Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN SISWA SMA TERHADAP JASA PERGURUAN TINGGI


ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN
SISWA SMA TERHADAP JASA PERGURUAN TINGGI

Antonius Surbakti1, Jhon T. Ritonga2,
Sya’ad Afifuddin3, Wahyu Aryo P.4


Abstrak. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendapatan keluarga per tahun, jumlah anggota keluarga, pendidikan orang tua, harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, dorongan orang tua/guru, dan kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi oleh Siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang Untuk tujuan analisis tersebut digunakan data primer yang bersumber dari populasi sebanyak 2.230 siswa kelas III SMA. Dari populasi tersebut diambil sampel sebanyak 200 responden (9 % dari populasi). Metode analisis dilakukan dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Berdasarkan hasil estimasi, penelitian ini menemukan bahwa faktor-faktor pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan orang tua berpengaruh positif terhadap minat siswa SMA melanjutkan studi ke perguruan tinggi diperoleh nilai koefisien determinasi (R-Square) sebesar 0,5081, dan signifikan pada  1 persen. Demikian juga faktor-faktor harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, motivasi dari orang tua dan guru, dan kegiatan bimbingan test berpengaruh positif terhadap minat siswa SMA melanjutkan studi ke perguruan tinggi diperoleh nilai koefisien determinasi (R-Square) sebesar 0,6436, dan signifikan pada  1 persen. Permintaan siswa SMA terhadap perguruan tinggi yang lebih tinggi adalah pada program studi informatika dan ekonomi. Sehubungan dengan hasil penelitian tersebut pemerintah dan masyarakat, khususnya orang tua siswa berperan dalam meningkatkan keinginan lulusan SMA melanjut ke perguruan tinggi. Pemerintah dapat membantu peningkatan pendapatan keluarga, peningkatan pendidikan, sedangkan masyarakat dapat membantu pemberian motivasi, dan kegiatan ekstrakurikuler kepada siswa.

Kata kunci : pengaruh, pendapatan, pendidikan orang tua, motivasi siswa SMA untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, jumlah anggota keluarga, kegiatan ekstra kurikuler, dorongan orang tua/guru.



PENDAHULUAN

Seiring dengan peningkatan dan perkembangan teknologi dalam era globalisasi, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi perhatian serius, karena hanya SDM yang berkualitas yang dapat bersaing dalam era globalisasi. Dalam peningkatan kualitas SDM tersebut, pendidikan memegang peranan yang sangat penting, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
Indonesia menghadapi masalah yang sangat serius dalam kualitas SDM, yang disebabkan kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal tersebut tercermin, antara lain, dari hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) yang dilaksanakan oleh organisasi International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan bahwa siswa SD di Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), studi untuk kemampuan matematika siswa SLTP di Indonesia hanya berada pada urutan ke-39 dari 42 negara, dan untuk kemampuan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) hanya berada pada urutan ke-40 dari 42 negara peserta.
Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam mendorong dan meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Namun semuanya terpulang kepada keinginan dan minat masyarakat untuk mengikuti program pendidikan yang diberikan oleh pemerintah. Banyak faktor yang mempengaruhi minat masyarakat terutama orang tua dan anak usia sekolah untuk mengikuti pendidikan formal di sekolah maupun di perguruan tinggi. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga merupakan faktor penghalang bagi sebagian masyarakat untuk mengikuti pendidikan. Dimana untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga seorang yang masih dalam usia sekolah sering harus meninggalkan sekolah. Ketiadaan biaya juga merupakan faktor utama, karena pendidikan membutuhkan biaya yang cukup besar, namun investasi biaya tersebut tidak dapat langsung dinikmati hasilnya.
Namun demikian, adanya keinginan seseorang untuk memperoleh kesempatan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi pada sektor modern menyebabkan seseorang berusaha untuk mengikuti pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Menurut Todaro (2000), tingkat pendidikan seseorang walaupun banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat nonpasar (atau nonekonomis), namun secara umum dapat dipandang sebagai hasil yang ditentukan oleh perpaduan antara kekuatan permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, ada dua hal yang paling berpengaruh terhadap jumlah atau tingkat pendidikan yang diinginkan, yakni: (1) harapan bagi seorang siswa yang lebih terdidik untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik pada sektor modern di masa yang akan datang (hal ini merupakan manfaat pendidikan individual (private benefits of education) bagi siswa dan/atau keluarganya); serta (2) biaya-biaya sekolah, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung yang harus dikeluarkan atau ditanggung oleh siswa dan/atau keluarganya. Dengan demikian, sebenarnya permintaan terhadap pendidikan merupakan suatu permintaan yang tidak langsung atau permintaan turunan (derived demand). Di balik permintaan akan pendidikan terdapat permintaan yang lebih mendasar, yaitu permintaan terhadap kesempatan memperoleh pekerjaan berpenghasilan tinggi di sektor modern. Hal ini dikarenakan untuk memperoleh sebuah pekerjaan di sektor modern, tingkat pendidikan adalah sangat berperan.
Adanya korelasi antara tingkat pendidikan dengan kesempatan memperoleh pekerjaan berpenghasilan tinggi di sektor modern, menyebabkan masyarakat (siswa) berusaha untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Demikian juga para siswa lulusan SLTA berusaha untuk memperoleh pendidikan di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan tinggi serta pemeliharaan, pembinaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian sebagai suatu masyarakat ilmiah yang penuh cita-cita luhur masyarakat berpendidikan yang gemar belajar dan mengabdi kepada masyarakat serta melaksanakan penelitian yang menghasilkan manfaat dalam meningkatkan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Program pembangunan nasional pendidikan tinggi bertujuan untuk (1) melakukan penataan sistem pendidikan tinggi; (2) meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan tinggi dengan dunia kerja; dan (3) meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi, khususnya bagi siswa berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Perguruan tinggi menawarkan berbagai program studi yang dapat dipilih oleh siswa sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Masing-masing program studi tersebut juga akan mengarahkan pilihan pekerjaan yang dapat diperoleh oleh lulusan perguruan tinggi tersebut.
Peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan permintaan masyarakat akan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Oleh karena itu pemerintah berusaha untuk memperluas kesempatan memperoleh pendidikan tinggi bagi masyarakat, yaitu dengan (1) meningkatkan kapasitas, terutama untuk bidang-bidang yang menunjang kemajuan ekonomi, penguasaan sains dan teknologi, serta meningkatkan kualitas kehidupan; (2) mendorong peningkatan peran swasta melalui PTS; (3) meningkatkan penyediaan beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu; dan (4) menyebarkan kapasitas pendidikan tinggi secara geografis untuk mendukung pembangunan daerah serta memberi kesempatan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah termasuk didaerah bermasalah, melalui pembinaan perguruan tinggi sebagai pusat pertumbuhan di kawasan serta menyelenggarakan pembinaan program unggul di wilayah kedudukan perguruan tinggi.
Banyak siswa SMA di Sumatera Utara, maka penelitian ini dibatasi hanya pada siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang. Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu wilayah yang mempengaruhi permintaan jasa perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Hal ini dilihat dari banyaknya jumlah SMA dan siswa di Kabupaten Deli Serdang. Terdapat 84 SMA di Kabupaten Deli Serdang dengan total siswa sebanyak 25.833 orang, terdiri dari 10 (sepuluh) SMA Negeri dan 74 (tujuh puluh empat) SMA Swasta. Jumlah siswa kelas III pada tahun 2004/2005 (telah tamat) adalah sebanyak 7.160 orang, dan jumlah siswa kelas III pada 2005/2006 adalah sebanyak 7.960 orang.
Potensi permintaan perguruan tinggi tersebut dalam realisasinya menghadapi berbagai kendala karena tidak semua jumlah siswa tersebut yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pada tahun 2004, diperkirakan dari 7.160 orang jumlah siswa SMA Kabupaten Deli Serdang yang tamat, hanya 1.074 (15%) yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kondisi ini merupakan suatu fenomena di dalam masyarakat, dimana permintaan akan jasa perguruan tinggi dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan faktor non ekonomi. Faktor ekonomi adalah ketersediaan biaya atau kemampuan orang tua siswa dalam segi ekonomi untuk membiayai pendidikan tinggi. Sedangkan faktor non ekonomi terdiri dari berbagai jenis, diantaranya kemampuan (inteligensi) siswa, keinginan untuk meningkatkan pendidikan, keinginan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, keinginan untuk keluar daerah, kegiatan ekstrakurikuler siswa (misalnya mengikuti bimbingan), motivasi dari guru dan orang tua dan sebagainya.
Dalam upaya untuk menganalisis permintaan jasa perguruan tinggi di Kabupaten Deli Serdang, dipandang perlu dilakukan suatu pengkajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa Perguruan Tinggi sehingga dapat memberikan alternatif pemecahan masalah, khususnya dalam upaya peningkatan kualitas SDM.

PERUMUSAN MASALAH

1. Apakah pendapatan keluarga per tahun, jumlah anggota keluarga dan pendidikan orang tua berpengaruh terhadap permintaan jasa perguruan tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang (sisi internal).
2. Apakah harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, dorongan orang tua/guru, dan kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa berpengaruh terhadap permintaan jasa perguruan tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang (sisi eksternal).

TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk menganalisis pengaruh pendapatan keluarga per tahun, jumlah anggota keluarga dan pendidikan orang tua terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang.
2. Untuk menganalisis pengaruh harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, dorongan orang tua/guru, dan kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti siswa terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang.

PERMINTAAN JASA PENDIDIKAN TINGGI
Sumber daya manusia dari suatu bangsa-bukan modal fisik atau sumber daya material-merupakan faktor paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa bersangkutan (Todaro, 2000). Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa. Peningkatan kualitas SDM, jauh lebih mendesak untuk segera direalisasikan terutama dalam menghadapi era persaingan global beberapa tahun ke depan. Pada masa yang akan datang, peningkatan daya saing suatu bangsa perlu mendapat perhatian yang serius khususnya dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, guna menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga kompetitif (Suryadi, 2004).
Peningkatan daya saing suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya. Sampai saat ini daya saing SDM Indonesia masih relatif sangat rendah. Berdasarkan World Competitiveness Report 1996, daya saing SDM Indonesia baru berada pada urutan ke-45, jauh di bawah Singapura yang menempati urutan ke-8, Malaysia ke-34, China ke-35, Filipina ke-38 serta Thailand ke-40. Rendahnya daya saing SDM Indonesia, berkaitan erat dengan alokasi anggaran yang diberikan pada sektor pendidikan. Antara tahun 1983 hingga 1993, alokasi anggaran pendidikan di Indonesia sebesar 10%, sedang Singapura telah mengalokasikan anggarannya sebesar 22%, Thailand 21%, Malaysia 20% serta Filipina 15 %.
Masyarakat kelas menengah ke atas lebih memahami akan pentingnya pendidikan demi masa depan. Mereka berusaha melanjutkan pendidikan ke lembaga pendidikan yang berkualitas, bahkan bila dana mencukupi mereka pun bersedia melanjutkan pendidikan ke luar negeri untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasannya. Namun ada juga sebagian masyarakat yang memandang bahwa pendidikan sebagai produk ekonomi yakni dengan pengorbanan yang sekecil mungkin untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Menurut Todaro (2000), bahwa dari sisi permintaan, ada dua hal yang paling berpengaruh terhadap jumlah atau tingkat pendidikan yang diinginkan, yakni: (1) harapan bagi seorang siswa yang lebih terdidik untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik pada sektor modern di masa yang akan datang (hal ini merupakan manfaat pendidikan individual (private benefits of education) bagi siswa dan/atau keluarganya); serta (2) biaya-biaya sekolah, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung yang harus dikeluarkan atau ditanggung oleh siswa dan/atau keluarganya.
Oleh karena tingginya permintaan masyarakat terhadap jasa pendidikan, menyebabkan pemerintah semakin giat melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Pembangunan tersebut pada kenyataannya menghadapi kendala berupa terbatasnya dana dan kemampuan pemerintah, sehingga dalam pelaksanaannya turut melibatkan kalangan swasta. Namun demikian, pembangunan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta masih belum berjalan secara sinergis. Pada daerah tertentu masih terdapat kendala berupa kurangnya daya tampung lembaga pendidikan, sedang pada daerah lain terjadi kelebihan daya tampung sehingga banyak gedung sekolah yang mengalami kekurangan murid (Suryadi, 2004).
Berdasarkan data Susenas sampai dengan Februari 1998, jumlah penduduk berumur 5 tahun ke atas yang masih bersekolah meningkat 0,34 persen dari 48,3 juta pada tahun 1997 menjadi 48,4 juta pada tahun 1998. Namun bila dikaji menurut wilayahnya, daerah perkotaan mengalami penurunan 5,72 persen dari 20,0 juta menjadi 18,9 juta, sedang daerah pedesaan mengalami peningkatan 4,63 persen dari 28,3 juta menjadi 29,6 juta. Kondisi seperti ini mencerminkan keadaan sosial ekonomi masyarakat perkotaan lebih buruk selama krisis bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan (BPS, 1999). Dengan membedakan data di atas berdasarkan Jawa dan luar Jawa, maka wilayah Jawa mengalami peningkatan 0,23 persen dari 27,0 juta menjadi 27,1 juta, sedangkan wilayah luar Jawa mengalami peningkatan 0,47 persen dari 21,2 juta menjadi 21,4 juta. Secara lebih spesifik, peningkatan jumlah penduduk berumur 5 tahun ke atas yang masih bersekolah paling tinggi di wilayah pedesaan-Jawa dengan tingkat pertumbuhan 5,45 persen, sedang yang paling rendah adalah wilayah perkotaan-luar Jawa dengan penurunan sebesar 6.26 persen (Suryadi, 2004).
Studi Psacharopoulus (Wicaksono, 2004) mengenai pembiayaan pendidikan memaparkan hal yang amat mengagetkan, di mana di negara-negara sedang berkembang rata-rata biaya seorang mahasiswa setara dengan 88 kali biaya seorang siswa SD. Kenyataan ini berbeda dengan di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Selandia Baru yang perbandingannya mencapai 17,6. Tingginya biaya pendidikan tinggi di negara-negara sedang berkembang tidak diikuti secara proporsional pendapatan yang diperoleh dari seseorang lulusan perguruan tinggi (PT). Dengan studi yang sama ditemukan, seorang pekerja lulusan sarjana menerima pendapatan sekitar 6,4 kali pekerja lulusan SD. Meski biaya pendidikan tinggi di negara-negara sedang berkembang terlihat amat mahal, hal ini tidak serta-merta dapat diartikan pemerintah perlu memberi subsidi kepada pendidikan tinggi. Sebaliknya kesenjangan yang lebar antara biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh menunjukkan adanya misalokasi sumber daya (investasi). Kondisi Indonesia tahun 2003 tidak sekontras itu. Dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS (2003) ditemukan, seorang pekerja lulusan PT memiliki pendapatan tiga kali lipat dibanding lulusan SD. Sementara itu biaya bagi seorang mahasiswa mencapai 11 kali dibanding biaya yang dikeluarkan seorang siswa SD.
Dari studi terbaru terlihat, nilai manfaat sosial pendidikan tinggi cenderung meningkat, meski dengan pertumbuhan relatif lambat, yaitu sebesar 0,46 persen. Secara teoretis ada dua hal yang dapat diinterpretasikan dari peningkatan nilai manfaat ini (Wicaksono, 2004). Pertama, peningkatan nilai manfaat disebabkan penawaran pendidikan tinggi (supply of higher education) masih belum mencapai titik jenuh, sehingga setiap unit peningkatan penawaran masih memberi return yang positif (belum mencapai excess supply). Kedua, terjadinya perubahan struktur ekonomi dan tenaga kerja di mana permintaan akan tenaga kerja lulusan PT kian besar yang mendorong lulusan kelompok ini menerima tingkat upah di atas tingkat upah yang kompetitif. Tingkat upah yang tinggi tentu akan memperbesar sumbangan pada negara melalui pajak dan ini mendorong meningkatnya manfaat sosial.
Di Malaysia, Kementerian Pendidikan telah menetapkan untuk menjadikan Malaysia sebagai Pusat Tujuan Pilihan Pendidikan untuk memenuhi wawasan menjadikan pendidikan di Malaysia bertaraf dunia (Jabatan Pendidikan Swasta, 2001). Data setahun telah menunjukkan peningkatan jumlah pelajar antarabangsa mendapatkan pendidikan tinggi di Malaysia. Pada tahun 2002, jumlah pelajar antarabangsa di IPTS Malaysia mencapai 22.827 orang, yaitu peningkatan sebanyak 69,4% dibandingkan dengan tahun 2001 sebanyak 13.475 orang (Jabatan Pendidikan Swasta Kementerian Pendidikan Malaysia, 2003).
Untuk merealisasikan tujuan tersebut, beberapa strategi telah dirancang untuk memastikan tujuan tersebut akan di capai. Strategi pertama adalah dengan menggalakkan pihak Institusi Pendidikan Tinggi Swasta (IPTS) menyediakan program studi dalam pelbagai bidang. Kedua, mewujudkan program-program studi yang berkualitas dan bertaraf dunia. Ketiga, memperluas aktivitas promosi pendidikan tinggi di luar negeri (A ‘Azmi, 2004).
Di negara Malaysia permintaan akan pendidikan tinggi terus mengalami peningkatan setiap tahun. Namun demikian, wujud pertambahan permintaan terhadap pendidikan tinggi, peluang-peluang pendidikan tinggi yang disediakan oleh IPTA dan IPTS masih tidak dapat memenuhi permintaan tersebut. Buktinya pada tahun 1996, hanya 11 persen penduduk umur 18-21 tahun yang diterima masuk ke program non gelar dan hanya 5 persen program sarjana. Sasaran ini masih jauh dari ketentuan yang mentargetkan 40 persen penduduk pada umur 17-23 tahun diterima masuk untuk melanjutkan pendidikan di peringkat ketiga menjelang tahun 2010 (Mohd. Saleh, 2003).

HIPOTESIS PENELITIAN
1. Faktor pendapatan keluarga per tahun, jumlah anggota keluarga, dan pendidikan orang tua berpengaruh signifikan terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang.
2. Faktor harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, dorongan orang tua/guru, kegiatan ekstrakurikuler siswa berpengaruh signifikan terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang.

TEKNIK SAMPLING
Penentuan sampel dilakukan dengan metode cluster sampling. Pada tahap pertama dikelompokkan sekolah yang dijadikan sebagai lokasi penelitian dan selanjutnya ditentukan kelas yang menjadi sampel yaitu kelas III dan dari jumlah siswa kelas III sekolah tersebut ditentukan responden secara proporsional. Jumlah SMA di Kabupaten Deli Serdang sebanyak 84 sekolah, yang terdiri dari 10 SMA Negeri dan 74 SMA Swasta dengan jumlah kelas mulai dari kelas I, kelas II dan kelas III sebanyak 650 kelas. Dari jumlah SMA tersebut ditentukan sebanyak 9 SMA sebagai lokasi penelitian, yaitu 4 SMA Negeri dan 5 SMA Swasta, dengan alasan persentase lulusan dari SMA tersebut paling tinggi yang melanjut ke Perguruan Tinggi. Populasi adalah jumlah siswa kelas III di sembilan SMA tersebut, sebanyak 2.230 orang. Pemilihan SMA Swasta Methodist, karena SMA tersebut merupakan SMA swasta dengan jumlah siswa paling banyak. Sampel ditentukan sebanyak 200 orang dengan pertimbangan waktu, dana dan jangkauan lokasi. Perincian sampel adalah sebagai berikut :

TABEL 1. POPULASI DAN SAMPEL SIZE

No. Sekolah Jumlah Siswa Kelas III (Orang) Sampel (Orang)
1. SMA Negeri 1 Lubuk Pakam 401 36
2. SMA Negeri 1 Tanjung Morawa 376 34
3. SMA Negeri 1 Pancur Batu 330 30
4. SMA Negeri 1 Galang 167 15
5. SMA Sw. Methodist L. Pakam 177 16
6. SMA Sw. Methodist Tj. Morawa 88 8
7. SMA Sw. Sinar Husni L. Deli 346 31
8. SMA Sw. Bayu Pertiwi Sunggal 204 18
9. SMA Sw. Pembangunan Galang 141 12
Jumlah 2.230 200
Sumber : Dinas Pendidikan Kab. Deli Serdang (Diolah)

MODEL ANALISIS
Model analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa Peguruan Tinggi di Deli Serdang dilakukan dengan pendekatan matematis berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh pendapatan keluarga per tahun, jumlah anggota keluarga, dan pendidikan orang tua terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi di Kabupaten Deli Serdang yang didasarkan fungsi sebagai berikut :
De1 = f (Yc, NF, FEd, MEd)
Dari fungsi tersebut di atas dispesifikasikan ke dalam model sebagai berikut :
De1 = a0 + a1 Yc + a2 NF + a3 FEd + a4 MEd + e
dimana :
a0 = konstanta
a1,...,4 = koefisien regresi
De = keinginan siswa untuk melanjut ke PT
Yc = pendapatan keluarga (Rp./tahun)
NF = jumlah anggota keluarga (orang)
FEd = pendidikan ayah (jenjang pendidikan, dalam skala Likert)
MEd = pendidikan ibu (jenjang pendidikan, dalam skala Likert)
e = error term (gangguan).
Data hasil tabulasi dimasukkan ke dalam model untuk pengujian.

2. Untuk mengetahui pengaruh harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, dorongan orang tua/guru, kegiatan ekstrakurikuler siswa terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi di Kabupaten Deli Serdang yang didasarkan pada data primer, didasarkan fungsi sebagai berikut :
De = f (Ri, MF, MT, Ext)
Dari fungsi tersebut dispesifikasikan ke dalam model sebagai berikut :
De2 = b0 + b1 Ri + b2 MF + b3 MT + b4 Ext + e
dimana :
b0 = konstanta
b1...4 = koefisien regresi
De2 = keinginan siswa untuk melanjut ke PT
Ri = harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi
MF = motivasi (dorongan) dari orang tua
MT = motivasi (dorongan) dari guru
Ext = kegiatan extrakurikuler yang diikuti, spt bimbingan test
e = error term (gangguan).
Untuk melihat pengaruh variabel-variabel yang mempengaruhi keinginan siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi digunakan skala Likert sebagai berikut :

No. Keterangan Skor
1. Sangat setuju 5
2. Setuju 4
3. Ragu-ragu 3
4. Tidak setuju 2
5. Sangat tidak setuju 1


DEFINISI OPERASIONAL
Untuk memudahkan pemahaman terhadap istilah dan variabel yang digunakan dalam penelitian ini maka perlu diberikan definisi operasional sebagai berikut :
1. Keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi adalah minat siswa kelas III SMA untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, diukur dengan skala Likert.
2. Pendapatan keluarga, adalah besarnya pendapatan keluarga yang bersumber dari penerimaan usaha orang tua, per tahun (dalam rupiah).
3. Pendidikan orang tua, adalah pendidikan formal terakhir yang pernah diikuti orang tua siswa (dalam jenjang pendidikan).
4. Harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi adalah motivasi siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi dan harapannya setelah selesai menamatkan perkuliahan (dalam skala Likert).
5. Motivasi adalah dorongan yang diberikan oleh orang tua maupun guru kepada siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah tamat SMA (dalam skala Likert).
6. Kegiatan ekstrakurikuler, yaitu kegiatan luar sekolah yang diikuti siswa dalam rangka meningkatkan pengetahuan, seperti bimbingan test (dalam banyak mengikuti bimbingan test per minggu).

METODE ANALISIS

Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa Perguruan Tinggi di Kabupaten Deli Serdang adalah dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS).

Uji Kesesuaian
Uji kesesuaian dilakukan berdasarkan nilai koefisien determinasi (R²), yang kemudian dilanjutkan dengan F-test dan t-test. Koefisien determinasi (R²) bertujuan mengetahui kekuatan variabel bebas (independent variable) menjelaskan variabel terikat (dependent variable). F-test dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara bersama. T-test dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara parsial. Untuk memudahkan dalam proses pengolahan data, maka dalam analisis digunakan program EViews versi 4.1.

GAMBARAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN DELI SERDANG
Faktor dominan yang mendukung keberhasilan pembangunan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM), karena SDM yang berkualitas akan memberikan kontribusi yang besar terhadap mutu proses pembangunan yang akan dilaksanakan. Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas harus dilakukan dengan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas pula.
Kabupaten Deli Serdang yang terdiri dari 22 kecamatan merupakan potensi yang cukup besar untuk dapat dikembangkan, karena berdampingan dengan kota Medan. Kondisi pola kehidupan terutama di kecamatan yang berbatasan dengan Kota Medan sangat berpengaruh terhadap lembaga pendidikan di Kabupaten Deli Serdang, karena masyarakat akan memiliki banyak altrnatif pilihan sekolah yang diinginkannya.
Dalam rangka mewujudkan paradigma baru pendidikan di era otonomi dan globalisasi yang sangat pesat saat ini, sudah saatnya dilakukan pembaharuan sistem pembangunan di bidang pendidikan dengan berorientasi pada strategi pembangunan pendidikan dengan sistem manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah atau manajemen berbasis sekolah.
Penduduk usia SMA (usia 16 – 18 tahun) cukup besar, yang berarti potensi permintaan perguruan tinggi di Deli Serdang juga cukup besar. Perbandingan jumlah penduduk usia SMA dengan jumlah penduduk Kabupaten Deli Serdang disajikan pada tabel berikut:

TABEL 2. PERSENTASE PENDUDUK USIA 16 – 18
TAHUN TERHADAP JUMLAH PENDUDUK
KABUPATEN DELI SERDANG, TAHUN 2005

No. Kecamatan Jumlah Penduduk (Orang) Usia 16 – 18 Tahun (Orang) Persentase (%)
1 Labuhan Deli 49,399 6,289 12.73
2 Lubuk Pakam 74,138 8,914 12.02
3 Gunung Meriah 2,730 231 8.46
4 Deli Tua 52,110 2,319 4.45
5 Sibolangit 18,867 746 3.95
6 STM Hulu 10,977 402 3.66
7 Patumbak 65,740 2,343 3.56
8 Pagar Merbau 30,039 1,016 3.38
9 Galang 62,185 2,022 3.25
10 Pancur Batu 73,918 2,299 3.11
11 Bangun Purba 21,463 583 2.72
12 Tanjung Morawa 161,258 4,273 2.65
13 Beringin 43,775 1,121 2.56
14 Pantai Labu 38,990 981 2.52
15 Hamparan Perak 129,914 3,099 2.39
16 Sunggal 196,953 4,239 2.15
17 Batang Kuis 41,435 868 2.09
18 Namorambe 24,547 487 1.98
19 Percut Sei Tuan 299,941 4,902 1.63
20 Kutalimbaru 32,331 428 1.32
21 STM Hilir 25,595 324 1.27
22 Biru-biru 29,789 297 1.00
Jumlah 1,486,094 48,183 3.24
Sumber : Dinas Pendidikan dan Pengajaran Deli Serdang, 2005.

Data Tabel 2. menunjukkan bahwa di Kabupaten Deli Serdang terdapat penduduk dengan usia 16 – 18 tahun (usia setingkat SMA) sebanyak 48.183 orang atau 3,24 persen dari total penduduk. Dari jumlah penduduk usia 16 – 18 tahun tersebut, sebanyak 23.505 orang duduk di bangku SMA yang tersebar di seluruh SMA Kabupaten Deli Serdang.

TABEL 3. JUMLAH SMA, KELAS DAN SISWA DI
KABUPATEN DELI SERDANG, TAHUN 2004
No. Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah Kelas Siswa (Orang)
1 Lubuk Pakam 10 72 4,030
2 Deli Tua 6 65 3,049
3 Tanjung Morawa 8 66 2,763
4 Percut Sei Tuan 12 81 2,342
5 Pancur Batu 5 46 2,082
6 Labuhan Deli 3 39 1,901
7 Galang 6 35 1,315
8 Sibolangit 2 16 1,229
9 Hamparan Perak 5 26 1,034
10 Sunggal 7 24 823
11 Batang Kuis 2 17 709
12 Bangun Purba 2 14 480
13 Beringin 3 10 353
14 STM Hilir 2 9 347
15 Kutalimbaru 2 11 305
16 Biru-biru 2 10 230
17 Patumbak 3 9 195
18 STM Hulu 1 5 145
19 Namorambe 1 3 93
20 Pantai Labu 1 3 60
21 Gunung Meriah 1 1 20
22 Pagar Merbau 0 0 0
Jumlah 84 562 23,505
Sumber : Dinas Pendidikan dan Pengajaran Deli Serdang, 2005.
Berdasarkan data tersebut diketahui jumlah SMA yang paling banyak adalah di Kecamatan Percut Sei Tuan, sebanyak 12 SMA dengan 81 kelas dan siswa sebanyak 2.342 orang. Jumlah siswa yang terbanyak adalah di Kecamatan Lubuk Pakam, yaitu sebanyak 4.030 orang. Satu-satunya kecamatan di Deli Serdang yang belum ada SMA adalah Kecamatan Pagar Merbau.

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
Karakteristik Responden
Objek penelitian adalah siswa kelas III SMA di Kabupaten Deli Serdang. Sehubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jasa perguruan tinggi, maka karakteristik responden dalam hal ini terdiri dari sekolah (negeri dan swasta), jurusan (IPA dan IPS), pendapatan keluarga, pendidikan orang tua dan fakultas pilihan di perguruan tinggi. Karakteristik responden berdasarkan sekolah negeri dan swasta disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Distribusi Responden berdasarkan Sekolah
Pada umumnya (57 persen) responden sekolah di SMA Negeri dan sisanya sebanyak 43 persen di SMA Swasta. Dari siswa tersebut yang paling banyak mengambil jurusan IPA, sebanyak 72 persen dan sisanya jurusan IPS sebanyak 28 persen (Gambar 2.)

Gambar 2. Distribusi Responden berdasarkan Jurusan
Dalam penelitian ini pendapatan keluarga atau orang tua siswa dihitung per tahun, dengan kisaran Rp. 8,5 juta s/d Rp. 84 juta per tahun sebagai berikut:

TABEL 4. DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PENDAPATAN KELUARGA

No. Pendapatan Frekwensi (Orang) (%)
1. Rp. 8,5 – 23,5 juta 48 24
2. Rp. 23,6 – 39 juta 86 43
3. Rp. 39,1 – 54,5 juta 52 26
4. Rp. 54,6 – 70 juta 10 5
5. Rp. 70,1 – 85 juta 4 2
Jumlah 200 100
Sumber: Data Primer.
Berdasarkan pendapatan, yang paling banyak adalah siswa dengan pendapatan orang tua Rp. 23,6 – 39 juta sebanyak 43 persen, kemudian dengan pendapatan orang tua Rp. 39,1 – 54,5 juta (Gambar 3)

Gambar 3. Distribusi Responden berdasarkan Pendapatan Orangtua
Berdasarkan pendidikan, pada umumnya pendidikan ayah responden lebih tinggi dari pendidikan ibu, dan hasil penelitian menunjukkan pendidikan orang tua responden yang paling rendah adalah setingkat SLTP.

TABEL 5. DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PENDIDIKAN ORANG TUA

No. Jenjang Pendidikan Ayah Ibu
Frekwensi (Orang) (%) Frekwensi (Orang) (%)
1. SD 0 0 0 0
2. SLTP 13 7 30 15
3. SLTA 93 46 117 58
4. Diploma 68 34 37 19
5. Sarjana 26 13 16 8
Jumlah 200 100 200 100
Sumber: Data Primer.

Pada umumnya (46 persen) pendidikan orang tua laki-laki (ayah) responden adalah SMA, kemudian diploma dan sarjana masing-masing 34 persen dan 13 persen (Gambar 4).

Gambar 4. Distribusi Responden berdasarkan Pendidikan Ayah
Sedangkan pendidikan orang tua perempuan yang paling banyak adalah SMA sebanyak 58 persen, dan diploma dan sarjana masing-masing sebanyak 19 persen dan 8 persen (Gambar 5)

Gambar 5. Distribusi Responden berdasarkan Pendidikan Ibu
Program studi atau jurusan yang paling banyak dipilih responden di perguruan tinggi adalah informatika (20 persen) dan fakultas ekonomi (16 persen).

TABEL 6. DISTRIBUSI RESPONDEN
BERDASARKAN FAKULTAS/JURUSAN PILIHAN DI
PERGURUAN TINGGI

No. Fakultas/Jurusan Frekwensi (Orang) (%)
1. Informatika 41 20
2. Fakultas Ekonomi (FE) 34 16
3. Fakultas Teknik (FT) 30 14
4. Fakultas Hukum (FH) 22 11
5. Kesehatan 18 9
6. Fak. Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) 15 8
7. Fakultas Kedokteran (FK) 11 6
8. Keguruan 9 5
9. Fak. MIPA 7 4
10. Fakultas Pertanian (FP) 5 3
11. Lain-lain 8 4
Jumlah 200 100
Sumber: Data Primer.

Gambar 6. Distribusi Responden berdasarkan Fakultas Pilihan di Perguruan Tinggi
Hampir semua responden mengikuti bimbingan test, hal ini menunjukkan tingginya minat siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Pada umumnya responden mengikuti bimbingan test antara 2 s/d 4 kali per minggu.

TABEL 7. DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN KEGIATAN EXTRAKURIKULER

No. Jumlah Kegiatan Extrakurikuler Frekwensi (Orang) (%)
1. Tidak mengikuti bimbingan test 7 4
2. Bimbingan test 1 kali setiap minggu 27 14
3. Bimbingan test 2 kali setiap minggu 52 26
4. Bimbingan test 3-4 kali setiap minggu 77 38
5. Bimbingan test 5-6 kali setiap minggu 37 18
Jumlah 200 100
Sumber: Data Primer.

Tanggapan Responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden pada umumnya menyatakan setuju dan sangat setuju terhadap harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi setelah selesai kuliah, motivasi orang tua, motivasi guru dan kegiatan ekstrakurikuler.

TABEL 8. TANGGAPAN RESPONDEN TERHADAP
KEINGINAN MELANJUT KE PERGURUAN
TINGGI

No. Pernyataan Sangat Setuju (%)
1. Melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi (De) 56,50
2. Harapan memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik (Ri) 46,50
3. Motivasi yang diberikan orang tua untuk kuliah 7,00
4. Motivasi yang diberikan guru untuk kuliah 16,50
5. Frekwensi mengikuti bimbingan test (5-6 kali per minggu) 18,50
Sumber : Data Primer Diolah.






Hasil tersebut menunjukkan bahwa keinginan siswa kelas III SMA di Deli Serdang untuk melanjut ke perguruan tinggi cukup tinggi, dimana sebanyak 56,5 persen menyatakan akan melanjut ke perguruan tinggi. Pada umumnya alasan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi adalah dengan harapan untuk memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik (46,5 persen).
Motivasi yang diberikan orang tua terhadap minat siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi adalah rendah (7 persen). Orang tua yang lebih sering memotivasi anaknya untuk melanjut ke perguruan tinggi pada umumnya adalah orang tua dengan pendapatan tinggi. Demikian juga motivasi yang diberikan guru masih rendah (16,5 persen) karena hanya sebagian kecil saja guru yang secara terus menerus memotivasi siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Sebagian kecil siswa (18,5 persen) mengikuti bimbingan tes 5-6 kali per minggu dalam upaya mempersiapkan diri untuk melanjut ke perguruan tinggi, khususnya mengikuti seleksi masuk PTN.

ANALISIS ESTIMASI PERMINTAAN JASA PERGURUAN TINGGI
Uji Kesesuaian (Goodness of Fit)
Untuk pengujian hipotesa yang dirumuskan dalam penelitian ini, maka dilakukan estimasi dengan model Ordinary Least Square (OLS) untuk data cross-section dari 200 responden dengan menggunakan Program EViews 4.1.
Model 1.
Analisis uji kesesuaian (goodnes of fit) yang menjelaskan pengaruh dari pengaruh dari pendapatan keluarga (Yc), jumlah anggota keluarga (NF), pendidikan ayah (FED) dan pendidikan ibu (MED) terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi (Qe) adalah sebagai berikut :

De1 = 1,55 + 0,02 YC + 0,03 NF + 0,33 FED + 0,28 MED
Std.Err : 0,003 0,0362 0,067 0,066
t-stat. : (5,17) (0,80) (4,97) (4,28)

R2 : 0,5081
F-stat. : 50,353
Prob. : 0,000


Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,5081 berarti bahwa variabel pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan ayah dan pendidikan ibu mampu menjelaskan variasi keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi sebesar 50,81 %. Sedangkan sisanya sebesar 49,19 %, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 50,353 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99 %; berarti bahwa secara bersama-sama (serempak) pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan ayah dan pendidikan ibu akan mempengaruhi variasi keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Berdasarkan uji t-statistik (uji secara parsial), dapat diketahui bahwa variabel pendapatan keluarga, pendidikan ayah dan pendidikan ibu berpengaruh positif dan signifikan terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Sedangkan variabel jumlah anggota keluarga berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi pada tingkat keyakinan 90 %. Berikut ini hasil uji t dari masing-masing variabel bebas.

a. Pendapatan keluarga (Yc)
Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa pendapatan keluarga (Yc) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Ini berarti bahwa peningkatan pendapatan keluarga akan meningkatkan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara pendapatan keluarga dengan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 5,17 yang signifikan pada  1 %. Hal ini berarti bahwa variabel pendapatan keluarga memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Pendidikan tinggi membutuhkan dana yang cukup besar, oleh karena itu permintaan seseorang terhadap pendidikan tinggi dipengaruhi oleh pendapatan keluarga. Selain biaya-biaya yang langsung berhubungan dengan suatu perguruan tinggi, seperti uang kuliah, juga dibutuhkan sejumlah biaya tambahan lainnya untuk mendukung pelaksanaan pendidikan tersebut. Misalnya jika seorang mahasiswa berasal dari luar daerah tempat PTS, maka dibutuhkan biaya untuk pemondokan, makan, biaya transportasi dan biaya-biaya hidup lainnya, yang jumlah jauh lebih besar dari biaya yang dibayarkan ke PTS. Oleh karena itu semakin tinggi pendapatan perkapita, maka kemungkinan untuk dapat melanjut ke perguruan tinggi akan semakin tinggi.

b. Jumlah anggota keluarga (NF)
Dari hasil estimasi diketahui bahwa jumlah anggota keluarga (NF) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi. Berarti jika jumlah anggota keluarga meningkat, maka keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi semakin meningkat, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh positif dari jumlah anggota keluarga terhadap keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 0,804 yang tidak signifikan pada  10%. Hal ini berarti bahwa variabel jumlah anggota keluarga (NF) memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.

c. Pendidikan ayah (Fed)
Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa pendidikan ayah (Fed) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Ini berarti bahwa semakin tinggi pendidikan ayah maka akan meningkatkan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara pendidikan ayah dengan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 4,965 yang signifikan pada  1 %. Hal ini berarti bahwa variabel pendidikan ayah memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap peningkatan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.

d. Pendidikan ibu (Med)
Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa pendidikan ibu (Med) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Ini berarti bahwa semakin tinggi pendidikan ibu maka akan meningkatkan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara pendidikan ibu dengan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 4,28 yang signifikan pada  1 %. Hal ini berarti bahwa variabel pendidikan ibu memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka orang tua juga akan mengerti bahwa investasi pendidikan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah penting. Kesadaran atau pengertian tersebut akan mendorong orang tua untuk memotivasi anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pada umumnya keinginan tersebut hanya dibatasi oleh keterbatasan biaya, atau kemampuan intelektual dari si anak.

Model 2.
Analisis uji kesesuaian (goodnes of fit) yang menjelaskan pengaruh dari pengaruh dari harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi (Ri), motivasi orang tua (MF), motivasi guru (MT) dan bimbingan test (Ext) terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi (Qe) adalah sebagai berikut:

De2 = 0,41 + 0,25 Ri + 0,08 MF + 0,27 MT + 0,43 Ext
Std.Err : 0,07 0,07 0,06 0,04
t-stat. : (3,89) (1,17) (4,53) (10,94)

R2 : 0,6436
F-stat. : 88,032
Prob. : 0,000


Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,6436 berarti bahwa variabel harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, motivasi orang tua, motivasi guru dan bimbingan test mampu menjelaskan variasi keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi sebesar 64,36 %. Sedangkan sisanya sebesar 35,64 %, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 88,032 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99 %; berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, motivasi orang tua, motivasi guru dan bimbingan test akan mempengaruhi variasi keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Berdasarkan uji t-statistik (uji secara parsial), dapat diketahui bahwa variabel harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, motivasi guru dan bimbingan test dan signifikan terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Sedangkan variabel motivasi orang tua berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi pada tingkat  10 %. Berikut ini hasil uji t dari masing-masing variabel bebas.

a. Harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi (Ri)
Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi (Ri) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Ini berarti bahwa adanya harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi akan meningkatkan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dengan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 3,889 yang signifikan pada  1 %. Hal ini berarti bahwa variabel harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Pendidikan sering dipandang sebagai jalan yang prinsip untuk ke luar dari kemiskinan di negara-negara berkembang. Tetapi investasi pendidikan tersebut dibatasi oleh sumber daya keluarga. Rumah tangga yang tidak mampu secara ekonomi atau tidak mampu untuk meminjam menjadi faktor pembatas terhadap pendidikan anak-anak mereka. Keinginan untuk keluar dari kemiskinan dimotivasi oleh pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh tenaga kerja yang berpendidikan lebih tinggi. Oleh karena itu, walaupun dalam kondisi terbatas, terkadang keluarga menginvestasikan harta kekayaannya untuk melanjutkan pendidikan anaknya.

b. Motivasi orang tua (MF)
Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa motivasi dari orang tua (MP) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Ini berarti bahwa pemberian motivasi dari orang tua akan meningkatkan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara motivasi dari orang tua dengan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 1,167 yang tidak signifikan pada  10 %. Hal ini berarti bahwa variabel motivasi dari orang tua memberikan pengaruh tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Di Indonesia, seorang siswa SMA pada umumnya belum memiliki sumber pendapatan tersendiri. Sehingga untuk meneruskan cita-citanya untuk melanjut ke perguruan tinggi harus mendapat dukungan orang tua. Pada umumnya orang tua bertanggung jawab untuk membiaya seluruh biaya yang dibutuhkan seorang anak selama mengikuti pendidikan tinggi. Oleh karena itu, peran orang tua dalam memotivasi anak, baik motivasi finansial maupun non finansial cukup berperan untuk meningkatkan minat seorang anak untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

c. Motivasi guru (MT)
Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa motivasi dari guru (MT) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Ini berarti bahwa pemberian motivasi dari guru akan meningkatkan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara motivasi dari guru dengan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 4,533 yang signifikan pada  1 %. Hal ini berarti bahwa variabel motivasi dari guru memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Seorang guru lebih banyak berhadapan dengan siswa dalam hal intelektualitas. Oleh karena itu seorang guru lebih mengenal kemampuan siswanya secara akademis dibandingkan dengan orang lain. Pada umumnya guru akan memotivasi siswanya untuk melajutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi motivasi tersebut lebih ditujukan kepada siswa yang memiliki kemampuan intelektualitas untuk melanjutkan studi, khususnya ke perguruan tinggi negeri.
d. Kegiatan extrakurikuler (Ext)
Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa kegiatan extrakurikuler siswa (Ext) berpengaruh positif terhadap keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi. Ini berarti bahwa peningkatan intensitas kegiatan extrakurikuler yang diikuti siswa (bimbingan test) akan meningkatkan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara kegiatan extrakurikuler siswa dengan keinginan siswa untuk melanjut ke perguruan tinggi, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 10,944 yang signifikan pada  1 %. Hal ini berarti bahwa variabel kegiatan extrakurikuler siswa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keinginan siswa SMA untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Untuk dapat lolos ke perguruan tinggi, khususnya negeri, siswa akan mengikuti seleksi. Sehubungan dengan seleksi tersebut, maka siswa akan mempersiapkan diri sedemikian rupa dengan harapan dapat lolos dari seleksi. Selain belajar di kelas secara formal, pada saat ini seorang siswa juga dapat memperoleh pendidikan tambahan yang secara khusus diarahkan untuk dapat lolos ke perguruan tinggi negeri, yaitu melalui kegiatan belajar di luar sekolah melalui bimbingan test. Bahkan banyak siswa yang telah mengikuti bimbingan test sejak dari kelas I SMA, dengan harapan untuk dapat lolos seleksi ke jurusan atau program studi yang diharapkan. Oleh karena itu siswa yang mengikuti bimbingan test akan lebih tinggi minatnya untuk melanjut ke perguruan tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti bimbingan test. Karena di bimbingan test, para siswa juga dimotivasi oleh para pengajar dan juga adanya motivasi dari sesama teman.

UJI ASUMSI KLASIK
a. Uji Multikolinearitas
Untuk mendeteksi masalah multikolinearitas dilakukan dengan membandingkan nilai R2y.x dengan nilai R2x.x. Kriteria keputusan sebagai berikut :
1. Jika nilai R2y.x < R2x.x, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah multikolinearitas dalam model empiris yang digunakan tidak dapat ditolak.
2. Jika nilai R2y.x > R2x.x, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah multikolinearitas dalam model empiris yang digunakan ditolak.
Dari hasil estimasi Model 1 (Lampiran 3a) diperoleh nilai R2yx lebih tinggi dari nilai R2xx maka dalam model empiris (1) tidak ditemukan adanya multikolinieritas. Demikian juga dari hasil estimasi Model 2 (Lampiran 5a) diperoleh nilai R2yx lebih tinggi dari nilai R2xx maka dalam model empiris (2) tidak ditemukan adanya multikolinieritas.

b. Heteroskedastisitas
Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan Uji White (White Test), yaitu dengan membandingkan nilai Obs-R2 atau X2hitung terhadap X2tabel. Kriteria keputusan sebagai berikut :
1. Jika nilai Obs-R2 atau X2hitung > X2tabel (Prob. < 0,05), maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah heteroskedastisitas dalam model empiris yang digunakan tidak dapat ditolak.
2. Jika nilai Obs-R2 atau X2hitung < X2tabel (Prob. > 0,05), maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah heteroskedastisitas dalam model empiris yang digunakan ditolak.
Berdasarkan hasil estimasi dengan menggunakan No Cross Term diperoleh nilai Obs*R-squared = X2-hitung sebesar 3,6098 (Model 1; Lampiran 3b) dan sebesar 5,3013 (Model 2; Lampiran 5b) dengan degree of freedom sama dengan 8 lebih besar dibandingkan dengan nilai X2-tabel (8) dengan tingkat kepercayaan (alpa = 5%) yakni 15,51. Ini berarti tidak ditemukan masalah heteroskedastisitas dalam model.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab terdahulu maka diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Faktor-faktor pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan orang tua berpengaruh signifikan terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang. Variabel pendapatan keluarga dan pendidikan orang tua berpengaruh positif terhadap minat siswa SMA melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan signifikan pada  1 %. Sedangkan jumlah anggota keluarga berpengaruh positif, tetapi tidak signifikan.
2. Faktor-faktor harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, motivasi dari orang tua dan guru, dan kegiatan bimbingan test berpengaruh signifikan terhadap permintaan jasa Perguruan Tinggi oleh siswa SMA di Kabupaten Deli Serdang. Variabel harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi, motivasi dari guru, dan kegiatan bimbingan test berpengaruh positif terhadap minat siswa SMA melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan signifikan pada  1 %. Sedangkan motivasi dari orang tua berpengaruh positif, tetapi tidak signifikan.
3. Permintaan siswa SMA terhadap perguruan tinggi yang lebih tinggi adalah pada program studi informatika dan ekonomi. Hal ini sesuai dengan perkembangan teknologi informasi saat ini dimana untuk dapat bersaing dalam dunia kerja dibutuhkan keahlian dibidang informatika.

SARAN
1. Permintaan program studi di perguruan tinggi oleh siswa menunjukkan pergeseran seiring dengan perkembangan teknologi informasi, untuk itu kepada pihak perguruan tinggi disarankan untuk dapat menyesuaikan program studi yang ditawarkan dengan kebutuhan dunia kerja pada masa yang akan datang.
2. Pemerintah Kabupaten Deli Serdang hendaknya melakukan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan agar jumlah lulusan SMA dari Deli Serdang yang masuk ke perguruan tinggi melalui SPMB semakin meningkat. Upaya peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan mendukung peningkatan kegiatan ekstrakurikuler siswa, perbaikan fasilitas-fasilitas pendidikan, dan melengkapi sarana-sarana pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

A‘Azmi Bin Shahri. Faktor Pengaruh Pasaran Pendidikan di IPTS Malaysia: Satu Pandangan. Kuala Lumpur: Bahagian Perancangan & Penyelidikan, Jabatan Pendidikan Swasta, Kementerian Pendidikan Malaysia, 2004.

Arief, Sritua. Metodologi Penelitian Ekonomi. Jakarta: UI-PRESS, 1993.

Black, Dan A., Terra G. Mckinnish And Seth G. Sanders. Tight Labor Markets And The Demand For Education: Evidence From The Coal Boom And Bust. Center For Policy Research Department Of Economics Department Of Economics University Of Maryland, 2003.

Glewwe, Paul And Hanan G. Jacoby. Economic Growth And The Demand For Education: Is There A Wealth Effect? Paper At Conference On New Research On Education In Developing Countries Center For Research On Economic Development And Policy Reform Stanford University August 25-26, 2000.

Gujarati, Damodar dan Sumarno Zain. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga, 2004.

Jabatan Pendidikan Swasta, Kementerian Pendidikan Malaysia, Perancangan Strategik 2001 – 2010.

Jabatan Pendidikan Swasta, Kementerian Pendidikan Malaysia, Statistik Pendidikan Tinggi Swasta (Sehingga Januari 2003).

Koshal, R.K., L.E. Gallaway And R.G. Akkihal. Determinations Of Male And Female Higher Education In The United States (1976).

Kuncoro, Mudrajad. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: Erlangga, 2003.

Miller, Rogeer Le Roy. Roger E. Meiners. Teori Ekonomi Intermediate. Edisi Ketiga. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.


Mohd. Saleh, Amir Bin Salleh. Peranan Institusi Pendidikan Tinggi Swasta Dalam Meningkatkan Tahap Akses Kepada Pendidikan Tinggi: Matlamat Dasar dan Cabaran. Kuala Lumpur: Buletin Jabatan Pendidikan Swasta, Kementerian Pendidikan Malaysia, 2003.

Neugart, Michael And Jan Tuinstra. Endogenous Fluctuations In The Demand For Education. FSI 01 – 209, ISSN Nr. 1011-9523 (Edu-9), 2001.

Sugiarto. Et. al; Ekonomi Mikro Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Sukirno, S. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.

Suryadi. Profil Dunia Pendidikan Di Saat Krisis Ekonomi, Portal Informasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004
Todaro, Michael P., Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh, Jilid 1. Jakarta: Erlangga, 2000.

Wicaksono, Teguh Yudo. Besarkah Manfaat Pendidikan Tinggi Terhadap Pembangunan Ekonomi? Department of Economics CSIS : Kompas, Augustus 21, 2004.

Yussof, Ishak. Pelaburan Pendidikan Tinggi : Analisis Perbandingan IPTA-IPTS di Malaysia. Kuala Lumpur: Jurnal Pendidikan 28 (2003) 33 – 46.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar