Sabtu, 01 Mei 2010

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL SEPATU DAN KONVEKSI DI KOTA MEDAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI
INDUSTRI KECIL SEPATU DAN KONVEKSI
DI KOTA MEDAN

Sri Pratiwi1, Sya’ad Afifuddin2,
Jhon Tafbu Ritonga3, Rujiman4

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan dengan menggunakan metode OLS. Hasil analisis menunjukkan bahwa industri kecil di Kota Medan baik untuk industri kecil sepatu maupun industri kecil konveksi memiliki peranan yang relatif besar dalam mendorong pembangunan ekonomi di Kota Medan yakni dalam hal penciptaan lapangan kerja dan berkontribusi dalam pembentukan PDRB Kota Medan. Perkembangan industri kecil konveksi masih lebih baik dibandingkan dengan perkembangan industri kecil sepatu. Berdasarkan laju pertumbuhan rata-rata per tahun baik untuk perkembangan industri kecil sepatu dan konveksi maupun laju pertumbuhan rata-rata per tahun untuk kemampuan menyerap tenaga kerja di Kota Medan. Hasil studi menunjukkan bahwa modal usaha, tenaga kerja dan jam bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Sedangkan pengalaman berusaha berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Faktor modal usaha sangat dominan mempengaruhi peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Dari sisi lain untuk modal usaha dan pengalaman berusaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan produksi industri kecil konveksi. Sedangkan tenaga kerja dan jam kerja berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi. Sisa hasil produksi tahun sebelumnya berpengaruh negatif dan signifikan terhadap hasil produksi industri kecil konveksi.

Kata kunci : Industri kecil, produksi, tenaga kerja.



LATAR BELAKANG

Tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata baik material dan spiritual sebagai wujud pelaksanaan demokrasi ekonomi yang dilandasi jiwa semangat kebersamaan dan kekeluargaan, dimana koperasi dan usaha kecil dikembangkan sebagai gerakan ekonomi rakyat yang sehat, kuat, tangguh dan mandiri sehingga dapat berperan sebagai soko guru perekonomian nasional. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi harus diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengatasi ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, tentunya pemerintah perlu mempersiapkan secara khusus kondisi perekonomian domestik yang lebih tangguh dan berdaya saing tinggi guna menghadapi era liberalisasi perdagangan. Perhatian secara khusus ini perlu diberikan kepada struktur industri dalam negeri, hal ini dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara komposisi industri besar, menengah, dan kecil.
Berkaitan dengan hal tersebut, sektor industri sebagai salah satu sektor yang potensial harus mampu menjadi motor penggerak pembangunan. Identifikasi terhadap usaha-usaha kecil sebagai salah satu sasaran kebijakan pembangunan termasuk gejala baru di era reformasi ini. Hal ini terkait dengan kenyataan di Indonesia bahwa industri-industri besar yang padat modal terbukti telah gagal memberikan sumbangannya sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi.
Ketika disadari bahwa industri dengan teknologi berskala besar tidak lagi sesuai untuk diterapkan, maka belakangan ini pemerintah mulai beralih pada sektor industri kecil dan menengah yang nyata-nyata mampu bertahan walaupun diterpa badai krisis moneter. Melihat ketangguhan dan kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja maka industri kecil memiliki peranan yang sangat penting dalam mempercepat proses pemerataan sebagai bagian dari trilogi pembangunan baik dalam arti pendapatan maupun dalam arti kesempatan berusaha.
Pentingnya peranan industri kecil di dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia berkaitan dengan kondisi Indonesia yang memiliki jumlah tenaga kerja berpendidikan rendah, sumber daya yang melimpah, modal yang terbatas dan distribusi pendapatan yang tidak merata, sehingga sangat erat hubungannya dengan sifat-sifat dasar industri kecil. Pertama, industri kecil sangat lokal labor intensive, dalam arti sangat banyak memakai tenaga kerja orang-orang setempat dengan tingkat pendidikan yang rendah. Kedua, industri kecil sangat intensive dalam pemakaian sumber-sumber alam lokal. Ketiga, industri kecil lebih banyak di pedesaan. Keempat, pada umumnya kegiatan industri kecil sangat erat hubungannya dengan pertanian. Kelima, kebanyakan industri kecil membuat barang-barang konsumsi dan industri untuk kebutuhan pasar lokal dengan harga yang murah sehingga bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Tumbuhnya perhatian beberapa kalangan seperti akademis, pemerintah dan swasta terhadap pengembangan industri kecil dan menengah dapat dikemukakan beberapa alasan dalam mengkritisi fenomena ini seperti pertama, pertimbangan etika normatif sebagai bangsa yang selama ini telah memberikan peluang bagi usaha berskala besar untuk tumbuh dan berperan, sebaliknya kurang memperhatikan usaha berskala kecil dan menengah. Perhatian ini berarti manifestasi kepedulian kepada yang kecil dan menengah yang secara meyakinkan telah terbukti menyumbang pertumbuhan ekonomi (GBHN, 1993). Kedua, seperti ramalan futurolog John Naisbitt dalam “Global Paradox” yang mengatakan bahwa masa depan dunia akan didominasi oleh usaha kecil dan menengah (Naisbitt, 1993). Ketiga, alasan pragmatis pemerintah karena kenyataan terdapat kecenderungan berbagai negara untuk memfokuskan perhatian pada pembinaan usaha berskala kecil dan menengah (Tjakrawardaya, 1994). Keempat, alasan ketidakpuasan pada industri besar yang ternyata tidak menghasilkan kemandirian, meskipun telah didukung dengan berbagai macam proteksi.
Untuk itu industri kecil perlu dibina dan dikembangkan dengan baik sehingga dapat memperbesar sumbangannya bagi perekonomian nasional pada umumnya dan memberikan sumbangan bagi daerah dimana industri kecil itu tumbuh dan berkembang. Di samping peranannya yang besar dalam menyerap tenaga kerja, industri kecil juga berperan dalam meningkatkan penghasilan masyarakat dan meningkatkan ekspor. Oleh sebab itu dibutuhkan komitmen yang lebih besar dari pemerintah terhadap upaya peningkatan industri kecil dan menengah dalam perekonomian nasional melalui pembinaan yang mencakup permodalan seperti kredit untuk usaha kecil dan menengah, bantuan teknologi dan informasi, pengembangan sumber daya manusia dan pemasarannya.
Setelah memahami peranan dan strategisnya pengembangan industri kecil, maka disadari bahwa para pengusaha kecil akan menghadapi kesulitan dalam mewujudkannya tanpa dukungan dan bantuan dari pihak–pihak yang terkait. Bagaimanapun mereka menghadapi keterbatasan-keterbatasan yang kadang-kadang tidak dapat mereka pecahkan sendiri. Ketiadaan akan dukungan yang cukup dan wajar terhadap industri kecil oleh pemerintah merupakan kendala bagi perkembangan industri kecil. Salah satu yang merupakan kendala yang sering dijumpai adalah masalah keterbatasan permodalan. Dengan terbatasnya modal dan minimnya pengetahuan para pengusaha kecil terhadap pemasaran produknya akan menghambat produktivitas dari faktor-faktor produksi industri kecil. Di samping permodalan, kendala lain berkaitan dengan akses pasar dan juga tempat berusaha (lokasi), akses terhadap teknologi, peningkatan sumber daya manusia, dan pengambilan kebijaksanaan oleh pemerintah (Tanjung, 1994). Perlu dipahami bahwa tujuan akhir dari usaha ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat kalangan bawah yang kurang beruntung pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
Sebagaimana diketahui bahwa industri kecil yang ada di Kota Medan pada umumnya masih merupakan kerajinan rumah tangga yang dikelola oleh para pengrajin secara tradisional dengan keterampilan yang diperoleh secara turun temurun dan masih menggunakan teknologi tradisional, sehingga mutu produk yang dihasilkan relatif rendah dan desain produk terkesan monoton. Hal inilah yang menyebabkan daya saing produk yang dihasilkan relatif rendah sehingga para pengrajin atau pengusaha kecil kurang termotivasi untuk mengembangkan usahannya dan pada akhirnya industri kecil yang dilakukannya tetap sebagai usaha sampingan keluarga.
Kota Medan yang memiliki potensi sumber daya yang potensil untuk dikembangkan belum mampu sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan industri kecil. Untuk itu Pemerintah Kota Medan sudah saatnya memberikan kesempatan yang lebih besar kepada industri kecil-industri kecil untuk berperan dalam perekonomian. Terbukanya keran untuk berusaha ini sekaligus juga dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengangguran yang dari tahun ke tahun selalu bertambah jumlahnya seiring dengan bertambahnya jumlah angktan kerja. Melihat potensi dan kenyataan yang ada ini, maka penulis tertarik untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi industri kecil khususnya sepatu dan konveksi di Kota Medan dan besarnya faktor-faktor tersebut mempengaruhi peningkatan produksi industri kecil sepatu dan konveksi tersebut.

PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha terhadap peningkatan produksi industri kecil sepatu di Kota Medan.
2. Bagaimana pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha serta hasil produksi tahun sebelumnya terhadap peningkatan produksi industri kecil konveksi di Kota Medan.

TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk menganalisis pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha terhadap peningkatan produksi industri kecil sepatu di Kota Medan.
2. Untuk menganalisis pengaruh modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha serta hasil produksi tahun sebelumnya terhadap peningkatan produksi industri kecil konveksi di Kota Medan.

MANFAAT PENELITIAN
1. Sebagai bahan kajian untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah khususnya Pemerintah Kota Medan dalam pengembangan industri kecil seperti sepatu dan konveksi sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk pengembangan industri kecil dalam menghadapi era persaingan bebas.
2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam perencanaan pembangunan dan pengambilan kebijakan di dalam meningkatkan peranan industri kecil khususnya sepatu dan konveksi bagi pembangunan ekonomi.
3. Sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berminat untuk meneliti kesiapan industri kecil dalam era globalisasi dan peranannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dengan ruang lingkup yang lebih luas.

RUANG LINGKUP PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan ekonometrika yakni metode Ordinary Least Square (OLS).

JENIS DAN SUMBER DATA
Penelitian ini menggunakan data primer dengan metode wawancara langsung kepada para pengusaha industri kecil sepatu dan konveksi yang ada di Kota Medan dengan menggunakan kuisoner. Jumlah responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 51 responden untuk kedua objek penelitian yakni sepatu dan konveksi.

METODE PENARIKAN SAMPEL
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode simple random sampling (sampel random sederhana) dari populasi yang tersedia. Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Medan, hampir di semua kecamatan di Kota Medan terdapat industri Kecil baik industri Kecil sepatu maupun konveksi. Pada tahun 2004, jumlah industri Kecil sepatu di Kota Medan sebanyak 414 unit dan 494 unit industri Kecil konveksi yang tersebar di Kota Medan (Deperindag, 2005). Kemudian dilihat dari karakteristik responden menunjukkan bahwa populasi dari industri Kecil tersebut pada umumnya bersifat homogen (pendapatan, tingkat pendidikan, pengalaman, dan jam kerja). Maka untuk besarnya sampel penelitian yang diambil pada masing-masing industri Kecil sepatu dan konveksi adalah 10 persen dari populasi yang ada. Dengan demikian jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 51 responden untuk masing-masing industri Kecil sepatu dan konveksi.

MODEL ANALISIS
Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan dilakukan analisis dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Sebagai variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah produksi industri kecil sepatu dan konveksi (Y) dan sebagai variabel bebasnya (independent variable) adalah modal (MD), jumlah tenaga kerja (TK), jam kerja (JK), dan pengalaman berusaha (PL).
Salah satu pendekatan untuk melakukan analisis fungsi produksi adalah melakukan estimasi langsung untuk mendapatkan parameter dari fungsi produksi. Dimana fungsi produksi menggambarkan hubungan antara input dan output dan bentuk fungsi produksi yang umum digunakan adalah fungsi Cobb Douglas, yaitu :
Q = A K  L 

Dimana :
Q adalah output
K adalah kapital
L adalah tenaga kerja
Fungsi produksi di atas dapat diestimasi dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Dengan demikian fungsi produksi tersebut adalah :
Y1 = f ( MD, TK, JK, PL )
Y2 = f ( MD, TK, JK, PL, LY2(t-1) )
Dengan memodifikasi model produksi di atas, dengan menambah variabel jam bekerja (JK) dan pengalaman berusaha (PL), maka model produksi yang baru sebagai fungsi produksi untuk industri kecil sepatu setelah dilakukan modifikasi dengan first difference logaritma adalah :
DLY1 = 0+1DLMD+2DLTK+3DLJK+ 4 DLPL+ 
Dan model persamaan untuk industri kecil konveksi di Kota Medan setelah dilakukan modifikasi dengan first difference logaritma adalah :
DLY2 = 0+1DLMD+2DLTK+3DLJK+4 DLPL+5DLY2(-1)+
dimana :
Y1 = Produksi sepatu yang dihasilkan (unit)
Y2 = Produksi konveksi yang dihasilkan (unit)
MD = Modal (rupiah)
TK = Jumlah tenaga kerja (orang)
JK = Jam kerja (jam)
PL = Pengalaman berusaha (tahun)
Y2(t-1) = Produksi konveksi yang dihasilkan tahun sebelumnya (unit)
 = Variabel gangguan (error term)
1 - 4 = Koefisien regresi untuk industri kecil sepatu
1 - 5 = Koefisien regresi untuk industri kecil konveksi

Pengujian statistik dilakukan melalui uji statistik, yaitu uji-t (T-test) dan uji-F (F-test) dan hasil estimasi dari nilai parameter yang digunakan dalam model tersebut diharapkan bertanda positif (+) dan signifikan untuk semua nilai parameter. Uji-t dimaksudkan untuk mengetahui signifikansi statistik regresi secara parsial dan Uji-F adalah untuk mengetahui signifikansi statistik secara simultan.

UJI PENYIMPANGAN ASUMSI KLASIK
Ada beberapa permasalahan yang akan terjadi dalam model regresi linier dimana secara statistik permasalahan tersebut dapat mengganggu model yang telah ditentukan, bahkan dapat menyesatkan kesimpulan yang diambil dari persamaan yang terbentuk. Untuk itu perlu melakukan uji penyimpangan asumsi klasik (Sri Pratiwi ; 2006)

DEFINISI OPERASIONAL DAN BATASAN VARIABEL
1. Total output (Y) adalah banyaknya produksi yang dihasilkan oleh masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
2. Tenaga kerja (TK) adalah jumlah tenaga kerja yang bekerja pada masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
3. Modal (MD) adalah besarnya modal yang dikeluarkan untuk proses produksi di masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
4. Jam kerja (JK) adalah lamanya waktu bekerja selama satu hari untuk masing-masing industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.
5. Pengalaman berusaha (PL) adalah lamanya waktu yang telah digunakan untuk mengelola usahanya hingga sekarang untuk industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan.

METODE ANALISIS
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Hal ini dikarenakan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari faktor-faktor produksi tersebut (modal usaha, tenaga kerja, jam kerja, dan pengalaman berusaha) terhadap peningkatan produksi industri kecil sepatu dan konveksi di Kota Medan. Pengolahan data digunakan Program Eviews versi 4.1.

ANALISIS DAN HASIL ESTIMASI UNTUK INDUSTRI KECIL SEPATU.

Pertumbuhan industri yang relatif cepat telah mendorong perkembangan aktivitas perdagangan, baik perdagangan dalam negeri maupun luar negeri untuk dapat menghasilkan barang-barang yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk itu, sektor industri sebagai sektor produksi yang memadukan unsur ekonomi dan unsur teknologi mempunyai peran yang strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama dalam peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan ekspor sebagai salah satu sumber penting bagi surplus neraca perdagangan dan jasa.
Di Kota Medan, industri kecil sangat diharapkan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses pembangunan ekonomi di Kota Medan, terutama untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja yang tidak terampil dan berpendidikan rendah. Selain itu, industri kecil diharapkan berperan penting dalam menghasilkan barang-barang konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan terutama bagi golongan masyarakat menengah ke bawah.
Berkaitan dengan hal di atas, maka industri kecil sepatu sebagai salah satu bagian dari industri kecil yang memiliki peranan strategis dalam proses pembangunan ekonomi di Kota Medan, perlu dilakukan upaya pengembangan agar industri kecil sepatu menjadi industri yang mampu mendukung dan bersinergis dengan industri besar di Kota Medan. Namun demikian, ketersediaan faktor-faktor produksi merupakan syarat mutlak bagi keberlangsungan industri kecil sepatu di Kota Medan.
TABEL 1. PERKEMBANGAN INDUSTRI KECIL SEPATU DI KOTA MEDAN
Tahun Jumlah Industri Kecil
Sepatu (unit) Jumlah Tenaga Kerja
Terserap (orang)
2000 375 514
2001 381 546
2002 390 597
2003 392 610
2004 414 705
Sumber : Deperindag Kota Medan, 2005
Berdasarkan Tabel 1, selama kurun waktu 5 tahun (2000 – 2004), perkembangan industri kecil sepatu memperlihatkan perkembangan yang relatif kecil. Begitupun kemampuan industri kecil sepatu ini dalam menyerap tenaga kerja di Kota Medan juga menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan. Pada tahun 2000, jumlah industri kecil sepatu di Kota Medan sebanyak 375 unit dan meningkat menjadi 414 unit pada tahun 2004 atau mengalami peningkatan sebanyak 39 unit. Dengan demikian, laju pertumbuhan industri kecil sepatu di Kota Medan selama periode tersebut sebesar 2,07 persen per tahunnya.
Sementara itu, kemampuan menyerap tenaga kerja untuk industri kecil sepatu di Kota Medan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan dengan perkembangan industri kecil sepatu itu sendiri. Pada tahun 2000, jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri kecil sepatu di Kota Medan sebanyak 514 orang dan meningkat menjadi 705 pada tahun 2004 atau meningkat sebanyak 191 orang selama kurun waktu 5 tahun. Dengan demikian selama kurun waktu tersebut, laju pertumbuhan industri kecil sepatu dalam menyerap tenaga kerja per tahunnya sebesar 6,86 persen.
Namun demikian, laju pertumbuhan tenaga kerja yang terserap tersebut masih lebih besar bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan industri kecil sepatu tersebut yang hanya tumbuh sebesar 2,07 persen per tahun. Berdasarkan analisis dan data yang ada, tentunya dapat dilihat bahwa perkembangan industri kecil sepatu di Kota Medan masih masih belum menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan industri kecil sepatu itu sendiri yang hanya tumbuh sebesar 10,40 persen selama tahun 2000 – 2004. Disamping itu, dari kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja di Kota Medan selama kurun waktu yang sama hanya mampu tumbuh sebesar 37,16 persen.
Berikut ini hasil estimasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi industri kecil sepatu seperti yang pada Tabel 2 di bawah ini.
TABEL 2. HASIL ESTIMASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL
SEPATU DI KOTA MEDAN
Dependent Variable : DLY

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.017557 0.140433 -0.125021 0.9011
DLMD 0.869739 0.142045 6.122990 0.0000 ***
DLTK 0.305398 0.170268 1.793625 0.0889 *
DLJK 0.838177 0.376190 2.228069 0.0258 **
DLPL 0.091522 0.083997 1.089597 0.2817
R-squared 0.700142 F-stat 11.25639
D-W stat 2.872083 Prob(F-stat) 0.000002

Berdasarkan Tabel 2, diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,7001 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi produksi industri kecil sepatu di Kota Medan sebesar 70,01 persen.
Apabila dianalisis secara simultan (serentak) dari masing-masing variabel bebasnya, maka pengaruhnya terhadap produksi industri kecil sepatu memberikan pengaruh yang cukup signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari nilai F-statistik (11,256) yang lebih besar dari F-tabel (3,785) pada level 1 persen {F statistik > F tabel} dengan nilai probabilitasnya sebesar 0,000002.
Selanjutnya, berdasarkan hasil estimasi di atas, koefisien regresi dari modal usaha bertanda positif sebesar 0,8697 dengan nilai t statistik sebesar 6,123. Hal ini dapat menjelaskan bahwa modal para pengusaha industri kecil sepatu berkontribusi positif dan signifikan pengaruhnya secara statistik sebesar 0,8697 terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan dengan tingkat kepercayaan 99 persen. Hasil empiris ini sejalan dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara modal dan produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Dari temuan empiris ini semakin menguatkan hasil studi yang dilakukan Simanjuntak (1998) dan Sari (2002) dimana peranan modal usaha sangat mempengaruhi tingkat produksi industri kecil di Kota Medan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan modal usaha masih selalu menjadi hambatan bagi para pengusaha industri kecil di Kota Medan. Industri kecil di Kota Medan pada umumnya masih menghadapi dua masalah dalam aspek finansial, yakni mobilisasi modal awal untuk akses ke modal kerja dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan demi pertumbuhan output jangka panjang. Walaupun pada umumnya modal awal bersumber dari tabungan sendiri atau sumber-sumber informal, namun sumber-sumber permodalan ini sering tidak cukup untuk kegiatan produksi dan investasi (perluasan kapasitas produksi atau menggantikan mesin-mesin tua).
Sementara itu, mengharapkan sisa kebutuhan finansial sepenuhnya yang dibiayai dari perbankan jauh dari realistis. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika saat ini walaupun begitu banyak skim-skim kredit dari perbankan dan bantuan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sumber-sumber pendanaan dari sektor informal masih tetap dominan dalam pembiayaan kegiatan industri kecil. Hal ini disebabkan oleh sejumlah alasan, diantaranya adalah persyaratan kredit yang terlalu berat, urusan administrasi terlalu panjang, dan kurangnya informasi mengenai skim-skim perkreditan yang ada serta prosedur pengajuannya.
Berdasarkan hasil temuan ini tentunya dapat dijadikan bahan acuan atau referensi bagi para pengambil keputusan di jajaran pemerintah Kota Medan, untuk memprioritaskan pemberian bantuan modal usaha dengan mempermudah akses permodalan kepada pengusaha industri kecil, sehingga mampu bersaing dan mampu memberikan peranan yang cukup besar dalam mendukung perekonomian Kota Medan, baik di dalam penyerapan tenaga kerja maupun kontribusinya dalam pembentukan PDRB Kota Medan.
Untuk tenaga kerja menunjukkan kontribusi yang positif signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan dengan nilai koefisien regresi yang relatif keci sebesar 0,3054 pada tingkat kepercayaan 90 persen. Nilai koefisien regresi ini mengartikan bahwa setiap terjadi penambahan tenaga kerja pada industri kecil sepatu, ceteris paribus, akan memberi dampak pada terjadinya peningkatan produksi industri kecil sepatu di Kota Medan. Hasil empiris ini telah sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara tenaga kerja dan produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Terkait dengan hasil empiris di atas, dimana rendahnya kontribusi tenaga kerja terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan disebabkan oleh masih rendahnya tingkat kualitas (kemampuan) dan pendidikan tenaga kerja pada industri kecil sepatu tersebut yang rata-rata berpendidikan tamat SLTP, sehingga berdampak pada tingkat produktivitas tenaga kerja yang relatif masih kecil. Disamping itu rendahnya nilai koefisien regresi tersebut disebabkan juga oleh tenaga kerja yang bekerja pada industri kecil tersebut pada umumnya berasal dari anggota keluarganya sendiri, sehingga pertambahan tenaga kerja bukan berarti akan mendorong peningkatan hasil produksi industri kecil tersebut tetapi sebaliknya dapat menghambat atau mengurangi kemampuan produksi pada industri kecil tersebut. Untuk itu, masalah peningkatan ketrampilan dan kualitas tenaga kerja pada industri kecil harus tetap menjadi perhatian dan fokus para pengambil kebijakan di jajaran pemerintah Kota Medan.
Sedangkan untuk lamanya bekerja atau jam kerja memberi kontribusi positif sebesar 0,8382 dan secara statistik signifikan pengaruhnya pada tingkat kepercayaan 95 persen terhadap produksi industri kecil sepatu di Kota Medan selama penelitian dilakukan. Hasil temuan ini mengindikasikan apabila jam kerja meningkat, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan. Hasil studi ini semakin mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara jam kerja dan hasil produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Lamanya jam bekerja tersebut ternyata memiliki nilai koefisien regresi yang relatif besar sehingga dengan semakin banyaknya jam bekerja bagi para pekerja akan mampu meningkatkan hasil produksi dan hal ini tentunya sesuai dengan harapan dimana semakin lama jam bekerja bagi para pekerja akan meningkatkan hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan selama kurun waktu penelitian. Namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan para pengusaha untuk menyediakan dana untuk proses produksi dan kesinambungan berusaha. Karena pada umumnya, Hasil dari wawancara dengan para pengusaha industri kecil tersebut menemukan bahwa masalah keterbatasan dana menjadi persoalan yang sangat pelik dan sulitnya mencari solusi untuk mengatasi persoalan dana tersebut.
Untuk variabel pengalaman berusaha menunjukkan kontribusi yang positif sebesar 0,0915 tetapi tidak signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan ketika penelitian dilakukan dengan tingkat kepercayaan 90 persen. Hal ini mengandung arti jika lamanya pengalaman berusaha bagi para pengusaha industri kecil sepatu bertambah, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada semakin meningkatnya hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan dan hasil ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara pengalaman berusaha dan produksi industri kecil sepatu, ceteris paribus.
Dari hasil estimasi tersebut terlihat masih relatif kecilnya nilai koefisien regresi dari pengalaman berusaha yang mengindikasikan bahwa pengalaman berusaha atau lamanya berusaha tidak menjamin dapat meningkatkan hasil produksi industri kecil sepatu di Kota Medan. Hal ini terlihat dari nilai 0,0915 dan tidak signifikannya pengaruhnya terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu secara statistik selama kurun waktu penelitian. Temuan ini membuktikan bahwa faktor modal usaha masih sangat dominan dalam menentukan keberhasilan industri kecil khususnya industri kecil sepatu di Kota Medan dalam upaya meningkatkan hasil produksinya.
UJI PENYIMPANGAN ASUMSI KLASIK
1. Multicollinearity
Untuk mendeteksi ada tidaknya multicollinearity dalam model estimasi di atas, harus dilakukan pendeteksian dengan melihat nilai R2 yang dihasilkan dari estimasi model tersebut. Angka R2 yang tinggi disertai koefisien regresi yang sebagian besar tidak signifikan biasanya menandakan terdapatnya multicollineary. Berikut ini hasil uji multicollinearity seperti pada Tabel 3.

TABEL 3. HASIL ESTIMASI UJI MULTICOLLINEARITY

Variabel Nilai R2
DLMD = f {DLTK, DLJK, DLPL} 0,1462
DLTK = f {DLMD, DLJK, DLPL} 0,1197
DLJK = f {DLMD, DLTK, DLPL} 0,1134
DLPL = f {DLMD, DLTK, DLJK} 0,0625
Sumber : Data diolah (Lampiran 5 s/d 8)
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai R2 {DLY C DLMD DLTK DLJK DLPL} = 0,7001 lebih besar dari nilai R2 dalam regresi parsial {DLMD = f (DLTK, DLJK, DLPL) = 0,1462, DLTK = f (DLMD, DLJK, DLPL) = 0,1197, DLJK = f (DLMD, DLTK, DLPL) = 0,1134 dan DLPL = f (DLMD, DLTK, DLJK) = 0,0625}. Berdasarkan ketentuan rule of thumb dari metode ini dapat disimpulkan bahwa dalam model tersebut tidak ditemukan adanya multicollinearity.

2. Uji Linieritas (Ramsey Reset Test)

Uji ini merupakan uji yang sangat populer, yang dikembangkan oleh Ramsey tahun 1969. Uji ini dilakukan berkaitan dengan masalah spesifikasi kesalahan yakni apakah spesifikasi model yang kita gunakan sudah benar atau tidak, sehingga melalui uji linearitas ini dapat diketahui bentuk model empiris (berbentuk linier, kuadrat, atau kubik) dan menguji variabel yang relevan untuk dimasukkan dalam model empiris. Berikut ini dapat dilihat hasil estimasi dari uji Ramsey test seperti pada Tabel 4.

TABEL 4. HASIL ESTIMASI UJI RAMSEY TEST

Ramsey RESET Test :
F-statistic 0.345095 Probability 0.559906
Log likelihood ratio 0.390623 Probability 0.531972

Berdasarkan hasil estimasi di atas, diperoleh nilai F-hitung (statistik) sebesar 0,345, yang berarti nilai F-hitung lebih kecil dibandingkan dengan nilai F-tabel sebesar 3,785 {F hitung (0,345) < F tabel (3,785)} pada level signifikan 1 persen. Dengan demikian, uji Ramsey ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (Ho) yang menyatakan spesifikasi model yang digunakan dalam bentuk linier adalah benar tidak dapat ditolak. Ini membuktikan bahwa model spesifikasi yang benar dalam model regresi tersebut dalam bentuk linier yakni DLY = f {DLMD, DLTK, DLJK, DLPL}.


3. Uji Normalitas (Jarque-Bera Test)

Uji ini dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya faktor gangguan yang dapat diketahui melalui uji JB test. Uji ini menggunakan hasil estimasi residual dan Chi-square probability distribution. Berikut ini hasil estimasi yang dilakukan dengan uji JB test seperti yang terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Hasil Estimasi JB Test

Berdasarkan hasil estimasi uji JB test di atas, diperoleh besarnya nilai Jarque-Bera normality test sebesar 0,536 dan bila dibandingkan dengan nilai 2 tabel = 11,070 pada level signifikan 5 persen, maka dapat disimpulkan bahwa nilai JB test lebih kecil dari nilai 2 tabel {JB test hitung (0,536) < 2 tabel (11,070)}, ini berarti model empiris yang digunakan dalam model tersebut mempunyai residual atau faktor pengganggu yang berdistribusi normal.

ANALISIS DAN HASIL ESTIMASI UNTUK INDUSTRI KECIL KONVEKSI.
Dalam pembangunan ekonomi, salah satu pelaku ekonomi yang layak mendapat perhatian dari para pengambil kebijakan adalah pengusaha kecil, menengah, dan koperasi. Hal ini disebabkan usaha kecil, menengah, dan koperasi (UKMK) merupakan sektor usaha yang memiliki jumlah terbesar dengan daya serap angkatan kerja yang signifikan. Disamping itu, realitas masyarakat menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan yang cukup besar masih terjadi antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, menengah, dan koperasi (PKMK). Karenanya, uapaya pengembangan UKMK secara langsung merupakan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat banyak sekaligus mempersempit kesenjangan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan Tabel 5 perkembangan industri kecil konveksi di Kota Medan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, begitupun dalam hal penyerapan jumlah tenaga kerja yang terserap. Pada tahun 2000, jumlah industri kecil konveksi di Kota Medan sebanyak 314 unit dengan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 3.137 orang dan meningkat menjadi 494 unit pada tahun 2004 dengan jumlah tenaga kerja yang mampu diserap sebanyak 5.671 orang. Sehingga selama periode 2000 – 2004, perkembangan industri kecil konveksi di Kota Medan meningkat sebanyak 166 unit selama kurun waktu 5 tahun atau mengalami laju pertumbuhan rata-rata per tahunnya sebesar 12,15 persen.
TABEL 5. PERKEMBANGAN INDUSTRI KECIL KONVEKSI DI KOTA MEDAN
Tahun Jumlah Industri Kecil
Konveksi (unit) Jumlah Tenaga Kerja
yang Terserap (orang)
2000 314 3.137
2001 342 3.517
2002 364 3.787
2003 446 5.185
2004 494 5.671
Sumber : Deperindag Kota Medan, 2005

Sementara itu, kemampuan industri kecil konveksi di Kota Medan dalam menyerap tenaga kerja menunjukkan peningkatan yang lebih besar dibandingkan dengan perkembangan industri kecil konveksi itu sendiri selama kurun waktu yang sama. Untuk tahun 2004, jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 5.671 orang atau meningkat sebanyak 2.534 orang dari tahun 2000 yang mampu menyerap 3.137 orang tenaga kerja. Sehingga selama periode 2000 – 2004, industri kecil konveksi di Kota Medan memperlihatkan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 16,88 persen per tahun dalam menyerap tenaga kerja. Dengan demikian, laju pertumbuhan rata-rata per tahun untuk menyerap tenaga kerja masih lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun untuk perkembangan industri kecil konveksi itu sendiri.
Namun demikian, perkembangan industri kecil konveksi di Kota Medan masih mengalami fluktuasi. Hal ini dikarenakan banyaknya hambatan dan kendala yang dihadapi para pengusaha industri kecil konveksi, yang antara lain masih sulitnya mendapatkan modal untuk mengembangkan usahanya dan sulitnya mencari tenaga kerja yang memiliki ketrampilan yang memadai. Untuk itu, melalui penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi industri kecil konveksi di Kota Medan, yakni modal usaha, jumlah tenaga kerja, jam kerja, pengalaman berusaha, dan jumlah produksi tahun sebelumnya berpengaruh terhadap perkembangan produksi industri kecil konveksi dengan menggunakan data primer yang langsung mewancarai para pengusaha industri kecil konveksi tersebut. Berikut ini hasil estimasi yang dihasilkan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6.


TABEL 6. HASIL ESTIMASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI INDUSTRI KECIL KONVEKSI DI KOTA MEDAN
Dependent Variable : DLY

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -0.013378 0.045003 -0.297263 0.7677
DLMD 0.166211 0.067272 2.470723 0.0175 **
DLTK 0.019752 0.080501 0.245365 0.8073
DLJK 0.028158 0.148289 0.189888 0.8503
DLPL 0.271926 0.104667 2.598010 0.0128 **
DLY(-1) -0.462567 0.120123 -3.850796 0.0004 ***
R-squared 0.852668 F-stat 4.685292
D-W stat 2.292769 Prob(F-stat) 0.001675

Berdasarkan Tabel 6, diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,8527 yang berarti secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan variasi produksi industri kecil konveksi di Kota Medan sebesar 85,27 persen.
Apabila dianalisis secara simultan (serentak) dari masing-masing variabel bebasnya, maka pengaruhnya terhadap produksi industri kecil konveksi memberikan pengaruh yang cukup signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini bisa dilihat dari nilai F-statistik (4,685) yang lebih besar dari F-tabel (3,803) pada level 1 persen {F statistik > F tabel} dengan nilai probabilitasnya sebesar 0,001675.
Kemudian, dari hasil estimasi di atas, menunjukkan bahwa modal memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,1662 dengan nilai t statistik sebesar 2,471. Nilai koefisien regresi yang positif dan nilai t statistik dapat menjelaskan bahwa modal memberikan kontribusi positif dan signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan sebesar 0,1662 dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan demikian dapat diartikan setiap terjadi peningkatan modal usaha industri kecil konveksi, ceteris paribus, maka akan memberikan dampak pada meningkatnya hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Hasil empiris ini sejalan dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara modal usaha dengan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Dari temuan empiris ini semakin menguatkan hasil studi yang dilakukan Simanjuntak (1998) dan Sari (2002) dimana peranan modal usaha bagi pengusaha industri kecil sangat mempengaruhi hasil produksi industri kecil di Kota Medan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan modal usaha masih selalu menjadi hambatan bagi para pengusaha industri kecil di Kota Medan dan hasil empiris ini semakin menguatkan hasil temuan penelitian sebelumnya pada industri kecil sepatu. Dengan demikian, Industri kecil di Kota Medan pada umumnya masih menghadapi persoalan finansial yang mengakibatkan perkembangan industri kecil di Kota Medan sangat lamban.
Untuk itu, temuan ini menjadi bahan masukan bagi para pengambil keputusan di jajaran pemerintah Kota Medan, untuk membuka akses yang lebih besar lagi kepada pengusaha industri kecil untuk memperoleh bantuan modal usaha, sehingga di masa mendatang industri kecil di Kota Medan benar-benar memberikan kontribusi yang nyata dalam mendukung pembangunan Kota Medan dan memiliki peranan yang strategis dalam penyerapan tenaga kerja maupun kontribusinya dalam pembentukan PDRB Kota Medan.
Untuk tenaga kerja mempunyai kontribusi yang positif tetapi tidak signifikan pengaruhnya secara statistik terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan sebesar 0,0197 pada tingkat kepercayaan 90 persen. Kecilnya nilai koefisien regresi ini dapat menjelaskan bahwa setiap terjadi peningkatan tenaga kerja pada industri kecil konveksi, ceteris paribus, akan berdampak pada terjadinya peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Namun hasil empiris ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara tenaga kerja dan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Melihat kecilnya hasil koefisien regresi ini tentunya sangat berkaitan dengan kualitas dan ketrampilan yang dimiliki tenaga kerja pada industri kecil tersebut. Hal ini dimungkinkan, karena tenaga kerja yang bekerja pada industri kecil konveksi, pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang relatif masih rendah dengan tingkat rata-rata tamatan SLTA dan pada umumnya tenaga kerja yang bekerja pada industri kecil konveksi tersebut berasal dari anggota keluarganya sendiri, sehingga pertambahan tenaga kerja bukan berarti akan mendorong peningkatan hasil produksi industri kecil tersebut tetapi sebaliknya dapat menghambat atau mengurangi kemampuan produksi pada industri kecil tersebut karena telah terjadi pengangguran terselubung (disguised unemployment). Untuk itu, masalah peningkatan ketrampilan dan kualitas tenaga kerja pada industri kecil harus tetap menjadi perhatian dan fokus para pengambil kebijakan di jajaran pemerintah Kota Medan untuk memberikan pelatihan kepada para pengusaha kecil atau membuka akses informasi kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dalam rangka pengembangan industri kecil.
Untuk variabel lamanya bekerja atau jam kerja ternyata mempunyai kontribusi yang positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,0282 tetapi secara statistik pengaruhnya tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 90 persen terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Hal ini memberi arti apabila jam kerja para pekerja meningkat, ceteris paribus, akan memberi dampak pada peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Hasil studi ini menguatkan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara jam kerja dengan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Terkait dengan lamanya bekerja para pekerja di industri kecil konveksi tidak terlepas dari banyaknya order atau kontrak yang diperoleh oleh pengusaha industri kecil tersebut. Hal ini dikarenakan pada umumnya kelemahan para pengusaha kecil ini terhambat pada keterbatasan modal yang dimilikinya, sehingga dengan keterbatasan modal tersebut berdampak pada lamanya jam bekerja (rata-rata 6 - 7 jam per hari) bagi para pekerja di industri kecil konveksi tersebut.
Untuk variabel pengalaman berusaha pada industri kecil konveksi memberikan kontribusi yang positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,2719 dan berpengaruh signifikan secara statistik terhadap produksi industri kecil konveksi di Kota Medan pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil empiris ini mengandung arti lamanya pengalaman berusaha bagi para pengusaha industri kecil konveksi, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada semakin meningkatnya hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Temuan ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara pengalaman berusaha dengan hasil produksi industri kecil konveksi, ceteris paribus.
Hasil empiris ini membuktikan bahwa pengalaman berusaha bagi para pengusaha kecil sangat mempengaruhi keberhasilan untuk meningkatkan hasil produksi industri kecil khususnya industri kecil konveksi di Kota Medan selama penelitian dilakukan. Keberhasilan ini tentunya terkait dengan kejelian para pengusaha kecil dalam mencari order dan keterbatasan modal yang dimilikinya. Perjalanan waktu tersebut tentunya membuat para pengusaha dapat menyakinkan para pemasok bahan baku untuk melakukan kerjasama, misalnya dalam bentuk kontingensi antara para pemilik bahan baku dan para pengusaha (hasil interview).
Sedangkan untuk hasil produksi tahun sebelumnya memberikan kontribusi yang negatif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,4626 dan secara statistik berpengaruh signifikan pada tingkat kepercayaan 99 persen terhadap hasil produksi industri kecil konveksi di Kota Medan. Temuan ini memberi arti apabila hasil produksi tahun sebelumnya meningkat, ceteris paribus, maka akan memberi dampak pada penurunan hasil produksi industri kecil konveksi tahun berjalan di Kota Medan. Hasil studi ini tidak mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara hasil produksi industri kecil tahun sebelumnya dengan hasil produksi industri kecil konveksi tahun berjalan, ceteris paribus.
Hasil temuan ini tentunya sangat beralasan apabila hasil produksi tahun sebelumnya (stok produksi) masih ada atau belum laku terjual, maka para pengusaha akan melakukan pengurangan produksi untuk menghindari tertanamnya modal usaha. Disamping itu, dengan masih adanya hasil produksi tahun sebelumnya, tentunya telah tertahan modal usaha dan dampaknya semakin kecil kemampuan para pengusaha kecil untuk melakukan kegiatan produksi pada tahun berjalan. Oleh karena itu, pada umumnya para pengusaha kecil telah mengantisipasi hal ini dengan melakukan order terlebih dahulu sebelum melakukan proses produksi.
Dengan keterbatasan modal dan sulitnya akses mendapatkan modal usaha maka kecenderungannya para pengusaha kecil tersebut hanya bergantung pada orderan atau pesanan dari para pemilik modal atau pemilik bahan baku. Sehingga para pengusaha kecil tersebut hanya melakukan proses produksi tergantung dengan ada tidaknya order yang diberikan para pemilik modal untuk berproduksi dan pada akhirnya para pengusaha kecil tersebut hanya mendapatkan penghasilan berupa bagi hasil atau dengan pola kontingensi.

KESIMPULAN
1. Bahwa modal usaha, tenaga kerja dan jam bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Sedangkan pengalaman berusaha berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu. Faktor modal usaha sangat dominan mempengaruhi peningkatan hasil produksi industri kecil sepatu.
2. Bahwa modal usaha dan pengalaman berusaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi. Sedangkan tenaga kerja dan jam kerja berpengaruh positif tetapi pengaruhnya tidak signifikan terhadap peningkatan hasil produksi industri kecil konveksi. Sisa hasil produksi tahun sebelumnya berpengaruh negatif dan signifikan terhadap hasil produksi industri kecil konveksi.

SARAN
1. Untuk mendukung pengembangan industri kecil maka pemerintah harus berupaya untuk memperhatikan dan fokus dalam membina dan mengembangkan industri kecil sehingga peranan industri kecil kedepan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi melalu penciptaan lapangan kerja.
2. Untuk mendorong peningkatan industri kecil sudah seharusnya pemerintah mencarikan solusi dari permasalahan industri kecil yang selalu dihadapi yakni masalah modal usaha dengan membuka akses untuk mendapatkan modal usaha guna pengembangan industri kecil.
3. Bagi para peneliti yang berminat untuk mengkaji elastisitas kesempatan kerja maka sebaiknya mempertimbangkan unsur kebijakan pemerintah yang terkait dengan peraturan ketenagakerjaan dan undang-undang berinvestasi sehingga dapat mendukung hasil penelitian yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik (BPS). 1996. Potensi Industri Besar dan Sedang di Indonesia. Jakarta : BPS.

----------, 2003. Medan Dalam Angka. Medan : BPS.

Insukindro. 1993. Ekonomi Uang dan Bank : Teori dan Pengalaman di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.

Insukindro. 1993. Ekonomi Uang dan Bank : Teori dan Pengalaman di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.

Insukindro, et. al. 2000. Dasar-Dasar Ekonometrika. Kerjasama Bank Indonesia dengan Program Studi MEP UGM. Yogyakarta.

Pratiwi Sri, 2006, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Industri Kecil Sepatu Dan Konveksi. Medan

Pulungan, Syahrial A. 2003. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Industri Kecil Dalam Rangka Pengembangan Ekonomi Kerakyatan di Kota Medan. Tesis Tidak Dipublikasikan Medan : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota Pascasarjana USU.
Samosir, Arpudin. 2001. Analisis Faktor-Faktor Pengembangan Industri Kecil di Kota Medan : Studi Kasus di Kecamatan Medan Denai. Tesis Tidak Dipublikasikan. Medan : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota Pascasarjana USU.

Simanjuntak, Jainar. 1998. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Industri Kecil di Kota Medan. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Medan : Ekonomi Pembangunan USU.

Tanjung, Irzan. 1994. Perkreditan dan Pengembangan Usaha Kecil, Profil Usaha Kecil dan Kelayakan Kredit Perbankan di Indonesia. Jakarta : Lembaga Manajemen FE UI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar