Sabtu, 01 Mei 2010

PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL DAN RESIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA

PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL DAN RESIKO SISTEMATIK
TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA

Zulkifli Harahap, Agusni Pasaribu

Abstrak : Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor fundamental yang diwakili rasio ROA, DER dan BVS serta resiko sistematis yang diwakili Beta saham terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan kontribusi kepada Investor agar dapat melakukan investasi dengan lebih bijaksana dengan melakukan pengamatan terhadap kinerja emiten yang didasarkan pada informasi laporan keuangan dan harga saham, Bagi Emiten dapat mengamati kinerja perusahaannya dengan melihat pengaruh dari perubahan harga saham dan hasil analisis rasio keuangan, Sedangkan bagi akademisi, penelitian ini dapat digunakan untuk menambah wawasan mengenai penelitian pengaruh rasio keuangan dan risiko sistematis terhadap harga saham. Objek penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarja sejak tahun 2002 – 2005 serta aktif menerbitkan laporan keuangan selama tahun pengamatan yaitu sebanyak 120 perusahaan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil dokumentasi laporan keuangan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan diolah menggunakan uji statistik regresi linier berganda dengan alat SPSS 11.5. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa faktor fundamental dan resiko sistematis secara simultan mempengaruhi harga saham, namun secara parsial BVS dan Beta saham yang berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham, sedangkan ROA dan DER tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.

Kata kunci : faktor fundamental, resiko sistematis, harga saham sektor manufaktur.


PENDAHULUAN
Salah satu fungsi utama pasar modal adalah sebagai sarana untuk memobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor yang melaksanakan investasi. Syarat utama yang diinginkan oleh investor untuk bersedia menyalurkan dananya melalui pasar modal adalah perasaan aman akan investasinya. Usman dan Barus (1989) mengatakan Perasaan aman ini diantaranya diperoleh karena para investor mendapatkan informasi yang jelas, wajar, dan tepat waktu sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasinya,
Pasar modal memiliki sejumlah sifat khas apabila dibandingkan dengan pasar yang lain. Salah satu sifat khas adalah adanya ketidak pastian akan kualitas produk yang ditawarkan. Untuk mengurangi ketidak pastian tersebut investor memerlukan informasi akuntansi untuk menilai resiko yang melekat dalam investasi dan memperkirakan return yang akan diperoleh dari investasi tersebut.
Laporan keuangan sebagai hasil akhir dari proses akuntansi dirancang untuk menyediakan kebutuhan informasi bagi calon investor, kreditor dan pemakai eksternal lainnya untuk pengambilan keputusan investasi, kredit dan keputusan lain. Serangkaian pengujian telah dilakukan untuk menguji reaksi pasar terhadap pengumuman laporan keuangan. Penelitian eksploratif yang dilakukan oleh Handa P. & Linn S. C. (1993) menunjukkan bahwa laporan keuangan masih dipandang sebagai informasi yang cukup penting oleh para investor di Bursa Efek.
Analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan resiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan. Makna dan kegunaan rasio keuangan dalam praktek bisnis pada kenyataannya bersifat subjektif tergantung kepada untuk apa suatu analisis dilakukan dan dalam konteks apa analisis tersebut diaplikasikan Helfert (1991).
Analisis Fundamental secara terperinci lebih memfokuskan pada laporan keuangan perusahaan. Tujuannya adalah untuk mendeteksi perbedaan harga pasar sekuritas dengan nilai instrinsiknya. Berkaitan dengan hal ini Fuller (1987) mengemukakan bahwa dengan pendekatan fundamental, setiap sekuritas mempunyai nilai instrinsik yang dapat ditentukan berdasarkan fundamental perusahaan, misalnya; laba, deviden, struktur modal, ratio dan potensi pertumbuhan perusahaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai instrinsik adalah nilai fundamental yang mencerminkan nilai perusahaan yang sebenarnya, James C (2000).
Faktor fundmental yang sering digunakan untuk memprediksi harga saham atau return saham adalah rasio keuangan dan rasio pasar. Rasio keuangan yang berfungsi untuk memprediksi harga saham antara lain : ROA (Return On Assets), DER (Debt Equity Ratio) , BVS ( Book Value per Share). Rasio pasar yang sering dikaitkan dengan harga atau return saham adalah DER (Price Book Value). Resiko Sistematis adalah faktor- faktor resiko yang mempengaruhi pasar secara keseluruhan, sedangkan menurut Sparta (2000) mendefinisikan risiko sistematis sebagai bagian dari perubahan aktiva yang dapat dihubungkan kepada faktor umum yang juga disebut sebagai risiko pasar atau risiko yang tidak dapat dibagi. Menurut Robert Ang (1997) Risiko sistematis merupakan tingkat minimum risiko yang dapat diperoleh bagi suatu portofolio melalui diversifikasi sejumlah besar aktiva yang dipilih secara acak. Risiko tidak sistematis adalah risiko yang unik bagi perusahaan, seperti pemogokan kerja oleh pekerja perusahaan, bencana alam yang menimpa perusahaan, dan lain-lain sejenisnya.
Besarnya resiko sistematis dapat diukur dengan indeks resiko sistematis yang sering disebut Beta saham. Beta saham mengukur sensitivitas pengembalian saham dengan perubahan pengembalian dalam portofolio pasar. Beta portofolio adalah rata-rata tertimbang dari setiap beta saham dalam portofolio tersebut, Francis (1988)

PERUMUSAN MODEL
Untuk keperluan penelitian ini penulis menggunakan faktor yang berkaitan dengan earnings, dan risiko ( risiko sistematis ), dengan menggunakan model :
Harga saham P0 = f { ROA, DER, BVS, RISK }
Model ini dianalisis dengan analisa regresi yang menggunakan persamaan kuadrat terkecil (least square regression analysis), sehingga model yang akan dipakai adalah sebagai berikut :
P0 = a + b1 ROA - b2 DER + b3 BVS - b4 Beta Saham+ e
Dimana :
P0 adalah perkiraan harga saham
a adalah konstanta
b1 – b4 adalah koefisien regresi untuk masing-masing variabel
ROA adalah Return On Assets
DER adalah Debt to Equity Ratio
BVS adalah Book Value per Share
e adalah kesalahan pengganggu
PENGUJIAN NORMALITAS DAN ASUMSI KLASIK
Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan model yang disampaikan diatas, maka sesuai dengan syarat metode Ordinay Least Square (OLS), terlebih dahulu akan dilakukan pengujian normalitas dan asumsi klasik yang menurut Gujarati, alih bahasa Sumarno Zain (1995) akan meliputi pengujian multicollinearity, heteroschedasticity, dan autocorrelation.

PENGUJIAN MODEL
Setelah pengujian asumsi klasik dilakukan dan diuji kebenarannya, maka dalam analisis juga akan dilakukan uji model (goodness of fit) dengan data yang ada sehingga diyakini bentuk persamaan/model yang pasti.
Dari persamaan dengan model tersebut akan dapat dihitung R2 atau coefficient of determination yang menunjukkan persentase dari variasi variabel harga saham yang mampu dijelaskan oleh model. Selanjutnya, dengan membandingkan besarnya nilai R2 untuk masing-masing variabel rasio keuangan dapat diketahui faktor terpenting atau dominan yang menentukan pengaruhnya kepada harga saham.

PENGUJIAN HIPOTESIS
Setelah dilakukan uji asumsi klasik terhadap data, selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Untuk membuktikan hipotesis pertama dan kedua maka digunakan alat uji sebagai berikut :

1. Uji - t
Nilai-nilai koefisien regresi dalam persamaan regresi merupakan hasil perhitungan berdasarkan sampel yang terpilih. Oleh karena itu, disamping uji-uji yang dilakukan diatas, juga dilakuan uji-t untuk masing-masing nilai koefisien regresi dalam persamaan regresi. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.
2. Uji – F
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara bersama-sama variabel independent terhadap variabel dependent. Pengambilan keputusannya dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel. Bila nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel maka dapat disimpulkan bahwa variabel independent dalam model mempengaruhi variabel indepen.

PERUSAHAAN SAMPEL.
Pada penelitian ini, dari jumlah populasi peusahaan manufaktur yaitu 138 perusahaan, yang memenuhi kriteria (karakteristik) untuk dijadikan objek penelitian sebanyak 120 perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang terpilih karena memenuhi kreteria sampel, yaitu (1) Terdaftar (listing) di Bursa Efek Jakarta dalam periode 2002-2005, (2) Selalu melaporkan laporan keuangan triwulan pada tahun pengamatan.

DESKRIPSI VARIABEL
Penelitian ini mengamati 1 (satu) variabel terikat (Dependen Variable) yaitu variabel Harga Saham (Y) dan 4 (Empat) variabel bebas (Independen Variable) yaitu variabel Return On Investment/ROA (X1), variabel Debt to Equity Ratio/ DER (X2), variabel Book Value perShare/BVS (X3), dan variabel Beta Saham, (X4). Informasi semua variabel diambil berdasarkan laporan keuangan Triwulan selama tahun 2002 - 2005, yaitu sebanyak 15 laporan keuangan, karena pada tahun 2005 laporan keuangan pada Triwulan ke-empat belum terpublikasi.
Analisa Deskriptif semua variabel baik variabel bebas maupun variabel terikat adalah sebagai berikut:

Variabel Return On Assets/ ROA (X1)
Dari hasil olahan datadapat disimpulkan bahwa rata-rata ROA terbesar ada pada triwulan II tahun 2002 yaitu 0.136242, hal ini berarti pada triwulan II tahun 2002 kondisi rata-rata laba perusahaan sampel dibandingkan total aset mencapai nilai terbaik. Sedangkan nilai standart deviasi yang terbesar adalah pada Triwulan II tahun 2004 dengan nilai standart deviasi sebesar 0.459098. hal ini berarti bahwa pada Triwulan II tahun 2004 nilai ROA semua perusahaan sampel paling bervariasi dengan nilai terbesar 0.5730 dan yang nilai terkecil – 4, 64. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kondisi ROA perusahaan sampel sangat berfluktuasi.

Debt to Equity Ratio/ DER (X2).
Dari hasil olahan data pada tabel IV.3. dapat disimpulkan bahwa rata-rata DER terbesar ada pada triwulan IV tahun 2003 yaitu 8.0958, hal ini berarti pada triwulan IV tahun 2003 kondisi rata-rata ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luar dalam bentuk hutang perusahaan sampel paling besar. Sedangkan nilai standart deviasi yang terbesar juga pada Triwulan IV tahun 2003 dengan nilai standart deviasi sebesar 57.60453. hal ini berarti bahwa pada Triwulan IV tahun 2003 nilai DER semua perusahaan sampel paling bervariasi dengan nilai terbesar 608.05 dan yang terkecil –7.15. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kondisi DER perusahaan sampel sangat berfluktuasi.

Book Value perShare/BVS (X3).
Dari hasil olahan data pada tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa rata-rata BVS terbesar ada pada triwulan IV tahun 2003 yaitu 1684.599, hal ini berarti pada triwulan IV tahun 2003 kondisi rata-rata nilai modal sendiri dibandingkan jumlah saham mencapai nilai terbaik. Sedangkan nilai standart deviasi yang terbesar adalah pada Triwulan I tahun 2002 dengan nilai standart deviasi sebesar 5923.99. hal ini berarti bahwa pada Triwulan II tahun 2003 nilai BVS semua perusahaan sampel paling bervariasi dengan nilai terbesar 1640.41 dan yang terkecil –10.917.33. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kondisi BVS perusahaan sampel sangat berfluktuasi.

Beta Saham (X4)
Dari hasil olahan data pada tabel 4.5 dapat disimpulkan bahwa rata-rata Beta Saham terbesar ada pada triwulan III tahun 2003 yaitu 11.466, hal ini berarti pada triwulan III tahun 2003 kondisi rata-rata Resiko saham perusahaan sampel paling besar. Sedangkan nilai standart deviasi yang terbesar adalah pada triwulan IV tahun 2002 dengan nilai standart deviasi sebesar 100.08. Hal ini berarti bahwa pada triwulan IV tahun 2002 nilai Beta saham semua perusahaan sampel paling bervariasi dengan nilai terbesar 998.63 dan yang terkecil –274.31. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kondisi Beta saham perusahaan sampel sangat berfluktuasi.

Harga Saham.
Dari hasil olahan data pada tabel 4.6. dapat disimpulkan bahwa rata-rata Harga Saham terbesar ada pada triwulan III tahun 2005 yaitu Rp. 3477.55, hal ini berarti pada triwulan III tahun 2005 kondisi rata-rata transaksi saham perusahaan sampel harganya paling besar. Sedangkan nilai standart deviasi yang terbesar adalah juga pada triwulan III tahun 2005 dengan nilai standart deviasi sebesar 8939.89. Hal ini berarti bahwa pada triwulan III tahun 2003 nilai harga saham semua perusahaan sampel paling bervariasi dengan harga saham terbesar Rp. 63.000 yaitu saham PT. Aqua Golden Missisipi Tbk dan yang terkecil Rp. 20 yaitu saham PT Kasogi Internasional Tbk. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kondisi harga saham perusahaan sampel sangat berfluktuasi.

Pengujian asumsi klasik
Setelah variabel harga saham (Y) ditransformasi menggunakan logaritma natural (LN) dan dilakukan first difference untuk semua variabel maka diperolehlah model persamaan regressi yang memenuhi semua asumsi klasik atau BLUE (Best Linear Unbiased Estimation).
(lnYt-lnYt-1) = 1-0+1(X1t-X1t-1)+2(X2t-X2t-1)+3(X3t-X3t-1)+4(X4t-X4t-1) + 
Maka :
Y* = *0 + 1X*1 + 2X*2 + 3X*3 + 4X*4 + 
Dimana :
Y* = (lnYt-lnYt-1)
*0 = 1-0
1X*1 = 1(X1t-X1t-1)
2X*2 = 2(X2t-X2t-1)
3X*3 = 3(X3t-X3t-1)
4X*4 = 4(X4t-X4t-1)

Setelah memenuhi asumsi klasik atau BLUE maka barulah persamaan tersebut dapat diinterpretasi dan dapat mencerminkan kondisi pengaruh Faktor Fundamental dan Resiko Sistematis terhadap harga Saham. Analisis uji asumsi klasik adalah sebagai berikut:

Normalitas.
Normalitas yang menggambarkan normal tidaknya sebuah distribusi data akan memepengaruhi jenis analisis data yang dipakai, dan regressi linear adalah alat analisis yang harus memenuhi asumsi ini. cara yang dapat digunakan untuk menentukan distribusi data normal atau tidak, adalah menggunkan histogram. Jika distribusi data dalam bentuk diagram batang mengikuti pola distribusi normal maka asumsi normalitas terpenuhi.
Gambar 1.
Histogram Normalitas

Multikollinearitas
Uji ini dilakukan untuk menunjukkan ada tidaknya korelasi yang besar diantara variable bebas. Untuk mendeteksi adanya gejala multikolierinitas dapat dilakukan dengan uji collinearity statistic, Pedoman pengambilan keputusan sebagai berikut :
1. Jika Variance Inflation Factor (VIF) > 5 aka terdapat persoalan multikolierinitas diantara variable bebas.
2. Jika Variance Inflation Factor (VIF) < 5 maka tidak terdapat persoalan multikolierinitas diantara variable bebas. Nilai VIF untuk kesemua variabel dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut :

TABEL 2. UJI ULTIKOLLINEARITAS COEFFICIENTS

Model VIF
1 (Constant)
ROA 1.000
DER 1.000
BVS 1.001
BETA 1.001
Dependent Variable: Harga Saham

Dari Tabel diatas, terlihat bahwa variabel independen mempunyai angka VIF dibawah angka 5. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa regresi yang dipakai tidak terdapat persoalan multikolinieritas.

Autokorelasi
Asumsi ini dapat dilihat menggunakan indikator nilai durbin watson. Niai durbin watson yang menyatakan tidak terjadinya autokorelasi adalah jika du



TABEL 3. UJI AUTOKORELASI
Durbin-Watson
Model
1 1.877

Predictors: (Constant), BETA, DER, ROA, BVS Dependent Variable: HARGA SAHAM

Heterokedastisitas.
Uji ini dilakukan untuk menunjukkan penyebaran varians gangguan.heteroskedastisitas terjadi bila varians gangguan berbeda dari satu observasi ke observasi lainnya (Ananta, 1987). Deteksi dapat dilakukan dengan menggunakan uji metode grafis yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu yang tergambar pada scattplot. Pedoman pengambilan keputusan :
a. Jika ada pola tertentu maka terjadi heterokedasitas.
b. Jika tidak ada pola tertentu maka tidak terjadi heterokedasitas.

Gambar 2
Scatterplot Heterokedastisitas

Pada gambar di atas dapat terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y. hal ini berarti tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai.
Analisa Persamaan Regresi
Analisa persamaan regresi variabel independen terhadap variabel dependen dapat diketahui pada tabel 4.13.

TABEL 8. KOEFISIEN REGRESI

Unstandardized Coefficients
Model B
1 (Constant) .818
ROA 8.258E-03
DER -3.173E-04
BVS 1.388E-04
BETA -1.142E-03
Dependent Variable: HARGA SAHAM

Berdasarkan tabel 4.13 di atas, maka model analisis regresi beganda antara variabel X terhadap Y dapat diformulasikan dalam model persamaan sebagai berikut :

lnY = 0,818 + 0,008258 X1 – 0,000317 X2 +
0,000138 X3 – 0,00114 X4 + e

Dari hasil persamaan regresi linier berganda tersebut, masing-masing variabel independen yang berpengaruh secara signifikan dapat diinterprestasikan pengaruhnya terhadapa Harga Saham sebagai berikut :
1. BVS (X3) memiliki koefisien bertanda positif sebesar 0.000138, hal tersebut berarti apabila nilai koefisien regresi variabel lainnya tetap (tidak berubah), maka perubahan BVS sebesar Rp. 1 perlembar saham akan meningkatkan Harga Saham sebesar Rp. 1.00032.
2. BETA (X4) memiliki koefisien bertanda negatif sebesar 0.00114, hal tersebut berarti apabila nilai koefisien regresi variabel lainnya tetap (tidak berubah), maka perubahan BETA sebesar 1% akan menurunkan Harga Saham sebesar Rp. 1.0026.



KESIMPULAN
1. Hasil dari pengujian untuk hipotesis pertama (H1), Pengujian parsial antara variabel ROA terhadap Harga Saham. Dari hasil pembahasan membuktikan bahwa ROA berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Hal ini dapat dibuktikan dengan diperoleh hasil signifikan t pengaruh variabel ROA sebesar 0.000, dimana signifikan t lebih kecil dari α = 0,05. hal tersebut berarti bahwa H01 ditolak sedangkan Ha1 diterima.
2. Hasil Pengujian untuk hipotesis kedua (H2), pengujian parsial antara variabel DER terhadap Harga Saham. Dari hasil pembahasan mnembuktikan bahwa DER berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Hal ini dapat dibuktikan dengan diperoleh hasil signifikan t pengaruh variabel DER sebesar 0.005, dimana signifikan t lebih kecil dari α = 0,05. hal tersebut berarti bahwa H01 ditolak sedangkan Ha1 diterima.
3. Hasil Pengujian untuk hipotesis ketiga (H3), pengujian parsial antara variabel BVS terhadap Harga Saham. Dari hasil pembahasan membuktikan bahwa BVS berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Hal ini dapat dibuktikan dengan diperoleh hasil signifikan t pengaruh variabel BVS sebesar 0.000, dimana signifikan t lebih kecil dari α= 0,05. hal tersebut berarti bahwa H01 ditolak sedangkan Ha1 diterima.
4. Hasil Pengujian untuk hipotesis keempat (H4), pengujian parsial antara variabel Beta saham terhadap Harga Saham. Dari hasil pembahasan mnembuktikan bahwa Beta Saham berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Hal ini dapat dibuktikan dengan diperoleh hasil signifikan t pengaruh variabel Beta Saham sebesar 0.000, dimana signifikan t lebih kecil dari α = 0,05. hal tersebut berarti bahwa H01 ditolak sedangkan Ha1 diterima.
5. Hasil Pengujian untuk hipotesis kelima (H5), pengujian secara simultan antara variabel ROA, DER, BVS dan Beta saham terhadap Harga Saham. Dari hasil pembahasan mnembuktikan bahwa Faktor Fundamental (ROA, DER, BVS) dan Resiko Sistematis (Beta Saham) secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Hal ini dapat dibuktikan dengan diperoleh hasil signifikan F sebesar 0.000, dimana signifikan t lebih kecil dari α = 0,05. hal tersebut berarti bahwa H01 ditolak sedangkan Ha1 diterima.

SARAN.
1. Investor yang ingin investasi saham di sektor Manufaktur, hendaknya mempertimbangkan faktor fundamental dan psikologi pasar saham secara umum.
2. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperbesar jumlah sampel beberapa sektor industri lainnya atau seluruh emiten yang terdaftar. Sehingga dapat mewakili seluruh industri yang ada di BEJ.
3. Menambah jumlah variabel, sehingga dengan banyaknya jumlah variabel yang dimasukkan akan membuat temuan baru yang lebih baik lagi dan bermanfaat untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan.
4. Hasil penelitian ini mengandung problem autokorelasi, maka pada penelitian selanjutnya sebaiknya problem tersebut diharapkan tidak terjadi dengan menambah lagi jumlah sampel penelitian dan memperpanjang periode penelitian





DAFTAR PUSTAKA
Affandi Untung dan Siddharta Utama. 1998, “Uji Efisiensi Bentuk Setengah Kuat pada Bursa Efek Jakarta”. Jurnal Manajemen Usahawan Indonesia, No. 03, Maret, hal: 42 – 47.
Arif dan Pratisko. 2004, Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan dengan SPSS 12. Penerbit Elex Media Computindo, Jakarta.
Consuelo, Jesus, Twila, Bella dan Gabriel, 1993, Pengantar Metode Penelitian. Terjemahan, Penerbit UI Press, Jakarta.
Clarkson (1996), “On The Diversification, Observability, and Measurement of Estimation Risk”, Journal of Financial and Quantitative Analysis, vol. 31 (1), pp. 69-84.
Fabozzi. 1999, Teori Portopolio dan Pasar Modal, Buku 1, penerbit Erlangga, Bandung
Fakhruddin Hendy M. dan Darmadji Tjiptono, 2000, Pasar Modal Pendekatan Tanya Jawab, Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta
Francis, Jack C. 1988, Management of Investment, 2nd ed., International Editions Financial Series, Singapore: McGraw Hill.
Fuller, Russel J. and Farrell James L.Jr. 1987, Modern Investment and Security Analysis, International Editions Financial Series, Singapore: McGraw Hill.
Gunawan dan Bandi. 2000. “Analisis Kandungan Informasi Laporan Arus Kas". Simposium Nasional Akuntansi III: Ikatan Akuntan Indonesia – Kompartemen Akuntan Pendidik. September: 697 – 718.
Ghozali Imam. 2001, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang
Gitman, Lawrence J. 2003, Principles of Managerial Finance, 10th ed., International Editions Financial Series, Boston: Addison-Wesley.
Halim Abdul dan Sulistyo. 1999, “Aplikasi Clustering, Manova, dan Transformasi Data atas Data Pasar Modal Indonesia”. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 1, No. 3, Desember: 221-236.
Handa, P. & Linn, S. C. 1993, Arbitrage Pricing with Estimation Risk, Journal of Financial and Quantitative Analysis, vol. 28 (1), hal. 81-100.
Haruman Tendi, Stevanus & Maya. 2005 “Pengaruh Faktor Fundamental dan Resiko Sistematis terhadap Tingkat Pengembalian Saham BEJ” Jurnal Manajemen Usahawan Indonesia, Nopember Hal, 26-37
Helfert. 1991, “The Relation Among Capital Markets, Financial Disclosure, Production Efficiency, and Insider Trading”, Journal of Accounting Research, vol. 34 (1), hal.1-22
Jogiyanto. 1998. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Penerbit BPFE UGM, Yogyakarta.
James C, Van Horne, 2005. Fundamental Financial Manajement, 12th ed. Buku 1 edisi 12, Penerjemah Fitriasari Dewi et,al. Penerbit Salemba empat – Jakarta.
Njo Anastasia, 2003. “Analisis Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik terhadap Harga Saham Property di BEJ”. Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 5, No. 2, Nopember 2003: 123 - 132
Nur Fadjrih Asyik. 1999. "Tambahan Kandungan Informasi Rasio Arus Kas". Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2, No. 2, Juli: 230 – 250.
Parawiyati, Ambar Woro Hastuti dan Edi Subiyantoro. 2000. "Penggunaan Informasi Keuangan untuk Memprediksi Keuntungan Investasi bagi Investor di Pasar Modal". Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 3, No. 2, Juli: 214 – 228.
Parawiyati dan Baridwan Zaki. 1998. "Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go-Publik di Indonesia". Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 1, No. 1, Januari: 1 – 11.
Ang Robbert. 1997. Buku Pintar: Pasar Modal Indonesia. Penerbit Mediasoft Indonesia.
Singgih Santoso. 1999. SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Penerbit PT Elex Media Komputindo-Kelompok Gramedia. Jakarta.
Sillalahi. 1991. "Analisis Pengaruh Beberapa Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham: Kasus Industri Manufaktur di BEJ" Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2, No. 3, Januari: 21-33
Sparta. 2000. “ Fundamental & Thecnical factor Analys” The accounting Review, vol. 72 (3), hal. 323-349.
Husnan Suad. 1998. Dasar-dasar Teori Portofolio dan analisis Sekuritas. Penerbit UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
Suharyadi, Purwanto. 2004. Statistika Untuk Ekonomi & Keuangan Modern, Buku I dan buku II, penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Suprodjo. 1990. Manajemen Keuangan, Teori dan Penerapannya, Buku 1, edisi 12, Penerbit BPFE, Yogyakarta
Syahib Natarsyah. 2000. "Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham: Kasus Industri Barang Konsumsi yang Go-Public di Pasar Modal Indonesia". Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 15, No. 3: pp. 294-312.
Teguh Prasetyo. 2000. "Analisa Rasio Keuangan dan Nilai Kapitalisasi Pasar sebagai Prediksi Harga Saham di BEJ pada Periode Bullish dan Bearish". Simposium Nasional Akuntansi III. IAI-Kompartemen Akuntan Pendidik. Agustus: pp. 652-695.
Tri Joko Prasetyo. 2000. “Transfer Informasi Intra-Industri Atas Pengumuman Laba". Simposium Nasional Akuntansi III: Ikatan Akuntan Indonesia – Kompartemen Akuntan Pendidik. September: 506 – 521.
Trisnawati. 1999, "Pengaruh Faktor Fundamental dan faktor eksternal Terhadap Resiko saham: Kasus Industri Aneka Industri yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta". Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 15.
Triyono dan Jogiyanto HM. 2000. "Hubungan Kandungan Informasi Arus Kas, Komponen Arus Kas, dan Laba Akuntansi dengan Harga atau Return Saham". Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 3, No. 1, Januari: 54–68.
Usman dan Barus. 1998, Teori Pengambilan Keputusan Investasi, Edisi Revisi, Penerbit BPFE, Jogjakarta.
Utami Wiwik dan Suharmadi. 1998. "Pengaruh Informasi Penghasilan Perusahaan terhadap Harga Saham di BEJ". Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 1, No. 2, Juli : 255 – 268.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar