Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS PENAWARAN JASA PENDIDIKAN

OLEH PERGURUAN TINGGI SWASTA DI SUMATERA UTARA

Abdul Maulud Nainggolan1, Iskandar Syarif2,

Jhon Tafbu Ritonga3, Sirojuzilam4

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penawaran jasa pendidikan oleh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Sumatera Utara, yaitu pengaruh faktor jumlah dosen, uang kuliah, dan akreditasi terhadap program studi PTS di Sumatera Utara. Untuk tujuan analisis tersebut digunakan data primer yang bersumber dari sampel sebesar 20 % dari populasi sebanyak 186 PTS di Sumatera Utara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Berdasarkan hasil estimasi dari 41 PTS di Sumatera Utara, penelitian ini menemukan bahwa program studi PTS di Sumatera Utara dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jumlah dosen, uang kuliah dan akreditasi. Jumlah dosen dan uang kuliah berpengaruh negatif dan tidak signifikan, sedangkan akreditasi berpengaruh signifikan pada tingkat signifikansi (a 1 %).

Kata kunci : Jumlah dosen, uang kuliah, akreditasi, program studi


LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan salah satu investasi SDM yang penting untuk memperoleh pekerjaan yang layak dengan upah tinggi. Untuk mewujudkannya seseorang membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai melalui pendidikan. Pendidikan juga dapat mengatasi masalah kemiskinan. UUD 45 amandemen 1999-2001 Pasal 31 ayat (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan ayat (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan salah satu sistem pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

PP 60/1999 tentang Pendidikan Tinggi diharapkan menjadi pusat penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan tinggi serta pemeliharaan, pembinaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian sebagai suatu masyarakat ilmiah.

PP 61/1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Badan Hukum, adalah menyiapkan peserta didik menjadi angota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.

1.Mahasiswa Pascasarjana USU

2.Dosen Pascasarjana USU

3.Dosen Pascasarjana USU

4.Dosen Pascasarjana USU

UU 20/2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Pasal 55 ayat (1) masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal. pendidikan yang diselenggarakan masya-rakat tetap dihargai dan dijamin oleh undang-undang ini. Ayat (2) penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai standar nasional pendidikan. Ayat (3) Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan ayat (4) pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknik, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.

Sistem Pendidikan Nasional ini memberikan dasar hukum untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi, otonomi, keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Khususnya mengenai PTS di Sumatera Utara menawarkan berbagai program studi yang diharapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kemauan dan keinginan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hendaknya dapat dipahami perguruan tinggi swasta dalam hal menawarkan program studi.

Disisi lain persoalan uang kuliah yang tidak kalah penting bila dikaitkan dengan program studi yang ditawarkan juga akan mempengaruhi permintaan masyarakat. Besarnya uang kuliah berbeda untuk setiap program studi yang berhubungan dengan sarana dan prasarana yang disediakan serta penyelenggaraan pelayanan pendidikan. Hal ini menyebabkan terjadinya variasi biaya pendidikan antar PTS di Sumatera Utara. Pengelola PTS juga cenderung menawar-kan program studi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

PERUMUSAN MASALAH

1. Berapa besar pengaruh jumlah dosen terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara.

2. Berapa besar pengaruh uang kuliah terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara.

3. Berapa besar pengaruh akreditasi terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara.

TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk menganalisis pengaruh jumlah dosen terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara.

2. Untuk menganalisis pengaruh uang kuliah terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara.

3. Untuk menganalisis pengaruh akreditasi terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara.

PENAWARAN JASA PENDIDIKAN :

Menurut Todaro (2000) : Antara biaya dan manfaat dengan waktu yang dihabiskan untuk sekolah, semakin tinggi pendidikan seseorang diharapkan manfaat individual akan lebih baik pada sektor modern.

Departemen Pendidikan Nasional (2003) : Faktor pengaruh total unit cost pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan dan kelompok keilmuan untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajaran, penelitian dan pelayanan.

PENELITIAN SEBELUMNYA :

Yussof (2003) meneliti mengenai perkembangan jumlah mahasiswa di PTN dan PTS di Malaysia, menemukan bahwa kelebihan utama PTS di Malaysia adalah karena PTS cepat tanggap terhadap perubahan di pasar, dan menawarkan jenis pendidikan yang sesuai dengan perubahan tersebut. Lulusan PTS juga memperoleh manfaat yang lebih besar di pasaran kerja dalam bentuk pengangguran tamatan PTS lebih rendah, gaji yang lebih tinggi dan akhirnya memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

Shahri (2003) melakukan penelitian tentang faktor yang mempengaruhi pemasaran pendidikan di PTS Malaysia, terdapat dua faktor yang paling besar mempengaruhi keberhasilan pemasaran PTS, yaitu strategi pemasaran dan faktor lingkungan.

Strategi pemasaran yang dilakukan meliputi (1) jenis atau program studi yang ditawarkan disesuaikan dengan permintaan industri, (2) biaya pendidikan yang kompetitif, (3) jenjang program studi, diploma atau sarjana, (4) aktivitas promosi yang dilakukan melalui periklanan di media elektonik dan media cetak, serta pameran dan seminar pendidikan.

Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran perguruan tinggi adalah (1) stabilitas politik, (2) ekonomi, (3) kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan tinggi, (4) dukungan peraturan pemerintah, dan (5) persaingan antar peguruan tinggi.

Hasil penelitian Vanany, Wessiani dan Yuning (2005) tentang perancangan dan pengukuran kepuasan mahasiswa di perguruan tinggi swasta, dalam hal ini mengambil studi kasus di ITS, bahwa faktor yang paling banyak mempengaruhi kepuasan mahasiswa di Perguruan Tinggi adalah isu akademik (proses pembelajaran), kemudian fasilitas dan pelayanan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi penawaran jasa pendidikan tinggi, khususnya dalam penentuan uang kuliah, yaitu proses pembelajaran, jenis program studi yang sesuai dengan kebutuhan pasar, serta kualitas lulusan. Dengan demikian, dalam situasi persaingan yang sangat tinggi diantara perguruan tinggi, baik antara perguruan tinggi swasta dengan negeri, maupun sesama perguruan tinggi swasta, ketiga faktor tersebut perlu menjadi bahan perhatian dalam upaya meningkatkan jumlah mahasiswa. Dari hasil penelitian tersebut, biaya kuliah per mahasiswa bukan menjadi faktor utama pilihan mahasiswa terhadap suatu perguruan tinggi.

HIPOTESIS PENELITIAN

1. Terdapat pengaruh negatif antara jumlah dosen dengan program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara, ceteris paribus.

2. Terdapat pengaruh negatif antara uang kuliah dengan program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara, ceteris paribus.

3. Terdapat pengaruh positif dari akreditasi terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara, ceteris paribus.

KERANGKA PEMIKIRAN

Penawaran jasa PTS ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu jumlah program studi yang ada, jumlah dosen, uang kuliah, akreditasi dan fasilitas yang dimiliki seperti gedung perkuliahan, ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain.

RUANG LINGKUP PENELITIAN

Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk menganalisis penawaran jasa pendidikan tinggi dan pertumbuhan PTS di Sumatera Utara. Adapun sebagai objek dalam penelitian ini adalah PTS di Sumatera Utara.

JENIS DAN SUMBER DATA PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan data-data primer yang berasal dari PTS di Sumut dalam bentuk quesioner. Selain itu data sekunder sebagai data pendukung yang diperoleh dari Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah I di Medan serta sumber-sumber lainnya berupa studi kepustakaan maupun hasil-hasil penelitian.

TEKNIK SAMPLING

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode proporsional sampling (penentuan sampel secara proporsional). Jumlah Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara sebanyak 186 perguruan tinggi, sampel ditentukan sebesar 20 % dari populasi. Jumlah sampel dalam penelitian ini disajikan pada tabel berikut :

No.

Perguruan Tinggi Swasta

Bentuk

Jumlah

Sampel (20 %)

1.

Universitas

24

5

2.

Institut

3

1

3.

Akademi

66

14

4.

Politeknik

11

3

5.

Sekolah Tinggi

82

18

Jumlah

186

41

MODEL ANALISIS

Penawaran jasa pendidikan oleh perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dapat dituliskan dalam bentuk fungsi sebagai berikut :

PS = f(ND,UK,AK)

Dari fungsi di atas, dispesifikasikan ke dalam bentuk model ekonometrika sebagai berikut :

PS = b0 + b1ND + b2 UK + b3 AK + m

Dimana :

PS = jumlah program studi

ND = jumlah dosen (orang)

UK = uang kuliah (Rp/tahun)

AK = akreditasi (skala ordinal)

b0 = konstanta (intercept)

b1-b3 = koefisien regresi

m = variabel pengganggu

BATASAN OPERASIONAL

1. Program Studi adalah kesatuan rencana belajar sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan akademik dan/atau profesional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum serta ditujukan agar mahasiswa dapat menguasai pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang sesuai dengan kurikulum. Dalam penelitian ini, program studi diukur sebagai jumlah atau banyaknya program studi yang diasuh oleh PTS.

2. Akreditasi program studi adalah penilaian yang diberikan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) kepada program studi di PTS, terdiri dari dua kelompok, yaitu: ijin penyelenggaraan dari Departemen Pendidikan Nasional dan status status akreditasi BAN-PT. Ijin penyeleggaraan dari Departemen Pendidikan terdiri dari : izin penyelenggaraan (IP), status terdaftar (R), status diakui (I), status disamakan (N). Sedangkan status akreditasi BAN-PT terdiri dari: akreditas A, B, C, dan D. Sehubungan dengan status tersebut, status yang lebih tinggi adalah akreditasi BAN-PT. Dalam penelitian ini, status akreditasi PTS tersebut diukur dalam skala ordinal, sebagai berikut:

No.

Akreditasi BAN-PT

Skala

1.

Nilai A

5

2.

Nilai B

4

3.

Nilai C

3

4.

Nilai D

2

5.

Ijin Depdiknas

1

Penilaian status akreditasi PTS dilakukan dengan menjumlahkan setiap skala pada masing-masing program studi.

3. Jumlah tenaga pengajar (dosen), adalah jumlah dosen tetap pada perguruan tinggi ditambah dengan jumlah dosen tidak tetap (orang).

4. Uang kuliah adalah besarnya biaya perkuliahan yang dibebankan oleh perguruan tinggi swasta kepada setiap orang mahasiswa per tahun (Rp.).

PERGURUAN TINGGI SWASTA DI SUMATERA UTARA

Sumatera Utara merupakan salah satu daerah pendidikan di Indonesia yang telah lama terkenal. Minat masyarakat Sumatera Utara yang tinggi untuk memperoleh tingkat pendidikan yang lebih tinggi menyebabkan tingginya penawaran Perguruan Tinggi di Sumatera Utara, khususnya PTS. Pada umumnya PTS tersebut terdapat di Kota Medan sebagai ibukota propinsi Sumatera Utara, namun seiring dengan perkembangan minat masyarakat di daerah yang semakin tinggi terhadap pendidikan tinggi, dan semakin tingginya persaingan dan biaya hidup di Kota Medan, maka sebagian pengelola mendirikan PTS di beberapa Kabupaten/Kota di luar Kota Medan.

Berdasarkan persebaran PTS (Tabel 4.7), diketahui bahwa dari 25 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, PTS terdapat di 14 Kabupaten/Kota (56 %). Berdasarkan jenis PTS, diketahui bahwa dari 186 PTS di Sumatera Utara, yang paling banyak adalah kelompok institut, sekolah tinggi, akademi dan politeknik, yaitu sebanyak 162 PTS (87 %), sedangkan universitas hanya 24 PTS (13 %). Dari 186 PTS tersebut, sebanyak 129 (69 %) berada di Kota Medan, yang terdiri dari 17 (9 %) universitas dan 112 PTS (60 %) kelompok institut, sekolah tinggi, akademi dan politeknik. Selanjutnya daerah kedua dengan jumlah PTS yang paling banyak adalah Kota Pematang Siantar, yaitu sebanyak 14 PTS (7 %) yang terdiri dari 1 universitas (0,5 %) dan 13 PTS (6 %) kelompok institut, sekolah tinggi, akademi dan politeknik. Kemudian di Kabupaten Labuhan Batu (7 PTS), Kota Binjai (6 PTS) dan Kota Padang Sidempuan (6 PTS).

Banyaknya PTS di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan menunjukkan bahwa penawaran jasa pendidikan tinggi di Sumatera Utara oleh PTS cukup tinggi. Hal ini terutama disebabkan rendahya daya tampung PTN dibandingkan dengan jumlah siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Di Sumatera Utara hanya terdapat sebanyak 4 PTN yaitu USU, Unimed, IAIN dan Politeknik.

Untuk dapat menarik minat siswa lulusan SLTA untuk melanjutkan studi pada PTS, berbagai PTS menawarkan berbagai fasilitas dan kemudahan dalam memperoleh pendidikan tinggi tersebut. Fasilitas yang ditawarkan diantaranya fasilitas gedung kuliah yang nyaman, laboratorium yang lengkap, perpustakaan, ruang komputer, program studi yang berhubungan langsung dengan dunia kerja dan lain-lain. Selain itu juga beberapa PTS juga menawarkan keunggulan kualitas, melalui kualifikasi dosen yang mengajar di universitas dan program kerjasama dengan berbagai perusahaan. Sementara kemudahan yang ditawarkan beberapa PTS diantaranya adalah bea siswa untuk mahasiswa berprestasi, potongan uang kuliah dan program jaminan kerja setelah tamat bagi siswa berprestasi.

Penawaran jasa pendidikan tinggi oleh PTS juga merupakan suatu pendekatan ekonomi. Dalam hal ini seluruh investasi dan biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan jasa pendidikan tinggi tersebut dihitung sebagai unit cost yang kemudian dibebankan kepada mahasiswa dalam bentuk uang kuliah. Namun demikian, investasi dalam bidang PTS tidak serta merta dapat ditentukan tingkat pengembaliannya, karena sumber pendapatan yang utama adalah dari mahasiswa. Jika PTS menawarkan uang kuliah yang terlalu tinggi, kemampuan mahasiswa untuk membayar uang kuliah yang tinggi tersebut rendah sehingga akan sedikit mahasiswa yang mendaftar. Hal ini justru akan mengancam pengembalian investasi tersebut. Namun untuk program-program unggulan, seperti Kedokteran, uang kuliah bisa sangat tinggi.

ANALISIS ESTIMASI PENAWARAN JASA PERGURUAN TINGGI SWASTA

Uji Kesesuaian (Goodness of Fit)

Untuk pengujian hipotesa yang dirumuskan dalam penelitian ini, maka dilakukan estimasi dengan model Ordinary Least Square (OLS) untuk data cross-section dari 41 responden dengan menggunakan Program EViews 4.1. Analisis regresi terhadap model estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan hasil analisis regresi analisis uji kesesuaian (goodnes of fit) yang menjelaskan pengaruh dari jumlah dosen (ND), uang kuliah (UK) dan akreditasi (AK) terhadap program studi (PS) pada PTS di Sumatera Utara adalah sebagai berikut:

PS

=

4,304

- 0,008 ND

- 0,001 UK

+ 0,363 AK

Std.Error

:

(1,551)

(0,005)

(0,001)

(0,038)

t-stat

:

(2,775)***

(-,553)

(-1,620)

(9,557)***

:

0,941

F-stat

:

195,57

Keterangan : *** signifikan pada a 1 %

Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9406 berarti bahwa variabel jumlah dosen, uang kuliah dan jumlah akreditasi mampu menjelaskan variasi program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara sebesar 94,06 %. Sedangkan sisanya sebesar 5,94 %, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.

Dilihat dari nilai F-statistik, yaitu sebesar 195,5706 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99 %; berarti bahwa secara bersama-sama (serentak) jumlah dosen, uang kuliah dan akreditasi akan mempengaruhi variasi dari program studi Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara.

Berdasarkan uji t-statistik (uji secara parsial), dapat diketahui bahwa variabel jumlah dosen (ND) dan uang kuliah (UK) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta. Sedangkan variabel akreditasi (AK) berpengaruh positif dan signifikan terhadap program studi (PS) pada tingkat keyakinan 99 %. Berikut ini hasil uji t dari masing-masing variabel bebas.

a. Jumlah Dosen (ND)

Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa jumlah dosen (ND) berpengaruh negatif terhadap program studi (PS) pada PTS sebesar -0,007094. Ini berarti bahwa peningkatan jumlah program studi tidak langsung peningkatan jumlah dosen pada PTS yang bersangkutan, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda negatif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang negatif dan tidak signifikan antara jumlah dosen dengan program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai -1,553314 > dibandingkan -t-tabel (a 10 % = -1,67). Hal ini berarti bahwa variabel jumlah dosen (ND) memberikan pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap program studi PTS pada taraf 90 %.

b. Uang kuliah (UK)

Dari hasil estimasi diketahui bahwa uang kuliah (UK) berpengaruh negatif terhadap jumlah program studi (PS) pada PTS sebesar 0,0000009. Berarti jika uang kuliah meningkat, maka minat mahasiwa terhadap program studi akan berkurang yang mengakibatkan program studi semakin berkurang, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda negatif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang negatif dari uang kuliah terhadap program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai (-1,619604 > dibandingkan -t-tabel (a 10% = -1,67). Hal ini berarti bahwa variabel uang kuliah (UK) memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap jumlah program studi (PS) pada taraf 90 %.

c. Akreditasi (AK)

Berdasarkan hasil estimasi diketahui bahwa akreditasi (AK) berpengaruh positif terhadap program studi (PS) pada PTS sebesar 0,363120. Ini berarti jika program studi semakin banyak maka akreditasi suatu PTS semakin baik, ceteris paribus. Koefisien regresi yang bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif antara akreditasi dengan program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara, ceteris paribus. Dari hasil pengujian terhadap nilai t-statistik diperoleh nilai 9,557406 > dibandingkan t-tabel (a 1% = 2,72). Hal ini berarti bahwa variabel akreditasi (AK) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap jumlah program studi PTS pada taraf 99 %.

UJI ASUMSI KLASIK

a. Uji Multikolinearitas

Dari hasil estimasi, uji korelasi parsial (partial correlation examination) dilakukan dengan model diperoleh hasil sebagai berikut :

· Nilai R2 PS, ND, UK, AK = 0,9406

· Nilai R2 ND, UK, AK = 0,8935

· Nilai R2 UK, ND, AK = 0,0787

· Nilai R2 AK, ND, UK = 0,8912

Nilai R2 PS, ND, UK, AK lebih tinggi dari nilai R2 ND, UK, AK; nilai R2 AK, ND, UK dan nilai R2 UK, ND, AK maka dalam model empiris tidak ditemukan adanya multikolinieritas.

b. Uji Normalitas

Hasil estimasi menghasilkan grafik J-B Test. Dari hasil estimasi (grafik) dapat diketahui nilai Jarque Bera Normality Test adalah 0,486. Kemudian bila dibandingkan dengan X2tabel (0,05) dengan df = 3 = 7,81. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model empiris yang digunakan mempunyai residual atau faktor penganggu yang berdistribusi normal.

c. Uji Linieritas

Berdasarkan output estimasi dapat diketahui bahwa model telah memenuhi kriteria linearitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil perhitungan F-hitung kemudian dibandingkan dengan F-tabel. Berdasarkan hasil estimasi maka ditemukan besarnya nilai F-hitung adalah 1,4402 < style=""> (4, 36) = 2,63, ini berarti model telah memenuhi kriteria linearitas.

d. Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan hasil estimasi dengan menggunakan No Cross Term diperoleh nilai Obs*R-squared = X2-hitung = 3,8743 dengan degree of freedom sama dengan 6 lebih besar dibandingkan dengan nilai X2-tabel (6) dengan tingkat kepercayaan (a = 5%) yakni 12,59. Ini berarti tidak ditemukan masalah heteroskedastisitas dalam model.

PEMBAHASAN

Analisis model estimasi penawaran jasa pendidikan tinggi oleh Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara menunjukkan sebagai berikut :

1. Jumlah dosen (ND) berpengaruh negatif terhadap jumlah program studi (PS). Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa semakin banyak program studi maka jumlah dosen yang mengajar di suatu PTS tidak langsung dipengaruhi peningkatan jumlah dosen yang semakin banyak. Pengaruh negatif dari jumlah dosen terhadap program studi tidak signifikan pada a 10 %.

2. Dari hasil estimasi diketahui bahwa uang kuliah (UK) berpengaruh negatif terhadap program studi (PS). Hal ini sesuai dengan asumsi umum bahwa semakin tinggi uang kuliah maka minat mahasiswa terhadap PTS tersebut akan berkurang yang mengakibatkan jumlah mahasiswa pada beberapa program studi tidak cukup sehingga program studi tersebut ditutup (dikurangi). Pengaruh negatif dari uang kuliah terhadap program studi tidak signifikan pada a 10 %.

3. Akreditasi (AK) berpengaruh positif terhadap program studi (PS). Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa semakin banyak program studi dalam suatu PTS maka akan semakin meningkat akreditasi. Pengaruh positif dari akreditasi terhadap program studi signifikan pada a 1 %.

Dari 186 Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara, tentu saja tidak semuanya memenuhi kriteria minat, biaya dan prospek yang sudah ditentukan oleh calon mahasiswa. Minat mahasiswa terhadap PTS yang ada terutama dipengaruhi program studi yang sesuai dengan minat calon mahasiswa. Selain itu biaya kuliahnya terlalu mahal sering menjadi faktor penghalang bagi calon mahasiswa, atau terlalu jauh dari tempat tinggal calon mahasiswa sehingga biaya untuk kuliahnya akan terlalu tinggi. Namun demikian masih banyak faktor yang perlu dilihat dari suatu perguruan tinggi untuk menentukan pilihan akhir bagi calon mahasiswa.

Oleh karena itu menurut Wardhana (2005) dalam penawaran jasa pendidikan tinggi beberapa hal yang harus diperhatikan oleh Perguruan Tinggi Swasta dan yang menjadi perhatian dan penentu minat seorang calon mahasiswa adalah sebagai berikut:

1. Status Akreditasi Program Studi

Status akreditasi ini adalah salah satu faktor yang paling sering digunakan oleh PTS untuk mengiklankan dirinya, karena hal itu menunjukkan mutu/ kemampuan PTS dalam menyelenggarakan suatu program studi. Status ini didapat setelah diadakan penilaian tentang semua unsur yang diperlukan untuk itu, termasuk fasilitas pendidikan, nisbah dosen tetap dan mahasiswa, kurikulum pendidikan, dan banyak hal lainnya.

2. Kualitas dan Kuantitas Dosen

Perkembangan suatu PTS paling gampang dilihat dari jumlah mahasiswanya yang (selalu) bertambah. Hal ini sangat penting bagi PTS, karena mahasiswa adalah sumber utama (seringkali satu-satunya) pendapatan

Pada sisi lain, bertambahnya mahasiswa menuntut ditambahnya jumlah dosen. Bukan hal yang mudah mendapatkan dosen dengan jumlah yang memadai, apalagi yang memenuhi kualitas yang dibutuhkan. Padahal Undang-Undang Pendidikan Tinggi mensyaratkan tercapainya nisbah (rasio) antara dosen tetap dan mahasiswa sebesar 1:30 untuk bidang studi IPS dan 1:25 untuk bidang studi IPA.

3. Reputasi

Kalau harus memilih salah satu PTS tanpa melihat faktor-faktor internal lainnya, pertimbangan utama yang paling mudah digunakan adalah reputasi PTS tersebut. Reputasi di sini berarti PTS yang bersangkutan secara umum dikenal sebagai PTS yang baik, memiliki sarana belajar mengajar yang baik dengan fasilitas yang memadai. Lulusannya pun tidak kesulitan dalam mencari pekerjaan. Bahkan ada lulusan PTS yang menjadi rebutan perusahaan-perusahaan pemakainya. Reputasi ini biasanya dibangun dengan kerja keras dan melalui proses yang panjang. Dapat dikatakan bahwa seseorang calon mahasiswa berada on the safe side jika memilih salah satu dari PTS-PTS ini. Namun masih ada hal-hal lain yang harus dIperhatikan.

4. Jalur dan Jenjang Pendidikan

Berapa lama seorang calon mahasiswa mau menghabiskan waktu di bangku kuliah, harus mendapat perhatian dari PTS. Selain ditentukan oleh kemampuan calon mahasiswa, hal ini juga tergantung dari jalur/jenjang pendidikan yang diambil. Pendidikan tinggi di Indonesia mengenal dua jalur pendidikan, yaitu jalur akademik (jenjang sarjana) dan jalur profesional (jenjang diploma). Jalur akademik menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, sedangkan jalur profesional menekankan pada penerapan keahlian tertentu.

Jenjang diploma dirancang sebagai jenjang terminal. Artinya, lulusannya dipersiapkan untuk langsung memasuki dunia kerja, bukan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (walaupun sekarang ada yang disebut program lintas jalur, dari diploma ke sarjana). Ini berbeda dengan jenjang sarjana, yang membuka kesempatan lulusannya untuk terus mengembangkan ilmunya. Hal lain yang harus diperhatikan adalah tingkat persaingan di pasar kerja. Kalau banyak tenaga sarjana yang tersedia, perusahaan akan lebih memprioritaskannya dibandingkan lulusan diploma. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi PTS untuk menawarkan jalur atau jenjang pendidikan kepada masyarakat.

5. Fasilitas Pendidikan

Gedung megah dan ber-AC saja tidak cukup untuk menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang baik. Bukan (hanya) itu yang dimaksud dengan fasilitas pendidikan. Fasilitas seperti laboratorium (komputer, akuntansi, bahasa, dan lain-lain), bengkel, studio dan perpustakaan sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai wawasan keilmuannya saja, tetapi juga bagaimana menerapkannya di lapangan. Apalagi untuk jalur pendidikan profesional yang lebih bersifat aplikatif dan menekankan pada ketrampilan. Jangan hanya tampilan fisik yang ditawarkan oleh PTS. Jumlah mahasiswa yang harus menggunakan fasilitas tersebut juga harus diperhitungkan.

Sehubungan dengan tantangan yang semakin tinggi dalam persaingan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi teknologi saat ini, PTS perlu memperhatikan masalah yang dihadapi dalam meningkatkan relevansi dan kualitas pendidikan tamatan perguruan tinggi, sebagai berikut:

1. Proporsi tenaga pengajar tetap berkualifikasi S-2/S-3 dengan memadai sehingga dapat menghasilkan lulusan S-1 dan diploma yang baik secara merata di antara perguruan tinggi;

2. Perimbangan peserta program S-1 terhadap peserta program diploma belum sepadan dengan keperluan dunia kerja;

3. Belum ada kesepadanan meliputi sistem secara keseluruhan antara bidang keahlian dan kemampuan lulusan dengan tuntutan dunia kerja;

  1. Belum memadainya upaya terencana dalam mengembangkan program studi terpilih di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis untuk menyongsong era pasar terbuka;
  2. Fraksi pengajaran melalui praktikum masih rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi di negara yang maju.

KESIMPULAN

1. Jumlah dosen berpengaruh negatif terhadap jumlah program studi Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa semakin banyak program studi maka jumlah dosen yang mengajar di suatu PTS tidak langsung oleh peningkatan jumlah dosen yang semakin banyak. Pengaruh negatif dari jumlah dosen terhadap jumlah program studi tidak signifikan pada a 10 %.

2. Uang kuliah berpengaruh negatif terhadap jumlah program studi pada Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara. Hal ini sesuai dengan asumsi umum bahwa semakin tinggi uang kuliah maka minat mahasiswa terhadap program studi cenderung menurun sehingga pada akhirnya jika jumlah mahasiswa tidak mencukupi maka program studi tersebut akan ditutup atau dikurangi. Pengaruh negatif dari uang kuliah terhadap program studi tidak signifikan pada a 10 %.

3. Akreditasi (AK) berpengaruh positif terhadap program studi. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa semakin banyak program studi pada suatu PTS maka akreditasi akan semakin meningkat. Pengaruh positif dari akreditasi terhadap jumlah program studi pada PTS di Sumatera Utara signifikan pada a 1 %.

4. Penawaran jasa pendidikan tinggi oleh PTS di Sumatera Utara dalam bentuk program studi, dipengaruhi secara bersama-sama oleh jumlah dosen, uang kuliah dan akreditasi sebesar 94,06 %. Pengaruh tersebut signifikan pada taraf 99 %.

SARAN

1. Persaingan yang tinggi dalam penawaran jasa pendidikan tinggi saat ini menyebabkan PTS menentukan program studi yang sesuai dengan permintaan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka program-program studi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga semakin banyak alumni yang memperoleh pekerjaan setelah selesai kuliah.

2. Kondisi riil Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara saat ini adalah tingginya ketergantungan PTS terhadap dosen-dosen tidak tetap, yang pada umumnya diperoleh dari Perguruan Tinggi Negeri. Sehubungan dengan hal tersebut, hendaknya PTS meningkatkan kualifikasi dosen tetap ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

3. Sangat dimungkinkan terjadinya penurunan permintaan jasa Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Utara karena berbagai hal. Oleh karena itu hendaknya PTS meningkatkan relevansi dan kualitas pendidikan sarjana dan lulusan melalui kesepadanan meliputi sistem secara keseluruhan antara bidang keahlian dan kemampuan lulusan dengan tuntutan dunia kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Sritua. 1993. Metodologi Penelitian Ekonomi. UI-PRESS, Jakarta.

Asian Development Bank (ADB) bekerjasama dengan Universitas Hongkong. 1998. Financing of Education in Indonesia.

Bin Shahri, A ‘Azmi. 2003. Faktor Pengaruh Pasaran Pendidikan di IPTS Malaysia: Satu Pandangan. Buletin Jabatan Pendidikan Swasta, Kuala Lumpur Malaysia.

Chakraborty, Kalyan; Baudeb Biswas dan W. Cris Lewis. 1999. Economies of Scale in Public Education: An Econometric Analysis. Economic Research Institute Study Paper #99-11, Departement of Economics, Utah State University.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Model Perhitungan Biaya Satuan Pendidikan Sarjana (S1) Tahun 2002. Biro Keuangan Sekretariat Jenderal Depdiknas R.I., Jakarta.

_________, 2004. Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2003/2004. Pusat Data dan Informasi Pendidikan, Balitbang–Depdiknas, Jakarta. www.depdiknas.go.id.

Gujarati, Damodar dan Sumarno Zain. 2004. Ekonometrika Dasar. Erlangga, Jakarta.

Kopertis Wilayah I Sumatera Utara, 2005. Daftar Perguruan Tinggi Swasta Kopertis Wilayah I (Keadaan Desember 2004). Departemen Pendidikan Nasional, Kopertis Wilayah I, Medan.

Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Erlangga, Jakarta.

Long, Juriah; Raja Fauzi Raja Musa, Zarin Ismail, dan Hamidah Yamat Ahmad. 2001. Keperluan Pendidikan Bahasa Melayu di Institusi Pendidikan Tinggi Swasta. Jurnal Pendidikan 26 (2001) 21-36.

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, Sekretariat Negara RI, Jakarta, 1999.

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Badan Hukum, Sekretariat Negara RI, Jakarta, 1999.

Tatiana, A. Endang dan Budi W. Soetjipto. 2005. Model Prestasi Akademik Mahasiswa: Potensi Akademik dan Gaya Belajar. Manajemen Usahawan Indonesia, No. 03/TH.XXXIV April.

Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh, Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Toyamah, Nina dan Syaikhu Usman. 2004. Alokasi Anggaran Pendidikan di Ero Otonomi Daerah : Implikasinya terhadap Pengelolaan Pelayanan Pendidikan Dasar. SMERU, smeru@smeru.or.id. Juni.

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dan AMANDEMEN 1999 – 2001 (PERUBAHAN I, II, III, IV), Sekretariat Jenderal MPR, Jakarta, 2002.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Sekretariat Negara RI, Jakarta, 2003.

Vanany, Iwan; Naning Wessiani dan Yuning. 2005. Perancangan dan Pengukuran Kepuasan Mahasiswa di Perguruan Tinggi : Studi Kasus ITS. Manajemen Usahawan Indonesia, No. 03/TH.XXXIV April.

Wardhana, Bram D, 2005, Tips Memilih PTS yang Baik, PTS Online, Semarang. http://www.pts.co.id/

Yussof, Ishak. 2003. Pelaburan Pendidikan Tinggi : Analisis Perbandingan IPTA-IPTS di Malaysia. Jurnal Pendidikan 28 (2003) 33 – 46.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar