Sabtu, 01 Mei 2010

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Produktif Di Perbankan Sumatera Utara

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Produktif Di Perbankan Sumatera Utara

Prima Junaidi, Bachtiar Hasan Miraza,
Sirojuzilam, Wahyu Ario Pratomo

Abstract : This thesis attempts the factors that influence the demand of productive of credit in North Sumatera. Those variable are economic growth, exchange rate, loan interest rate and the economic stabilization. We use 25 years at time series data, ranging from 1980 to 2004. This research use econometrics approach, specifically using autoregresive model in order to look the past period behavior in influencing the demand of productive credit. The result shows that exchange rate, economic growth and the economic climate influence significantly to the demand of productive credit in North Sumatera. However, loan interest rate is not significantly in influencing the credit. That findings could be as an an input neither for the monetary autority of Indonesia in conducts monetary policy nor for banking practitioner in managing their own business.

Keywords : demand of productive of credit, economic growth, exchange rate, loan interest rate and the economic stabilization


PENDAHULUAN
Fungsi intermediasi perbankan tidak selalu berjalan normal, dalam arti bahwa kenaikan simpanan masyarakat tidak selalu diikuti dengan kenaikan secara proporsional pada kredit yang disalurkan oleh perbankan. Oleh karena itu, yang lebih berpengaruh terhadap ekonomi riil adalah kredit perbankan dan bukanlah simpanan masyarakat.
Hal tersebut di atas dapat dibuktikan dengan melihat dari perkembangan indikator ekonomi masa deregulasi perbankan bulan Juni 1983, pada masa itu pemerintah memberi kebebasan pada perbankan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya sendiri. Hal itu dilakukan dengan penetapan penghapusan pagu kredit yang semula berlaku untuk masing-masing bank, mengurangi porsi jenis kredit yang ditunjang oleh kredit likuiditas dari Bank Sentral, memperkenankan perbankan menentukan tingkat suku bunga pinjaman dan pendanaannya sendiri-sendiri. Selanjutnya dikombinasikan dengan deregulasi yang ditetapkan pada sektor riil secara bertahap, pemerintah berhasil menahan kemerosotan perekonomian dan bahkan dapat meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi menjadi 4,2% pada tahun 1983. Sepanjang lima tahun berikutnya pertumbuhan ekonomi berhasil mencapai rata-rata 5% pertahun. Selain itu tingkat inflasi berhasil ditekan menjadi rata-rata 7,3% pertahun.
Tabel 1. Perkembangan Dana dan Pinjaman Produktif di Sumut
Tahun 1993 – 2005
No Tahun Dana Pertumbuhan Pinjaman Pertumbuhan LDR
(Rp.miliar) (Rp.miliar)
1 1993 5,332 - 5,866 - 110.01%
2 1994 6,221 16.67% 6,711 12.59% 107.87%
3 1995 7,868 26.47% 7,487 10.37% 95.16%
4 1996 9,758 24.02% 8,803 14.95% 90.21%
5 1997 10,456 7.15% 10,086 12.72% 96.46%
6 1998 21,369 104.37% 12,478 19.17% 58.39%
7 1999 24,303 13.73% 7,272 -71.59% 29.92%
8 2000 27,517 13.22% 9,105 20.13% 33.09%
9 2001 32,085 16.60% 11,775 22.68% 36.70%
10 2002 34,661 8.03% 13,254 11.16% 38.24%
11 2003 40,192 15.96% 16,934 21.73% 42.13%
12 2004 45,454 13.09% 21,652 21.79% 47.63%
13 2005 52,093 14.61% 28,531 24.11% 54.77%
Sumber : SEKDA BI Medan 2005

LDR : Loan to Deposit Ratio
Bila dilihat perbandingan dana dengan pinjaman atau disebut dengan Loan to Deposit Ratio (LDR), sebelum multi krisis tahun 1997, nilai LDR rata-rata hampir mencapai 100% malah lebih dari itu. Hal ini menunjukan bahwa peran intermediasi perbankan sangat baik. Namun setelah tahun 1997 pertumbuhan dana lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pinjaman. Nilai LDR cenderung turun dan baru mulai naik sejak tahun 2003. Meningkatnya pertumbuhan dana pada tahun 1998, disebabkan pada tahun tersebut inflasi sangat tinggi hingga mencapai 83,58%, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikan tingkat suku bunga.
Relatif rendahnya persyaratan pendirian bank yang praktis hanya terkonsentrasi pada besarnya setoran modal, yaitu hanya Rp. 10 miliar untuk bank umum dan Rp. 50 Juta untuk BPR. Akibatnya jumlah bank umum telah meningkat demikian pesat dari 111 buah bank umum pada tahun 1988 menjadi 240 buah bank pada tahun 1995. Perkembangan yang pesat sebelum krisis juga terjadi pada banyaknya jumlah kantor yang berdiri yaitu dari 1.957 menjadi 6.590 kantor bank pada periode yang sama diseluruh Indonesia. Sedangkan di Sumatera Utara jumlah bank umum per Desember 2005 sebanyak 33 bank dengan 139 unit kantor cabang dan Bank Perkreditan Rakyat sebanyak 44 dengan 82 unit kantor cabang (Tabel 2).
Tabel 2. Jumlah Bank di Sumatera Utara Tahun 2005

No Status Kepemilikan Jumlah
(unit) Jumlah Kantor Cabang (unit)
1 BUMN 4 43
2 BPD 1 22
3 Swasta Nasional 25 67
4 Asing & Campuran 3 7
5 BPR 44 82
Total 77 221
Sumber : SEKDA Kantor Bank Indonesia Desember 2005 (data diolah)

Kebijakan deregulasi berupa perluasan jaringan perbankan untuk mengerahkan penghimpunan dana masyarakat bagi pembangunan, juga telah menimbulkan akses sebagai akibat dari kemudahan yang berlebihan, di antaranya yaitu telah menyebabkan tingkat persaingan yang tinggi diantara bank-bank tersebut. Hal itu tampak dari makin banyaknya jenis-jenis produk perbankan dengan berbagai variasinya disertai dengan daya tarik dengan bunga dan hadiah-hadiah yang memikat dalam menarik minat masyarakat untuk menempatkan dananya pada perbankan. Secara keseluruhan juga telah menyebabkan terjadinya kenaikan beban bunga yang harus dipikul oleh perbankan. Pada gilirannya hal tersebut telah menyebabkan biaya dana perbankan meningkat, yang disusul pula meningkatnya bunga kredit bank. Dan dengan meningkatnya bunga kredit tersebut akan berdampak negatif terhadap permintaan kredit, terutama pada kredit komersil.
Sebaliknya dengan penerapan program itu, pemerintah berada dalam posisi yang semakin sulit karena harus tetap memikul beban-beban pembayaran bunga obligasi rekap dan terkait pula dengan program penjaminan pembayaran kepada bank-bank umum. Padahal dengan makin berlarutnya krisis maka perbaikan kualitas aktiva produktif perbankan, juga menjadi tidak dapat dicapai. Hal itu telah berlangsung sejak krisis tahun 1997 yang telah menyebabkan pertumbuhan perekonomian Indonesia (Tabel 3) mengalami pertumbuhan negatif sebesar -13.12% pada tahun 1998. Tahun 1999 ekonomi hanya tumbuh 0.84% dan selanjutnya mulai dari tahun 2000 hingga tahun 2004 perekonomian Indonesia dari data statistik dapat dilihat cukup membaik dengan pertumbuhan rata-rata 4.22%. Namun jika dilihat dari pemerataan pertumbuhan dan kemampuan menyerap angkatan kerja, belum terwujud seperti yang kita kehendaki dan ini dapat diartikan juga bahwa kemiskinan belumlah bisa teratasi.
Tabel 3. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode 1982 – 2004
Tahun Pertumbuhan ekonomi
1982-1987 6,5%
1987-1997 6,9%
1997-1999 -2,46%
2000-2004 4,22%
Sumber : Laporan tahunan Bank Indonesia 1982-2004 (direvisi)

Multi kritis yang terjadi pada bulan Juli 1997 berimplikasi terhadap permintaan kredit dan kebijakan di bidang moneter yakni tren suku bunga SBI, suku bunga kredit dan inflasi. Pada Tabel 4 menunjukkan, total permintaan kredit perbankan di Indonesia, sedangkan Tabel 5 di Sumatera Utara. Baik secara nasional maupun di Sumatera Utara, terlihat bahwa tren pertumbuhan kredit setelah pasca krisis masih positif sampai dengan tahun 1998. Kemudian menurun pada tahun 1999 sebesar 41,60% untuk Sumatera Utara dan sebesar 55.87% untuk nasional. Namun setelah tahun 1998, total permintaan terus mengalami peningkatan dengan rata-rata 18.11% pertahun. Tingkat permintaan kredit konsumsi tumbuh sejak tahun 2000 dan mampu tumbuh sebesar 66.4% (tahun sebelumnya menurun sebesar -24.21%). Pada tahun 2003, kredit konsumsi tetap tumbuh sebesar 40.5% (turun 25.9% dari tahun 2000), sementara kredit modal kerja dan kredit investasi masing-masing tumbuh sebesar 14.3% dan 13.8%. Bahkan pada tahun 2003, pangsa kredit konsumsi (25.6%) telah mampu mengungguli kredit investasi (21.5%). Disimpulkan bahwa jika dilihat dari sisi penawaran yang dilakukan perbankan Indonesia pada umumnya lebih memfokuskan pada kredit konsumsi dengan alasan bahwa risiko kredit konsumsi lebih rendah dibandingkan kredit komersial. Bahkan beberapa bank menawarkan kredit konsumsi sampai jumlah tertentu tanpa perlu menyerahkan agunan. Dari data ini juga dapat disimpulkan, bahwa masyarakat kita cenderung konsumtif dari pada melakukan kredit yang berfaedah seperti kredit modal kerja dan kredit investasi.

Tabel 4. Posisi Penggunaan Kredit di Indonesia (Rp.Triliun)

Jenis 2000 2001 2002 2003 2004 2005
Kredit Modal Kerja 163,6 175,7 202,7 231,6 285,7 350,8
Kredit Investasi 65,3 73,5 82,9 94,3 116,8 132,5
Total Kredit Produktif 228,9 249,2 285,6 325,9 402,5 483,3
Kredit Konsumsi 40,1 58,4 79,8 112,1 150,9 206,4
Sumber: Statistik Ekonomi Bank Indonesia 2005


Tabel 5. Posisi Penggunaan Kredit di Sumatera Utara (Rp.Triliun)
Jenis 2000 2001 2002 2003 2004 2005
Kredit Modal Kerja 5.7 8.0 9.7 12.7 15,0 21,1
Kredit Investasi 3.4 3.7 3.5 4.2 5,8 7,7
Total Kredit Produktif 9.1 11.7 13.2 16.9 20,8 28,8
Kredit Konsumsi 1.3 1.9 2.3 3.3 5,7 7,8
Sumber: Statistik Ekonomi Kantor BI Medan 2005

Dari data tersebut di atas dapat dilihat bahwa market share Kredit Produktif di Perbankan Sumatera Utara terhadap Indonesia selama 5 tahun terakhir menunjukan peningkatan, dan pada tahun 2005 market share adalah sebesar 5,96%, artinya permintaan kredit produktif di Sumut mengalami peningkatan dari tahun ketahun.
Sementara itu mengikuti perkembangan laju inflasi (Tabel 6), tingkat bunga di dalam negeri juga ikut menurun. Pada bulan September 2004, tingkat bunga SBI 3 bulan dan deposito 12 bulan masing-masing mencapai 7.31 % dan 7.21 %. Sementara tingkat bunga pinjaman rupiah untuk keperluan modal kerja dan investasi masing-masing mencapai 13.80 % dan 14.33 %. Perkembangan tingkat bunga di dalam negeri selama tahun 2004 ini lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat bunga pada tahun 2003. (Y.B.Kadarrusman et al:2004).
Tabel 6. Perkembangan Beberapa Indikator Ekonomi Indonesia
Tahun SBI 3 bln (%) Deposito 12 bln (%) Bunga Kredit (%) Inflasi (%)
1999 12,64 27,6 27,85 2,01
2000 14,31 16,15 17,88 9,35
2001 17,63 14,23 18,57 12,55
2002 13,12 15,28 18,07 10,00
2003 8,34 10,39 15,35 5,10
2004 7,31 7,21 13,7 6,4
Sumber : Bank Indonesia (2005), Rata-rata tertimbang akhir periode. (dalam Y.B.Kadarrusman et al:2004).
Studi-studi mengenai hubungan antara peran intermediasi keuangan dan pertumbuhan ekonomi telah dipelopori oleh Goldsmith (1969), Mckinnon (1973) dan Shaw (1973). Mereka menemukan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh struktur keuangan yang terorganisir. Mereka percaya bahwa pihak-pihak yang kelebihan dana (surplus unit) akan sangat membantu pihak-pihak yang kekurangan dana (defisit unit) apabila dapat dikelola secara efisien. Dalam pandangan mereka perbedaan kualitas dan kuantitas pelayanan yang diberikan oleh lembaga keuangan adalah strategi yang optimal untuk meningkatkan pertumbuhan output lebih cepat lagi dengan cara merangsang keinginan menabung dan meningkatkan kualitas formasi modal.(Ghafar, et al: 2003)
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh suku bunga pinjaman, laju pertumbuhan ekonomi, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap US Dollar, kondisi ekonomi sebelum dan sesudah krisis, terhadap permintaan kredit produktif di perbankan Sumatera Utara.

MODEL ANALISIS
Permintaan Kredit Produktif dipengaruhi oleh variabel-variabel ekonomi makro, sehingga fungsinya dapat ditunjukan sebagai berikut :
PKP = f (PDRB, Kurs, Suku Bunga Pinjaman, Kondisi Perekonomian)
Dari fungsi tersebut di atas, dispesifikasikan menjadi bentuk model :
PKP = α0 + α1PDRB + α2Kurs + α3SBP +α4SBP(t-1) + α5D + µ
Dimana :
PKP = total kredit produktif yang disalurkan (milyar rupiah /tahun),
SBP = suku bunga pinjaman bank umum (persentase/tahun,)
SBP(t-1) = suku bunga pinjaman bank umum tahun sebelumnya (persentase/tahun),
PDRB = Produk Domestik Regional Bruto (milyar rupiah/tahun),
Kurs = Nilai tukar rupiah terhadap US Dollar (rupiah/tahun),
D = dummy variable, yaitu:
Kondisi perekonomian sebelum krisis (1980-1997) = 1
Kondisi perekonomian setelah krisis (1998-2004) = 0
α0 = intersep,
α1-α5 = koefisien regresi variabel independen,
µ = term error.
Kemudian model dilogkan, sehingga menjadi persamaan :
logPKP = α0 + α1logPDRB + α2logKurs + α3SBP + α4SBP(t-1) + α5D + µ
Permintaan kredit produktif dengan PDRB memang bisa terjadi hubungan yang timbal balik antara kedua variabel, namun dalam penelitian ini berfokus kepada sisi permintaan, jadi dilihat pengaruh PDRB terhadap permintaan kredit produktif.
Adapun variable yang dianalisa dalam penelitian ini ialah Suku Bunga Pinjaman Bank Umum (SBP), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai tukar rupiah terhadap US Dollar (kurs), kondisi perekonomian sebelum dan sesudah krisis. Variabel-variabel tersebut diharapkan mampu menjelaskan permintaan kredit produktif di Sumatera Utara untuk menjawab permasalahan yang dianalisis dalam penelitian ini. Sedangkan variabel dari faktor non ekonomi tidak dibahas didalam penelitian ini.
Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis pengaruh suku bunga, laju pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah terhadap US Dollar, kondisi ekonomi terhadap permintaan kredit pada bank di Sumatera Utara adalah dengan menggunakan metode ordinary least square (OLS) dan alat bantu penelitian dengan software Eviews Version 4.1.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBA-HASAN
1. Perkembangan Industri Perbankan di Sumatera Utara
Industri perbankan di Sumatera Utara telah mengalami pasang surut, di mulai pada tahun 1983 ketika berbagai macam deregulasi mulai di lakukan oleh pemerintah, kemudian bisnis perbankan berkembang dengan pesat pada kurun waktu 1988 – 1996. Pada pertengahan tahun 1997 industri perbankan akhirnya terpuruk sebagai imbas dari terjadinya krisis moneter dan krisis ekonomi yang melanda perekonomian Indonesia.
Namun ditengah keterpurukan ini bila dilihat dari permintaan kredit produktif dapat dilihat bahwa imbas dari krisis tersebut baru terasa pada tahun 1999, dimana pada tahun ini terjadi penurunan kredit produktif sebesar 41,72% yang tidak pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini juga berlaku untuk pertumbuhan kredit produktif di Indonesia, dimana pada tahun 1999 ini terjadi penurunan yang cukup fantastis dari Rp.455,7 Triliun menjadi Rp.201,1 Triliun atau (-126,60%).
Setelah pemerintah mengambil kebijakan dengan melakukan program rekapitulasi perbankan pada tanggal 13 Maret 1999, maka sejak tahun 2000 hingga tahun 2005 permintaan kredit meningkat dengan baik.
Tabel 7. Perkembangan Kredit Produktif di Sumatera Utara tahun 1980-2005
Tahun Rp.Miliar Tahun Rp.Miliar
1980 478 1993 5.866
1981 658 1994 6.711
1982 754 1995 7.487
1983 867 1996 8.803
1984 996 1997 10.086
1985 1,288 1998 12.478
1986 1,672 1999 7.272
1987 2,209 2000 9.105
1988 2,904 2001 11.775
1989 3,874 2002 13.254
1990 5,175 2003 16.934
1991 5,435 2004 21.652
1992 5,679 2005 28.744
Sumber : Bank Indonesia Medan
Secara grafis dapat digambarkan sebagai berikut :









Gambar 1. Perkembangan Kredit Produktif di Sumatera Utara Tahun 1980-2005
Tabel 8. Posisi Kredit Rupiah & Valas per Sektor Ekonomi Tahun 2005
No Sektor Ekonomi Jumlah Kredit (Rp.miliar) Komposisi
1 Pertanian 5.381 14,74%
2 Pertambangan 12 0,03%
3 Industri 10.097 27,66%
4 Listrik, air, gas 69 0,19%
5 Konstruksi 1.340 3,67%
6 Perdagangan, Restoran, Hotel 8.936 24,48%
7 Pengangkutan, pergudangan komunikasi 727 1,99%
8 Jasa dunia usaha 1.602 4,39%
9 Jasa-jasa sosial masyarakat 540 1,48%
10 Lain-lain 7.802 21,37%
36.506 100,00%
Sumber : Sekda BI Medan Desember 2005









Gambar 2. Posisi Kredit per Sektor Ekonomi Tahun 2005
Adapun tren pertumbuhan kredit per sektor ekonomi selama 2 (dua) tahun terakhir dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 9. Tabel Tren Kredit per Sektor Ekonomi 2 Tahun Terakhir (Rp.miliar)
Sektor Ekonomi 2004 2005 Tren
Pertanian 4,193 5,381 22,08%
Pertambangan 154 12 -1.183,33%
Perindustrian 7,493 10,097 25,79%
Listrik, Gas dan Air 36 69 47,83%
Konstruksi 953 1,340 28,88%
Perdagangan, Restoran dan Hotel 6,257 8,936 29,98%
Pengangkutan, Pergudangan dan Komunikasi 468 727 35,63%
Jasa-jasa dunia usaha 1,725 1,602 -7,68%
Jasa-jasa sosial masyarakat 476 540 11,85%
Lain-lain 5,761 7,802 26,16%
Sumber : Buku SEKDA BI Desember 2005
Diantara sektor-sektor ekonomi tersebut dari komposisi terlihat sektor (Industri), (Perdagangan, Restoran dan Hotel), (Lain-lain/Konsumsi) dan (Pertanian) menduduki sektor yang cukup dominan. Dari sektor yang dominan, tren pertumbuhan yang terbaik adalah Perdagangan, Restoran dan Hotel dengan komposisi permintan kredit 24,48% dan laju pertumbuhan sebesar 29,98%. Kemudian diikuti oleh sektor Lain-lain/Konsumsi 21,37% dan laju pertumbuhan sebesar 26,16%. Selanjutnya sektor Perindustrian, dengan komposisi 27,66% dengan laju pertumbuhan 25,79%. Sementara itu sektor Pertambangan mengalami penurunan permintaan kredit yang sangat signifikan, hal ini disebabkan pada sektor ini Pemerintah belum menemukan eksploitasi pertambangan yang menjanjikan serta terbatasnya swasta untuk memperoleh izin pengelolaannya.
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan tersebut merupakan rangkuman laju pertumbuhan dari berbagai sektor ekonomi yang menggambarkan tingkat perubahan ekonomi yang terjadi. Untuk melihat fluktuasi pertumbuha ekonomi tersebut secara riil dari tahun ke tahun, disajikan melalui PDRB atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha secara berkala. Karena dengan menggunakan harga konstan pengaruh naiknya tingkat harga setiap tahun atau tingkat inflasi dapat dihilangkan sehingga pertumbuhannya menjadi riil.
Tabel 10. Perkembangan PDRB di Sumatera Utara Tahun 1980 – 2004
(Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000)
Tahun PDRB (Rp.Miliar) Tahun PDRB (Rp.Miliar)
1980 2.867 1993 18.215
1981 2.954 1994 19.940
1982 3.124 1995 21.801
1983 3.474 1996 23.715
1984 3.735 1997 25.065
1985 3.887 1998 22.119
1986 4.132 1999 22.692
1987 4.492 2000 23.788
1988 4.999 2001 24.672
1989 5.479 2002 25.925
1990 5.935 2003 27.087
1991 6.387 2004 28.599
1992 7.104
Sumber : BPS Sumut
PDRB mengalami penurunan pada tahun 1998 sebesar 11,76% sebagai dampak dari multi krisis yang melanda Indonesia umumnya dan Sumatera Utara khususnya pada tahun 1997. Pada tahun 1998 hampir seluruh sektor ekonomi mengalami penurunan, kecuali sektor Pertanian dan sektor Listrik, Gas & Air Bersih.
Berdasarkan lapangan usaha, laju pertumbuhan riil PDRB dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 yang stabil dan relatif baik adalah Pengangkutan & komunikasi sebesar 13,49%, selanjutnya diikuti oleh konstruksi sebesar 7,65% dan Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan sebesar 6,90%.
Bila dibandingkan antara laju pertumbuhan Riil PDRB Menurut Lapangan Usaha, dengan Posisi Kredit per Sektor Ekonomi, terlihat bahwa lapangan usaha Pengangkutan dan Komunikasi belum dilirik oleh perbankan yang seharusnya permintaan kredit pada sektor ini cukup potensi.








Gambar 3. Perkembangan PDRB Sumut Tahun 1980 – 2004
3. Kurs
Sama halnya dengan harga-harga lain dalam ekonomi yang ditentukan oleh interaksi pembeli dan penjual, kurs itu terbentuk oleh interaksi antara rumah tangga-rumah tangga, perusahaan-perusahaan, dan lembaga-lembaga keuangan yang membeli dan menjual valuta asing (valas) untuk keperluan transaksi internasional. Pasar yang memperdagangkan valas disebut sebagai pasar valas atau foreign exchange marke (Ulfa:2003).
Krugman dan Obstfeld (1991) mengemukakan bahwa ada 4 (empat) lembaga pemain utama dalam pasar valas, yaitu:
1. Bank-bank Komersil. Hampir berada pada pusat pasar valas dikarenakan hampir setiap transaksi internasional yang cukup besar melibatkan kegiatan pemindahbukuan pada bank-bank komersil diberbagai pusat keuangan.
2. Badan usaha (Korporasi) yang beroperasi secara internasional. Misalnya untuk membayar upah buruh di Indonesia Honda memerlukan rupiah Indonesia. Jika Honda hanya memiliki dollar yang didapat dari hasil penjualan mobil-mobil mereka di Amerika Serikat, maka Honda perlu membeli rupiah Indonesia dengan dollar AS di pasar valas.
3. Lembaga Keuangan Nonbank seperti asuransi dan asset management firms menyediakan jasa-jasa keuangan yang tidak banyak bedanya dengan yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga perbankan yang mencakup transaksi-transaksi valas.
4. Bank Sentral. Lebih banyak keterlibatannya dalam untuk tujuan stablisasi nilai tukar. Walaupun volume transaksi yang dilakukan oleh bank sentral tidak begitu besar tetapi dampaknya pada pasar uang cukup besar, kaena transaksi-transaksi yang dilakukan oleh bank sentral diamati secara ketat oleh para pelaku pasar.
Selama periode 1990 – 1996, kurs rupiah terhadap USD cukup stabil berada pada kisaran Rp.2.000-an. Namun kurs rupiah mulai melemah terhadap USD sejak pertengahan tahun 1997 yang diakibatkan krisis ekonomi.
Tabel 11. Perkembangan Kurs Rupiah Terhadap USD Tahun 1980 – 2004
Tahun Kurs/USD Tahun Kurs/USD
1980 635 1993 2.110
1981 647 1994 2.200
1982 750 1995 2.308
1983 898 1996 2.383
1984 910 1997 4.650
1985 956 1998 8.025
1986 1.125 1999 7.100
1987 1.650 2000 9.595
1988 1.729 2001 10.400
1989 1.795 2002 8.940
1990 1.901 2003 8.537
1991 1.992 2004 9.290
1992 2.062
Sumber: Bank Indonesia











Gambar 4. Perkembangan Kurs Rupiah Terhadap USD Tahun 1980 – 2004

4. Suku Bunga Pinjaman
Suku bunga pinjaman adalah tingkat suku bunga pinjaman rata-rata yang ditetapkan oleh perbankan. Penghitungan rata-rata berdasarkan jenis kredit, yaitu: modal kerja dan investasi. Sedangkan berdasarkan kepemilikan bank dilihat komposisi penyaluran kredit pada masing-masing bank. Perkembangan suku bunga pinjaman selama periode tahun 1980 – 2004 dapat dilihat pada tabel 12 dan Gambar 5 berikut.

Tabel 12. Perkembangan Rata-rata Suku Bunga Pinjaman Perbankan
Tahun 1980 – 2004

Tahun Suku Bunga Pinjaman (%) Tahun Suku Bunga Pinjaman (%)
1980 10,25 1993 17,73
1981 11,25 1994 16,31
1982 11,50 1995 17,92
1983 12,35 1996 17,74
1984 12,69 1997 19,60
1985 21,25 1998 28,99
1986 20,66 1999 27,85
1987 21,32 2000 17,88
1988 21,10 2001 18,57
1989 19,55 2002 18,07
1990 21,52 2003 15,35
1991 22,28 2004 13,70
1992 20,73














Gambar 5. Perkembangan Rata-rata Suku Bunga Pinjaman Perbankan 1980-2004

Analisis Estimasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Kredit
Hasil estimasi regresi terhadap model yang digunakan dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut :

PKP = 7,8+0,4PDRB+1,2Kurs+0,02SBP-0,12SBP(t-1)+1,15DUMMY
(2,1) (2,0) (2,25) (1,00) (-0,71) (3,41)

R2 : 0,9392
F-stat : 55,608
Adj.R2 : 0,9223

Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9392 berarti bahwa variabel Pertumbuhan Ekonomi yang diproxi dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai tukar rupiah terhadap Dollar (Kurs), Suku Bunga Pinjaman (SBP), Suku Bunga Pinjaman tahun sebelumnya SBP(t-1), dan kondisi perekonomian (dummy) mampu menjelaskan variasi Permintaan Kredit Produktif (PKP) sebesar 93,92 %. Sedangkan sisanya sebesar 6,08 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukan dalam model estimasi.
Dilihat dari nilai F-Statistik, yaitu 55,608 yang signifikan pada tingkat keyakinan 99 %, berarti secara bersama-sama (simultan) variabel PDRB, Kurs, Suku Bunga, dan kondisi perekonomian sebelum dan sesudah krisis akan mempengaruhi Permintaan Kredit Produktif di Sumatera Utara.
Berdasarkan uji t-statistik (uji secara parsial), dapat diketahui bahwa variabel DRB, Kurs, dan Dummy berpengaruh secara signifikan terhadap Permintaan Kredit Produktif di Sumatera Utara pada α 1 %, 5 % dan 10 %, sedangkan pengaruh suku bunga pinjaman tidak signifikan terhadap Permintaan Kredit Produktif di Sumatera Utara.

PEMBAHASAN
1. Pertumbuhan Ekonomi
Dari hasil estimasi diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi yang diproxy melalui PDRB harga konstan berpengaruh positif terhadap Permintaan Kredit Produktif. Hal ini sesuai dengan hipotesis bahwa semakin meningkat pertumbuhan ekonomi, maka permintaan kredit produktif juga akan meningkat. Dalam hal ini pengaruh positif pertumbuhan ekonomi pada tingkat 95%.
Hasil penelitian Gertler (1998) membuktikan bahwa hubungan yang signifikan antara kredit dengan output. Dimana semakin meningkat output, maka permintaan terhadap kredit produktif juga semakin naik.
Williamson (1987) menemukan bahwa di lima negara industri maju terjadi korelasi yang positif antara output riil dengan jumlah kredit yang disalurkan. Dia juga menemukan bahwa terdapat kausalitas antara kredit dan output.

2. Nilai Tukar Rupiah (Kurs)
Dari hasil estimasi diperoleh bahwa nilai tukar kurs rupiah berpengaruh positif terhadap permintaan kredit produktif di Sumatera Utara. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis bahwa semakin rupiah terdepresiasi, maka permintaan kredit akan menurun. Namun sebaliknya hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin meningkatnya nilai tukar rupiah (kurs), maka permintaan kredit produktif akan meningkat pada tingkat 99 %. Hal ini disebabkan oleh:
o Penggunaan kredit produktif untuk menunjang ekspor baik secara langsung maupun tak langsung. Misalnya : obyek yang dibiayai kredit adalah perkebunan sawit, dimana hasilnya minyak CPO (Crude Palm Oil) sebagian diekspor. Bila nilai kurs naik, maka dengan sendirinya harga CPO akan naik, begitu juga harga bahan baku TBS (Tandan Buah Segar) juga akan mengalami kenaikan, sehingga dengan sendirinya jumlah permodalan usaha akan meningkat.
o Barang-barang yang dijadikan obyek pembiyaan kredit produktif memiliki kandungan impor, dimana bila nilai kurs naik artinya nilai rupiah terdepresiasi maka nilai barang itu sendiri juga akan mengalami kenaikan. Contohnya : barang-barang elektronik bila nilai kurs naik, maka harga barang elektronik tersebut juga akan mengalami kenaikan.
o Adanya pengaruh motif spekulasi, dimana debitur yang meminjamkan uang ke bank mengharapkan spekulasi atas terdepresiasinya rupiah untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini sesuai dengan analisis Keynes, bahwa permintaan uang ditentukan oleh tiga tujuan, yakni :

1. Untuk digunakan dalam membiayai transaksi.
2. Untuk disimpan sebagai dana berjaga-jaga.
3. Sebagai dana untuk spekulasi. (Sukirno:2005).

Menurut Harmanta dan Ekananda (2005), bahwa pengaruh nilai tukar rupiah terhadap USD memiliki hubungan yang negatif terhadap permintaan kredit di Indonesia. Artinya melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD yang mencerminkan kondisi perekonomian yang tidak menentu (uncertainty), sehingga meningkatkan resiko berusaha akan direspon oleh dunia usaha dengan menurunkan permintaan kredit.


3. Suku Bunga Pinjaman
Dari hasil estimasi pengaruh suku bunga pinjaman dibagi atas 2 kondisi, yakni:
1. Suku Bunga Pinjaman saat ini (tahun 2004) berpengaruh positif terhadap permintaan kredit produktif di Sumatera Utara. Dengan meningkatnya suku bunga pinjaman sebesar 1 %, maka akan meningkatkan pinjaman produktif 0,02 %. Secara teori hal ini bertolak belakang, tetapi pengaruhnya tidak signifikan. Artinya debitur tetap mengajukan permintaan kredit meskipun suku bunga naik, sepanjang obyek yang dibiayai menguntungkan.
2. Suku Bunga Pinjaman tahun lalu (tahun 2003) berpengaruh negatif terhadap permintaan kredit produktif di Sumatera Utara. Dengan menurunnya suku bunga pinjaman tahun lalu sebesar 1%, maka akan meningkatkan permintaan kredit produktif sebesar 0,01 %. Artinya bahwa perencanaan permohonan kredit dilakukan pada tahun sebelumnya dan baru direalisir setelah tahun berikutnya. Hasilnya semakin menurun suku bunga pinjaman, maka permintaan kredit produktif semakin meningkat, tetapi pengaruhnya tidak signifikan.
Menurut Miraza (2006), bahwa peran suku bunga untuk mendorong investasi tidak diutamakan. Pendapat yang disampaikan bahwa suku bunga akan mengurangi hasrat melakukan investasi ditampik oleh otoritas moneter. Permasalahan investasi tidak semata ditentukan oleh suku bunga. Jika demikian halnya, tinggi atau rendahnya suku bunga pinjaman hasilnya sama saja, tidak mendorong investasi. Oleh sebab itu otoritas moneter memilih peran suku bunga untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Ini penting karena hubungan fungsional diantara keduanya antara suku bunga pinjaman dengan nilai tukar rupiah masih berjalan. Dan itu berarti kekhawatiran akan turunnya hasrat berinvestasi akibat dari suku bunga tinggi adalah tidak realitis. Bukan tidak benar, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang berjalan. Oleh sebab itu masalah investasi tidak dapat diselesaikan dengan matematis, namun dengan seni dalam berbisnis.
Untuk menghitung layaknya suatu investasi, faktor suku bunga hanya dijadikan sebagai tolah ukur, sedangkan hasrat debitur untuk melakukan pinjaman berdasarkan 2 (dua) pendekatan, yaitu pendekatan nilai sekarang dan tingkat pengembalian modal (rate of returns).
Selanjutnya Harmanta, ME dan Ekananda (2005), menemukan bahwa spread suku bunga memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Artinya semakin tinggi spread suku bunga pinjaman yang mencerminkan makin mahalnya biaya maka akan menurunkan permintaan kredit.
4. Kondisi Perekonomian
Koefisien kondisi perekonomian berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit produktif di Sumatera Utara. Nilai koefisien menunjukan bahwa terjadi perbedaan yang nyata terhadap kredit produktif ketika perekonomian lebih stabil.
Hasil analisis model tanpa dimasukan variabel dummy, menunjukan bahwa suku bunga pinjaman baik sekarang maupun tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap permintaan kredit produktif di Sumatera Utara. Hal ini menunjukan bahwa bila tidak dimasukan unsur kondisi perekonomian, selain model tersebut tidak sesuai dengan teori, tetapi juga tidak menggambarkan bahwa suku bunga pinjaman tahun sebelumnya dipengaruhi oleh kondisi perekonomian.

KESIMPULAN
1. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit produktif dan ini sesuai dengan hipotesis. Permintaan kredit produktif didominasi oleh industri, (perdagangan, restoran dan hotel), (lain-lain/konsumsi) dan pertanian, yang merupakan sektor yang menyumbang bagian terbesar dari PDRB Sumut.
2. Nilai tukar rupiah terhadap US Dollar (kurs), berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit produktif. Hasil ini diduga disebabkan pinjaman produktif baik langsung maupun tak langsung dipengaruhi oleh kegiatan ekspor dan impor.
3. Suku bunga pinjaman saat ini, berpengaruh positif terhadap permintaan kredit produktif dan suku bunga pinjaman periode sebelumnya berpengaruh negatif terhadap permintaan kredit produktif, namun keduanya tidak berpengaruh secara signifikan. Artinya bahwa debitur ketika merencanakan permohonan kredit, tingkat suku bunga pinjaman berpengaruh negatif namun setelah kebutuhan tersebut harus dipenuhi, maka tingkat suku bunga pinjaman hanya memperhitungkan tingkat pengembalian modal (rate of returns). Hal ini juga disampaikan oleh Miraza (2006) bahwa permasalahan investasi tidak semata-mata ditentukan oleh suku bunga. Oleh karena itu otoritas moneter memilih peran suku bunga untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
4. Kondisi perekonomian sebelum dan sesudah krisis berpengaruh positif terhadap permintaan kredit produktif yang signifikan. Hal ini menunjukan bahwa permintaan kredit produktif dipengaruhi oleh kondusif nya keadaan dalam menjalankan usahanya yang tentunya berkaitan dengan faktor kestabilan politik, ekonomi dan keamananan.

SARAN
1. Pertumbuhan ekonomi merangsang pertumbuhan kredit, untuk itu harus disiapkan upaya-upaya yang tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi seperti iklim investasi yang sehat Pemerintah daerah diharapkan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan peluang investasi dengan mempermudah pengurusan birokrasi dalam pemerintahan seperti: pengurusan izin investasi besar masih harus ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jakarta mestinya seiring dengan era otonomi daerah bisa dilakukan oleh Badan Investasi dan Promosi daerah tempat berinvestasi. Kemudian peningkatan status hak kepemilikan tanah, Izin Mendirikan Bangunan, Izin Ekspor dan lain-lain.
2. Melihat kecenderungan permintaan kredit produktif adanya unsur motif spekulasi dengan mengambil keuntungan dari nilai tukar rupiah terhadap USD, maka diharapkan pemerintah membuat langkah-langkah kebijakan moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap USD, sehingga kredit yang disalurkan benar-benar mempengaruhi sektor riil.
3. Tingkat suku bunga tidak berpengaruh terhadap permintaan kredit produktif, ini menunjukan bahwa masyarakat bisnis lebih cenderung dalam melakukan investasi dengan memperhitungkan rate of retuns. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mempertahankan rate of returns tersebut adalah dengan mengurangi biaya-biaya yang akan mempengaruhi biaya over head seperti : pungli, infrastruktur yang baik, kecukupan pasokan listrik dan lain-lain.
4. Agar pemerintah daerah benar-benar menciptakan kondisi yang kondusif, sehingga kestabilan ekonomi dapat dijaga, sehingga permintaan kredit di Sumatera Utara semakin meningkat yang pada akhirnya akan mensejahterakan masyarakat.






























DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia , Kajian Stabilitas Keuangan II, Direktorat Penelitian dan Pengembangan Perbankan Biro Stabilitas Sistem Keuangan, Jakarta, 2003.

Ghafar Abdul bin Ismail, Norain bt Mod Asri and Ritonga, Jhon T. Financial Intermediation And Growth: Evidence From Indonesia, 2003.

Gertler, M., Financial structure and aggregate economic activity: An overview. Journal of Money, Credit and Banking, 1998.

Kadarusman Y.B, Arlini Mila Silvia dan Suatmi Dwi Bernadetta, Makro Ekonomi Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan LPE. IBII, Jakarta, 2003.

Krugman, Paul R, dan Maurice Obstfeld, International Economics Theory and Policy, edisi kedua, Harpers Collions Publishers Inc, New York, USA, 1991.

Kuncoro, Mudrajad , Metodologi Kuantitatif, Teori Dan Aplikasi Untuk Bisnis Dan Ekonomi, Edisi Kedua, Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN, Juni 2004.

Manurung Mandala, Uang, Perbankan, dan Ekonomi Moneter (Kajian Kontekstual Indonesia), FE. Universitas Indonesia, Jakarta, 2004.

ME, Harmanta, Ekananda Ekananda, Disintermediasi fungsi perbankan Indonesiapasca krisis 1997: Faktor Permintaan atau penawaran kredit, Sebuah Pendekatan dengan model Disequilibrium., Buletin Ekonomi Moneter, Juni 2005.
Miraza, Bachtiar Hasan. Perjalanan Moneter dan Perbankan, Perkembangan Moneter Indonesia 2000 – 2005, USU Press, 2006

Sukirno, Sadono, Makroekonomi Modern, Perkembangan Pemikiran Dari Klasik Hingga Keynesian Baru, Rajagrafindo Persada, PT, 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar