Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS TRANSFORMASI STRUKTURAL EKONOMI DI INDONESIA


ANALISIS TRANSFORMASI STRUKTURAL EKONOMI DI INDONESIA

Syafaruddin Saraan1, Ramli2,
Iskandar Syarif3, Rujiman4

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi proses transformasi struktural ekonomi di Indonesia dan sektor apa yang dominan mempengaruhi transformasi ekonomi di Indonesia. Untuk tujuan analisis digunakan data sekunder berupa data time series, 1980 – 2004, yang bersumber dari buku Key Indicator of Developing Asian and Pacific Countries, BPS, dan sumber-sumber lain. Metode analisis dilakukan dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Berdasarkan hasil estimasi, penelitian ini menemukan bahwa sektor pertanian paling potensial bagi Indonesia dalam peningkatan Product Domestic Bruto hal ini ditunjukkan oleh tingkat signifikansi dari variabel jumlah penduduk dan pendapatan perkapita sektoral dimana sektor pertanian adalah sektor menyerap tenaga kerja terbesar bagi Indonesia. Sektor industri sebagai sektor yang tumbuh paling cepat dan mampu dalam meningkatkan pendapatan perkapita sektoral. Sektor jasa disimpulkan sebagai sektor pendamping bagi sektor pertanian, dimana sektor jasa mampu menyerap tenaga kerja, khususnya sektor jasa informal yang tidak memerlukan keahlian khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi ekonomi sektoral di Indonesia sedang menuju kepada suatu arah transformasi ekonomi sektor dimasa mendatang, yaitu terjadinya tranformasi ekonomi dari sektor pertanian ke sektor industri. Sesuai dengan hasil penelitian, dianggap perlu untuk melakukan kajian ulang terhadap masalah yang sama dengan penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode pendekatan serta konsep peninjauan yang berbeda tetapi didalam tujuan empiris serta manfaat penelitian secara meluas dan mendalam.

Kata Kunci : Transformasi ekonomi, PDB, sektor pertanian, sektor industri, sektor jasa.



PENDAHULUAN

Transformasi struktur ekonomi merupakan suatu rangkaian perubahan yang terkait satu dengan yang lainnya, maka transformasi ekonomi ke arah positif akan terjadi jika saja perencanaan dan kebijakan pembangunan ekonomi telah berjalan sebagaimana mestinya dan harus disertai dukungan dari masyarakat sebagai objek dari transformasi itu sendiri, dan merupakan hal penting untuk tercapainya transformasi ekonomi tersebut.
Transformasi dalam komposisi permintaan agregat seperti peningkatan pendapatan masyarakat, penawaran agregat seperti produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi (perubahan teknologi, peningkatan sumber daya manusia, dan penemuan material-material untuk produksi). Maka proses perubahan struktur ekonomi sering juga disebut sebagai proses industrialisasi.
Transformasi struktural ekonomi dapat terjadi dalam pertumbuhan maupun penurunan. Transformasi strutural ekonomi yang diinginkan tentu saja ke arah yang positif, yaitu ditandai dengan pergeseran kontribusi dari sektor pertanian ke sektor industri dan dari sektor industri ke sektor jasa terhadap Product Domestic Bruto. Hal ini disadarkan pada tujuan dari peningkatan ekonomi dan pembangunan ialah harus dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, karena kesejahteraan rakyat merupakan tujuan utama pembangunan bagi suatu negara.
Oleh karena pembangunan ekonomi dipandang sebagai suatu proses akan adanya saling keterkaitan atau saling mempengaruhi antara faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pembangunan, maka keadaan sekarang dapat dijadikan sebagai acuan untuk pertimbangan perencanaan pembangunan dimasa yang akan datang.
Menurut World Bank (2004), sektor perekonomian terdiri dari sepuluh sektor yaitu: sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industri, sektor energi, gas dan air, sektor konstruksi, sektor perdagangan, sektor transportasi dan komunikasi, sektor keuangan, sektor jasa administrasi dan sektor lain-lain. Akan tetapi dalam penelitian ini kesepuluh sektor ekonomi tersebut hanya tiga sektor ekonomi yang akan diteliti yaitu: Sektor Pertanian, terdiri dari sub sektor pertanian, tanaman pangan. Perkebunan perikanan dan tambak, peternakan, ke hutanan dan pertambangan. Sektor Industri terdiri dari industri pengolahan, listrik dan air bersih dan bangunan. Sektor Jasa terdiri dari perdagangan, hotel. transfortasi, keuangan dan jasa-jasa lain yang dikelompokkan sebagai sektor jasa dalam PDB)
Tujuan pembangunan nasional adalah mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melebihi dari laju pertumbuhan penduduk, disamping dua tujuan pembangunan lainnya yaitu pemerataan hasil-hasil pembangunan dan stabilitas nasional. Ketiga unsur tersebut merupakan trilogi pembangunan yang telah tertuang dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Selanjutnya pembangunan ekonomi makro memakai pendekatan sektoral dengan target peningkatan produksi setiap sektoral yang dapat menggambarkan pertumbuhan ekonomi. Sektor pertanian masih berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dilihat karena, sebagian besar penduduk Indonesia masih bekerja pada sektor pertanian, kemudian diikuti bekerja pada sektor industri dan terakhir dikuti bekerja pada sektor jasa.
Pertumbuhan ekonomi menjadi tolok ukur dari keberhasilan pembangunan, dimana laju pertumbuhan ekonomi harus jauh lebih besar daripada laju pertumbuhan penduduk, tujuannya agar pendapatan Perkapita masyarakat dapat lebih meningkat. Pertumbuhan ekonomi tersebut harus dinikmati oleh seluruh masyarakat, baik terjadi dengan sendirinya maupun oleh campur tangan dari pemerintah.
Untuk melihat perubahan ekonomi tersebut secara riil dari jangka waktu tahun ke tahun akan tergambar melalui besarnya Product Domestic Bruto, yaitu perubahan peningkatan menunjukkan perekonomian positif, dan sebaliknya jika perubahan penurunan pada Product Domestic Bruto menunjukkan perekonomian negatif.
Disamping pembangunan ekonomi bersifaat fisik seperti pembangunan jalan, pembangunan prasarana dan sarana umum, pembangunan non fisik juga sangat penting untuk ditindak lanjuti. Pembangunan non fisik ini sangat penting artinya dalam menjaga keberlanjutan dari hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai.
Pembangunan ekonomi jangka panjang, harus mengikuti pertumbuhan pendapatan nasional, dari pertumbuhan pendapatan nasional tersebut diharapkan akan meningkatkan pendapatan Perkapita, dan dari peningkatan pendapatan Perkapita tersebut akan membawa suatu perubahan yang harus dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Perubahan struktural ekonomi dari tradisional dengan pertanian sebagai sektor utama ke ekonomi modern, yang didominasi oleh sektor-sektor non primer, khususnya industri manufaktur dengan increasing returns to scale (relasi positif antara pertumbuhan output dan pertumbuhan produktifitas) yang dinamis sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi, Weiss dalam Tambunan, (2001).
Perubahan pada struktur ekonomi akan terkait dengan lainnya, misalnya dari komposisi permintaan agregat seperti peningkatan pendapatan masyarakat, dan dari penawaran agregat seperti produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi (perubahan teknologi, peningkatan sunber daya manusia dan penemuan material baru untuk produksi).
Proses perubahan struktural eknomi sering juga diartikan sebagai proses industrialisasi. H.B. Chenery (1970) mengatakan bahwa; meskipun pelaksanaannya sangat bervariasi antar negara, namun industrialisasi merupakan tahapan logis dalam proses perubahan struktural ekonomi.
Tahapan ini diwujudkan secara historis melalui kenaikan kontribusi sektor manufaktur dalam permintaan konsumen, total Product Domestic Bruto, ekspor dan kesempatan kerja. Secara hipotesis dapat dikatakan bahwa ada suatu korelasi positif antara perubahan struktural ekonomi, dimana industri manufaktur semakin dominan yang mencerminkan tingkat
Sumber, Tulus Tambunan, (2001 : 65)

Gambar 1. Perubahan Sturktur Ekonomi Dalam Proses Pembanguan Ekonomi

Dilihat dari peningkatan kontribusi sektor industri dan jasa terhadap pendapatan nasional yang terus meningkat setiap tahunnya, perubahan struktur ekonomi di Indonesia sudah mulai terjadi. Namun perubahan yang terjadi dalam struktur perekonomian Indonesia menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti.
Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah konteks perubahan struktur ekonomi di Indonesia mengikuti pola perubahan struktur ekonomi dalam proses pembangunan, yang dituangkan dalam bentuk penulisan tesis dengan judul “Analisis Transformasi Struktural Ekonomi di Indonesia”.

RUMUSAN MASALAH
Dari uraian yang telah di paparkan di atas, maka permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini ialah:
Apakah jumlah penduduk dan pendapatan perkapita berpengaruh signifikan terhadap transformasi struktur ekonomi pada sektor pertanian, sektor industri dan sektor jasa di Indonesia.

TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi proses transformasi struktural ekonomi di Indonesia.
1. Untuk mengetahui sektor apa yang dominan mempengaruhi transformasi ekonomi di Indonesia.

MANFAAT PENELITIAN
1. Sebagai bahan pertimbangan atau masukan atas kebijakan yang pernah ditetapkan para pengambil keputusan, supaya dapat menentukan arah kebijakan baru atau meningkatkan kebijakan-kebijakan yang telah ada.
2. Sebagai bahan acuan atau referensi bagi peneliti berikutnya terutama yang berminat dalam masalah transformasi struktural ekonomi dengan ruang lingkup dan kajian yang berbeda.
3. Sebagai kajian dibidang ilmu ekonomi sub disiplin ilmu ekonomi pembangunan sekaligus melengkapi penelitian yang telah ada.
4. Menambah khasanah ilmu pengtahuan khususnya perihal memahami pola transformasi struktural ekonomi yang akan terjadi di Indonesia.

PERGESERAN STRUKTUR EKONOMI DI INDONESIA
Struktur produksi Indonesia yang diamati sejak tahun 1971 sampai tahun 1988 mengalami pergeseran. Pada tahun 1971, peranan sektor primer dalam GDP sangat dominan dengan persentasenya hampir 60 persen, sedangkan sektor sekunder berperan kecil dengan persentasenya hanya kurang dari 10 persen. Sumbangan sektor primer tersebut terus menurun dari tahun ke tahun berbarengan dengan semakin meningkatnya peranan sektor industri. Pada tahun 1988 sumbangan sektor primer sekitar 35 persen dan sektor sekunder berperan sekitar 25 persen.
Berbeda dengan struktur produksi, komposisi tenaga kerja tidak mengalami perubahan yang berarti selama dua dekade terakhir. Pada tahun 1971, persentase tenaga kerja yang bekerja di sektor primer sangat tinggi, hampir 70 persen. Persentase tersebut secara perlahan menurun dan pada tahun 1988 menjadi sekitar 55 persen. Menurunnya persentase tenaga kerja di sektor primer tersebut ternyata sedikit sekali yang diserap oleh sektor sekunder. Persentase tenaga kerja di sektor sekunder hanya meningkat sedikit dari 9 persen pada tahun 1971 menjadi 12 persen pada tahun 1988. Di luar harapan, sektor tersier mengalami pertumbuhan yang cepat dalam persentase tenaga kerja, dari 24 persen di tahun 1971 menjadi 36 persen pada tahun 1988.
Pergeseran dari sektor primer ke sektor sekunder dalam struktur produksi di Indonesia tejadi lebih lambat dari pada yang terjadi di 111 negara yang diteliti Chenery dan Syrquin. Titik temuan antara kedua sektor tersebut di 111 negara yang diteliti rata-rata terjadi pada saat GNP Perkapita sekitar $ 360, sedangkan di Indonesia meskipun GNP Perkapita telah mencapai $ 540 pada tahun 1988, titik temu tersebut belum terjadi. Kelambatan tersebut lebih mencolok lagi dalam struktur tenaga kerja. Di 111 negara tersebut titik temu kedua sektor pada struktur tenaga kerja terjadi pada saat GNP Perkapita sekitar $ 760 dengan masing-masing menyerap 30 persen dari keseluruhan tenaga kerja; sementara di Indonesia hingga GNP Perkapita $ 540 pada tahun 1988, titik temu tersebut masih jauh, tenaga kerja yang bekerja di sektor primer masih sangat dominan dengan menyerap sebesar 55 persen sedangkan yang bekerja di sektor primer hanya 12 persen.
Menaiknya peranan sektor sekunder dalam struktur produksi tidak diikuti oleh meningkatnya peranan sektor tersebut dalam struktur tenaga kerja. Peranan sektor sekunder dalam GDP menaik dari hanya 9,5 persen pada tahun 1971 menjadi 25 persen pada tahun 1988, akan tetapi penyerapan tenaga kerja di sektor sekunder hanya meningkat dari 9 persen dari seluruh tenaga kerja pada tahun 1971 menjadi 12 persen pada tahun 1988.
Penyebab kelambatan pergeseran tenaga kerja tersebut diduga adalah adanya perbedaan kualifikasi tenaga kerja yang antara lain meliputi tingkat pendidikan keterampilan, dan sikap nilai antara sektor pertanian dan sektor industri. Sektor industri menuntut kualifikasi tenaga kerja yang lebih tinggi dari pada sektor pertanian. Dari segi pendidikan, sektor industri secara umum mensyaratkan pendidikan yang lebih tinggi daripada sektor pertanian.
Selain pendidikan, keterampilan di sektor industri juga lebih tinggi dari pada sektor pertanian. Perkembangan teknologi di sektor industri jauh lebih cepat dari pada perkembangan teknologi di sektor pertanian sehingga sektor industri menuntut adaptasi keterampilan yang lebih cepat pula terhadap tenaga kerjanya. Demikian pula dengan sikap nilai. Perubahan teknologi yang cepat di sektor industri tersebut menuntut sikap-sikap seperti kerja keras, disiplin, dan kreatifitas yang lebih tinggi daripada sektor pertanian. Hal ini semua menyebabkan sulitnya terjadi perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri.
Perubahan struktur ekonomi yang diikuti dengan perubahan komposisi tenaga kerja ini menimbulkan pergeseran nilai yang berlaku di masyarakat. Pergeseran nilai ini berlangsung dalam bentuk pemantapan nilai-nilai dasar, keagamaan, dan nilai-nilai spiritual lainnya. Di pihak lain, berlangsung penyesuaian nilai-nilai instrumental yang berubah sejalan dengan tahap-tahap pembangunan. Penyesuaian nilai instrumental ini dapat dilihat dalam masyarakat dimana pertanian merupakan kegiatan yang paling utama, masyarakat tidak dituntut untuk selalu menghargai waktu. Sedangkan dalam masyarakat industri dituntut adanya suatu disiplin untuk menghargai waktu. Perubahan nilai ini akan mempengaruhi perubahan prilaku (behavior), yang pada gilirannya akan mengubah sikap (attitude) dan norma-norma dalam masyarakat.
Dalam periode perubahan struktur ekonomi ini akan terjadi juga suatu transisi nilai dimana nilai-nilai lama yang mendukung kehidupan masyarakat pertanian tidak dapat berlaku lagi sementara nilai-nilai baru yang mendukung kehidupan masyarakat industri belum terbentuk mantap. Dalam periode tersebut akan berlangsung suatu proses “transisi yang dapat menimbulkan suatu gejala yang disebut “heteronomi” di mana terdapat”... kenyataan adanya berbagai norma yang sekaligus dianut oleh berbagai-bagai golongan dalam sesuatu masyarakat ...... Pada saat yang bersamaan terjadi juga suatu "anomi" dimana terjadi “... suatu gejala kekaburan norma dalam masyarakat transisi, khususnya dari masyarakat tradisional yang tertutup menuju ke arah masyarakat yang modem dan terbuka”. Kekaburan norma-norma ini menyebabkan warga masyarakat yang bersangkutan tidak punya pedoman yang tegas lagi tentang ukuran-ukuran sosial yang berlaku (Fuad Hasan, 1987).
Secara ringkas, proses pergeseran struktur ekonomi dari masyarakat tradisional yang bertumpu pada sektor pertanian dengan tingkat upah subsisten (hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri) ke masyarakat modem yang bertumpu pada sektor industri yang mempunyai nilai tukar (term of trade) yang lebih tinggi daripada sektor pertanian akan berlangsung dimasa depan. Sektor jasa akan berkembang mendukung kemajuan di sektor industri dan pertanian yang lebih efisien. Pergeseran struktur ekonomi ini akan disusul dengan perubahan komposisi tenaga kerja. Baik pergeserann struktur ekonomi maupun perubahan komposisi tenaga kerja ini akan harus berlangsung dalam suatu proses pergeseran nilai. Kecepatan pergeseran dan perubahan tersebut berkaitan erat dengan kemampuan perturnbuhan ekonomi di satu pihak dan kemampuan penyediaan tenaga kerja yang mendukungnya di pihak lain. Penyiapan tenaga terdidik dan terlatih merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan dalam pengembangan sumberdaya manusia yang mempengaruhi kemampuan penyediaan tenaga kerja.

MODEL ANALISIS
Penelitian ini mengunakan model transformasi pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan oleh Chenery (1970) yaitu:

Vt = β0 + β1Yt + β2Nt + μ

Dari pengembangan model analisis di atas, dan karena angka-angka dalam sektor ekonomi tersebut tergolong besar maka dalam penelitian ini angka-angka sektor ekonomi yang tergolong besar tersebut ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma sehingga menjadi model persamaan semi logaritma sebagai berikut :

TRt = β0 + β1 LogYNt + β2 LogPDDt + μ

Dimana :
TRt = Transformasi Sektor Ekonomi (persen)
LogYNt = Pendapatan Perkapita (juta rupiah)
LogPDDt = Jumlah Penduduk (juta jiwa)
β0 = Konstanta
β1, β2 = Koefisien regresi
μ = Kesalahan pengganggu
t = Menujukkan periode waktu
Dari pengembangan model analisis di atas maka dibentuk model persamaan berdasarkan sektor ekonomi yang akan diteliti, yaitu sektor pertanian, sektor industri dan sektor jasa.
a. Model Transformasi Sektor Pertanian
TRPt = β 0 + β 1 LYNt + β2 LPDDt + μ
Dimana :
TRPt = Transformasi Sektor Pertanian (persen)
LYNt = Pendapatan Perkapita Nasional (juta rupiah)
LPDDt = Jumlah Penduduk (juta jiwa)
β0 = Konstanta
β1, β2 = Koefisien regresi
μ = Kesalahan pengganggu
t = Menujukkan periode waktu
b. Model Transformasi Sektor Industri
TRIt = β0 + β1 LYNt + β2 LPDDt + μ
Dimana :
TRIt = Transformasi Sektor Industri (persen)
LYNt = Pendapatan Perkapita Nasional (juta rupiah)
LPDDt = Jumlah Penduduk (juta jiwa)
β0 = Konstanta
β1, β2 = Koefisien regresi
μ = Kesalahan pengganggu
t = Menujukkan periode waktu
c. Model Transformasi Sektor Jasa
TRJt = β0 + β1 LYNt + β2 LPDDt + μ
Dimana :
TRJt = Transformasi Sektor Jasa (persen)
LYNt = Pendapatan Perkapita Nasional (juta rupiah)
LPDDt = Jumlah Penduduk (juta jiwa)
β0 = Konstanta
β1,β2 = Koefisien regresi
μ = Kesalahan pengganggu
t = Menujukkan periode waktu

METODE ANALISIS
Metode analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Pengujian statistik dilakukan dengan menggunakan uji-t (t-test) dan uji-F (F-test) serta perhitungan nilai koefisien determinasi (R²). Uji-t dimaksudkan untuk mengetahui signifikasi koefisisn statistik regresi secara persial, sedangkan uji-F dimaksudkan untuk mengetahui koefisien statistik regresi secara bersama serta perhitungan nilai koefisien determinasi (R²) bertujuan untuk melihat secara keseluruhan variabel mampu menjelaskan variasi variabel terikat (dependent variable) dan menjelaskan seberapa besar pengaruh kekuatan variabel bebas (independent variable) selama kurun waktu yang diteliti. Sedangkan untuk membantu proses analisis data dan regresi ekonometrika pada penelitian ini digunakan piranti lunak Eviews versi 4.1.

DEFINISI OPERASIONAL
Untuk memudahkan pemahaman terhadap istilah dari variabel yang digunakan pada penelitian ini, maka berikut ini dijelaskan perihal batasan operasional sebagai berikut:
a. Product Domestic Bruto (PDB) adalah jumlah nilai pasar dari pada barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia dalam satu tahun menggunakan harga konstan tahun 2000 (triliun rupiah).
b. Jumlah penduduk adalah jumlah orang yang menetap berdomisili dalam wilayah Negara Indonesia (juta jiwa).
c. Tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang bekerja pada sektor-sektor ekonomi per tahun (orang).
d. Pendapatan per kapita sektoral adalah nilai PDB yang diciptakan sektor ekonomi dibagi tenaga kerja sektor ekonomi yang sama (juta rupiah).
e. Pendapatan perkapita Nasional adalah Total PDB yang diciptakan sektor-sektor ekonomi dibagi Jumlah penduduk atau jumlah orang yang menetap berdomisili dalam wilayah Negara Indonesia (juta jiwa).
UJI PENYIMPANGAN ASUMSI KLASIK
Ada beberapa permasalahan yang bisa terjadi dalam model regresi linier, yang secara statistik permasalahan tersebut dapat mengganggu model yang telah ditentukan, bahkan dapat menyesatkan kesimpulan yang diambil dari persamaan yang terbentuk. Untuk itu maka perlu melakukan uji penyimpangan asumsi klasik, yang terdiri dari :
Uji Multikolinearitas
Interprestasi dari kesamaan regresi linier secara implisit bergantung pada asumsi bahwa variabel-veriabel bebas (X1, X2 dan X3) dalam persamaan tersebut tidak saling berkorelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah multikolinieritas dalam model estimasi dilakukan dengan melihat R2 yang dihasilkan dari estimasi uji koefisien regresi secara parsial. Karena jika dalam sebuah persamaan terdapat multikolinieritas maka akan menimbulkan bias estimasi, untuk itu perlu dideteksi multikolinieritas dengan besar-besaran regresi yang didapat, yakni :
a. Variasi besar (dari taksiran OLS).
b. Interval kepercaayaan lebar (karena variasi besar maka standar error besar sehingga interval kepercayaan lebar.
c. Uji-t (t rasio) tidak signifikan. Suatu variabel bebas yang signifikan baik secara substansi maupun secara statistik jika dibuat regresi sederhana, bisa tidak signifikan karena variasi besar akibat kolinieritas. Bila standar error terlalu besar maka besar pula kemungkinan taksiran koefisien regresi (a – e) tidak signifikan.
d. R2 tinggi tetapi tidak banyak variabel yang signifikan dari uji-t.
e. Terkadang nilai taksiran koefisien yang didapat akan mempunyai nilai yang tidak sesuai dengan substansi, sehingga dapat menyesatkan interpretasi.

UJI AUTOKORELASI
Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu. Dalam konteks regresi, model regresi linier klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi seperti itu tidak terdapat dalam disturbansi atau penggunaan. Dengan menggunakan lambang µ secara sederhana dapat dikatakan model klasik mengasumsikan bahwa unsur gangguan yang berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh unsur disturbansi atau gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lain yang manapun.
Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam model penelitian ini dilakukan
dilakukan dengan d Durbin Watson (Durbin Watson Test) dengan pedoman pengujian sebagai berikut:

Nilai DW berdasarkan Estimasi Model Regresi Kesimpulan
(4 – DWL) < DW < 4 Tolak null hypotesis. Terdapat korelasi serial yang negatif di antara disturbance terms.
(4 – DWL) < DW < 4 – DWL Tidak ada kesimpulan
2 < DW < 4 – DWU Terima null hypotesis
DWU < DW < 2 Terima null hypotesis
DWL < DW < DWU Tidak ada kesimpulan
0 < DW < DWL Tolak null hypotesis. Terdapat korelasi serial yang negatif di antara disturbance terms.
Sumber : Arif, 1993.
UJI LINERITAS
Uji lineritas digunakan untuk melihat apakah spesifikasi modal yang digunakan sudah benar. Apakah fungsi yang digunakan sebaiknya berbentuk liner, kuadrat atau kubik. Apakah suatu variabel baru relepan atau tidak dimasukkan dalam model.
Untuk uji lineritas dalam penelitian ini digunakan Uji Ramsey (Ramsey Reset Test) yaitu dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel. Kriteria keputusan sebagai berikut:
a. Jika nilai F hitung > F tabel, maka hipotesis yang dinyatakan bahwa spesifikasi model digunakan dalam bentuk fungsi liner adalah benar, tidak ditolak.
b. Jika nilai F hitung < F tabel, maka hipotesis yang dinyatakan bahwa spesifikasi model digunakan dalam bentuk fungsi liner adalah benar, ditolak.
UJI HETEROSKEDASTISITAS
Salah satu asumsi dalam model regresi linear berganda adalah varian setiap disturbance term (ui) yang dibatasi oleh nilai tertentu mengenai variabel-variabel bebas adalah berbentuk suatu nilai konstan yang sama dengan 2. Jadi heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan (residual) dari model yang diamati tidak memiliki varian yang konstan dari suatu observasi ke observasi lainnya.
Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dalam model penelitian ini dilakukan dengan menggunakan White Heteroskedastisity Test (White Test), yaitu dengan membandingkan nilai Obs-R² atau X² hitung terhadap X² tabel, dengan kriteria penilaian sebagai berikut :
1. Jika nilai Obs-R² atau X2hitung > X2tabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah heteroskedastisitas dalam model empiris yang digunakan, tidak dapat ditolak.
2. Jika nilai Obs-R² atau X2hitung < X2tabel, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada masalah heteroskedastisitas dalam model empiris yang digunakan, ditolak.

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Pertumbuhan ekonomi pada suatu negara dapat dilihat melalui Product Domestic Bruto (PDB) negara tersebut. Dengan melihat angka PDB pada suatu negara maka dapat diambil beberapa kesimpulan, walaupun angka itu belum bisa sepenuhnya memberikan gambaran dari semua aspek pembangunan yang telah dicapai.
Pengukuran laju pertumbuhan PDB total atau pun per sektor, akan lebih baik jika menggunakan perhitungan dengan berdasarkan harga konstan. Karena dengan menggunakan harga konstan pengaruh naik atau turunnya tingkat harga setiap tahun atau tingkat inflasi dapat dihilangkan sehingga perhitungannya menjadi lebih riil.
Berdasarkan data PDB pada (Lampiran 1) diketahui besar sumbangan dari masing-masing sektor terhadap PDB. Dari tahun 1980 sampai tahun 1988 sektor pertanian memberikan kontribusi yang tertinggi terhadap PDB dibandingkan dengan sektor lain, kemudian disusul sektor industri. Namun pada tahun 1989 terjadi transformasi struktural ekonomi dimana peranan sektor industri lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian, sehingga sektor pertanian sudah merupakan penyumbang nomor dua terhadap PDB. Transformasi pertanian ke industri tersebut terjadi pada saat pendapatan perkapita nasional pada kisaran Rp. 4.925.700,-
Sejak tahun 1989 tersebut sumbangan sektor industri terhadap PDB Indonesia sudah lebih tinggi dibandingkan sektor pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri sudah sangat menentukan dalam struktur perekonomian Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat seperti pada gambar 2. berikut ini:


















Gambar 2. Perubahan Struktural Ekonomi Terhadap PDB Tahun 1980 – 2004

Pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 1997, mengakibatkan menurunnya sumbangan sektor-sektor ekonomi terhadap PDB nasional, sektor ekonomi yang paling mengalami penurunan pada tahun 1998 adalah sektor industri dan sektor jasa yang terdiri dari subsektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan dan sektor penyewaan. Pertumbuhan ekonomi sektor industri pada tahun 1998 minus 11,45 % dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja minus 10,71%, kemudian pertumbuhan ekonomi sektor jasa minus 3,85 %, namun dalam penyerapan tenaga kerja pada sektor jasa masih mengalami pertumbuhan positif sebesar 6,23 %. Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian minus 1,33 % terhadap kontribusi PDB, akan tetapi dalam penyerapan tenaga kerja masih mengalami pertumbuhan positif sebesar 0,11 %. Krisis ekonomi 1997 tersebut telah menyebabkan inflasi yang sangat tinggi pada tahun 1998, sehingga banyak industri yang tutup dan pemutusan hubungan kerja. Krisis ekonomi yang terjadi juga diikuti dengan krisis politik di dalam negeri yang menyebabkan terjadinya gangguan keamanan di berbagai daerah, yang menyebabkan kunjungan wisata mengalami penurunan yang sangat berpengaruh pada sektor hotel dan restoran.
Nilai tukar rupiah yang anjlok juga menyebabkan kepercayaan orang terhadap rupiah menurun, sehingga mempengaruhi sektor keuangan. Pertumbuhan kontribusi masing-masing sektor ekonomi sejak tahun 1980 sampai tahun 2004 terhadap PDB naik dan turun. Pertumbuhan Ekonomi Nasional tahun 1998 minus 13,24 %, tahun 1999 tumbuh kembali sebesar 0,62 %, tahun 2000 naik lagi menjadi 4,86 %, tahun 2001 naik sebesar 3,83 %, tahun 2002, 2003 dan 2004 naik masing-masing sebesar 4,25 %, 4,51 % dan 5,38 % sehingga laju pertumbuhan PDB nasional rata-rata dari tahun 1980 – 2004 sebesar 4,70 % per tahun. Pertumbuhan tertinggi adalah pada sektor listrik, gas dan air yakni 11,32 %, kemudian sektor industri yakni 7,92 %. Laju pertumbuhan sektor jasa rata-rata dari tahun 1980 – 2004 adalah sebesar 4,02 % dan pertumbuhan rata-rata sektor pertanian dari tahun 1980 – 2004 hanya 2,91 %.
Kontribusi sektor industri tetap lebih tinggi walaupun pada tahun 1998 laju pertumbuhan sektor industri mengalami penurunan sebagai akibat terjadinya krisis ekonomi di Indonesia Apa lagi sejak tahun 1999 telah menunjukkan peningkatan kembali, hal tersebut dapat dilihat seperti pada gambar 2. berikut ini:



Gambar 3. Pertumbuhan Kontribusi Sektoral Terhadap PDB dari Tahun 1980 –2004

TENAGA KERJA
Kondisi ketenagakerjaan Indonesia selama tahun 2003 menunjukkan penurunan. Penurunan jumlah penduduk yang bekerja selama tahun 2003 terutama diakibatkan oleh menurunnya jumlah penduduk yang bekerja sebagai karyawan dengan mengharapkan upah atau gaji. Total tenaga kerja Indonesia pada tahun 2003 telah mencapai 91.183 ribu orang, atau telah menurun sebesar 2,13 % dari kondisi tahun 2002. Namun pada tahun 2004 total tenaga kerja Indonesia telah menjadi 93.249 ribu orang, atau meningkat sebesar 2,27 % dari kondisi tahun 2003. Dari jumlah tenaga kerja tersebut sebanyak 67,39 % bekerja pada tiga sektor perekonomian, yaitu pertanian 46,05 %, industri 12,18 % dan jasa 9,17 %. Dari ketiga sektor ekonomi tersebut, sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja yang paling besar. Kondisi ini menunjukkan masih tingginya ketergantungan tenaga kerja terhadap sektor pertanian di Indonesia.
Pada kondisi tahun 2003, jumlah tenaga kerja pada sektor industri dan jasa mengalami penurunan masing-masing 9,77 % dan 1,36 %, sedangkan pada sektor pertanian mengalami peningkatan sebesar 0,59 %. Hal ini mengindikasikan, bahwa penurunan jumlah penduduk yang berkerja sebagai karyawan yang bergantung kepada upah atau gaji, kemudian beralih ke sektor pertanian atau jasa dengan usaha sendiri, sebagai sektor yang dianggap dapat lebih bertahan selama terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Sedangkan pada tahun 2004, jumlah tenaga kerja pada sektor industri dan jasa telah mengalami peningkatan masing-masing 3,95 % dan 2,94 %, dan pada sektor pertanian juga mengalami peningkatan sebesar 1,23 %.
Pertubuhan jumlah penduduk terus menunjukkan peningkatan setiap tahun, hal ini berarti bahwa beban setiap sektor ekonomi akan semakin tinggi, karena peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan suply tenaga kerja.
Permasalahannya adalah, karena keterbatasan dalam pemenyerapan tenaga kerja pada sektor ekonomi yang ada, sehingga apabila tidak diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja maka angka pengangguran masih tetap tinggi hal ini dapat dilihat seperti pada gambar 3. berikut ini:


Gambar 4. Persentase Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral, 1980 – 2004

Meningkatnya kontribusi sektor industri dan sektor jasa yang telah melebihi kontribusi sektor pertanian maka akan meningkatkan nilai PDB dan pendapatan perkapita. Dengan peningkatan nilai PDB dan pendapatan perkapita masyarakat ini, akan membawa perubahan dalam pola permintaan konsumen dari yang semula hanya penekanan kepada makanan dan kebutuhan barang-barang pokok kepada berbagai macam barang-barang manufaktur dan jasa. Hal ini tentu merupakan salah satu faktor yang mendorong mempercepat akan terjadinya proses perubahan struktur ekonomi, karena kenaikan pendapatan perkapita masyarakat tersebut akan membawa perubahan dalam pola permintaan konsumen sehingga sangat berarti bagi pertumbuhan industri yang menghasilkan berbagai macam barang-barang manufaktur dan jasa.


















Gambar 5. Perkembangan Pendapatan Perkapita Sektoral Tahun 1980 – 2004

ANALISIS
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TRANSFORMASI SEKTOR PERTANIAN
Untuk menjelaskan hipotesis tentang transformasi sektor pertanian (TRP) yang dipengaruhi oleh pendapatan perkapita (LYN) dan jumlah penduduk (LPDD) diperoleh hasil persamaan sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Regresi Transformasi Sektor Pertanian

TRP = 132,5085 – 34,49579 LYN + 14,28938 LPDD
Std.Er. : (1,9325) (4,0036)
t-stat : (-17,850) (3,569)

R2 : 0,9927 F-stat : 1498,779
DW-test : 1,8647 Prob : 0,0000

Sumber : Lampiran 15.

Dari masing-masing variabel dependent (variabel terikat) dan variabel independent (variabel bebas) yang disertakan dalam model estimasi pada Tabel 1 di atas, dapat diberikan penjelasan terhadap hasil analisis setiap variabel, yaitu sebagai berikut:
1. Berdasarkan pendapatan perkapita (LYN). Koefisien regresi bernilai negatif sebesar 34,49579 yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan pendapatan perkapita sebesar 1 juta rupiah, maka akan mempengaruhi penurunan transformasi sektor pertanian (TRP) sebesar 34,49579 persen (ceteris paribus). Dari uji t diperoleh nilai t-hitung sebesar -17,85 < t-tabel (22) 2,819. Hal ini berarti bahwa pendapatan perkapita berpengaruh signifikan terhadap transformasi sektor pertanian (TRP) pada α = 1 persen. Hasil empiris ini sesuai dengan hipotesis yang mengatakan pendapatan perkapita berpengaruh negatif terhadap transformasi sektor pertanian di Indonesia.
Pengaruh signifikan terhadap PDB sektor pertanian, berarti apabila pendapatan perkapita miningkat penduduk akan cenderung mencari pekerjaan di luar sektor pertanian. Hal ini juga akibat dari peningkatan pendidikan dan teknologi serta pembangunan sarana dan prasarana yang semakin baik ke berbagai wilayah pedesaan di Indonesia. Meningkatnya pendapatan perkapita, berarti akan meningkatkan kualitas SDM, yang selanjutnya akan mengubah pola pikir dan mencari pekerjaan ke sektor lain yang lebih modern. Dengan demikian, sektor pertanian cenderung akan ditinggalkan, sehingga menurunkan kontribusi dari sektor pertanian, dan meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap PDB. Peralihan dari sektor pertanian ke industri juga disebabkan pendapatan yang lebih terjamin dan tetap, bila dibandingkan dengan pendapatan dari sektor pertanian yang tergantung kepada alam. Dengan demikian, peningkatan pendapatan perkapita cenderung akan memperkecil kontribusi sektor pertanian terhadap PDB.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Chenery (1975), pada saat GNP per kapita sangat rendah (di bawah $ 100), peranan sektor pertanian sangat dominan karena menyumbang lebih dari 50 persen, sedangkan sektor industri dan jasa masing-masing hanya sekitar 10 dan 30 persen, sisanya sebesar 10 persen adalah sektor lain-lain. Pada saat GNP per kapita meningkat peranan sektor pertanian semakin menurun sementara peranan kedua sektor yang lain semakin meningkat. Ketika GNP per kapita mencapai $ 1000, peranan pertanian semakin mengecil, hanya sekitar 12 persen; sedangkan peranan sektor industri dan jasa masing-masing mencapai 35 dan 44 persen.
2. Jumlah penduduk (LPDD). Koefisien regresi bernilai positif sebesar 14,28938 yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan jumlah penduduk sebesar 1 juta jiwa, maka akan mempengaruhi peningkatan transformasi sektor pertanian (TRP) sebesar 14,28938 persen (ceteris paribus), artinya menambah tenaga kerja pada sektor pertanian sebesar 14,28938 persen. Dari uji t diperoleh nilai t-hitung sebesar 3,569 > t-tabel (22) 2,819. Hasil empiris ini sesuai dengan hipotesis yang mengatakan jumlah penduduk berpengaruh positif terhadap transformasi struktural ekonomi sektor pertanian di Indonesia.
Temuan ini semakin menguatkan hasil penelitian yang dilakukan Chenery dan Syrquin (1975) yang menyatakan jika pertumbuhan penduduk suatu negara/daerah masih tinggi maka merupakan ciri negara agraris dan temuan ini juga sependapat dengan Rujiman (1994) yang menyatakan pertumbuhan penduduk Indonesia masih tinggi meskipun pada beberapa tahun belakangan telah menunjukkan kecenderungan menurun.
Pengaruh signifikan terhadap PDB sektor pertanian berarti bahwa penduduk yang bertambah juga meningkatan tenaga kerja pada sektor pertanian. Dilihat dari perkembangan jumlah tenaga kerja sektor pertanian menunjukkan fluktuasi setiap tahun, sedangkan tenaga kerja sektor industri cenderung menunjukkan peningkatan yang relatif lebih stabil. Hal ini berarti bahwa walaupun jumlah penduduk meningkat namun pertambahan jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian cenderung menunjukkan penurunan, walaupun masih mendominasi tenaga kerja secara nasional. Hal ini menunjukkan indikasi terjadinya pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Hal ini juga ditunjukkan dari urbanisasi menuju daerah-daerah industri yang pada umumnya berada di perkotaan. Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004), urbanisasi yang tinggi terutama disebabkan tingkat pendapatan di daerah urban hampir dua kali lipat daripada di daerah pertanian.
Dari hasil estimasi pada tabel 4.1 di atas, diperoleh nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9927 berarti secara keseluruhan variabel pendapatan perkapita (LYN) dan jumlah penduduk (LPDD) mampu menjelaskan variasi transformasi sektor pertanian (TRP) sebesar 99,27 % selama kurun waktu yang diteliti. Sedangkan sisanya sebesar 0,73 %, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Bila dilihat secara bersama-sama (serentak) dari masing-masing variabel bebasnya berarti pendapatan perkapita (LYN) dan jumlah penduduk (LPDD) mampu memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap transformasi sektor pertanian (TRP) pada tingkat keyakinan 99 persen. Hal ini dapat dilihat dari nilai F-statistik sebesar 1498,779 > F-tabel (2 : 22) sebesar 5,72 pada  0,01.
Uji asumsi klasik terhadap model estimasi, yang terdiri dari multikolinieritas, autokorelasi, linieritas dan heteroskedastisitas, sebagai berikut.
a. Multikolinieritas
Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah multikolinieritas dalam model estimasi dilakukan dengan melihat R2 yang dihasilkan dari estimasi model. Untuk mendeteksi masalah multikolinieritas. Hasil dari uji koefisien regresi secara parsial disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2. Hasil Estimasi Uji Multikolinieritas (Sektor Pertanian)

Variabel Nilai R2
TRP = f(LYN, LPDD) 0,9927
LYN = f (LPDD) 0,9305
Sumber : Data diolah

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai R2 TRP = f (LYN, LPDD) lebih besar dari nilai koefisien determinasi dalam regresi parsial R2 LYN = f (LPDD). Berdasarkan ketentuan rule of thumb dari metode ini dapat disimpulkan bahwa pada model tersebut tidak ditemukan adanya multikolinieritas.
b. Autokorelasi
Untuk mendiagnosis ada tidaknya korelasi serial (autokorelasi) dapat dilakukan dengan d Durbin Watson (Durbin Watson Test). Dari hasil estimasi diperoleh nilai DW Test = 1,86469, sementara nilai DW tabel dengan N = 25; k = 2 pada α = 5% ; dL = 1,206 dan dU = 1,55.
Nilai 4 – dU, dengan α =5% = 4 – 1,55 = 2,45
Nilai 4 – dL, dengan α =5% = 4 – 1,206 = 2,794
Dengan demikian berdasarkan kriteria DW Test di atas diperoleh estimasi memenuhi kriteria untuk menerima Ho karena dL < d < 4-dU = 1,22 < 1,86469 < 2,45. Artinya dalam model yang diestimasi tersebut tidak mengandung korelasi serial (autokorelasi) antar faktor pengganggu (error term).
c. Linieritas
Uji linieritas dilakukan berkaitan dengan masalah spesifikasi kesalahan, yakni apakah model yang digunakan sudah benar atau tidak, sehingga melalui uji linieritas ini dapat diketahui bentuk model empiris (linier, kuadrat atau kubik). Berikut ini dapat dilihat hasil estimasi dari uji Ramsey test sebagaimana ditampilkan pada tabel.

Tabel 3. Hasil Estimasi Uji Linieritas Dengan Ramsey Test (Sektor Pertanian)
Ramsey RESET Test:
F-statistic 2.042791 Probability 0.167637
Log likelihood ratio 2.320763 Probability 0.127657
Sumber: Data diolah

Hasil uji Ramsey RESET Test di atas menunjukkan bahwa besarnya nilai Fhitung = 2,0428 lebih kecil dari Ftabel = 3,07 pada level signifikan 5 persen. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) yang menyatakan spesifikasi model yang digunakan dalam bentuk linier adalah benar tidak dapat ditolak. Artinya bahwa model spesifikasi yang benar dalam model regresi tersebut adalah dalam bentuk linier.
d. Heteroskedastisitas
Jika terdapat heteroskedastisitas pada model estimasi, prediksi variabel bebas terhadap nilai variabel tidak bebas menjadi tidak efisien. Hal ini diakibatkan oleh varian dari variabel tidak bebas mengikat (tidak sama) sebagai akibat meningkatnya varian dari variabel bebas. Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan Uji White (White Test), yaitu dengan membandingkan nilai Obs-R2 atau X2hitung terhadap X2tabel. Berikut ini dapat dilihat hasil estimasi dari uji White sebagaimana ditampilkan pada tabel.

Tabel 4. Hasil Estimasi Uji Heteroskedastisitas (Sektor Pertanian)

White Heteroskedasticity Test:
F-statistic 0.897000 Probability 0.459150
Obs*R-squared 2.839687 Probability 0.417008
Sumber: Data diolah

Hasil uji White test di atas menunjukkan bahwa besarnya nilai X2hitung (Obs*R-squared) = 2,8397 lebih kecil dari X2tabel = 9,49 pada level signifikan 5 persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas pada model estimasi di atas.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TRANSFORMASI SEKTOR INDUSTRI
Untuk menjelaskan hipotesis tentang transformasi sektor industri (TRI) yang dipengaruhi oleh pendapatan perkapita (LYN) dan jumlah penduduk (LPDD) diperoleh hasil persamaan sebagaimana disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Regresi Transformasi Sektor Industri


TRI = -685,3826 + 10,89338 LYN + 76,72706 LPDD
Std.Er. : (4,9267) (10,2068)
t-stat : (2,2111) (7,5172)

R2 : 0,9839 F-stat : 671,982
DW-test : 1,774 Prob : 0,0000


Berdasarkan dari masing-masing variabel dependent (variabel terikat) dan variabel independent (variabel bebas) yang disertakan dalam model estimasi pada tabel 5 di atas, dapat diberikan penjelasan terhadap hasil analisis setiap variabel, yaitu sebagai berikut :
1. Pendapatan perkapita (LYN). Koefisien regresi bernilai positif sebesar 10,89338 yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan pendapatan perkapita sebesar 1 juta rupiah, maka akan mempengaruhi peningkatan transformasi sektor industri (TRI) sebesar 10,89338 persen (ceteris paribus). Dari uji t diperoleh nilai t-hitung sebesar 2,211 > t-tabel (22) 2,074. Hal ini berarti bahwa pendapatan perkapita berpengaruh signifikan terhadap transformasi sektor industri pada  0,05.
Pengaruh signifikan terhadap PDB sektor industri berarti bahwa peningkatan perkapita menyebabkan penduduk mencari pekerjaan pada sektor industri yang memberikan jaminan pendapatan yang lebih baik dibandingkan sektor pertanian. Hal ini juga sebagai akibat dari perkembangan pendidikan dan teknologi serta pembangunan sarana dan prasarana yang semakin baik ke berbagai wilayah pedesaan di Indonesia. Dengan semakin meningkatnya pendapatan perkapita, maka akan meningkatkan kualitas SDM, yang selanjutnya akan mengubah sumber mata pencaharian di sektor modern, salah satu diantaranya adalah sektor industri.
Menurut BI (2003) sektor industri pengolahan diperkirakan akan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB. Sektor lainnya yang memberikan sumbangan besar adalah perdagangan, hotel dan restoran dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Peningkatan kegiatan di sektor industri pengolahan ini mengikuti faktor musimannya yang meningkat pesat pada triwulan ke tiga dalam rangka mengantisipasi meningkatnya permintaan sehubungan dengan pelaksanaan hari besar keagamaan dan tahun baru. Sejalan dengan peningkatan di sektor industri tersebut, kegiatan di sektor perdagangan dan sektor pengangkutan yang merupakan mata rantai dari proses produksi-distribusi konsumen akhir diperkirakan juga akan mencatat pertumbuhan yang tinggi. Namun demikian, perkembangan ekonomi secara sektoral ini perlu mendapat perhatian mengingat peran industri pengolahan yang meskipun masih dominan dalam pertumbuhan PDB tetapi trend kontribusinya cenderung semakin menurun. Indikator yang mencerminkan stagnasi perkembangan di sektor industri tercermin dari survei indeks produksi industri manufaktur yang rendah, bahkan pertumbuhan tahunannya pada beberapa bulan terakhir tercatat penurunan. Dalam kondisi produksi di dalam negeri yang terbatas, untuk memenuhi permintaan domestik yang masih meningkat, pasokan yang berasal dari impor memegang peranan yang penting.
Peningkatan perkapita menunjukkan terjadinya peningkatan pendapatan dari sektor-sektor ekonomi, hal ini juga mengindikasikan dan berdampak terhadap meningkatnya PDB.
2. Jumlah penduduk (LPDD). Koefisien regresi bernilai positif sebesar 76,72706 yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan jumlah penduduk sebesar 1 juta jiwa, maka akan mempengaruhi peningkatan transformasi sektor industri (TRI) sebesar 76,72706 persen (ceteris paribus). Dari uji t diperoleh nilai t-hitung sebesar 7,517 > t-tabel (22) 2,819. Hal ini berarti bahwa jumlah penduduk berpengaruh signifikan terhadap transformasi sektor industri pada α = 1 persen.
Pertumbuhan penduduk akan meningkatkan jumlah angkatan kerja, dimana dalam kondisi ketersediaan tenaga kerja yang cukup, maka kontribusinya terhadap PDB sektor industri akan meningkat. Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Nugroho (1996), bahwa transformasi struktur tenaga kerja selalu terjadi mengikuti transformasi struktur perekonomian yang ditandai meningkatnya peranan industri menggantikan sektor primer terutama pertanian. Fenomena demikian teramati dengan jelas. Secara nasional pekerja sektor pertanian turun sebesar 2,7 persen, sementara sektor industrinya naik 9,2 persen. Pergeseran sektor pertanian-industri ini memberi gambaran hampir serupa dengan pergeseran desa-kota. Hanya saja pekerja di desa masih tumbuh pada tingkat 0,1 persen, sementara pertumbuhan pekerja kota 7,4 persen (Kadarusman, Arlini dan Suatni, 2004).
Dari hasil estimasi pada tabel 4.9 di atas, diperoleh nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9839 berarti secara keseluruhan variabel pendapatan perkapita sektor industri (LYN) dan jumlah penduduk (LPDD) mampu menjelaskan variasi transformasi sektor industri (TRI) sebesar 98,39 % selama kurun waktu yang diteliti. Sedangkan sisanya sebesar 1,61 %, dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model estimasi.
Bila dilihat secara bersama-sama (serentak) dari masing-masing variabel bebasnya berarti pendapatan perkapita (LYN) dan jumlah penduduk (LPDD) mampu memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap variabel transformasi sektor industri (TRI) pada tingkat keyakinan 99 persen. Hal ini dapat dilihat dari nilai F-statistik sebesar 671,982 > F-tabel (2 : 22) sebesar 5,72 pada  0,01.
Uji asumsi klasik terhadap model estimasi, yang terdiri dari multikolinieritas, autokorelasi, linieritas dan heteroskedastisitas, sebagai berikut.

a. Multikolinieritas
Hasil dari uji koefisien regresi secara parsial disajikan pada tabel berikut.


Tabel 6. Hasil Estimasi Uji Multikolinieritas (Sektor Industri)

Variabel Nilai R2
TRI = f(LYN, LPDD) 0,9839
LYN = f (LPDD) 0,9304
Sumber : Data diolah

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai R2 TRI = f (LYN, LPDD) lebih besar dari nilai koefisien determinasi dalam regresi parsial R2 LYN = f (LPDD). Berdasarkan ketentuan rule of thumb dari metode ini dapat disimpulkan bahwa pada model tersebut tidak ditemukan adanya multikolinieritas.
b. Autokorelasi
Dari hasil estimasi diperoleh nilai DW Test = 1,77417.
Nilai 4 – dU, dengan α =5% = 4 – 1,55 = 2,45
Nilai 4 – dL, dengan α =5% = 4 – 1,206 = 2,794
Dengan demikian berdasarkan kriteria DW Test di atas diperoleh estimasi memenuhi kriteria untuk menerima Ho karena dL < d < 4-dU = 1,22 < 1,77417 < 2,45. Artinya dalam model yang diestimasi tersebut tidak mengandung korelasi serial (autokorelasi) antar faktor pengganggu (error term).
c. Linieritas
Berikut ini dapat dilihat hasil estimasi dari uji Ramsey test sebagaimana ditampilkan pada tabel.

Tabel 7. Hasil Estimasi Uji Linieritas Dengan Ramsey Test (Sektor Industri)

Ramsey RESET Test:
F-statistic 1.478271 Probability 0.237537
Log likelihood ratio 1.700667 Probability 0.192201
Sumber: Data diolah

Hasil uji Ramsey RESET Test di atas menunjukkan bahwa besarnya nilai Fhitung = 1,478 lebih kecil dari Ftabel = 3,07 pada level signifikan 5 persen. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) yang menyatakan spesifikasi model yang digunakan dalam bentuk linier adalah benar tidak dapat ditolak. Artinya bahwa model spesifikasi yang benar dalam model regresi tersebut adalah dalam bentuk linier.
d. Heteroskedastisitas
Berikut ini dapat dilihat hasil estimasi dari uji White sebagaimana ditampilkan pada tabel.



Tabel 8 Hasil Estimasi Uji Heteroskedastisitas (Sektor Industri)

White Heteroskedasticity Test:
F-statistic 1.675486 Probability 0.202710
Obs*R-squared 4.828219 Probability 0.184817
Sumber: Data diolah

Hasil uji White test di atas menunjukkan bahwa besarnya nilai X2hitung (Obs*R-squared) = 4,82822 lebih kecil dari X2tabel = 9,49 pada level signifikan 5 persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas pada model estimasi di atas.

KESIMPULAN
1. Transformasi struktural ekonomi di Indonesia telah terjadi pada tahun 1989 dimana kontribusi sektor industri lebih besar dari pada sektor pertanian. Kontribusi sektor pertanian, industri dan jasa terhadap PDB menunjukkan peningkatan setiap tahun, namun peningkatan kontribusi sektor industri lebih tinggi dibandingkan dengan sektor pertanian dan sektor jasa.
2. Pendapatan perkapita sektoral untuk sektor industri mengalami pertumbuhan rata–rata 4,31 % per tahun lebih baik dari sektor pertanian yang tumbuh rata–rata hanya sebesar 1,48 % per tahun dan sektor jasa rata–rata sebesar 1,33 % per tahun.
3. Sektor pertanian paling potensial bagi Indonesia dalam peningkatan Product Domestic Bruto hal ini ditunjukkan oleh tingkat signifikansi dari variabel jumlah penduduk dan pendapatan perkapita sektoral dimana sektor pertanian adalah sektor menyerap tenaga kerja terbesar bagi Indonesia.
4. Sektor industri sebagai sektor yang tumbuh paling cepat dan mampu dalam meningkatkan pendapatan perkapita sektoral, sehingga perihal tersebut merupakan salah satu langkah dalam perencanaan pembangunan sumber daya manusia di Indonesia, selain itu sektor industri terkesan sebagai sektor dinamis bagi masa depan Indonesia.

SARAN
1. Dianggap perlu untuk melakukan kajian ulang terhadap masalah yang sama dengan penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode pendekatan serta konsep peninjauan yang berbeda tetapi didalam tujuan empiris serta manfaat penelitian secara meluas dan mendalam.
2. Kepada peneliti lain untuk melanjutkan penelitian yang sama berkaitan dengan transformasi sektoral ekonomi dimasa mendatang guna mengetahui kondisi perekonomian sektoral di Indonesia dari waktu ke waktu.
3. Mengkaji ulang secara spesifik masalah tenaga kerja sektoral dan regional serta pendapatan perkapita sektoral dalam tujuan mengetahui penyerapan tenaga kerja di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Sritua. Transformasi Struktural: Versi Baru dari Berkeley. Majalah Prospek No. 29/II/2 Mei 1992.

Arsyad, Lincolin. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah, BPPE, Yogyakarta, 1999.

Bappenas. Program Pembangunan Nasional (Propenas), 2000-2004, Jakarta.

Budiono. Ekonomi Makro, BPFE, Yogyakarta, 1984.

Chenery, H.B. Pattern of Industrial Growth, American Economic Review USA, 1970.

Chenery dan Syrquin. Pattern of Development, Oxford University Press, London, 1970.

Faisal Kasryno (et.al). Perubahan Ekonomi Pedesaan Menuju Struktur Ekonomi Berimbang, Pusat Penelitian Agro Ekonomi, Bogor, 1988.

Fitanto, Bahtiar. Transformasi Struktural Dalam Masyarakat Pedesaan: Studi Kasus Analisis Perkembangan Industri Kerajinan Tas dan Koperdi Desa Kedensari Sidoarjo, ITB Central Library, 2004.

Hill, Hal. Ekonomi Indonesia, PT. RajaGrafindo, Jakarta, 2001.

Jhingan M.L. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000.

Kadarusman, Y.B., Silvia Mila Arlini, Bernadetta Dwi Suatmi. Makro Ekonomi Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama Bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Ekonomi IBII, Jakarta, 2004.

Kuncoro, Mudrajad. Otonomi dan Pembangunan Daerah; Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang, Erlangga, Jakarta, 2004.

Mankiw, N. Gregory. Teori Makro Ekonomi, Edisi Keempat, Erlangga Jakarta, 2000.

Miraza, Bahtiar Hassan. Ekonomi-Bisnis dan Manajemen, Bina Alumni Indonesiá Jakarta, 1988.

M. Elly, Syahrul. Industrialisasi dan Marginalisasi Pertanian (Pengaruhnya untuk NTT). Departemen Keuangan, NTT, Kupang.

Nugroho, Iwan. Pertumbuhan Pekerja dan Penganggur. Kompas Online Selasa, 26 Maret 1996.

Rosyid, Suherman. Pengantar Teori Ekonomi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

Rujiman. Perubahan Dempgrafi dan Pembangunan Ekonomi di Indonesia (1970-1990), Edisi Pertama, Intan Dirja Lela, Medan, 1996.

Safra, Erwin Febrian. Transformasi Ekonomi Dalam Transisi Demokrasi Indonesia, Community for Economic Enlightenment. comment_indonesia @ yahoo.com. 2005.

Sjahrir. Refleksi Pembangunan Ekonomi Indonesia 1968-1992. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992.

Sukirno, Sudono. Ekonomi Pembangunan, Poses, Masalah dan Dasar Kebijakan, LPFE UI, Jakarta, 1985.

Suparmoko, M. Kaitan antara Sektor Pertanian dan Bukan Pertanian, Pertumbuhan dan Pemerataan dalam Pembangunan Pertanian, PERHEPI, Jakarta, 1983.

Swasono, Sri-Edi. Kompetensi dan Integritas Sarjana Ekonomi, Makalah Reuni Akbar Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Jurnal Ekonomi Rakyat, Th. I - No. 12 - Februari 2003.

Tambunan, Tulus. Tranformasi Ekonomi di Indonesia, Edisi Pertama, Salemba Empat, Jakarta, 2001.

________. Teori dan Temuan Empiris, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2001.

Todaro, Michael P. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jilid I, Edisi Ketujuh, Erlangga, Jakarta, 2000.

World Bank. Key Indicator of Developing Asian and Pacific Countries, 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar