tersebut. Selanjutnya faktor yang dominan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN adalah pengeluaran pemerintah, sedangkan ekspor dan investasi asing langsung masih memberikan pengaruh yang relatif kecil, hal ini dapat di lihat dari nilai koefisien regresinya.

Kata kunci : Pertumbuhan ekonomi, elastisitas, angkatan kerja, investasi asing langsung, ekspor, pengeluaran pemerintah


LATAR BELAKANG
Pembangunan ekonomi pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara sadar dan terus menerus untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik secara bersama-sama dan berkesinambungan. Dalam kerangka itu, pembangunan ekonomi juga untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata.
Disamping itu, tujuan utama dari usaha-usaha pembangunan ekonomi selain menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus atau mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan tingkat pengangguran (Todaro, 2000). Hal ini sesuai dengan paradigma pembangunan modern yang mengedepankan dethronement of GNP (penurunan tahta pertumbuhan ekonomi), pengentasan garis kemiskinan, pengurangan distribusi pendapatan yang semakin timpang, dan penurunan tingkat pengangguran yang ada, sehingga paradigma ini membawa perubahan dalam paradigma pembangunan yang mulai menyoroti bahwa pembangunan harus dilihat sebagai suatu proses yang multidimensional (Kuncoro, 2004).
Sejak Januari 2003, kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA) sudah mulai diberlakukan. Konsekuensinya, barang-barang produksi negara-negara ASEAN saat ini telah “bebas” masuk di kawasan ini tanpa bisa dihindari karena segala bentuk tarif dan hambatan ekspor-impor akan dihilangkan atau paling tidak ditekan serendah mungkin (maksimal 5 %). Tidak perlu heran jika negara kita akan kebanjiran barang-barang impor berharga sangat murah.
Menghadapi AFTA 2003 tersebut, dari tabel 1 dapat dilihat persaingan industri dalam negeri bersaing menghadapi gencarnya produk-produk dari luar negeri yang relatif lebih murah dan berkualitas sehingga memiliki daya saing yang relatif tinggi dibandingkan dengan produk-produk buatan dalam negeri yang memiliki daya saing relatif lebih rendah.

TABEL 1. DAYA SAING DI NEGARA-NEGARA ASEAN
DAN CHINA

No Negara Growth Competitiveness Index
(GCI) Business Competitiveness Index
2003 2004 2004
1 Indonesia 72 69 44
2 Malaysia 29 31 23
3 Philipina 66 76 70
4 Singapura 6 7 10
5 Thailand 32 34 37
6 Vietnam 60 77 79
7 China 44 46 47
Sumber : Global Competitiveness Report, 2004

Berdasarkan Tabel di atas, posisi Indonesia dalam Growth Competitiveness Index 2004 (GCI) menunjukkan perbaikan dari urutan 72 menjadi posisi 69 pada tahun 2004. Tetapi posisi ini masih jauh dibawah negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand dan posisi Indonesia hanya mampu bersaing dengan Philipina dan Vietnam. Sedangkan dalam Business Competitiveness Index 2004 (BCI), posisi Indonesia berada jauh lebih baik dibandingkan dengan China, Philipina, dan Vietnam. Namun posisi inipun masih jauh dibawah para pesaing tradisional Indonesia seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

TABEL 2. LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI DI
5 NEGARA ASEAN (%)

Negara Indonesia Malaysia Philipina Singapura Thailand
1995 8.40 9.83 4.68 8.04 9.24
1996 7.64 10.00 5.85 8.15 5.90
1997 4.70 7.32 5.19 8.51 -1.37
1998 -13.10 -7.36 -0.58 -0.86 -10.50
1999 0.79 6.14 3.40 6.42 4.45
2000 4.92 8.50 5.97 9.41 4.76
2001 3.44 0.30 2.96 -2.37 2.14
2002 3.66 4.10 4.43 2.25 5.41
Sumber : World Development Indicators, 2004
Selanjutnya, terkait dengan rendahnya daya saing Indonesia dibanding negara-negara ASEAN, maka dampaknya terlihat pada laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN tersebut. Berdasarkan Tabel 2 di diatas, laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara ASEAN selama kurun waktu 1995 – 2002, menunjukkan perkembangan yang fluktuatif. Pada saat sebelum krisis ekonomi melanda negara-negara Asia termasuk negara-negara ASEAN, memperlihatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 5 %, kecuali Thailand yang mengalami pertumbuhan ekonomi –1,37 % pada awal krisis moneter (1997). Namun saat krisis ekonomi melanda negara-negara ASEAN, negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat parah adalah Indonesia, Thailand dan Malaysia, sedangkan negara Philipina dan Singapura tidak begitu parah walaupun laju pertumbuhan ekonominya juga mengalami minus sebesar –0,58 dan –0,86.
Gambar 1. Laju Pertumbuhan Ekonomi di 5 Negara ASEAN (%)
Tetapi pasca krisis ekonomi, negara yang cepat mengalami perbaikan (recovery) pertumbuhan ekonominya adalah Malaysia, Thailand dan diikuti Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi fundamental ekonomi negara-negara tersebut kecuali Indonesia membuktikan cukup baik sehingga mampu untuk keluar dari krisis tersebut. Akan tetapi pada tahun 2001, pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN mengalami kemunduran lagi akibat dari wabah sars yang melanda kawasan Asia. Dan negara yang mengalami dampaknya yang cukup parah dari wabah sars tersebut adalah Singapura, dimana negara tersebut merupakan negara yang mengandalkan pertumbuhan ekonominya dari sektor jasa.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkaji dan meneliti faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi di negara-negara pendiri ASEAN yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina. Sedangkan untuk Brunai Darussalam tidak dijadikan sampel dikarenakan keterbatasan data yang tersedia sehingga hanya 5 (lima) negara yang dijadikan sampel dalam penelitian ini.

TINJAUAN PUSTAKA
1 Pergeseran Makna Pembangunan
Pada akhir dasawarsa 1960-an, banyak negara berkembang mulai menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi (economic growth) tidak identik dengan pembangunan ekonomi (economic development). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, setidaknya melampaui negara-negara maju pada tahap awal pembangunan, memang dapat dicapai namun dibarengi dengan masalah-masalah seperti pengangguran, kemiskinan, distribusi pendapatan yang timpang, keseimbangan struktural (Sjahrir, 1986).
Hal ini yang memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang diperlukan (necessary) tetapi tidak mencukupi (sufficient) bagi proses pembangunan (Esmara, 1986). Pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan jasa secara nasional, sedangkan pembangunan berdimensi lebih luas dari sekedar peningkatan pertumbuhan ekonomi tetapi pembangunan harus dilihat sebagai suatu proses yang multidimensional (Kuncoro, 2004).
Hal inilah yang menandai dimulainya masa pengkajian ulang tentang arti pembangunan. Istilah pembangunan bisa saja diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah lain, negara satu dengan negara lain. Secara tradisional pembangunan memiliki arti peningkatan yang terus menerus pada Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Myrdal, (1986), misalnya mengartikan pembangunan sebagai pergerakan ke atas dari seluruh sistem sosial. Disamping itu, menurut Meier (1989) yang menekankan pentingnya pertumbuhan dengan perubahan (growth with change), terutama perubahan nilai-nilai dan kelembagaan. Ini dilandasi argumen adanya dimensi kualitatif yang jauh lebih penting dibanding pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi tidak lagi memuja GNP sebagai sasaran pembangunan, namun lebih memusatkan perhatian pada kualitas dari proses pembangunan (dalam Kuncoro, 2004).
2. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang (Boediono, 1999). Pengertian tersebut mencakup tiga aspek, yaitu : proses, output perkapita dan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses, bukan gambaran ekonomi pada suatu saat. Mencerminkan aspek dinamis dari suatu perekonomian, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu.
Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan kenaikan output per kapita. Dalam hal ini berkaitan dengan output total (GDP) dan jumlah penduduk, karena output per kapita adalah output total dibagi dengan jumlah penduduk. Jadi proses kenaikan output perkapita harus dianalisa dengan melihat apa yang terjadi dengan output total disatu pihak, dan jumlah penduduk di pihak lain. Dengan perkataan lain, pertumbuhan ekonomi mencakup pertumbuhan GDP total dan pertumbuhan penduduk.
Aspek ketiga dari definisi pertumbuhan ekonomi adalah perspektif waktu jangka waktu suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila dalam waktu yang cukup lama (10, 20 atau 50 tahun, atau bahkan lebih lama lagi) mengalami kenaikan output per kapita. Tentu saja dalam waktu tersebut bisa terjadi kemerosotan output per kapita, karena gagal panen misalnya, tetapi apabila dalam waktu yang cukup panjang tersebut output per kapita menunjukkan kecenderungan menaik maka dapat kita katakan bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi.
3. Teori Pengeluaran Pemerintah Versi Keynes
Identitas keseimbangan pendapatan nasional Y = C + I + G + X – M merupakan sumber legitimasi kaum Keynesian akan relevansi campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Dari notasi tersebut dapat ditelaah bahwa kenaikan (penurunan) pengeluaran pemerintah akan menaikkan (menurunkan) pendapatan nasional.
Pengeluaran pemerintah merupakan salah satu unsur permintaan agregat. Konsep perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran bahwa Y = C + I + G + X – M. Formula ini dikenal sebagai identitas pendapatan nasional. Variabel Y melambangkan pendapatan nasional, sekaligus mencerminkan penawaran agregat. Sedangkan vaiabel – variabel di ruas kanan disebut permintaan agregat. Variabel G melambangkan pengeluaran pemerintah (Government expenditure). Dengan membandingkan nilai G terhadap Y serta mengamati dari waktu ke waktu dapat diketahui seberapa besar kontribusi pengeluaran pemerintah dalam pembentukan pendapatan nasional (Dumairy, 1997)

3.1. Hukum Wagner
Teori mengenai perkembangan persentase pengeluaran pemerintah yang semakin besar terhadap GNP. Wagner menyatakan dalam suatu perekonomian apabila pendapatan perkapita meningkat, secara relatif pengeluaran pemerintah pun akan meningkat (Mangkoesoebroto, 2001). Hukum tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

GpCt > GpCt-1 > GpCt-2 > … > > GpCt-n
YpCt YpCt-1 YpCt-2 YpCt-n

Keterangan :
GpC : Pengeluaran pemerintah per kapita
YpC : Produk atau pendapatan nasional per kapita
T : indeks waktu (tahun)
Menurut Wagner ada lima hal yang menyebabkan pengeluaran pemerintah selalu meningkat, yaitu : tuntutan peningkatan perlindungan keamanan dan pertahanan, kenaikan tingkat pendapatan masyarakat, urbanisasi yang mengiringi pertumbuhan ekonomi, perkembangan demografi, dan ketidakefisienan birokrasi yang mengiringi perkembangan pemerintah (Dumairy, 1997).

4. Teori Peacock dan Wiseman
Teori ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa pemerintah selalu berusaha memperbesar pengeluarannya dengan mengandalkan penerimaan dari pajak, padahal masyarakat tidak suka membayar pajak yang semakin besar. Peacock dan Wiseman menyatakan sebagai berikut: perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah, dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat.
Meningkatnya pengeluaran pemerintah dari tahun ke tahun menggambarkan kegiatan pemerintah semakin meningkat. Dengan mengalokasikan dana secara tepat maka efisiensi pengeluaran pemerintah dapat ditingkatkan sehingga produksi nasional pun diharapkan meningkat.

5. Peranan Ekspor Bagi Pertumbuhan Ekonomi
Peranan ekspor sebagai motor penggerak pertumbuhan PDB dapat juga dianalisis dengan menggunakan kerangka penghitungan pendapatan nasional atau PDB menurut penggunaannya (sisi permintaan dari ekonomi). Permintaan agregat di dalam ekonomi dapat didefenisikan sebagai jumlah dari pengeluaran konsumsi (C), pengeluaran investasi (pembentukan modal tetap domestik bruto), (I), pengeluaran/konsumsi pemerintah, (G) dan ekspor neto (X - M). Sedangkan penawaran agregat adalah nilai output atau nilai tambah total dari semua sektor ekonomi di dalam negeri yang membentuk PDB atau pendapatan nasional, Y. Diketahui bahwa, secara ex post permintaan agregat atau pengeluaran sama dengan pendapatan nasional, atau di dalam ekuilibrium perhitungan pendapatan nasional dapat dirumuskan sebagai berikut .
Pengeluaran domestik yakni bagian dari permintaan agregat yang bersumber dari dalam negeri, C + I + G disebut juga penyerapan domestik A, dan X – M adalah neraca perdagangan. Maka relasi antara sektor domestik dan sektor luar negeri di dalam struktur PDB menurut penggunaannya dapat ditulis sebagai berikut : (Tambunan, 2000)
Y = A + X - M
atau
Y – A = X - M
Dengan kata lain, neraca pembayaran adalah selisih antara pendapatan nasional di dalam ekuilibrium ekonomi, pendapatan nasional sama dengan suplai domestik dan permintaan (penyerapan) domestik. Dari persamaan dapat dilihat bahwa pengaruh/peranan perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi, jika saldo neraca perdagangan positif (X > M), dengan asumsi A tetap maka Y naik.
Besarnya peranan perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dianalisis secara kuantitatif dengan pendekatan income multiplier analysis. Untuk itu perlu dikembangkan terlebih dahulu suatu model ekonomi makro yang terdiri dari persamaan-persamaan pendapatan nasional (1), konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor. Sementara fungsi eksplisit konsumsi dapat digambarkan dalam persamaan berikut :
C = cY + c0
Dimana konstanta c dengan nilai antara 0 dan 1 adalah marginal propensity to consume atau bagian yang tetap dari pendapatan yang dikonsumsikan, dan c0 konsumsi otonom, yang artinya besaran atau nilainya tidak ditentukan/dipengaruhi oleh tingkat/perubahan pendapatan.
Selain meningkatkan cadangan valas, manfaat lain dari perdagangan internasional (gains from trade) adalah dalam bentuk efek langsung terhadap pertumbuhan output di dalam negeri. Bagi negara-negara yang ekonomi atau produksi mereka berorientasi ke pasar eksternal, seperti di Asia Tenggara dan Asia Timur yang disebut Macan Asia atau negara-negara Industri Baru (Newly Industrialized Countries = NICs), yakni Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, dan Singapura, peningkatan permintaan dunia terhadap produk-produk mereka memberi dorongan positif terhadap pertumbuhan produksi di dalam negeri.
6. Hubungan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Investasi sebagai salah satu komponen penting dari Aggregate Demand, (AD) merupakan suatu faktor krusial bagi kelangsungan proses pembangunan ekonomi (sustainable development), atau pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pembangunan ekonomi melibatkan kegiatan-kegiatan produksi (barang dan jasa) di semua sektor-sektor ekonomi. Dengan adanya kegiatan produksi, maka terciptalah kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat meningkat, yang selanjutnya menciptakan/meningkatkan permintaan di pasar. Dengan semakin berkembangnya pasar yang berarti juga volume kegiatan produksi, kesempatan kerja, dan pendapatan di dalam negeri semakin meningkat dan seterusnya, maka akan terciptalah pertumbuhan ekonomi.
Korelasi (hubungan) positif antara investasi dengan pertumbuhan ekonomi diuraikan secara sederhana namun jelas di dalam model pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar. Di dalam model ini, investasi dan ICOR (the incremental capital output ratio) merupakan dua variabel fundamental, yang secara garis besar dapat dijelaskan seperti berikut ini. Investasi yang dimaksud adalah investasi neto, yang didefenisikan sebagai perubahan/penambahan stok barang modal, atau
It = ΔKt
= Kt – Kt-1
Sementara itu, ICOR adalah kebalikan dari rasio pertumbuhan output terhadap pertumbuhan investasi, yang pada intinya menunjukkan hubungan antara penambahan stok barang modal dan pertumbuhan output, atau melihat seberapa besar peningkatan investasi yang diperlukan untuk mendapatkan laju pertumbuhan ekonomi tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya (target). Hubungan tersebut digambarkan dengan rumus sebagai berikut :
Y = y.K
atau
1/y = K/Y
Dimana y = rasio output-kapital, dan 1/y = rasio kapital-output (COR). Dalam perkembangannya, pemakaian konsep COR mengalami modifikasi menjadi ICOR dengan rumus sebagai berikut :
ICOR = (ΔK/Y) / (ΔY/Y)
atau
ICOR = (I/Y) / (ΔY/Y)
Berdasarkan hasil-hasil studi kuantitatif yang telah dilakukan pada tahun 1990-an, misalnya Levine dan Renelt (1992) menemukan bukti adanya korelasi positif dan signifikan antara investasi dengan pertumbuhan ekonomi. Disamping itu studi-studi lain yang memakai analisis fungsi produksi neo-klasik menemukan bahwa investasi, bukan progres teknologi, merupakan faktor utama dibalik pertumbuhan ekonomi yang cemerlang yang dialami negara-negara Asia Tenggara. Argumen utama dibalik hasil dari studi-studi ini adalah bahwa investasi menambah jumlah stok kapital per pekerja dan oleh karena itu menaikkan produktivitas.
PENELITIAN SEBELUMNYA
Sinha (1999) menemukan adanya hubungan yang negatif antara ketidakstabilan ekspor dengan pertumbuhan ekonomi di negara Jepang, Malaysia, Philipina, dan Sri Lanka. Sementara itu, untuk negara Korea, Myanmar, Pakistan, dan Thailand menunjukkan pengaruh yang positif antara ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pada sisi yang lain, ditemukan juga dampak yang positif antara pertumbuhan ekonomi dan investasi domestik.
Kweka dan Morrissey (2000), menunjukkan bahwa meningkatnya pengeluaran produktif (investasi fisik) ternyata memberikan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Tanzania. Sementara pengeluaran untuk konsumsi terutama konsumsi swasta berhubungan positif dan signifikan dengan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pengeluaran publik untuk human capital tidak signifikan secara statistik terhadap pertumbuhan ekonomi di Tanzania. Disamping itu dari hasil estimasi memperlihatkan bahwa pengeluaran investasi publik di Tanzania tidak produktif dan ini berlawanan dengan pendapat yang lebih luas, dimana pengeluaran konsumsi pemerintah Tanzania telah menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Wong dan Jomo (2001) yang menganalisis dampak arus modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi di Malaysia menemukan bahwa investasi dan pertumbuhan sektor manufaktur berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan pertumbuhan angkatan kerja memberikan pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Malaysia selama kurun waktu 1966 - 1996.
Gunalp dan Timur Han Gur (2002) yang menggunakan model Ram untuk data cross-sectional menemukan bahwa pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara sedang berkembang. Sementara itu, untuk pengeluaran pemerintah di negara-negara Asia pada umumnya memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan pengeluaran pemerintah di negara-negara Amerika Latin dan Afrika memberikan dampak yang negatif bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
Sjoberg (2003) menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengeluaran pemerintah untuk konsumsi, investasi dan transfer dengan pertumbuhan ekonomi di Swedia selama kurun waktu 1960 – 2001. Disamping itu investasi swasta, konsumsi swasta dan tingkat suku bunga memiliki tanda yang sesuai dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Swedia untuk kurun waktu yang sama.
Darrat, dkk (2005), hasil empirisnya menunjukkan bahwa arus FDI berpengaruh positif dan menjadi faktor stimulus bagi pertumbuhan ekonomi di negara-negara Eropa (CEE). Sedangkan dampak FDI terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) tidak konsisten atau berpengaruh negatif. Sementara untuk angkatan kerja, ekspor, utang luar negeri, dan inflasi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi baik di Eropa dan MENA, namun untuk pengeluaran pemerintah berpengaruh positif di kedua wilayah penelitian tersebut.

METODE PENELITIAN
1. Model Analisis
Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN, maka dilakukan analisis dengan menggunakan model persamaan Ordinary Least Square (OLS). Fungsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Y = f (G, I, L, X)
Kemudian dari fungsi tersebut ditransformasi ke dalam bentuk first diffrence dalam model persamaan ekonometrika dengan spesifikasi model, yakni :

(LYt – LYt-1)i = β0 + β1 (LGt – LGt-1)i + β2 (LIt – LIt-1)i + β3 (LXt–LXt-1)i + β4 (LLt–LLt-1)i + (εt - εt-1)i

Sehingga menjadi :

LYi * = β0 + β1 LGi * + β2 LIi * + β3 LXi * + β4 LLi * + ε i *
Dimana :
Y = pertumbuhan ekonomi diproxy dengan GDP harga berlaku (US$)
G = pengeluaran pemerintah (US$)
I = investasi asing (US$)
L = angkatan kerja (orang)
X = ekspor (US$)
i = untuk masing-masing negara ASEAN
β0 – β4 = koefisien regresi
ε = variabel gangguan (error term)
2. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Hal ini dikarenakan untuk melihat sejauh mana pengeluaran pemerintah, investasi asing, angkatan kerja dan ekspor memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara ASEAN. Dan sebagai alat analisis yang digunakan untuk mengolah data tersebut adalah dengan Program Eviews versi.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Pertumbuhan Ekonomi di Negara-Negara ASEAN
Laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) adalah salah satu indikator utama ekonomi makro yang sering digunakan dalam menganalisis kinerja ekonomi suatu negara. Indikator tersebut mencerminkan potensi pasar di dalam negeri dan proses pembangunan ekonomi dari negara tersebut, yang terutama sangat penting bagi investor-investor asing, negara-negara donor dan lembaga-lembaga keuangan internasional.

TABEL 3. PERTUMBUHAN EKONOMI DI NEGARA
NEGARA ASEAN (DALAM PERSEN)

Negara 2000 2001 2002 2003 2004
Kamboja 7,0 5,6 5,5 5,2 6,0
Laos 5,8 5,8 5,9 5,9 6,5
Myanmar 13,7 11,3 12,0 13,8 12,6
Vietnam 6,1 5,8 6,4 7,1 7,5
Indonesia 4,9 3,8 4,3 5,0 5,1
Malaysia 8,9 0,3 4,1 5,3 7,1
Philipina 4,4 1,8 4,3 4,7 6,1
Singapura 9,7 -1,8 3,2 1,4 8,4
Thailand 4,8 2,2 5,3 6,9 6,1
Average ASEAN 5 6,5 1,3 4,2 4,7 6,6
Average ASEAN 6,7 1,8 4,5 5,0 6,3
Sumber : Asian Development Outlook, 2005

Berdasarkan Tabel 3 di dalam kelompok negara-negara ASEAN, untuk periode 2000 – 2004, Myanmar merupakan salah satu negara yang laju pertumbuhan ekonominya paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, dengan pertumbuhan ekonominya berada di atas rata-rata 10 persen per tahunnya. Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama, Vietnam dan Kamboja juga menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan mampu mempertahankan laju pertumbuhan ekonominya di atas rata-rata 5 persen per tahun selama kurun waktu 2000 - 2004.
Begitupun laju pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai Laos, dimana selama kurun waktu yang sama, laju pertumbuhan ekonomi di negara tersebut mampu tumbuh di atas rata-rata 5 persen per tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara seperti Myanmar, Vietnam, Kamboja dan Laos, untuk tahun-tahun terakhir ini sedang gencar-gencarnya memperbaiki kinerja ekonominya sehingga untuk beberapa tahun kedepan, negara-negara tersebut mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara ASEAN lainnya. Sedangkan untuk Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih lambat dan sedikit berfluktuatif, walaupun trendnya menunjukkan peningkatan yang relatif tinggi pada tahun-tahun terakhir ini.
Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi yang dialami Singapura relatif lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya untuk periode tersebut. Pada tahun 2000, laju pertumbuhan ekonomi Singapura mencapai 9,7 persen dan mengalami penurunan yang cukup tajam hingga minus 1,8 persen pada tahun 2001. Kondisi ini disebabkan oleh gejala flu burung yang melanda negara tersebut sehingga berdampak pada kondisi perekonomiannya. Namun demikian, pada tahun 2002, Singapura telah mampu memperbaiki kinerja ekonominya dan mampu tumbuh sebesar 3,2 persen dan turun kembali pada tahun 2003 menjadi 1,4 persen. Namun pada tahun 2004, Singapura telah bangkit dan mampu memperbaiki ekonominya sehingga mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi hingga 8,4 persen.
Melihat perbedaan laju pertumbuhan ekonomi diantara negara-negara ASEAN terutama disebabkan oleh perbedaan dalam beberapa faktor kritis, termasuk kekayaan sumber daya alam (SDA), tingkat pendidikan masyarakat (kualitas SDM), penguasaan teknologi, dan luasnya pasar output di dalam negeri. Untuk faktor yang terakhir ini, perbedaan dalam luas pasar domestik sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni jumlah dan pertumbuhan penduduk serta tingkat pendapatan per kapita riil masyarakat. Dengan perkataan lain, perbedaan laju pertumbuhan ekonomi itu dikarenakan adanya perbedaan dalam faktor-faktor dari keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif yang dimiliki masing-masing negara tersebut.
2. Perkembangan Investasi Asing Langsung (FDI) di Negara-Negara ASEAN
Menurut laporan Bank Dunia tahun 1997 memperlihatkan bahwa perkembangan arus modal internasional yang pesat dari negara maju ke negara sedang berkembang terutama sejak akhir 1980-an (Tambunan, 2000). Perkembangan ini ditandai oleh meningkatnya partisipasi para investor dan lembaga-lembaga keuangan dari negara-negara maju di pasar uang/modal di negara-negara sedang berkembang bahkan lebih besar daripada international trade flows antara kedua kelompok negara tersebut. Menurut Montiel (1993) dan Taylor dan Sarno (1997), perkembangan ini didorong terutama oleh liberalisasi pasar uang dan pasar modal di banyak negara sedang berkembang, yang antara lain dihapuskannya pengawasan pemerintah terhadap lalu lintas modal dan membebaskan tingkat suku bunga kepada mekanisme pasar (Tambunan, 2000).
UNCTAD melaporkan dalam World Investment Report, 2004, perkembangan arus modal dunia dalam bentuk investasi asing langsung terus mengalami penurunan selama periode 1999 – 2003. Pada tahun 1999, aliran modal asing dunia dalam bentuk investasi asing langsung dari 1086,7 miliar dolar AS turun menjadi 817,6 miliar dolar AS pada tahun 2001 dan pada tahun 2003 kembali mengalami penurunan menjadi 559,6 miliar dolar AS. Sedangkan untuk perkembangan arus investasi asing langsung di negara-negara maju juga mengalami penurunan yang sangat drastis dari 828,4 miliar dolar AS pada tahun 1999 menjadi 366,6 miliar dolar AS tahun 2003, walaupun pada tahun 2000 sedikit mengalami peningkatan dibandingkan tahun 1999.
Sementara untuk negara-negara berkembang, aliran investasi asing langsung menunjukkan perkembangan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan perkembangan aliran investasi asing langsung di negara-negara maju maupun secara total (dunia). Pada tahun 1999, aliran investasi asing langsung yang masuk ke negara-negara sedang berkembang sebesar 231,9 miliar dolar AS dan mengalami peningkatan pada tahun 2000 menjadi 252,5 miliar dolar AS. Namun, pada tahun 2001 hingga tahun 2003, perkembangan aliran investasi asing langsung di negara-negara sedang berkembang tersebut mengalami fluktuasi, yakni dari 219,7 miliar dolar AS pada tahun 2001 menjadi 157,6 miliar dolar AS tahun 2002 dan kembali naik menjadi 172 miliar dolar AS pada tahun 2003.
TABEL 4. PERKEMBANGAN FOREIGN DIRECT
INVESTMENT (FDI) DI NEGARA-NEGARA ASEAN
(DALAM US$ JUTA)

Negara 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 1995 -2003
Singapura 11.503 9.303 13.533 7.594 16.067 17.218 15.038 5.730 11.431 107.416
Malaysia 5.815 7.297 6.323 2.714 3.895 3.788 554 3.203 2.473 36.062
Thailand 2.070 2.338 3.882 7.491 6.091 3.350 3.886 947 1.869 31.924
Vietnam 1.780 1.803 2.587 1.700 1.484 1.289 1.300 1.200 1.450 14.594
Fhilipina 1.577 1.618 1.261 1.718 1.725 1.345 982 1.111 319 11.656
Brunai 583 654 702 573 748 549 526 1.035 3.123 8.493
Indonesia 4.346 6.194 4.678 -356 -2.745 -4.550 -3.279 145 -596 3.838
Myanmar 318 581 879 684 304 208 192 191 128 3.484
Kamboja 151 294 168 243 232 149 149 145 87 1.618
Laos 88 128 86 45 52 34 2424 25 19 502
ASEAN 28.231 30.209 34.099 22.406 27.853 23.379 19.373 13.733 20.304 219.587
ASEAN 5 25.311 26.750 29.676 19.161 25.033 21.151 17.181 11.136 15.496 190.895
Sumber: ASEAN Secretary, ASEAN FDI Database
(dalam Soegeng Sarjadi Syndicate, 2005)

Dari Tabel 4 terlihat kondisi arus investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke Indonesia bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara dari tahun 1995 sampai tahun 2003 hanya menempati urutan 7 (tujuh) dari sepuluh negara ASEAN. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum menjadi negara yang banyak menarik arus modal asing dan berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa hanya Indonesia, negara yang mempunyai pertumbuhan minus tempat operasional investasi asing langsung selama kurun waktu 1998 – 2003, kecuali pada tahun 2002.
Sedangkan selama periode 1995 – 2003, negara ASEAN yang paling nyaman bagi investasi asing langsung adalah Singapura yang mampu menguasai aliran investasi asing langsung sebesar US$ 107.416 juta atau 48,92 persen dari total investasi asing langsung yang masuk ke negara-negara ASEAN, Malaysia sebesar US$ 36.062 juta (16,42 persen) dan Thailand yang mampu menarik investasi asing langsung ke negara tersebut sebesar US$ 31.924 juta (14,54 persen). Untuk Vietnam dan Philipina mampu menguasai investasi asing langsung sebesar US$ 14.594 juta (6,65 persen) dan US$ 11.656 juta (5,31 persen), sedangkan Brunai Darussalam sebesar US$ 8.493 juta (3,87 persen) dan Indonesia hanya sebesar US$ 3.838 juta atau 1,75 persen dari total investasi asing langsung yang masuk ke negara-negara ASEAN.
Untuk investasi asing langsung yang masuk ke Indonesia selama kurun waktu 1995 – 2003 yang hanya sebesar US$ 3.838 disebabkan karena selama pasca krisis moneter yang melanda Indonesia, banyak perusahaan asing yang enggan berinvestasi di Indonesia dikarenakan kondisi keamanan yang kurang kondusif dan indikator makro ekonomi yang tidak stabil, seperti pertumbuhan ekonomi yang negatif, inflasi yang tinggi, nilai tukar rupiah yang terdepresi. Sehingga untuk melakukan investasi di Indonesia membutuhkan dana yang cukup besar dan tingkat resiko yang tinggi.

3. Perkembangan Pengeluaran Pemerintah di Negara-Negara ASEAN
Pengeluaran pemerintah suatu negara biasanya mencerminkan kebijakan pemerintah dalam penentuan anggarannya. Pengeluaran pemerintah umumnya terus berkembang seiring dengan meningkatnya aktivitas pemerintah dalam perekonomian. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan global dalam suatu perekonomian seperti pertumbuhan ekonomi dunia, perubahan demografi dan perubahan kegiatan sektor swasta. Untuk itu pemerintah harus dapat memainkan peranannya dalam mengatur tingkat alokasi penggunaan sumber-sumber daya serta distribusi pendapatan sehingga dapat mempertahankan tingkat kesempatan kerja yang tinggi, tingkat stabilitas dan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Memasuki tahun 1997, sebagai awal terjadinya krisis moneter yang melanda negara-negara Asia, pengeluaran pemerintah di masing-masing negara ASEAN mengalami penurunan yang cukup drastis, kecuali pengeluaran pemerintah Singapura dan philipina yang mengalami sedikit penurunan. Berdasarkan Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagai dampak dari krisis moneter tersebut adalah semakin menurunnya kemampuan negara-negara tersebut untuk mendanai atau membiayai pengeluarannya.
Sementara itu, untuk negara-negara ASEAN yang mengalami sedikit penurunan untuk pengeluaran pemerintahnya adalah negara-negara yang hanya terimbas dari krisis moneter tersebut. Hal ini dapat terlihat dari pengeluaran pemerintah Singapura dan Philipina selama pasca krisis moneter tersebut yang hanya sedikit mengalami penurunan. Namun, bila dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah Philipina, Singapura merupakan negara yang mampu mempertahankan kestabilan pengeluaran pemerintahnya dan hal ini menunjukkan bahwa Singapura memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat sehingga mampu mengatasi krisis moneter tersebut.

4. Perkembangan Ekspor di Negara-Negara ASEAN
Bagi negara-negara sedang berkembang, perdagangan internasional khususnya ekspor, mempunyai peranan yang sangat penting, yakni sebagai motor penggerak sebuah perekonomian. Sebelum krisis moneter menimpa Asia Tenggara pada pertengahan 1997, kinerja ekspor di negara-negara ASEAN menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dalam tiga dasawarsa terakhir. Untuk kelima negara pendiri ASEAN, Singapura merupakan negara yang mengalami perkembangan ekspor yang sangat mengesankan. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah, dimana selama periode 1980 – 1997, pertumbuhan ekspor Singapura mengalami peningkatan 3 kali dibandingkan dengan perkembangan ekspor Philipina. Begitupun dengan perkembangan ekspor Malaysia dan Thailand yang menunjukkan perkembangan lebih baik bila dibandingkan dengan perkembangan ekspor Indonesia dan Philipin namun masih berada di bawah perkembangan ekspor Singapura.
Selanjutnya, pasca krisis moneter (1998 – 2003) melanda Asia, perkembangan ekspor di negara-negara ASEAN mengalami perkembangan yang berfluktuasi. Namun diantara kelima negara ASEAN tersebut, Singapura merupakan negara yang mengalami fluktuasi perkembangan ekspor yang kurang menggembirakan, diikuti oleh Malaysia dan Thailand, sedangkan Indonesia dan Philipina mengalami perkembangan ekspor yang relatif stabil. Dengan demikian, ketika krisis moneter sedang melanda kawasan Asia, yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar mata uang negara-negara yang tertimpa krisis terhadap dolar AS (terdepresiasi), seharusnya meningkatkan kinerja ekspor di negara-negara ASEAN, namun sebaliknya, perkembangan ekspor di negara-negara ASEAN atau yang tertimpa krisis tidak mampu meningkatkan kinerja ekspornya bahkan nilai ekspornya sedikit mengalami penurunan di masing-masing negara ASEAN.

5. Analisis Hasil Estimasi
Untuk negara-negara di kawasan ASEAN, semenjak tahun 2003, ASEAN merupakan kawasan yang bebas untuk anggotanya melakukan perdagangan bebas antar negara ASEAN. Hal ini tentunya dapat menjadi sebuah peluang dan tantangan bagi setiap negara ASEAN untuk memacu pertumbuhan ekonominya. Berdasarkan data Asian Development Outlook database (2005), rata-rata pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Pada tahun 2003, rata-rata pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut tumbuh sebesar 6,7 persen dan meningkat menjadi 7,3 persen pada tahun 2004 serta diperkirakan akan mengalami rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen untuk tahun-tahun mendatang.
Sementara itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand) juga menunjukkan perkembangan yang tidak jauh berbeda. Dimana rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN 5 mengalami peningkatan dari 4,7 persen pada tahun 2003 menjadi 6,6 persen pada tahun 2004. Hal ini memperlihatkan bahwa dengan semakin terintegrasinya kawasan ASEAN diharapkan dapat mendorong kemajuan ekonomi di kawasan tersebut. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi ini tentunya dipengaruhi oleh sumber daya-sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing negara ASEAN. Berikut ini akan dilakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand (ASEAN 5) selama kurun waktu 1970 – 2003.

5.1. Hasil Estimasi Untuk Indonesia
Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,9359 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 93,59 persen.
Pengaruh variabel bebas tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari hasil estimasi F stat sebesar 73,049 yang lebih besar dari F tabel sebesar 4,10 pada level 1 persen { Fstat (73,049) > Ftabel (4,10) }.

TABEL 5. HASIL ESTIMASI UNTUK INDONESIA

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 0.168 0.096 1.745 0.096
LGIND 0.523 0.036 14.479 0.000
LIND 0.027 0.010 2.671 0.010
LXIND 0.213 0.047 4.509 0.000
LLIND -5.396 3.574 -1.509 0.147
R-squared 0.935 F-statistic 73.049
Durbin-Watson stat 2.142 Prob (F-statistic) 0.000
Untuk pengeluaran pemerintah Indonesia memberikan pengaruh positif dan signifikan sebesar 0,524 terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kurun waktu 1970 – 2003 pada tingkat kepercayaan 99 persen. Nilai koefisien regresi sebesar 0,524 menunjukkan bahwa apabila pengeluaran pemerintah Indonesia meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,524 persen. Dengan demikian, hasil empiris ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Gunalp dan Timur Han Gur (2002), Sjoberg (2003) dan Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Untuk koefisien regresi investasi asing langsung di Indonesia sebesar 0,027 memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Ini memberi arti apabila investasi asing langsung yang masuk ke Indonesia mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,027 persen. Hasil temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Wong dan Jono (2001), Sjoberg (2003), dan Hidayat (2004) serta Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Untuk ekspor Indonesia memperlihatkan tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,214 dengan nilai t statistik sebesar 4,509. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tingkat kepercayaan 99 persen. Dengan kata lain, apabila ekspor Indonesia meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,214 persen. Hasil empiris ini semakin menguatkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Sinha (1999) dan Sentsho (2000).
Sedangkan untuk angkatan kerja memiliki tanda koefisien regresi yang negatif sebesar -5,396 dengan nilai t statistik sebesar -1,509 yang berarti angkatan kerja Indonesia memiliki pengaruh yang negatif tetapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan tingkat kepercayaan 90 persen. Ini mengandung arti apabila angkatan kerja Indonesia meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan berdampak menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,396 persen. Hasil empiris ini semakin menguatkan hasil studi yang dilakukan oleh Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Berdasarkan hasil empiris tersebut membuktikan bahwa angkatan kerja di Indonesia selama kurun waktu 1970 – 2003 belum mampu berkontribusi positif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia bahkan sebaliknya menjadi penghambat dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan bahwa pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia belum sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia setiap tahunnya. Sehingga, menyebabkan terjadinya kelebihan angkatan kerja (labor surplus) di Indonesia setiap tahunnya dan kelebihan angkatan kerja ini tentunya membawa dampak negatif pada perekonomian Indonesia. Menurut Sagir (1989 : 81) bahwa pembangunan dapat dikatakan berhasil jika terdapat korelasi yang positif antara laju pertumbuhan ekonomi dengan laju pertumbuhan kesempatan kerja. Namun pada kenyataannya, dari hasil empiris ini membuktikan bahwa untuk kasus di Indonesia menunjukkan korelasi yang negatif selama kurun waktu 1970 – 2003.
5.2. Hasil Estimasi Untuk Malaysia
Untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Malaysia, maka dari hasil estimasi diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,9132 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 91,32 persen selama kurun waktu yang diteliti, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut.

TABEL 6. HASIL ESTIMASI UNTUK MALAYSIA

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.002444 0.059188 -0.041295 0.9674
LGMAL 0.426615 0.084872 5.026584 0.0000
LIMAL 0.020308 0.009827 2.066551 0.0474
LXMAL 0.578606 0.037886 15.27221 0.0000
LLMAL -0.459227 1.804150 -0.254540 0.8009
R-squared 0.913202 F-stat 73.64744
D-W stat 1.807110 Prob (F-stat) 0.000000

Pengaruh variabel bebas tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari hasil estimasi F stat sebesar 73,647 yang lebih besar dari F tabel sebesar 3,75 pada level 1 persen { Fstat (73,647) > Ftabel (3,75) }.
Berdasarkan hasil estimasi di atas, pengeluaran pemerintah Malaysia memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,427 yang berarti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 0,427 pada tingkat kepercayaan 99 persen. Nilai koefisien regresi ini menunjukkan bahwa apabila pengeluaran pemerintah Malaysia meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 0,427 persen. Dengan demikian, hasil empiris ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Gunalp dan Timur Han Gur (2002), Sjoberg (2003), dan Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Untuk investasi asing langsung yang masuk ke Malaysia memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 0,020 dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Ini memberi arti apabila investasi asing langsung di Malaysia mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Malaysia meningkat sebesar 0,020 persen. Dengan demikian, hasil temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Wong dan Jono (2001), Sjoberg (2003), Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Sementara itu, ekspor Malaysia menunjukkan tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,579 dengan nilai t statistik sebesar 15,272. Hal ini berarti ekspor Malaysia memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 0,579 pada tingkat kepercayaan 99 persen. Dengan kata lain, apabila ekspor Malaysia mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 0,579 persen. Disamping itu, hasil empiris ini semakin menguatkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Sinha (1999) dan Sentsho (2000).
Sedangkan untuk angkatan kerja di Malaysia memiliki tanda koefisien regresi yang negatif sebesar -0,459 yang berarti angkatan kerja di Malaysia memberikan pengaruh yang negatif tetapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 0,459 dengan tingkat kepercayaan 90 persen. Ini memberi arti apabila angkatan kerja Malaysia meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 0,459 persen. Hasil empiris ini semakin mendukung hasil penelitian yang dilakukan Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Dengan demikian, perkembangan angkatan kerja di Malaysia sebagai salah satu faktor produksi ternyata belum mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia. Hal ini dikarenakan laju angkatan kerja di Malaysia relatif masih lebih kecil dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonominya selama kurun waktu penelitian.
Sehingga untuk menutupi kekurangan angkatan kerja pada sektor-sektor tersebut, Malaysia menerima tenaga kerja dari luar negeri sebagai pekerja kasar atau buruh pada sektor-sektor ekonomi tersebut, seperti sektor perkebunan, sektor industri, dan sektor bangunan, sehingga untuk sektor-sektor tersebut akan sedikit memberikan kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Malaysia.
Selanjutnya, angkatan kerja di Malaysia cenderung memiliki SDM yang relatif lebih baik sehingga mereka hanya mau bekerja pada sektor-sektor modern. Dan Malaysia sebagai negara industri baru, maka sektor industri tentunya menjadi sektor unggulan dan memegang peranan penting, maka unsur tenaga kerja sebagai pekerja pada sektor industri tersebut masih relatif sedikit sehingga kontribusinya dalam mendorong pertumbuhan ekonominya belum berpengaruh positif tetapi malah sebaliknya, berkontribusi negatif walaupun tidak signifikan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi di Malaysia.

5.3. Hasil Estimasi Untuk Philipina
Berdasarkan hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Philipina, diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,8949 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 89,49 persen selama kurun waktu yang diteliti, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut.
Dengan melihat variabel bebasnya secara simultan (bersamaan), maka pengaruh variabel bebas tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi Philipina memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari hasil estimasi F stat sebesar 48,942 yang lebih besar dari F tabel sebesar 3,95 pada level 1 persen { Fstat (48,942) > Ftabel (3,95) }.

HASIL 7. HASIL ESTIMASI UNTUK PHILIPINA

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.261135 0.134979 -1.934642 0.0654
LGPHI 0.575671 0.076092 7.565433 0.0000
LIPHI 0.014507 0.003727 3.893008 0.0007
LXPHI 0.185653 0.079987 2.321020 0.0295
LLPHI 9.539312 4.971998 1.918607 0.0675
R-squared 0.894866 F-stat 48.94225
D-W stat 1.361703 Prob (F-stat) 0.000000

Berdasarkan hasil estimasi di atas, untuk pengeluaran pemerintah Philipina memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,576 yang berarti pengeluaran pemerintah Philipina memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 0,576 pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini berarti apabila pengeluaran pemerintah Philipina meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 0,576 persen. Dan hasil empiris ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Gunalp dan Timur Han Gur (2002), Sjoberg (2003) dan Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Untuk investasi asing langsung yang masuk ke Philipina menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 0,015 dengan tingkat kepercayaan 99 persen. Ini memberi arti apabila investasi asing langsung yang masuk ke Philipina menunjukkan peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Philipina meningkat sebesar 0,015 persen. Dengan demikian, hasil temuan ini semakin mendukung hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Wong dan Jono (2001), Sjoberg (2003), Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).

Sementara itu, untuk ekspor Philipina menunjukkan tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,186 dengan nilai t statistik sebesar 2,321. Hal ini berarti ekspor Philipina memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 0,186 pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan kata lain, apabila ekspor Philipina mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 0,186 persen. Hasil empiris ini semakin menguatkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Sinha (1999) dan Sentsho (2000).
Sedangkan untuk angkatan kerja di Philipina memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 9,539 yang berarti angkatan kerja di Philipina memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 9,539 dengan tingkat kepercayaan 90 persen. Hal ini memberi arti jika angkatan kerja Philipina meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Philipina sebesar 9,539 persen.

5.4. Hasil Estimasi Untuk Singapura
Untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Singapura, maka dilakukan estimasi dengan metode OLS dan diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,8375 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 83,75 persen selama kurun waktu yang diteliti, sedangkan sisanya sebesar 16,25 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut.

TABEL 8. HASIL ESTIMASI UNTUK SINGAPURA

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.012370 0.018843 -0.656483 0.5173
LGSIN 0.286923 0.139714 2.053651 0.0502
LISIN 0.045566 0.021667 2.103014 0.0187
LXSIN 0.506461 0.092743 5.460898 0.0000
LLSIN 0.802878 0.678088 1.184032 0.2471
R-squared 0.837493 F-stat 33.49822
D-W stat 1.987077 Prob(F-stat) 0.000000
Dengan melihat variabel bebasnya secara simultan (bersamaan), maka pengaruh variabel bebas tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi Philipina memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari hasil estimasi F stat sebesar 33,498 yang lebih besar dari F tabel sebesar 3,82 pada level 1 persen { Fstat (33,498) > Ftabel (3,82) }.
Berdasarkan hasil estimasi di atas, untuk pengeluaran pemerintah Singapura memberikan yang positif sebesar 0,287 yang berarti pengeluaran pemerintah Singapura berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 0,287 pada tingkat kepercayaan 90 persen. Hal ini memberi arti apabila pengeluaran pemerintah Singapura mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 0,287 persen. Dengan demikian, hasil temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Gunalp dan Timur Han Gur (2002), Sjoberg (2003), dan Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Untuk investasi asing langsung yang masuk ke Singapura menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 0,046 dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Ini memberi arti apabila investasi asing langsung yang masuk ke Singapura mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 0,046 persen. Dengan demikian, hasil temuan ini semakin mendukung hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Wong dan Jono (2001), Sjoberg (2003), Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Sementara itu, untuk ekspor Singapura memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,506 dengan nilai t statistik sebesar 5,461. Dengan demikian, ekspor Singapura memberi pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 0,506 pada tingkat kepercayaan 99 persen. Dengan kata lain, apabila ekspor Singapura menunjukkan peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 0,506 persen. Temuan empiris ini semakin menguatkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Sinha (1999) dan Sentsho (2000).
Sedangkan untuk angkatan kerja di Singapura memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,803 yang berarti angkatan kerja di Singapura memiliki pengaruh yang positif sebesar 0,803 tetapi tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 90 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Singapura. Hal ini memberi arti jika angkatan kerja di Singapura meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 0,803 persen. Dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Wong dan Jono (2001).

5.5. Hasil Estimasi Untuk Thailand
Untuk hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Thailand, diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,8734 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 87,34 persen selama kurun waktu yang diteliti, sedangkan sisanya sebesar 12,66 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut.
Dengan melihat variabel bebasnya secara simultan (bersamaan), maka pengaruh variabel bebas tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi Thailand memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari hasil estimasi F stat sebesar 48,301 yang lebih besar dari F tabel sebesar 3,75 pada level 1 persen { Fstat (48,301) > Ftabel (3,75) }.

TABEL 9. HASIL ESTIMASI OLS UNTUK THAILAND

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.024 0.019 -1.252 0.221
LGTHA 0.732 0.099 7.379 0.000
LITHA 0.034 0.016 2.1211 0.045
LXTHA 0.3631 0.095 3.821 0.001
LLTHA -0.0031 0.649 -0.005 0.996
R-squared 0.873 F-stat 48.301
D-W stat 1.647 Prob(F-stat) 0.0000
Berdasarkan hasil estimasi di atas, pengeluaran pemerintah Thailand memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,732 yang berarti pengeluaran pemerintah Thailand berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 0,732 pada tingkat kepercayaan 99 persen. Ini berarti apabila pengeluaran pemerintah Thailand meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 0,732 persen. Dan hasil empiris ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Gunalp dan Timur Han Gur (2002) dan Sjoberg (2003) serta Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Untuk investasi asing langsung yang masuk ke Thailand memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 0,034 dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Ini mengandung makna apabila investasi asing langsung yang masuk ke Thailand mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan mampu mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 0,034 persen. Dengan demikian, hasil temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Wong dan Jono (2001), Sjoberg (2003), Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Sementara itu, untuk ekspor Thailand memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,363 dan tanda positif ini menunjukkan bahwa ekspor Thailand berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 0,363 pada tingkat kepercayaan 99 persen. Dengan kata lain, apabila ekspor Thailand mengalami peningkatan sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 0,363 persen. Dan hasil ini semakin mendukung hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Sinha (1999) dan Sentsho (2000).
Sedangkan untuk angkatan kerja di Thailand memiliki tanda koefisien regresi yang negatif sebesar -0,003 yang berarti angkatan kerja di Thailand memberikan pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Thailand pada tingkat kepercayaan 90 persen. Hal ini memberi arti jika angkatan kerja Thailand meningkat sebesar 1 persen, ceteris paribus, maka akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 0,003 persen. Dan hasil penelitian ini semakin mendukung hasil studi yang dilakukan oleh Darrat, Kherfi, dan Soliman (2005).
Hasil empiris ini menunjukkan bahwa angkatan kerja di Thailand ternyata belum mampu berkontribusi positif dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi di negara tersebut sebagai salah satu faktor produksi dan sebaliknya memberikan kontribusi yang negatif bagi perekonomian di negara tersebut. Hal ini dikarenakan laju rata-rata pertumbuhan angkatan kerja di Thailand sebesar 2,25 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan laju rata-rata pertumbuhan ekonominya sebesar 10,18 persen. Di samping itu, pengaruh negatif angkatan kerja di Thailand ini terhadap pertumbuhan ekonominya disebabkan oleh masih rendahnya kualitas angkatan kerja di negara tersebut sehingga mengakibatkan tingkat produktivitas dari tenaga kerja tersebut relatif rendah dan belum berkontribusi nyata dalam memacu pertumbuhan di negara Thailand.

KESIMPULAN

1. Bahwa pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN sudah menunjukkan tahap pemulihan yang ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata 5 persen per tahun semenjak tahun 2003. Sedangkan untuk investasi asing langsung yang masuk ke negara-negara ASEAN pasca krisis moneter masih menunjukkan perkembangan yang lambat dan sedikit berfluktuasi
2. Untuk pengeluaran pemerintah, ekspor dan angkatan kerja di negara-negara ASEAN menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun kecuali pada saat krisis moneter melanda kawasan Asia. Tetapi semenjak tahun 2002, baik pengeluaran pemerintah maupun ekspor mengalami trend yang terus meningkat, sedangkan angkatan kerja selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
3. Bahwa pengeluaran pemerintah, investasi asing langsung yang masuk ke negara-negara ASEAN, dan ekspor memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, dan Thailand pada tingkat kepercayaan yang berbeda-beda.
4. Bahwa untuk angkatan kerja di Philipina berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonominya, sedangkan angkatan kerja di Singapura berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonominya. Sementara untuk angkatan kerja di Indonesia, Malaysia, dan Thailand memberikan pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara tersebut.
5. Bahwa faktor-faktor yang dominan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN adalah pengeluaran pemerintah, sedangkan ekspor dan investasi asing langsung masih memberikan pengaruh yang relatif kecil. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel yang masih bersifat inelastis.

SARAN

1. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara ASEAN, maka kontribusi pengeluaran pemerintah secara perlahan dikurangi seiring dengan kehadiran sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang lain, seperti ekspor dan investasi asing langsung yang masuk.
2. Untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN maka pemerintah di masing-masing negara ASEAN harus menjadikan ekspor sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi disamping sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang lainnya seperti investasi asing langsung yang masuk di masing-masing negara ASEAN.
3. Untuk mempercepat pemulihan ekonomi di kawasan ASEAN maka diperlukan kerjasama yang saling menguntungkan dan menjadikan perdagangan bebas diantara negara ASEAN sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diantara anggota ASEAN.
4. Bagi para peneliti yang berminat untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi maka sebaiknya mempertimbangkan sejarah perkembangan ekonomi dan kondisi eksternal berupa perkembangan ekonomi dunia dan keamanan global.

DAFTAR PUSTAKA

Asian Development Bank. 2005. Asian Development Outlook.
(a) Boediono. 1999. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta : BPFE UGM.
Bustaman, Nawarti. 2004. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Pemerintah di Propinsi Riau. Tesis Tidak Dipublikasikan. Medan : Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Pascasarjana Universitas Sumatra Utara (USU).
Darrat, Ali F, Samer Kherfi dan Mohamed Soliman. 2005. FDI and Economic Growth in CEE and MENA Countries : A Tale of Two Regions. Department of Economics, American University of Sharjah.
Dewan, Edwin dan Shajehan Hussein. 2001. Determinants of Economic Growth (Panel Data Approach). Working Paper, Economics Department Reserve Bank of Fiji.
Dumairy. 1997. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Esmara, Hendra. 1986. Politik Perencanaan Pembangunan : Teori, Kebijaksanaan dan Prospek. Jakarta : Gramedia.
Gunalp, Burak and Timur Han Gur. 2002. Government Expenditures and Economic Growth in Developing Countries : Evidence from A Panel Data Analysis. METU Studies Indonesia Development.
Hidayat, Paidi. 2004. Analisis Pengaruh Arus Modal Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Negara-Negara Islam. Tesis Tidak Dipublikasikan. Medan : Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Pascasarjana USU.
Insukindro. 2000. Dasar-Dasar Ekonometrika. Kerjasama Bank Indonesia Dengan Program Studi MEP UGM. Yogyakarta.
Jhingan, ML. 1995. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi, Perencanaan, Strategi, dan Peluang. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Kweka, Josaphat P dan Oliver Morrissey. 2000. Government Spending and Economic Growth in Tanzania, 1965-1996. Credit Research Paper. University of Nottingham.
Levine, Ross dan David Renelt. 1992. “A Sensitivity Analysis of Cross-Country Growth Regressions”. American Economic Review.
Mangkoesoebroto, Guritno. 1984. Kebijakan Ekonomi Publik di Indonesia, Substansi dan Urgensi. Jakarta : Gramedia.
----------. 2001. Ekonomi Publik. Yogyakarta : BPFE.
Manurung, Jonni J, dkk. 2005. Ekonometrika : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Penerbit Elex Media Komputindo.
Musgrave, Richard A dan Peggy B. 1993. Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Reksohadiprodjo. 1999. Ekonomika Publik. Yogyakarta : BPFE.
Sagir, Suharsono. 1989. Membangun Manusia Karya, Masalah Ketenagakerjaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Sarjadi, Soegeng dan Sukardi Rinakit. 2004. Meneropong Indonesia 2020, Pemikiran dan Masalah Kebijakan. Jakarta : Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS).
Sentsho, Joel. 2000. Export Revenues as Determinants of Economic Growth : Evidence from Botswana. Gaborone : Department of Economics, University of Botswana.
Siddique, M dan E.A Selvanathan. 1998. Export Performance and Economic Growth : Cointegration and Causality Analysis for Malaysia, 1966 – 1996. Australia : University of Western Australia, Department of Economics.
Sinha, Dipendra. 1999. Export Instability, Investment and Economic Growth in Asian Countries : A Time Series Analysis. Economic Growth Center Yale University.
Sjahrir. 1986. Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok : Sebuah Tinjauan Prospektif. Jakarta : LP3ES.
Sjoberg, Peter. 2003. Government Expenditure Effect on Economic Growth : The Case of Sweden 1960-2001. Lulea University of Technology.
Suparmoko. 2002. Ekonomi Publik. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Tambunan, Tulus. 2000. Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran : Teori dan Temuan Empiris. Jakarta : Pustaka LP3ES.
---------- , 2001. Transformasi Ekonomi di Indonesia : Teori dan Penemuan Empiris. Jakarta : Penerbit Salemba Empat.
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬---------- , 1996. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Widodo, Suseno Triyanto Hg. 1997. Ekonomi Indonesia, Fakta dan Tantangan Dalam Era Liberalisasi. Yogyakarta : Kanisius.
Wong, Hwa Kiong dan Jomo K.S. 2001. The Impact of Foreign Capital Inflows on The Malaysian Economy, 1966 – 1996. FEA Working Paper, No. 2001-02.
World Bank. 2004. World Development Indicators, CD-Room. Washington, DC : World Bank.
-------- .2005. World Development Indicators, CD-Room. Washington, DC : World Bank.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar