Sabtu, 01 Mei 2010

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT MENGKONVERSI LAHAN KARET MENJADI LAHAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN ASAHAN


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT
MENGKONVERSI LAHAN KARET MENJADI LAHAN KELAPA SAWIT
DI KABUPATEN ASAHAN

Asrul Wahid1, Jhon Tafbu Ritonga2,
Sya’ad Afifuddin3, Irsyad Lubis4

Abstract : THe width of people rubber plantation farm in district of Asahan decreases -4.53 percent annually based on data of 2000-2004, while the width of palm oil plantation farm grows 7.18 percent annually. The research has been made in district of Asahan to five subdistricts, including subdistricts of Bandar Pasir Mandoge, Buntu Pane, Pulau Rakyat, Bandar Pulau and Aek Kuasan by a fucus on factor on factors effecting the people in coversing the rubber farm, i.e., education, motivation, income and capacity of saving, with total sample was 50 peoples by using Ordinary Least Square Method (OLS). The result of estimation indicated that education, motivation, income and capacity of saving have positive and significant effect on conversion of rubber farm in district of Asahan. Factors of education an motivation are very dominant to effect the people in coversation of farm.

Keywords : Effecting the people in coversion factor, rubber farm to palm oil farm.



PENDAHULUAN

Perkebunan karet rakyat di Kabupaten Asahan pada waktu kurun lima tahun terakhir terjadi penurunan luas lahan. Pada Tahun 2000 luas lahan 12.629 ha sedangkan pada tahun 2004 menjadi 9.607 ha, rata-rata penurunan luas lahan perkebunan karet per tahun sebesar -4,53 %, sehingga hasil produksi karet tahun 2000 sebesar 7.961 ton menjadi 5.274 ton pada tahun 2004 dengan rata-rata penurunan hasil produksi sebesar -6,02 % per tahun.
Perkebunan kelapa sawit rakyat pada tahun 2000 seluas 17.572 ha, sedangkan pada tahun 2004 menjadi 22.945 ha yaitu mengalami peningkatan sebesar setiap tahun sebesar 7,18 % per tahun, rata-rata produksi kelapa sawit meningkat sebesar 11,69 % per tahun.

PERUMUSAN MASALAH
Apakah faktor sosial (pendidikan, minat) dan faktor ekonomi (pendapatan, kemampuan menabung) mempengaruhi masyarakat mengkonversi lahan karet menjadi lahan kelapa sawit di Kabupaten Asahan.

HIPOTESIS
Berdasarkan perumusan masalah dan dari beberapa kajian empiris yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya, maka terdapat pengaruh faktor sosial (pendidikan, minat) dan faktor sosial (pendapatan, kemampuan me-nabung) terhadap konversi lahan perkebunan karet menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

PENELITIAN SEBELUMNYA
• Pada tahun 1997, hasil studi Mohd. Arsyad dan Shamsudin tentang ketahanan makanan dan isu tanah pertanian di Malaysia, luas areal tanaman padi tahun 1980 sebesar 735.000 ha pada tahun 1995 menjadi 666.000 ha mengalami penurunan sebesar 9 %. Sektor tanaman pertanian industri yaitu kelapa sawit mengalami peningkatan sebesar 41 %.
• Hasil penelitian Nainggolan pada tahun 1999, pengalihan fungsi lahan pertanian ke non pertanian di Kec. Kutilambaru Kabupaten Deli Serdang, memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan masyarakat setelah beralih fungsi lahan menjadi perumahan sebesar 60,08 %.
• Hasil penelitian Fauzi, Lili tahun 1999, alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan masyarakat di Kecamatan Tanung Morawa Kabupaten Deli Serdang. Rata-rata pendapatan keluarga di desa yang beralih fungsi yaitu Rp 571.620.- per bulan, lebih tinggi dari pada pendapatan keluarga pada desa yang tidak beralih fungsi yaitu Rp 416.000,- per bulan.
• Pada tahun 2002, hasil penelitian Suhendry dkk, akhir-akhir ini persaingan lahan basah semakin kuat, sejumlah lahan karet telah dikonversikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Evaluasi baru-baru ini delapan perusahaan perkebunan menunjukkan 14.031 ha lahan karet telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit, kemungkinan jumlah konversi yang sebenarnya jauh lebih besar diyakini tidak semua perusahaan mengkonfirmasi data tersebut. Konversi ini akan terus berlanjut baik di Sumatera dan Kalimantan karena beberapa perusahaan perkebunan merencanakan mengkonversi lahan karet dalam jumlah ribuan hektar. Pohon karet yang ditanami didaerah beriklim basah adalah berkenaan dengan penyakit gugur daun yaitu Colltricum gloesporioides, akibatnya pada tahun 1989 seluas 69.750 ha laha karet dirusak oleh penyakit ini. Kerusakan hebat terjadi di kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Riau.
• Hasil Studi Asni pada tahun 2003, alih fungsi lahan pertanian padi sawah ke tanaman kelapa sawit di Kabupaten Labuhan Batu memberikan pengaruh yang positif terhadap pendapatan masyarakat. Penerimaan (revenue) yang diperoleh petani padi sawah adalah Rp 1.387.577,-/ha lebih rendah dari pada petani kelapa sawit sebesar Rp. 5.735.202.47,-/ha

WILAYAH PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Asahan yang merupakan salah satu sentra pertanian di Sumatera Utara khususnya pertanian tanaman kelapa sawit dan tanaman karet.

JENIS DAN SUMBER DATA
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder.
Dalam rancangan ini yang dijadikan sebagai populasi yaitu dari keseluruhan petani kelapa sawit (504 kepala keluarga/KK) yang mengkonversi lahan karet menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Kabupaten Asahan yang terdiri 20 kecamatan, dimana sampel ditentukan 5 (lima) kecamatan yaitu Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kecamatan Buntu Pane, Kecamatan Pulau Rakyat, Kecamatan Bandar Pulau dan Kecamatan Aek Kuasan. Pengambilan sampel ditentukan secara acak dari jumlah sampel adalah sebanyak 50 kepala keluarga.
Davis dan Cosenza (1993), menyatakan pemilihan simple random sampling adalah prinsip pemilihan sampel dalam desain setiap elemen dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih.
Gay dan Diehl (1996), menyatakan secara umum jumlah sampel minimal yang diterima untuk suatu studi tergantung jenis studi yang dilakukan.
Untuk studi deskriptif, sampel 10 % dari populasi dianggap menrupkan jumlah minimal, (Kuncoro, 2002).
TEHNIK PENGUMPULAN DATA
• Data primer diperoleh dari petani sampel atau responden yaitu dengan cara : 1) Angket/ kuesioner 2) Wawancara, 3) Observasi.
• Data Sekunder diperoleh dari instansi yang relevan, antara lain: Dinas Perkebunan Propinsi Sumatera Utara, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Asahan , Badan Pusat Statistik Asahan, Kantor Penyuluhan Pertanian dan sumber sumber hasil penelitian.

SKALA ORDINAL
Jawaban atas pertanyaan dari 50 petani responden dibentuk dalam skala ordinal 1-5 (skor).

ANALISIS DATA
• Perbandingan analisis budidaya usahatani tanaman karet dan kelapa sawit digunakan untuk melihat usahatani mana yang menguntungkan.
• Menggunakan model ekono metrika sederhana yaitu :
Y = po + p1x1 + p2x2 + p3x3 + p4x4 U

MODEL ANALISIS
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) dan sebagai alat yang digunakan untuk mengolah data adalah program Eviews versi 3.

HASIL PENELITIAN
Hasil estimasi OLS alih fungsi lahan:
1. Pendidikan petani bertanda positif sebesar 0.657 dengan nilai statistik 4.331, berkontribusi positif dan signifikan secara statistik sebesar 0.8835.
2. Minat petani bertanda positif sebesar 0.902 dengan nilai statistik 3.178, berkontribusi positif dan signifikan secara statistik sebesar 0.8835.
3. Pendapatan petani bertanda positif sebesar 0.266 dengan nilai statistik 2.246, berkontribusi positif dan signifikan secara statistik sebesar 0.8835.
4. Kemampuan menabung petani bertanda positif sebesar 0.482 dengan nilai statistik 2.286, berkontribusi positif dan signifikan secara statistik sebesar 0.8835
Dengan demikian diperoleh nilai determinasi (adjusted R²) sebesar 0.8835, berarti pendidikan, minat, pendapatan dan kemampuan menabung mampu menjelaskan bahwa variasi luas lahan karet rakyat yang dikonversi menjadi lahan tanaman kelapa sawit di Kabupaten Asahan sebesar 88,35 %, sedangkan sisanya 11,65 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Hasil uji t-statistk (uji secara parsial), diketahui x1, x2, x3, x4 berpengaruh secara signifikan terhadap luas lahan karet yang dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit rakyat di Kabupaten Asahan dengan tingkat keyakinan 99 % dari 95 % (t-hitung > t-tabel (db=44) = 2,73 ; 2,01).
Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 85,32 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99 % (F-statistik > t-tabel (db = 55) = 4,73 ); artinya kemampuan menabung petani berpengaruh secara signifikan terhadap luas lahan karet yang dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit rakyat di Kabupaten Asahan.
Hasil uji penyimpangan asumsi klasik Multikolinearitas adalah : variabel y = f (x1, x2, x3, x4 ) dengan nilai R² = 0.883501, variabel X1 = f (x2, x3, x4) dengan nilai R² = 0.614329, variabel X2 = f (x1, x3, x4) dengan nilai R² = 0.736392, variabel X3 =,f (x1, x2, x4) dengan nilai R² = 0.628549, dan variabel X4 = f (x1, x2, x3,) dengan nilai R² = 0.657017. Berdasarkan rule of thumb dari metode ini dapat disimpulkan bahwa pada model tersebut tidak ditemukan adanya multikolinearitas.

KESIMPULAN
1. Perkembangan konversi lahan dari tanaman karet menjadi tanaman kelapa sawit di Kabupaten Asahan diketahui sebesar 88,35%, rata-rata luas lahan karet petani mengkonversi lahannya yaitu 50– 100 % dari luas lahan yang dimilikinya.
2. Usahatani tanaman kelapa sawit lebih menguntungkan dibanding usahatani karet, dimana total penerimaan kelapa sawit selama 20 tahun masa tanam adalah sebesar Rp 197.761.000,- atau Rp 6.506750. per hektar per tahun. Sedangkan total penerimaan karet selama 20 tahun masa tanam adalah sebesar Rp 110.308.000,- atau Rp 2.120.000,- per hektar per tahun.
3. Faktor sosial dan faktor ekonomi berpengaruh terhadap konversi lahan karet menjadi tanaman kelapa sawit di Kabupaten Asahan. Hasil regresi, R² sebesar 0,8835 artinya (X1), (X2), (X3) dan (X4) mampu menjelaskan variasi luas lahan karet rakyat yang dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit, 11,65 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam modell. Uji t-statistik, variabel yang berpengaruh signifikan terhadap luas lahan karet yang dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit adalah (X1), (X2), (X3) dan (X4) dengan tingkat keyakinan 99 % dari 95 % (t-hitung > t-tabel (db=44) = 2,73 ; 2,01).
Nilai F-statistik, yaitu sebesar 85.32 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99% (F-statistik > t-tabel (db = 55) = 4,73 ); berarti secara parsial bahwa l pendidikan, minat petani dan pendapatan petani, kemampuan menabung mempengaruhi variasi dari luas lahan karet yang dikonversi menjadi tanaman kelapa sawit di Kabupaten Asahan.

SARAN
1. Penentu kebijakan pertanian perlu memberikan penyuluhan informasi yang lebih komprehensif kepada petani yang belum mengkonversikan lahannya dan agar petani mempertimbangkan dari sudut ekonomi sebelum dikonversi, sehingga usahatani yang dikelolanya dapat memberikan keuntungan yang maksimal.
2. Kepada petani kelapa sawit disarankan untuk melakukan perawatan tanaman kelapa sawit dengan intensif sehingga dapat menghasilkan produksi maksimal.
3. Begitu juga kepada petani karet yang belum mengkonversi lahannya disarankan agar melakukan perawatan tanaman karetnya dengan intensif sehingga dapat menghasilkan produksi maksimal sesuai dengan yang diharapkan.



DAFTAR PUSTAKA

Arshad, Fatimah Mohd dan M. nasir Shamsudin, 1997. Sekuriti Makanan dan issu Tanah pertanian, Serdang Selangor Malaysia.
Asni, 2005, Analisis Produksi, Pendapatan dan Alih Fungsi Lahan di Kabupaten Labuhan Batu, Medan Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
BPS, Produktivitas Perkebunan Karet Rakyat, Asahan Dalam Angka, BPS Kabupaten Asahan tahun 2005
Fauzi,Lili, 1999. Pengaruh Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Kec Tanjung Morawa Kab Deli Serdang, Medan Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Kuncoro, 2002. Metodologi Riset untuk Bisnis dan Ekonomi, Jakarta
Nainggolan, Lydon P,1999. Pengaruh Alih Fungsi lahan Pertanian ke Usaha Pertanian terhadap Tingkat pendapatan Masyarakat sekitar, Studi Kasus, Pembangunan Perumahan Bumi Tuntungan Sejahtera di Kec Kutilambaru Kab Deli Serdang , Medan Tesis Program pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Suhendry I, Darussamin A dan Karyudi, 2002, The Possibility of Natural Rubber Development to Words dry areas in Indonesia, Indonesia Rubber Research Medan Institute.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar